Home / Romansa / Adik Ipar Yang Jadi Suamiku / Bab 6 Uang duka cita

Share

Bab 6 Uang duka cita

Author: Dhisa Efendi
last update Last Updated: 2025-10-17 14:56:36

"Rencananya pagi ini Aku baru mau ke sana untuk memberitahunya." Kata Adamis lagi.

Ariana terlihat bersemangat. Tapi ia juga tau Adamis tidak menyukai Evara. Ia pernah mengatakannya.

"Aku benci Dia, Mama. Dia yang membuat Kak Brian meninggalkan Kita!"

Bagaimana kalau ia mengacau karena mengamuk di sana?

"Mama yang akan memberitahunya, Dami. Mama akan pergi bersama Sony." Kata Ariana lembut.

"Sebaiknya Kamu ke kantor aja." Katanya lagi.

"Apa Mama yakin?"

Sebenarnya Adamis memang enggan ke rumah Evara. Ke rumah perempuan yang membuat Kakaknya pergi meninggalkan rumah ini. Ia benci Evara!

"Mungkin Sony akan terlambat ke kantor." Kata Ariana mengingatkan.

Adamis mengangguk mengerti. Sony adalah orang kepercayaan Brian. Tentu ia sudah mengenal Evara.

"Baiklah, Ma. Katakan pada Sony, waktu kerjanya hari ini fleksibel. Tapi hanya hari ini. Aku akan ke kamarku dulu." Katanya.

Ia mencium pipi sang Mama sambil berharap dalam hati,

'Semoga Mama juga tidak terpengaruh pada perempuan jahat itu seperti Kak Brian.'

Ariana tersenyum dan memegang bahu Adamis,

"Apa Kamu ingin pergi bersama Kami?"

Tentu saja tidak. Ada kesempatan untuk tidak bertemu perempuan jalang itu, kenapa harus dilewatkan?

Adamis menggeleng.

"Mama saja. Dan hati - hati."

Ariana mengerutkan dahinya. Kenapa ia harus berhati - hati? Tapi ia tidak sempat bertanya karena Adamis sudah berlalu dari hadapannya.

Ariana keluar dari kamarnya dan meminta pelayan untuk memberitahu Sony.

"Aku tunggu Dia di mobilku." Titahnya.

Pelayan itu merasa heran.

"Nyonya, Nyonya hendak kemana sepagi ini?" Tanyanya sambil memperhatikan baju hitam yang masih dikenakan Ariana.

"Aku ingin menjemput Nyonya Mudamu." Sahut Ariana sambil bergegas pergi.

Nyonya muda? Apa ia tidak salah dengar?

Dengan langkah cepat pelayan itu mencari Sony yang masih setia berdiri di ruang keluarga. Ia tidak duduk sama sekali karena Ariana tidak memerintahkannya untuk duduk.

"Tuan Sony, Anda ditunggu Nyonya di mobilnya."

"Ah, baiklah." Sony sedikit terkejut.

Ia bergegas keluar agar tidak membuat Ariana menunggunya terlalu lama.

Adamis tidak jadi berangkat. Masih terlalu pagi untuk ke kantor. Tadinya ia ingin ke rumah Evara untuk memberitahu kematian Brian, tapi sekarang itu tidak perlu lagi. Tanpa membuka setelan jasnya ia berbaring di tempat tidurnya dan menatap langit - langit kamarnya.

'Bagaimana cara Mama memberitahunya? Kenapa Mama terlihat begitu exited?'

Adamis tidak tau kalau Ariana bahkan ingin menjemput Evara agar tinggal di rumah ini. Bersama mereka. Andai ia tau, ia tentu akan menentangnya habis - habisan. Brian sudah tidak ada lagi. Buat apa perempuan itu ada di sini?

Sony membungkukkan tubuhnya sebelum naik di samping sopir. Ariana hanya mengangguk sedikit.

"Cepatlah," Titahnya pada sopir pribadinya.

Sopir itu mulai menyalakan mobilnya seraya menatap Sony.

"Dari pintu gerbang belok ke kiri." Beritahu Sony.

Ia yang akan memandu perjalanan ini. Ariana tersenyum dengan air mata yang kembali turun di pipinya.

'Aku akan membawa istri dan anakmu pulang, Brian. Maafkan Mama, Sayang.'

Ia membuka tas dan melihat ponsel Brian. Ini yang akan ditunjukkan pada Evara kalau ia tidak mempercayai ucapannya. Evara tidak pernah mengenalnya. Mungkin ia akan menolak semua yang ia katakan.

Ada dompet Brian juga. Ariana merasa hatinya teriris melihat hanya ada beberapa lembar uang kecil di dompetnya. Ada fotonya bersama Evara, itu yang akan membuat Ariana nanti dapat mengenalinya.

'Evara - mu menang cantik sekali, Sayang. Apa hatinya juga secantik itu?'

Tangan Ariana mengusap wajah Brian dalam foto, lalu ia mengusap wajah Evara juga.

'Bagaimanapun ia sedang mengandung darah daging Brian, cucuku.'

Hati Ariana menjadi hangat. Perlahan Ia mengusap air matanya.

************

Brian tidak juga pulang. Evara menjadi semakin cemas dan gelisah. Ia tidak tahu harus mencari Brian kemana.

"Aku hidup sebatang kara." Kata Brian waktu itu saat mereka menikah.

"Keluargaku hanya Kamu, Sayang. Kuharap Kamu nggak keberatan."

Itu lebih baik buat Evara. Daripada mempunyai keluarga seperti ibu dan adiknya?

"Kita sekarang ini satu keluarga, Sayang. Suatu saat Aku akan membawamu pergi dari sini."

Evara tidak mempersalahkan itu. Bersama Brian ia menemukan kebahagiaannya di tengah terpaan hinaan dan celana yang ia terima selama ini.

"Uangmu selamanya tidak akan pernah cukup. Apa Kamu bisa menyembuhkan kakiku?" Sengit Athena.

Uang Evara selalu habis untuk kebutuhan makan mereka. Ia bahkan tidak mempu menyenangkan dirinya sendiri. Wajahnya selalu polos tanpa make up. Tapi kecantikannya tetap memancar keluar. Itu yang membuat Brian jatuh cinta.

"Ia akan menjadi seorang putri jika dipoles sedikit saja." Katanya pada Sony.

Sony tidak menyangkalnya. Evara memang sangat cantik.

"Belok lagi ke kiri." Kata Sony.

"Apakah masih jauh?" Tanya Ariana.

Mereka sudah keluar dari pusat kota sepuluh menit yang lalu.

"Katanya Ia bekerja di Mall Bahana, itu lumayan jauh dari sini." Kata Ariana lagi.

"Memang, Nyonya. Tapi kalau naik motor bisa lebih cepat. Ia harus menghabiskan waktu tiga puluh menit pulang pergi dari tempat kerjanya dengan motor Brian." Jelas Sony.

'Motor? Sejak kapan Brian mengendarai motor? Motor siapa? Ah ya, Brian meninggal karena kecelakaan motor!'

Ariana tidak tau kalau Brian mendapat fasilitas motor dari tempatnya bekerja. Dengan itu ia bisa menghemat uang Evara agar tidak dihabiskan untuk naik ojek online.

Ariana menghela nafas. Begitu sulitnya kehidupan Brian setelah menikah. Ia mempunyai andil di dalamnya.

'Mama akan membayar semua kesalahan ini, Sayang. Mama akan menjaga istri dan anakmu mulai sekarang. Kamu beristirahatlah dengan tenang.' hati nya mengeluarkan tekad.

Pihak proyek tempat Brian bekerja juga mendapat laporan tentang kecelakaan yang menimpa Brian. Itu karena motornya terdaftar atas nama perusahaan yang sedang mengerjakan proyek itu.

"Apa istrinya sudah tau, Pak?" Tanya pimpinan proyek dengan nada prihatin.

"Belum. Kami belum memberi kabar ini langsung pada istrinya. Katanya pihak keluarga almarhum yang akan memberitahunya."

"Jadi begitu."

Ia tau Brian belum lama menikah dan kabarnya istrinya sedang mengandung.

'Kasihan sekali.' gumamnya dalam hati.

Ia memutuskan untuk mendatangi rumah Evara untuk memberi tanda bela sungkawa.

Ia datang lebih dulu dari Ariana. Evara sedang bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya saat sang Ibu memanggilnya,

"Eva! Ada yang mencarimu!"

"Siapa?" Evara balas berteriak.

Ia baru selesai mengenakan seragamnya.

"Keluarlah dan tanya sendiri!" Ketus Safira.

Athena masih tidur di kamarnya setelah semalam ia pulang dalam keadaan mabuk.

Evara keluar dan menemui tamu yang ingin bertemu dengannya itu. Pimpinan proyek dan anak buahnya melihat perut Evara yang masih rata.

'Ia seperti gadis yang belum menikah.'

Itu yang ada dalam pikiran mereka.

"Ada apa, ya? Siapa Kalian?" Tanya Evara halus.

"Duduklah." Katanya sambil meminta maaf.

Ia bertanya sebelum mempersilakan tamunya duduk.

Mereka mengikuti permintaan Evara untuk duduk di sofa yang sudah usang tapi bersih. Evara tidak pernah lupa membersihkannya.

"Kami hanya ingin menyampaikan uang duka cita ini." pimpinan proyek membuka suaranya.

**********

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 97 Kemarahan Adamis

    "Darimana Kamu, Al?" Tanya Axel pada Alea. "Apa urusanmu?!" Sahut Alea sewot. Ia menuju meja kerjanya dengan cepat. "Jadi urusanku, Nona manja! Papa memarahiku tadi karena Aku nggak tau Kamu kemana!" Sentak Axel."Setidaknya Kamu bilang padaku mau kemana!" Rutuk Axel lagi. "Baru kali ini Aku keluar, Ax!" Alea balas berteriak. Setelah berbulan - bulan tenggelam dalam kesibukan yang sengaja diberikan sang papa, hari ini tiba - tiba saja Alea ingin pergi keluar. Ia nekat meninggalkan kantor tanpa izin. Ia tahu sang papa akan mengerti setelah mengetahui alasannya. Andara diberitahu oleh sekertarisnya kalau Alea sudah kembali. Ia segera menuju ruangan Alea dan Axel. "Alea! Kemana Kami tadi, Sayang?" Tanya Andara langsung. Alea mengerucutkan sedikit bibirnya."Aku hanya keluar sebentar, Papa! Kenapa harus marah, sih??" Katanya merajuk. Andara menghela nafas. "Papa nggak marah. Tapi ada adab untuk orang bekerja, Alea. Kamu sama sekali nggak minta izin keluar. Setidaknya Kamu member

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 96 Perawat untuk Brian

    Alea melihat semua kehebohan itu dengan senyum kecil. 'Ternyata mudah sekali membuatmu drop, Eva!' kata hatinya puas. Ia berjalan dengan langkah tenang di bawah tatapan para pelayan yang baru melepas kepergian Evara dan Safira ke rumah sakit. "Itu penjahatnya!" Teriak Sisil gemas. Penjahat? "Dia yang membuat Nyonya Muda pingsan!" Kata Sisil lagi. Teman - temannya sontak berkomentar sendiri - sendiri. Yang pasti, semua menyalahkan Alea. Alea sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh pada sekumpulan pelayan yang sedang menatapnya. 'Hanya pelayan. Nggak penting sama sekali.' dumel hati Alea. Kini ia mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin mendengar komentar yang akan membuat spanningnya naik lagi. 'Aku akan meminta Adamis memecat semua pelayan itu jika ia pulang nanti!' kata hatinya kesal. Mariska mendatangi kamar Ariana dan mengetuk pintunya. "Nyonya, biar Saya yang menjaga Tuan Muda." Katanya begitu pintu terbuka. Ariana menoleh ke tempat tidurnya. "Brian tidur. Biarkan

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 95 Evara shock

    "Duduklah di sini, Alea. Kita bisa bicara lebih santai. Semalam Brian rewel, Evara lelah karena terjaga semalaman. Tapi ia sangat senang menerima kedatanganmu." Ungkap Ariana. Evara memang terlihat lelah dan sedikit lusuh. Wajahnya juga pucat. Alea duduk di sebelah Evara dan menggenggam tangannya. 'Perempuan seperti ini yang Kamu pilih, Adamis? Lihatlah, Dia sekarang hanya seperti serbet di pojokan sana!' cerca hatinya gemas. Tapi bibirnya melukiskan senyum simpati. "Aku harap Kita bisa berteman, Eva." Katanya dengan senyum kemunafikannya. Evara yang polos tidak menyadari kepalsuan Alea. Ia membalas genggaman tangan Alea dengan hangat. "Tentu saja. Aku senang Kamu mau berteman denganku, Alea." Ariana menghela nafas. Ia berharap Alea bersungguh - sungguh dengan ucapannya. Tapi tatapan Alea pada Evara terkesan aneh untuknya. "Baiklah, Aku akan kembali ke kantorku, Tante, Eva. Kabari Aku kalau Adamis sudah pulang." Katanya dengan senyum manis. Safira masuk begitu saja karena pi

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 94 Kedatangan Alea

    "Bubur kacang hijau? Itu bagus." Jawab Ariana atas saran Mariska. Makanan tambahan untuk Evara. "Tapi Aku sudah makan, Ma." Protes Evara. "Kamu tadi hanya sarapan roti, Eva. Nggak cukup untukmu dan Brian." Evara memang hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu. Evara dan Athena saling berpandangan dengan penuh rasa kasih sayang. Safira menatap semua itu dengan perasaan kesal yang menggunung.Athena mencium pipi Evara dan meraih tangan Ariana untuk mencium punggung tangannya. "Aku berangkat." Katanya. Safira hampir protes saat Athena akhirnya juga meraih tangannya. Ia mencium pungging tangan Safira tanpa mengatakan apa - apa. "Anak baik." Puji Ariana. "Juga paman yang baik." Timpal Evara. Athena bolak balik ke rumah sakit untuk menemani Evara. Ia yang menjaga Evara setiap ia pulang kerja. Paginya ia akan pulang untuk bersiap kerja lagi. Tidurnya tentu sangat kurang tapi Athena tidak pernah mengeluh. Siska datang pada saat Evara baru melahirkan. Hanya sekali itu karena ia

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 93 Brian kecil

    Adamis tercengang. Bukan hanya Adamis, semua yang berada di meja itu juga membuka mulutnya sehingga membentuk bulatan. Sunny tidak peduli. Keinginannya untuk ikut bersama Adamis sangat kuat. Ia ingin melihat seperti apa Ariana sekarang. Tentu ia masih secantik dulu. Usia tidak akan menelan kecantikannya. Adamis sedikit bingung. Ia tidak mengetahui kisah antara mereka bertiga. Ia hanya tahu Sunny melepas perusahaan yang ia bangun bersama Bramanatyo karena ingin membuka perusahaan sendiri. "Tentu saja, Paman. Tapi apa Paman pernah ke Indonesia sebelumnya?" Tanya Adamis sedikit berbasa basi. Sunny menggeleng dan berkata dengan suara berat. "Cintaku pergi ke sana. Aku ingin melihatnya lagi, walau mungkin hanya sebentar.""Wow, cinta Anda padanya tentulah sangat besar, Tuan Sunny." Celetuk Rossie. Pikirannya sendiri mulai traveling. Andai ada yang mencintainya sebesar itu tentu dunia tidak terasa terlalu kosong. Sunny tersenyum pahit. Cintanya memang sangat besar dan habis untuk Ari

  • Adik Ipar Yang Jadi Suamiku   Bab 92 Anthony dipecat!

    "Anthony! Kemarilah!" Teriak Vicky dari depan pintu ruang kerjanya. Anthony bangun dengan cepat. Ini kesempatannya mengatakan pemecatannya pada Adamis. Adamis juga ikut bangun dan berjalan ke ruangan Vicky. Ternyata Adamis yang memberitahu Vicky lewat ponselnya. Terdengar teriakan tidak jelas dari ruangan Vicky yang dibiarkan terbuka. "Kita lihat, yuk!" Ajak Rossie. Ia lebih dulu berlari untuk melihat keadaan di ruangan Vicky. Ia berniat membela Adamis kalau ia benar - benar dipecat. Ternyata tadi Anthony yang berteriak saat melihat Adamis mengikutinya masuk ke ruangan ini. "Ini orangnya, Pak!" Teriaknya. Vicky menatap Anthony dengan perasaan gusar. "Apa maksudmu, Anthony?" Tanyanya dengan memicingkan sebelah matanya. Ia jadi kelihatan lebih tua dari usianya. "Dia diam - diam bekerja sama dengan Sandiago Corp atas nama perusahaannya ini! Dia pantas dipecat!" Kata Anthony berapi - api. Tubuh Lisa dan Ronald langsung gemetar. Sandiago Corp, itu proyek rahasia yang sedang mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status