ログインTanpa bicara Lukman Hakim langsung mengambil sepotong pastel dan memasukkannya ke dalam mulut. Gigitan pertama ia menemukan sensasi nikmat yang tidak biasa. "Enak. Beneran enak." Katanya memuji. Alea tersenyum manis mendengar pujian itu. Pujian yang ditujukan untuk sang mama tapi serasa hatinya yang berbunga - bunga. Lukman Hakim sudah dapat menguasai dirinya setelah ia menghabiskan dua potong pastel sekaligus. "Kalau Kakak suka, Kakak boleh bawa pulang. Aku bungkusin, ya?" Tawar Alea dengan nada hangat. Lukman Hakim langsung menganggukkan kepalanya membuat Sabrina membelalakkan matanya. Yang benar saja! "Suka sih suka, tapi apa harus serakus itu?" Dengusnya sebal. Lukman Hakim langsung memelototinya dengan tatapan mengancam. Sabrina tahu itu akan berakibat pada hubungannya dengan Edo. Hatinya mencelos. "Nggak papa, Brin. Kak Lukman suka. Ia juga bisa membaginya buatmu." Kata Alea menengahi. Sabrina menghela nafas sebelum menganggukkan kepalanya. "Kita pulang sekarang, Kak?"
Sabrina dan Lukman Hakim kompak berdiri dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante." Sahut Sabrina sopan."Saya pulang dulu, Bu Artika." Kata perempuan berhijab panjang dan lebar itu."Oh, iya bu Ustadzah. Silahkan." Sahut Artika seraya merentangkan tangan kanannya. Ia lalu menunggu ustadzah itu menaiki mobil yang akan mengantarnya pulang baru ia kembali menoleh pada Sabrina dan Lukman Hakim. "Sebentar, Tante panggilin Alea dulu." Kata Artika ramah seraya bergegas masuk tapi langkahnya terhenti karena Alea sudah keluar lebih dulu. "Nah, ini Aleanya udah keluar." Kata Artika sambil tertawa. Sabrina dan Lukman Hakim terpaku di tempatnya. Alea masih mengalungkan kerudung di lehernya. Meski tak sempurna menutupi rambutnya tapi Ia tampak sangat berbeda. "A - lea?" Tanya Sabrina sambil menelan salivanya. Alea merasa pipinya panas karena tatapan Lukman Hakim yang begitu menghunjam. Tapi ia berusaha menenangkan deburan ombak di hatinya. "Iya, ini Aku. Memang Kamu pikir siapa?" Tanyanya
Semula Alea merasa kesal setiap kali sang papa menegurnya. Andara tidak hanya menegurnya, ia bahkan memberi ancaman jika Alea tidak mau mengubah sikap kasarnya. "Papa akan memecatmu, Al. Papa juga akan melarang Mama memberikan uang saku buatmu. Biar Kamu tahu perasaan orang yang hanya punya uang pas - pasan atau nggak punya uang sama sekali seperti mereka!""Papa!" Jerit Alea tertahan. "Kamu beruntung terlahir di keluarga yang sudah mapan, Al. Tapi tidak dengan Papa. Papa berjuang dari nol. Papa merasakan sakitnya direndahkan oleh orang - orang seperti dirimu." Tegas Andara. Alea terpana. Sang Mama memang seringkali menegurnya tapi ia terlalu malas untuk mengindahkannya. Baginya para pelayan itu tidak ada artinya buatnya. Selalu banyak pengganti untuk posisi rendahan seperti itu. Itu yang selalu ia pikirkan selama ini. "Ingat, Al. Papa serius. Sekali saja Papa lihat Kamu membentak orang seperti tadi lagi.."Alea diam. "Bayangkan jika Kamu berada dalam posisinya. Apa Kamu sanggup
"Apa Aku benar menyukainya? Atau cuma pelampiasan karena dia mengingatkanku pada Adamis?" Bisik Alea pada diri sendiri. Lukman Hakim sendiri juga sudah tiba di rumahnya. Di pikirannya terekam jelas sikap canggung Alea dan pipinya yang merona. Juga saat Sabrina mendorongnya ke arahnya. "Anak itu sebenarnya lucu." Gumamnya pelan. Bibir Alea yang digigit karena salting membuatnya gemas. Lukman Hakim mengusap kepalanya sedikit kasar. "Apaan, sih? Apa Aku mulai suka sama anak centil itu? Enggak! Enggak akan!"Mulutnya menolak tapi hatinya mulai mendamba. Pikirannya terus terpusat pada sikap canggung Alea. Tangannya yang gemetar saat ia menjejalkan uang itu, matanya yang mengerjap karena nervous.. Lukman Hakim paling suka pada bibirnya yang merah karena gigitan itu. Lipstiknya sudah terhapus sejak Alea memakan bakso dan menghirup kuah panasnya. "Kakak akan menyesal kalau Alea di sambar orang!" Teriakan Sabrina waktu itu kembali terngiang di telinganya. "Nggak bisa. Nggak boleh!" Raca
Ibu Dewi memeluk Siska erat. Siska akan ikut pulang lagi karena ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya. "Istirahatlah barang dua sampai tiga hari." Semalam ibu Dewi sudah membujuk putri mereka satu - satunya itu. Siska menolak, "Aku masih ingin bekerja, Bu. Aku juga sudah terbiasa dengan suasana kerja di sana. Om Dahlan juga sangat baik. Aku nggak mau membuatnya kecewa." Kata Siska panjang lebar. "Saat menikah nanti Aku akan meminta izin lebih lama." Katanya menjanjikan. "Kamu ini." Kata sang Ayah seraya menjitak kepala Siska dengan gemas. Tentu saja itu tidak cukup kuat untuk membuat Siska kesakitan. "Saat menikah nanti, Kamu akan libur untuk Kalian berdua. Nggak ada ruang buat Kami." Sahut Ibu Dewi. "Kamu juga janji akan kuliah, Sis. Bagaimana kalau Kamu sudah menikah nanti?" Tanya sang ayah pasrah. Siska mengangguk. "Tentu saja Aku akan kuliah, Yah. Tapi nanti." Katanya. "Kapan?" Tanya sang ayah penasaran. "Aku harus kuliah. Aku nggak mau suamiku nanti meremehkanku k
"Mama dan Paman Sunny tidur di sebelah sini. Nggak papa, kan?" Tanya Siska yang mengatur tempat tidur untuk mereka. "Kak Eva biar bergabung sama Ibu, Kak Yuni dan Kak Mar. Sementara Kak Adamis bersama Atha dulu, ya?" Kata Siska lagi. Ia menunjuk ruang yang di sekat oleh kain untuk pembatas antara mereka. Tentu saja ruangan untuk Evara dan yang lainnya itu lebih besar. Adamis tidak terlihat keberatan. Toh hanya satu malam. "Mama bisa bergabung sama yang lain." Sahut Ariana. Ia merasa tidakenak karena keistimewaan yang diberikan padanya. "Jangan, Ma. Aku takut Paman Sunny merasa nggak nyaman tanpa Mama." Sanggah Siska sambil menatap Safira yang tidak mengeluarkan komentarnya sama sekali. "Iya kan, Bu?" Tanya Siska meminta pendapat Safira yang hanya menganggukkan kepalanya. "Kamar mandi ada di sana." Beritahu Siska lagi sambil menunjuk bagian belakang paviliun itu. Ada dua kamar mandi di sana. Safira menaiki kasur yang ditunjuk oleh Siska untuknya. Kasur yang paling besar dan pa
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia men
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny







