LOGINPoksi merasa perutnya sakit. Ia juga mual parah karena perasaan bersalah. Ia ambruk di pintu rumahnya. Ia pingsan! Sintia terkejut saat membuka pintu rumah dan menemukan Poksi berbaring menelungkup di depan pintu. "Kak? Kak Poksi!" Sintia melempar tas sekolahnya dan jongkok untuk melihat keadaan Poksi. "Kak Poksi! Kak! Mama..!" Teriaknya memanggil sang mama. "Kak, bangun! Jangan membuatku takut!" Teriak Sintia. Ia meletakkan telunjuknya di depan hidung Poksi. Hawa hangat yang berhembus keluar membuatnya sedikit lega. Sang Mama keluar dan ikut berteriak, "Poksi kenapa? Poksi! Poksi!"Sintia berlari ke dalam dan keluar lagi dengan minyak kayu putih di tangan. Dioleskannya minyak itu di bawah hidung Poksi. Berhasil, Poksi menggerakkan kepalanya. "Poksi, Kamu kenapa, Sayang?" Isak sang mama. Poksi memegang perut dan kepalanya tanpa mengatakan apa - apa. Sintia dan sang mama membantunya bangun dan memapahnya ke kamarnya. "Lambungmu sakit, ya?" Tanya sang mama sambil membaringkan
Lukman Hakim memberi isyarat dengan matanya agar Poksi menjawab dengan benar. "Bro, Aku butuh bantuanmu sekarang. Bisa Kamu datang ke sini?" Pinta Poksi dengan perasaan hancur lebur. Randy yang tidak merasa curiga sama sekali merasa Poksi memang benar - benar dalam masalah. "Ada apa? Apa nggak bisa ditunda besok lagi?""Nggak bisa!" Teriak Poksi tanpa sadar. Ia nyaris menangis mendengar jawaban Randy, "Tenang, Bro. Aku akan datang sekarang!"Poksi memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celananya. "Apa Aku boleh pulang, sekarang?" Pintanya dengan suara basah. Ia tidak sanggup melihat Randy dibekuk oleh polisi. Belum lagi Sandro yang pasti akan melampiaskan kemarahannya. Lukman Hakim menggeleng. "Duduk di tempatmu!" Titahnya tanpa ampun. Poksi harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Ia memberi peringatan pada Tiffany tapi Tiffany tidak membaca pesannya. Jika membaca pun belum tentu Tiffany mempercayai pesan dari nomor tak dikenal itu. Lukman Hakim mengakui kalau chat da
Safira ternyata hanya bertanya. Ia tidak mengharapkan jawaban. Ia puas melihat kekacauan di wajah Viona. "Lihat diriku, Vion. Kami hidup lebih baik setelah Atha menceraikanmu. Kamu terlihat kacau." Kata Safira tanpa dosa.Ia melihat perasaan tersinggung di wajah Adelia yang menatapnya dengan gusar. Tapi tak dapat dipungkiri kalau ucapan Safira memang benar. Safira mengenakan setelan bermerek yang dibelikan Evara. Ia tampak elegan dengan tas tangannya yang bukan kaleng - kaleng. "Baguslah kalau begitu!" Sentak Viona marah. "Aku hanya kasihan pada suami Eva yang harus menampung Kalian bertiga! Dasar pengemis!" Katanya lagi dengan maksud membalas penghinaan Safira. Safira mendecih, "Setidaknya, Atha nggak harus terus berhubungan dengan penipu seperti Kamu, Vion. Kamu sudah menjebaknya!" Balas Safira. Tentu saja Viona tidak ingin mengalah. "Siapa bilang Aku menjebaknya, bu Safira? Atha yang tergila - gila padaku! Lagipula, buat apa Aku menjebak laki - laki miskin dan cacat seperti
Malam ke tiga tanpa kehadiran Randy. 'Apa ia sudah taubat dan berhenti datang ke bar ini?' gumam hati Poksi. "Echm!"Poksi terkejut mendengar deheman dari Lukman Hakim yang seperti sengaja ditujukan padanya. "Kami nggak bisa menunggu temanmu itu lebih lama, Poksi. Sebaiknya Kamu beritahu saja dimana rumahnya!"Poksi kembali terkejut. Ucapan Lukman Hakim itu bukan hanya meminta tapi memerintah. Lukman Hakim memang yakin kalau Poksi mengenal pelakunya meski Poksi tidak mengakuinya. "Aku.. Aku..""Aku sudah memberimu tenggang waktu cukup lama. Sekarang beritahu siapa nama temanmu itu dan dimana rumahnya!" Potong Lukman Hakim tegas. Poksi masih berusaha mengelak. "Tapi.. Tapi.. Aku nggak tahu..""Cukup main - mainnya, Poksi!" Bentak Lukman Hakim. Mata Sandro ikut nyalang menatap Poksi. Jadi Lukman Hakim menahan dirinya selama ini. Ia berpura - pura mempercayai Poksi dan mereka menghabiskan waktu mereka selama 3 malam di bar ini. Mata Poksi mulai tergenang airmata. Ia tidak dapat m
"Sedikit." Sahut Sunny dalam bahasa Indonesia. Lalu ia melanjutkan lagi perbendaharaan bahasa Indonesianya, "Aku cinta padamu." Lanjut Sunny dengan kerlingan mesra. Semua orang tertawa kecuali Safira. Wajahnya merah karena marah. 'Apanya yang lucu, sih?' geram hatinya. Athena bangun dan meminta izin untuk beristirahat. "Laporannya besok aja kan, Kak?" Tanyanya pada Adamis. Adamis mengangguk. "Pergilah. Kamu pasti lelah. Dimana Kamu menginap dua malam ini?" Tanyanya. Athena bisa saja pulang pergi tapi Adamis tidak mengizinkannya. Ia ingin Athena tidak terlalu membuang energinya berkendara pulang pergi selama dua hari ke Bandung. "Di tempat biasa, Kak." Sahut Athena. Adamis mengangguk. Ia menggerakkan tangannya untuk mengizinkan Athena pergi. Ia juga sudah selesai makan tapi ia menunggu Evara yang belum selesai. "Kami duluan ya, Dami? Eva? Besan?" Pamit Ariana. "Ya." Sahut Adamis dan Evara serempak. Safira hanya sedikit menaikkan alisnya. Ia tidak mempunyai keinginan untuk
Cara lain? Tentu saja ada. Poksi bisa saja mengantar Lukman Hakim ke rumah Randy, tapi.. Poksi kelabakan sendiri dengan jalan pikirannya. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya dengan gelisah. "Aku.. Aku.. Benar - benar nggak tau, Pak." Sahutnya dengan suara bergetar. Sandro juga tahu kalau Poksi ketakutan. Tapi ia juga kecewa karena kegagalan pengintaian malam ini. "Jam berapa Kamu pulang kerja?" Tanyanya pada Poksi. "Jam.. Jam 4, Pak.""Bisa Kamu langsung ke rumah sakit dan melihat keadaan Tiffany?" Tanya Sandro lagi. Mata Poksi membelalak. Itu berarti ia sama sekali tidak dapat beristirahat karena malamnya ia akan kembali bergadang di bar ini."Tapi.. Tapi.. Aku.." Poksi ingin mengatakan ia sangat lelah dengan semua ini. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Sandro bangun dan menepuk bahu Poksi. Ia lalu menoleh pada Lukman Hakim. "Aku harus pulang karena Aku juga harus bekerja pagi ini." Katanya dengan perasaan menyesal. Lukman Hakim mengangguk. Ia juga merasa tidak akan ada yan
Kirana lalu merebahkan dirinya dan mulai merasa sedih dengan kejadian yang tidak menyenangkan beberapa minggu terakhir ini.Penahanan suaminya sudah membuatnya shock meski Sandro berkali - kali mencoba menenangkannya. "Aku nggak bersalah, Ma. Aku akan bebas setelah proses audit ini selesai.""Tapi
Safira terbangun setelah matahari mulai condong ke Barat dan azan maghrib berkumandang dengan keras dari masjid di depan hotel. Ia nyaris tidak dapat membuka matanya karena rasa kantuk yang masih terasa hebat melandanya."Kemana semua orang?" Gumamnya setelah ia berhasil membuka matanya dengan semp
Perdebatan mereka terhenti karena Caesar menangis. Caesar adalah nama yang diberikan Viona untuk anaknya. Caesar pasti bingung dan kaget mendengar teriakan - teriakan diantara mereka. Adelia memeluk Caesar lebih dekat ke dadanya. "Sayang, nggak papa. Nggak papa."Viona mendengus seraya menyalaka
Teman Viona yang sebenarnya adalah segelintir cowok brengsek yang senang mabuk - mabukan bersamanya. Tiffany bukanlah orang susah meski tidak sekaya Viona. Gaya hidupnya yang menjulang selalu membuatnya keteteran. Ia tidak suka minum seperti Viona. Wajahnya juga terlihat polos dan lugu apagi Viona







