LOGIN"Kamu berangkat sama Papa sekarang." Kata Andara pada Alea yang masih mematung dengan banyak pertanyaan di kepalanya. 'Berangkat sama Papa? Tidak.'Kembali hati Alea mengeluh. Berangkat dengan papanya itu berarti ia harus berangkat setelah sarapan ini selesai padahal biasanya ia masih dapat berleha - leha lebih lama jika berangkat dengan Axel. "Tapi, Pa. Aku masih harus..""Selesaikan urusanmu itu nanti saja." Lagi - lagi Andara memotong ucapannya.Alea menatap sang mama untuk meminta pertolongan tapi Artika seperti tenggelem dalam dunianya sendiri. Artika menggigit rotinya sedikit demi sedikit. Tatapannya juga hanya tertuju pada sang suami yang terlihat sangat menjaga perasaannya. Sarapan yang semula terasa lambat kini seolah sedang berlari kencang dalam perasaan Alea. Ia berdiri untuk kembali ke kamarnya. "Aku harus memperbaiki riasanku dulu." Katanya beralasan. Andara tahu keinginan Alea yang selalu ingin tampil dengan sempurna jadi ia membiarkannya pergi. Ia harus lebih menja
Athena sangat senang saat Safira mengatakan rumah mereka sudah mencapai delapan puluh persen renovasi. "Kira - kira berapa lama lagi, Kak?" Ia bertanya pada Adamis. Adamis tertawa kecil. Maksud Ardi dengan delapan puluh persen itu adalah untuk renovasi bangunan lama. Pembangunan ke atas belum dimulai sama sekali. "Kenapa tidak Kamu perkirakan sendiri saja, Atha? Lihatlah rumahmu itu nanti." Kata Adamis. "Tapi, Kak. Aku kan..""Nggak papa. Aku akan meminta Bima untuk memulai tugasnya mulai hari ini. Kamu memang harus menunggu dan mengalihkan pekerjaanmu padanya. Tapi pasti bisa selesai pada jam makan siang." Kata Adamis menegaskan.Wajah Athena langsung cerah. "Jadi, setelah makan siang Aku bisa kembali ke kantor lamaku?" Tanya Athena antusias. Jarak yang terlalu jauh juga macet membuat Athena merasa ia sudah menghabiskan waktu dan tenaganya di jalan. Belum lagi hari sabtu dan minggu ia masih harus bekerja agar proses pengalihan cepat selesai. "Bukan cuma itu. Aku memberimu izin
Axel merasa sia - sia karena ia telah melarikan diri dari tanggung jawab dengan berlindung di rumah singgah mereka di Aussie. Perasaan bersalah itu tidak pernah hilang bahkan tumbuh dan berkembang. "Besok Kita ke kantor polisi." Ajak Alvian dengan nada lebih menenangkan. Akhirnya ia tidak tega juga bila terus menerus menyalahkan Axel yang sudah didera perasaan bersalah. Axel mengangguk. Ia memang takut tapi anehnya ia merasa lebih tenang saat memutuskan untuk bertanggung jawab. Andara membawa Artika yang kembali menangis ke dalam kamar mereka. "Axel akan di penjara, Pa." Isaknya menyesali. Andara menghela nafasnya. Cobaan ini seperti terus menerpa keluarganya. Ia baru saja kehilangan ibunya dan adiknya masih terbaring koma, sekarang ia harus rela melepaskan anaknya ke tangan yang berwajib. "Nggak akan lama. Mudah - mudahan nggak akan lama." Kata Andara dengan suara parau. Ia berusaha keras menahan tangisnya. Tanpa mereka sadari, para pelayan mendengarkan semua perbincangan me
"Kamu harus bertanggung jawab, Ax! Kamu harus!" Kata Artika dengan suara bergetar. Airmata menganak sungai di pipinya yang terlihat kurus dengan tiba - tiba. "Bertanggung jawab untuk apa?" Tanya Andara yang tiba - tiba masuk bersama Alvian. Andara dan Alvian terkejut melihat posisi ibu dan anak itu. Ia langsung menghampiri Artika dan memeluknya. Artika menangis semakin hebat dalam pelukan Andara. Ia menemukan sandaran buat luka hatinya. "Kenapa Kamu baru datang?" Tanyanya menghiba, membuat Alvian langsung menghampiri Axel dan menariknya untuk bangun. Ia menduga Axel yang membuat mamanya menangis seperti itu. Ia hampir melayangkan tinjunya tapi terhenti oleh jeritan Artika, "Stop, Al!""Ma??!" Protes Alvian seraya menurunkan tangannya. Artika meminta mereka duduk dengan gerakan tangannya. Ia juga duduk dengan isak tangis yang tersisa. Andara dan Alvian duduk menunggu dengan sabar. Mereka ingin mendengar cerita itu langsung dari mulut Artika. Axel masih duduk bersimpuh di lanta
Para pelayan wanita berkerumun di bawah tangga menunggu Seno dan Teguh yang sedang berjalan turun. "Bagaimana?" Tanya Ranti tidak sabar. Ia tidak melihat ketegangan atau kecemasan di wajah Seno dan Teguh. "Bagaimana apanya?" Tanya Teguh yang tidak sempat melihat Axel karena ia hanya melihat Seno menutup pintu kamar Axel dengan hati - hati. "Tuan Muda kayaknya pulas banget. Apa tetap harus dibangunkan?" Bisiknya saat melihat Teguh datang. "Jangan. Nanti aja." Kata Teguh ikut berbisik. Teguh merasa lega karena Seno belum atau tidak membangunkan Axel. "Tuan Muda Axel. Bagaimana dia?" Tanya Ranti gemas. Memang siapa lagi yang mau ia tanyakan? "Aku nggak tega bangunin. Pules banget gitu." Sahut Seno cuek. Ranti dan yang lainnya ternganga. Axel ternyata beneran tidur seperti apa yang mereka katakan tadi pada Artika. "Alhamdulillah." Serempak Ranti dan yang lainnya mengucap syukur, membuat Seno dan Teguh bingung. "Memang kenapa?" Tanya Seno dan Teguh berbarengan. "Kembali ke pos
Andara langsung menerima panggilan istrinya. "Kalian dimana? Kenapa Kalian nggak segera pulang?!" Seru Artika tanpa berpikir lagi. "Ada apa, Sayang?" Tanya Andara yang semakin gelisah mendengar suara Artika yang terdengar menahan tangis. "Andara, Kami membutuhkanmu, sekarang!" Racau Artika yang mulai tidak dapat menahan tangisnya. "Tenang, Sayang. Apa yang terjadi? Kamu nggak papa, kan?" Cecar Andara ikut panik. Artika sampai menyebutnya dengan namanya, bukan Papa atau Sayang seperti biasanya. Tidak terdengar suara lagi dari atas. Suasana hening ini terasa mencekam dan menyiksa perasaan Artika. Andara masih setia menempelkan telinganya pada ponselnya, menunggu jawaban Artika. "Kenapa nggak ada yang turun dan memberitahuku?" Keluh Artika panik dan kesal sekaligus. "Beritahu apa? Sayang? Apa.."Tut.. Tut.. Tut.. Telepon terputus. "Cepat sedikit, Al!" Titah Andara pada Alvian. Alvian mengangguk dan menambah kecepatan pada laju kendaraannya. Axel terduduk di tempat tidurnya d
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
"Kalian akan membawaku kemana? Kenapa nggak bicara di sini aja, Atha?"Evara mulai panik. "Tenang, Eva. Hanya sebentar, kok."Athena menyeringai. Mereka sudah hampir sampai di tempat yang dipilih oleh Viona untuk 'mengeksekusi' kakaknya ini. "Lepas, Atha! Tanganku sakit!" Pinta Evara. Atha melep







