Masuk"Apa?!"
Ponsel Ariana nyaris terjatuh jika Adamis tidak segera menangkapnya. Mereka baru saja menikmati hidangan makan siang yang mereka pesan. Ariana tidak menjawab. Ia bahkan menangis setengah histeris. Adamis melihat ponsel yang masih tersambung dan menempelkannya di telinganya. "Bagaiamana, Bu! Kapan Ibu akan membawa jenazahnya?" tanya orang di seberang sana. Ia merasakan nafas Adamis hingga ia mengira Ariana kembali pada ponselnya. Adamis merasa hatinya melorot ke bawah. "Ap.. Ap - pa maksud Anda? Jenazah?" Tanya Adamis terbata. "Ini siapa? Apa hubungan Anda dengan korban kecelakaan tunggal ini?" 'Korban kecelakaan tunggal?' Adamis melirik ibunya yang masih terus menangis. Bahkan pengunjung resto yang lain mulai ada yang menghampiri mereka untuk menenangkan Ariana. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya salah seorang dari mereka dengan nada prihatin. Adamis menelan salivanya. Sekujur tubuhnya terasa dingin. "Korban.. Kecelakaan.. Tunggal? Siapa maksud.. Anda?" tanya Adamis dengan suara serak. Adamis menahan nafasnya. "Di KTPnya tertulis nama Brian Putra Bramari." Duarr! Ada yang terasa meledak di dada Adamis. Tubuhnya langsung limbung. Salah satu pengunjung menahan tubuhnya yang ingin jatuh dan membawanya duduk. "Itu Kakak Saya! Itu Kakak Saya!" teriak Adamis kalap dengan tangisan yang tertahan. "Bagaimana? Kapan Kalian akan membawa jenazahnya?" tanya orang itu tanpa perasaan. Memang sudah tugasnya. Ia tidak harus memakai perasaannya. Ada air mata yang mulai turun di pipi Adamis. "Kami akan segera menjemputnya. Dimana Kakakku sekarang?" Tanyanya dengan suara basah. Hati Adamis menjerit dan menangis, 'Kak Brian!!' Evara belum mengetahui kepergian suaminya untuk selamanya. Pikirannya terus gelisah karena Brian tidak kunjung pulang untuk makan siang. "Apa Kamu nggak pulang, Brian?" Tanyanya pada diri sendiri. Biasanya mereka akan kembali ke tempat kerja mereka masing - masing setelah makan siang. Brian seperti pada pagi harinya akan mengantar Evara ke tempat kerjanya. Polisi lebih dulu menemukan kontak Ariana yang ditulis oleh Brian dengan sebutan Mamaku tercinta. Adamis meluncur ke tempat polisi menyemayamkan Brian setelah ia mengantar Ariana pulang. "Mama tunggu di sini. Aku akan menjemput Kak Brian." katanya dengan lembut. Adamis berusaha tegar agar Ibunya tidak terlalu terpuruk. Ariana terus menerus menyesali keputusannya menolak Evara. "Kalau saja Mama merestui Kalian. Kalian tentu sudah bahagia di rumah ini.." Racaunya sambil terus menangis. Ia tidak sanggup membayangkan penderitaan Brian selama tinggal di rumah Evara, orang dari kalangan bawah itu. "Apa istrinya tidak datang?" Tanya Adamis pada polisi. "Istrinya? Kami belum menghubunginya, Pak." Jawab Polisi itu. Ia memang tidak tau kalau ada kontak lain yang lebih intim dari seorang Mama. "Biar Aku saja yang memberitahu." Putus Adamis. Hatinya perih melihat sosok Brian yang sudah terbujur kaku. Kakaknya yang tadi siang masih berbicara dengannya walau hanya sekilas. Damian membawa tas kakaknya yang berisi ponsel dan yang lainnya. "Besok saja Aku memberitahu Evara." Putusnya lagi. Ia tidak ingin mamanya kembali histeris bila melihat Evara. Ia ingin pemakaman ini berjalan dengan lancar dan tidak ada drama perkelahian antara mertua dan menantunya. Ariana memang terlalu sedih untuk berpikir. Ia sama sekali tidak mengingat apa - apa selain kesedihan dan rasa kehilangannya. "Apa Mama menanyakan menantunya?" Tanya Adamis pada salah satu pelayan. "Tidak, Tuan Muda." Pelayan itu menggelengkan kepalanya. Adamis mengangguk. Ia merasa keputusannya sudah tepat. Pemakaman langsung dilaksanakan hari itu juga dengan tangisan Ariana yang tidak kunjung berhenti. "Brian.. Brian.. Maafkan Mamamu ini.." sesalnya tak habis - habis. "Sudah, Mama. Kak Brian sudah tenang sekarang." bujuk Adamis sedih. "Brian Putra Bamari, kenapa Mama begitu jahat padamu?" raung Ariana lagi. Semua pencekalannya. Bahkan larangannya pada perusahaan yang ingin Brian melamar pekerjaan kembali terbayang. Ia hanya ingin Brian menyerah dan pulang ke rumah. Dan sekarang Brian sudah pulang. Tapi dalam keadaan tidak bernyawa. "Briaaann..!" Jerit sang Mama sebelum pingsan untuk yang kesekian kalinya. *********** Evara merasa semakin gelisah saat Brian tidak juga pulang pada malam harinya. Ia mulai menangis tanpa sebab yang tidak ia mengerti. "Brian tidak menghubungiku sama sekali. Bagaimana ini?" Katanya cemas. "Biarkan saja kalau ia tidak pulang, Eva. Bukannya bagus kalau ia menceraikanmu?" kata Safira puas. "Apa maksud Ibu?" Tanya Evara gusar. Safira selalu menyuruhnya bercerai. Bukannya selama ini ia selalu memenuhi kebutuhan finansial mereka? Keberadaan Brian sangat membantunya tapi untuk Safira dan Athena itu tidak pernah cukup. "Aku tidak pernah membiarkan Kalian kelaparan, kan? Kenapa Kalian tidak membiarkan Aku bahagia dengan pilihanku?" Sengat Evara. Evara mengusap air matanya. Ia mulai merasa muak. "Aku bahkan harus menyiapkan mahar untuk calonnya Athena. Apa itu masuk akal? Aku saja tidak menuntut apapun dari Kalian! Jadi biarkan Aku berbahagia bersama suamiku!" teriak Evara tertahan. "Justru Ibu menginginkan kebahagiaanmu, Eva. Kamu akan lebih bahagia dengan calon pilihan Ibu!" sanggah Safira. "Kenapa tidak Ibu saja yang menikah dengannya? Ia tidak lebih muda dari Ibu, kan?" "Evara! Jaga mulut mu!" teriak Safira marah. "Tapi Aku benar kan, Bu? Laki - laki itu sudah tua bangka. Buruk rupanya pula. Sebentar lagi ia juga akan menyusul Ayah!" Plak!! Evara sampai memalingkan wajahnya karena tamparan Safira yang lumayan keras. Laki - laki yang dipilih oleh Safira memang sudah tua. Tapi ia kaya dan memiliki banyak usaha. Istrinya sudah meninggal. Ia juga hanya punya 1 anak yang sudah menikah. Masalah tampang tidak usah terlalu dipusingkan. Itu menurut Safira. "Kamu nggak tau berapa berharganya laki - laki itu buat Kamu! Dia bisa membuatmu bergelimang harta, Evara!" Safira berteriak dengan nafas tersengal. Ia sangat marah. "Aku sudah mengandung, Ibu. Aku juga tidak ingin bercerai dengan Brian! Aku akan menemaninya sampai maut memisahkan!" bantah Evara. "Anak bodoh! Gugurkan kandunganmu!" "Tidak akan! Tidak akan pernah!" teriak Evara setinggi langit. "Anak kurang ajar!" Plak!! Safira kembali menampar Evara. Athena masuk dengan seorang gadis. Tidak terlalu cantik tapi penampilannya sungguh membuat mata Evara silau. Banyak emas yang bergantung di pergelangan tangannya. Juga di jari jemarinya. Itu tidak membuatnya terlihat elegan tapi kampungan dan norak menurut Evara. 'Toko mas berjalan.' gumam hati Evara seraya mengusap pipinya yang terasa panas. Safira sudah menamparnya dua kali. "Ini calonku, Bu. Bagaimana?" Tanya Athena dengan seringai di bibirnya. Safira tentu saja menyambutnya dengan suka cita. "Duduklah, Sayang. Biarkan Kakakmu menyiapkan makan malam untuk Kita." Katanya sambil menoleh pada Evara. Matanya membuat perintah. Evara tidak ingin mendebat lagi. Ia berjalan ke dalam untuk menyiapkan makan malam. Hanya ada lauk sederhana. Evara dan Brian belum gajian. Belum waktunya juga. "Makanan apa, ini?" Protes sang calon adik ipar. Athena mendelikkan matanya pada Evara. "Apa tidak ada yang lain?" Tanyanya dengan suara mulai naik. "Aku belum gajian." Jawab Evara tidak peduli. "Ibu?!" Seru Athena dengan nada merajuk. Ibunya langsung bereaksi. "Eva, masak lagi yang baru." Titahnya. "Tapi semua bahan sudah habis, Bu. Tinggal untuk besok sebelum Aku gajian." Bantah Evara. "Makan yang ada saja, Atha. Jangan banyak tingkah." Lanjutnya pada Athena. "Kalau tidak, suruh pacarmu yang kaya ini untuk membelikan Kita makanan." Katanya lagi. Ketiga pasang mata itu membelalak. Mereka tidak menyangka Evara akan berani mengatakan itu. "Untuk apa Aku datang ke sini, Sayang?" Dengus Viona, sang calon adik ipar. Ia bangun dari kursinya. "Sebaiknya Aku pulang saja!" Sungutnya marah. "Eva! Cepat minta maaf!" Tegur Safira. "Apa salahku, Bu? Apa salahnya meminta sedikit uangnya yang berlimpah itu? Kalau perlu, jual salah satu dari cincinnya itu. Lebih baik, kan?" "Eva! Beraninya Kamu!" Athena menjerit. Tangan Athena melayang, Plak!! ***********"Ana! Hati - hati!" Tanpa di sadari oleh yang lain tubuh Sunny melesat mendekati Ariana dan ikut memegang nampannya. Sejenak tatapan mereka bertemu.. "Ana, bawa kemari tehnya." Titah Mahestra. Moanda sendiri sudah duduk di sebelah suaminya. Mereka menyaksikan kedua insan yang sedang bertatapan dengan sama - sama memegang nampan. "Aku nggak papa. Lepaskan" Kata Ariana dan meminta Sunny melepaskan tangannya dari nampan. Sunny berjalan di sisi Ariana menuju Sofa yang diduduki Mahestra dan Moanda. Ia juga membantu memindahkan cangkir dari atas nampan ke atas meja. "Duduklah Kalian. Jangan berdiri terus di situ." Tegur Mahestra. Ariana meletakkan nampan di bawah meja sebelum duduk di sebelah Sunny. Kembali tatapan mereka bertemu.. "Cobalah kue ini, Sunny. Kamu akan tahu kenapa Aku sangat menyukainya." Kata Mahestra sambil melirik pada istrinya. Moanda tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Ia membantu Mahestra meletakkan kue yang sudah dipotong ke atas piring kue dan memberikanny
Tapi tidak. Kekhawatiran Sunny sepertinya tidak beralasan. Mahestra melepaskan pelukannya pada Ariana dan melihat ke dalam mobil, "Apa Kamu nggak ingin turun?" Tanyanya. Sunny sedikit terkejut. Ternyata Mahestra sangat fasih berbahasa Belanda. Sunny turun dengan kotak kue di tangannya. "Ini kue coklat buatan Ariana. Katanya Tuan sangat menyukainya." Katanya dengan canggung. "Apa Kamu pernah mencobanya?" Tanya Mahestra sambil mengambil kotak kue dari tangan Sunny. "Aku.. Belum.."Sunny terlihat bingung. Ia memang belum pernah mencoba kue apapun buatan Ariana. "Aku tahu. Masuklah dan nikmatilah bersamaku. Kamu akan tahu kenapa Aku sangat menyukainya." Sahut Mahestra sambil tertawa. Ariana tercengang. Ini tidak ada dalam bayangannya. Apalagi Mahestra lalu memeluk Sunny dengan hangat. "Ternyata Kamu cukup layak untuk bersaing dengan anakku." Kata Mahestra di telinga Sunny tapi dapat didengar oleh Ariana. Ucapan itu membuat wajah Ariana memerah. Apa maksud mertuanya ini? Apa ia me
"Baiklah. Berikan padaku data - datanya." Kata Randy. Viona merasa senang. Ia lalu meminta nomor kontak Randy. "Aku akan mengirimkan datanya padamu."Randy mengangguk. Viona menggenggam tangan Randy sebelum melangkah menuju pintu keluar, "Aku berharap padamu.""Tunggu!" Cegah Randy. Viona berhenti melangkah. Ia menunggu Randy menghampirinya. "Bagaimana kalau Poksi tanya? Apa dia boleh tahu?" Tanya Randy. "Terserah padamu." Sahut Viona tidak peduli. Ia ingin segera pergi dari sana. Ia tidak ingin berdekatan dengan Poksi lagi meski hanya sebentar. Poksi mencampakkannya waktu itu dan itu sudah cukup! Poksi yang melihat Viona keluar segera ingin mengejarnya tapi Randy menahannya. "Biarkan Dia, Pok!""Apa Dia jadi pacarmu sekarang?" Tuduh Poksi marah. "Apa Kamu gila?" Sergah Randy. Kalau ia mau dengan Viona tentu ia tidak akan menolaknya saat Viona mencari ayah untuk anaknya dan Poksi. "Lalu kenapa ia mencarimu?" Tanya Poksi tidak percaya. Randy mendengus, "Dia membutuhkan ja
"Aawh!" Jerit Viona kesakitan. Ada dua pasang tangan yang menjambaknya. Kepalanya langsung pusing. Ia melepaskan tangannya untuk memegang kepalanya. Sontak Siska dan Cindy juga melepaskan tangannya dan berlari masuk ke dalam kamar kost mereka. "Gila banget, Sis! Siapa sih, Dia?" Tanya Cindy dengan nafas terengah. "Dia mantan istri Atha." Sahut Siska juga dengan nafas terengah. Cindy membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka kalau Athena adalah seorang duda. Ia mendekati jendela dan mengintip keluar. Siska mengikutinya. Mereka melihat Viona jongkok dengan memegangi kepalanya. Kelihatannya ia benar - benar pusing."Non, Non nggak papa?" Tanya Security itu serba salah. Semula ia kesal pada sikap Viona yang tidak mengindahkan peringatannya tadi tapi ia juga kasihan melihatnya dikeroyok. Viona bangun dan melepaskan tangannya. Security itu terperanjat. Ia mengenali Viona. "Nona Viona?" Sapanya. Viona mendengus. "Kenapa Kamu nggak membantuku, Pak? Kamu malah ngebiarin mereka ngeroyo
Sunny tersenyum. Sekarang ia sudah yakin akan perasaan Ariana padanya. Ia lalu mengelus kepala Brian, "Kenapa namanya harus Brian?" Tanya Sunny. Ariana menoleh pada Evara. "Karena Eva ingin selalu mengenang Brian." Sahut Ariana yang disambut anggukan oleh Adamis. Sunny ikut menganggukkan kepalanya. "Apa Eva nggak ingin belajar bahasa belanda?" Tanyanya. Ia merasa tidak nyaman karena ia dan Evara tidak saling mengerti satu sama lain. "Ia akan. Tapi Paman juga harus belajar bahasa Indonesia bila Paman ingin menetap di sini." Sahut Adamis. Ia sudah mendengar kalau Sunny sudah melamar Ariana dan Ariana tidak terkesan menolak meski tidak ada pernyataan untuk menerimanya. "Itu pasti." Sahut Sunny dengan keyakinan penuh. "Aku ingin mengucapkan ijab qabul dalam bahasa indonesia." Katanya lagi. Wajah Ariana langsung memerah. Tapi ia tidak menyanggah ucapan Sunny tadi. "Kalian harus ke Surabaya untuk menjemput Opa dan Oma. Secepatnya." Kata Adamis mengingatkan. Ariana menatap Sunn
Sebenarnya Viona sudah meminta security yang menjaga rumahnya untuk menolak bila Tiffany datang lagi ke rumahnya. Tapi Tiffany bukan orang bodoh. Ia langsung menelpon Viona saat security menolaknya di pintu gerbang. Ia juga tidak menyerah saat Viona tidak mengangkat telponnya. Ia mulai menghubungi Viona melalui chat. 'Aku bisa menelpon Mamamu sekarang, Vion! Apa Kamu mau rahasiamu terbongkar sekarang? Kuberi waktu lima menit!'Viona terpaksa meminta security mengizinkan Tiffany masuk. Dan akhirnya.. "Sialan!!" Jerit Viona setinggi langit. Ia mulai melempar barang yang ada di dekatnya. Prang! Brak! Prang!Adelia berlari ke ruang tamu bersama beberapa pelayan. "Vion?!"Mata mereka terbelalak melihat kekacauan di ruangan itu. Semua pajangan yang semula berada di atas buffet kini berada di lantai dalam keadaan hancur dan rusak. Apa yang terjadi? Viona terlihat mengatur nafasnya yang memburu karena marah. Ia menoleh pada sang Mama dan mengatakan, "Ada tikus, Ma. Aku ingin menyambitn







