LOGIN"Itu memang nggak masuk akal." Angguk Ariana menyetujui dugaan Evara. Mana ada suami istri yang mesti berpisah padahal baru saja menikah kalau tidak ada sesuatu di balik semua itu? "Parahnya, Viona juga mengambil hadiah dariku, Ma. Atha hanya diberi sepertiga bagian." Kata Evara lagi. Ia merasa gemas setelah mendengar curhatan Athena dan ia langsung menceritakannya pada Ariana. "Bagaimana dengan Ibumu? Ia nggak terlihat khawatir?" Tanya Ariana. Evara menghela nafas. Ia juga tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh ibunya. Kenapa ia tidak kuasa membela Athena saat itu juga? "Apa Ibumu sudah Kamu beritahu, Atha? Apa reaksinya?" Tanya Ariana. Ia mengira Athena sudah memberi kabar pada Safira melalui telpon. Athena baru menyadari ketidak hadiran Safira. "Mana Ibu?" Ia balik bertanya. Evara tersenyum. "Ibu ada di kamarnya, Atha. Dia sangat mencintai kamarnya." Canda Evara. Safira memang menghabiskan kesehariannya dalam kamarnya yang nyaman. Ia akan keluar bila waktu makan tiba a
3 bulan sudah berlalu. Akhirnya Athena bisa menjalani proses perceraiannya dengan Viona karena ia sudah melahirkan. Athena semakin yakin kalau anak itu bukanlah anaknya saat ia menyambangi tempat Viona melahirkan. Ia benar - benar merasa tertipu. "Anak ini lahir prematur, Atha." Kilah Viona. "Apa Kamu pikir Aku akan percaya?" Kata Athena malas. Perasaan cintanya pada Viona sudah menguap entah kemana. Bahkan ia merasa heran pernah tergila - gila pada perempuan jahat ini! Semula Viona memang ingin bercerai dengan Athena tapi melihat penampilan Athena yang sekarang membuatnya ragu. Sudah tidak terlihat lagi tampang kucel Athena yang pemabuk. Wajahnya cerah dengan tatapan mata yang tegas. Wajahnya juga bersih karena selalu tersiram air wudhu. "Atha, Kita bisa memulainya lagi dari awal." Pinta Viona. Ia mendengar kalau Athena kini bekerja di perusahaan Adamis. Athena hanya tersenyum tipis. Ia tahu Viona melihat dirinya yang sekarang makanya ia bersikap merendahkan dirinya sendiri.
"Tenang, Alea. Mama akan sabar menemanimu sampai Kamu bosan." Jawab Artika yang tidak melihat ekspresi Alea karena ia fokus menatap wajah suami tercintanya. Alea berdiri sedikit gemetar menahan emosinya. 'Dami! Kenapa sulit sekali jalanku untuk bertemu denganmu?!' teriak hatinya putus asa. Alea menghentakkan kakinya sebelum keluar dari kamar. Andara juga langsung menutup telponnya setelah memberi kecupan mesra pada sang istri. Artika sedikit heran dengan sikap Alea barusan. Kenapa ia marah mendengar mamanya akan tinggal? Notif di ponselnya berbunyi. Dari Andara. Ia kembali merasa heran. Apa ada yang Andara lupakan? Notif berbunyi lagi. Andara mengirimkan pesan lagi. Artika dengan tidak sabar segera membukanya. 'Sayang, Aku takut Alea akan menyusul Adamis kalau Kamu pulang. Makanya Aku memintamu untuk tetap tinggal.' itu chat yang Andara tulis. 'Hapus chat ini dan yang tadi. Aku nggak mau Alea sampai membacanya.'Artika menutup mulutnya yang terbuka. " Ya Tuhan! Apa Alea akan s
"Aku.. Enggak.." Kata Adamis seraya melihat pelayan yang masih mempertahankan senyumannya. Ia akhirnya menyadari kekeliruan ini. Ia menatap pelayan yang terlihat centil itu dengan sebal. "Aku sudah mau pergi. Bill nya juga sudah kubayar. Untuk apa Aku pesan lagi?" Senyum di bibir pelayan itu langsung menghilang. "Maaf, Tuan. Saya pikir.." "Nggak usah mikir! Pergi sana!" Selak Adamis galak. Pelayan itu berlari pergi karena takut dan malu sekaligus. Banyak mata yang kini menatap mereka penuh tanya. "Dia udah ngacir, Ma. Jangan bilang Eva, ya?" Kata Adamis cemas. Ia benar - benar takut Evara akan cemburu. Ariana langsung tertawa terbahak - bahak. Suara tawanya begitu lepas. Ia juga melepaskan pikirannya dari Sunny, laki - laki dari masa lalu itu. "Mama, Aku harus segera keluar dari sini. Aku tutup dulu, ya?" Kata Adamis. Ia mulai tidak nyaman menyadari tatapan aneh orang - orang di sekitarnya. "Ya." Jawab Ariana sambil terus tertawa. 'Adamis benar - benar
Percakapan mereka berlangsung menyenangkan. Sunny bersedia menyuntikkan dana dengan cara bekerja sama. "Terimakasih, Paman. Kami tidak akan melupakan ini." Kata Adamis.Sunny tertawa. Ia seperti melihat Bramantyo muda dalam diri Adamis. Begitu tegas dan berkharisma. Tentu itu yang membuat Ariana dulu terpikat padanya. "Sebenarnya Aku sedikit kecewa, Adamis." Kata Sunny sedikit berteka - teki. "Dami. Panggil Aku Dami, Paman. Tapi apa yang membuat Paman kecewa?" Kata Adamis. Sunny mengangguk - angguk. "Karena Kamu sangat mirip dengan Bram." Sahut Sunny.Kenapa ia tidak memiliki garis wajah ibunya sama sekali? Adamis tertawa geli. "Tentu saja. Aku kan anaknya." Katanya dengan mimik lucu. Sunny menatap Adamis. Tentu saja ia tidak ingin Adamis tau perasaannya pada Ariana. "Mungkin Kakakmu yang lebih mirip Mamamu. Mendiang kakakmu, tepatnya." Kata Sunny berpraduga. Adamis menggeleng. "Nggak, Om. Kak Brian seperti Aku. Maksudku, seperti Papa."Sunny mengangguk - angguk lagi. Ia me
"Ini gajiku selama dua minggu, Bu." Kata Athena seraya menyerahkan sebuah kartu.Mata Safira berkilat karena senang. "Apa kubilang, Atha. Kalau Kamu minta pasti akan dikasih." Kata Safira sambil mengamati kartu yang kini sedang dipegangnya. Berapa ya, isinya? "Aku nggak memintanya, Ibu. Pak Robby yang memberikannya." Sanggah Athena. "Aku bukan memberikannya padamu, Bu. Aku hanya memberitahumu dan memintamu menyimpannya untukku." Kata Athena lagi. Mata Safira kembali berkilat. Kini karena gusar. "Apa maksudmu, Atha? Apa Ibu nggak boleh menggunakannya untuk keperluan Ibu?" Kata Safira gusar. "Tentu saja boleh, Bu. Tapi jangan dihabiskan, ya? Lagipula, memang Ibu perlu apa lagi? Semua kebutuhan Ibu selama di rumah ini sudah dicukupi oleh Eva, kan?"Safira mendengus. Ia tidak menyangka kalau Athena akan sepelit Evara. Itu yang ada dalam pikirannya. "Memang berapa sih, isinya?" Katanya sambil membolak - balik kartu itu. Athena menghela nafas. Ia merasa keputusannya memberikan kar







