MasukPercakapan mereka berlangsung menyenangkan. Sunny bersedia menyuntikkan dana dengan cara bekerja sama. "Terimakasih, Paman. Kami tidak akan melupakan ini." Kata Adamis.Sunny tertawa. Ia seperti melihat Bramantyo muda dalam diri Adamis. Begitu tegas dan berkharisma. Tentu itu yang membuat Ariana dulu terpikat padanya. "Sebenarnya Aku sedikit kecewa, Adamis." Kata Sunny sedikit berteka - teki. "Dami. Panggil Aku Dami, Paman. Tapi apa yang membuat Paman kecewa?" Kata Adamis. Sunny mengangguk - angguk. "Karena Kamu sangat mirip dengan Bram." Sahut Sunny.Kenapa ia tidak memiliki garis wajah ibunya sama sekali? Adamis tertawa geli. "Tentu saja. Aku kan anaknya." Katanya dengan mimik lucu. Sunny menatap Adamis. Tentu saja ia tidak ingin Adamis tau perasaannya pada Ariana. "Mungkin Kakakmu yang lebih mirip Mamamu. Mendiang kakakmu, tepatnya." Kata Sunny berpraduga. Adamis menggeleng. "Nggak, Om. Kak Brian seperti Aku. Maksudku, seperti Papa."Sunny mengangguk - angguk lagi. Ia me
"Ini gajiku selama dua minggu, Bu." Kata Athena seraya menyerahkan sebuah kartu.Mata Safira berkilat karena senang. "Apa kubilang, Atha. Kalau Kamu minta pasti akan dikasih." Kata Safira sambil mengamati kartu yang kini sedang dipegangnya. Berapa ya, isinya? "Aku nggak memintanya, Ibu. Pak Robby yang memberikannya." Sanggah Athena. "Aku bukan memberikannya padamu, Bu. Aku hanya memberitahumu dan memintamu menyimpannya untukku." Kata Athena lagi. Mata Safira kembali berkilat. Kini karena gusar. "Apa maksudmu, Atha? Apa Ibu nggak boleh menggunakannya untuk keperluan Ibu?" Kata Safira gusar. "Tentu saja boleh, Bu. Tapi jangan dihabiskan, ya? Lagipula, memang Ibu perlu apa lagi? Semua kebutuhan Ibu selama di rumah ini sudah dicukupi oleh Eva, kan?"Safira mendengus. Ia tidak menyangka kalau Athena akan sepelit Evara. Itu yang ada dalam pikirannya. "Memang berapa sih, isinya?" Katanya sambil membolak - balik kartu itu. Athena menghela nafas. Ia merasa keputusannya memberikan kar
"Anda siapa?" Tanya Smith heran. Ia sedikit menautkan alisnya. "Anthony. Aku Anthony dari Bramantyo corporate." Kata Anthony mengenalkan dirinya. "Ah, ya. Bramantyo. Kita akan mulai kerja sama ini hari ini. Tapi ada apa dengan Adamis?" Tanya Smith sambil menyambut uluran tangan Anthony. Anthony terlihat menarik nafas panjang sebelum mendekatkan kepalanya agar lebih mendekati Smith. "Apa yang Adamis tawarkan pada Tuan itu di luar otoritas Kami." Katanya. "Hah? Apa maksud Anda?" Tanya Smith mulai waspada. "Adamis terkenal selalu bergerak di luar jalur. Penawarannya terlalu rendah dan merugikan perusahaan. Hanya menunggu saat yang tepat untuk memecatnya." Kata Anthony lagi. Smith membuka mulutnya karena tercengang. Adamis memang memberikan penawaran dengan harga yang menarik dan sesuai dengan penawarannya. Apa itu sebuah kesalahan? "Sekarang Aku yang akan menghandle proyek ini, Tuan Smith." Kata Anthony. Ia merasa puas melihat reaksi Smith. Orang ini pasti akan membatalkan kerj
"Apa begitu santainya dirimu? Jam kerja baru saja dimulai dan Kamu sudah mau berleha - leha?" Lanjut Anthony seraya memicingkan matanya. Adamis berusaha untuk tidak menentang. Ia ingin menjaga perasaan staf yang lain."Maafkan Aku, Tuan. Aku belum terbiasa dengan jam kerja di sini." Sahut Adamis merendah.Tapi itu tidak membuat Anthony puas."Maka dari itu. Jangan samakan orang Belanda denganmu. Orang Indonesia memang pemalas!" Kecamnya.Adamis hampir terpancing untuk melawan saat tiba - tiba Vicky datang dan langsung menghampirinya dengan sebuah berkas."Kamu ingat Sandiago corp, Tuan Ada.." Tiba - tiba ia tersadar akan kehadiran Anthony. Anthony menatap mereka dengan pandangan ganjil. Kenapa Vicky memanggil Adamis dengan sebutan tuan? "Ada apa, Tuan? Apa ada yang bisa Aku lakukan?" tanya Adamis pura - pura tidak tahu dengan tatapan aneh Anthony. Vicky belum pulih dari rasa terkejutnya ketika Anthony mencoba masuk dalam pembicaraan. "Sandiago corp? Biarkan Aku yang menanganinya!
Safira menghabiskan rotinya tapi buburnya belum juga datang. Ia hampir meledak lagi saat Evara mengatakan padanya sesuatu yang membuatnya senang, "Ibu, nanti Ibu bersiap - siap, ya? Mama mengajakku membeli beberapa baju hamil di mall. Ibu juga bisa membeli gaun yang ibu suka di sana."Mata Safira membulat sempurna karena bahagia. Kemarahannya langsung menguap ke udara. "Jam berapa, Eva?" Tanyanya dengan sangat antusias. Evara menoleh pada Ariana untuk bertanya. "Sekitar jam 9 atau 10?" Sahut Ariana sedikit mengambang. Ia memasukkan potongan rotinya yang terakhir dan meminum tehnya. Evara juga sudah selesai meminum susunya. Seperti dikomando mereka langsung bangun dan meninggalkan meja makan tanpa bicara apa - apa lagi. Ariana menyembunyikan senyumnya. Ia tahu di belakangnya Safira sedang menunggu buburnya dengan tidak sabar. 'Tunggu saja sampai karatan.' kata hatinya geli. seperti yang dikatakan Safira tadi membuat bubur itu membutuhkan proses. Dan itu akan membuat Safira haru
Tidak terasa sudah hampir dua minggu Athena bekerja. Ia memang sungguh - sungguh ingin berubah. Meski seringkali ia hampir terpancing oleh hasutan sang Ibu tapi selama ini ia masih dapat mengendalikan perasaannya. "Sudah dua minggu, Atha. Kamu dapat menerima gajimu." Ujar Safira. "Biar Ibu yang memegangnya untukmu." Kata Safira lagi. "Aku baru dua minggu bekerja, Bu. Aku baru bisa menerima gaji setelah satu bulan." Jawaban Athena membuat Safira kesal. "Aku dengar gajian tiap tanggal 5, Atha. Sekarang kan tanggal 5?" Sungut Safira kesal. Apa Athena akan menyembunyikan uang gajinya untuk dirinya sendiri? "Tapi Aku baru 2 minggu bekerja, Bu." Sanggah Athena. "Kamu bisa memintanya sekarang, Atha. Masa' Bosmu itu akan menolakmu? Dia 'kan masih bawahan Adamis, kakak iparmu!" Serang Safira. Ia masih sangat menginginkan gaun itu. Gaun yang terlihat sangat cantik di matanya tapi Evara menolak membelikannya. "Gaun itu terlalu kekanakan untuk Ibu. Orang - orang akan menertawakan Ibu bil







