Mag-log inRahang Lukman Hakim mengeras. Ia melihat penampilan Alea yang berantakan tadi. Alea tidak tampil maksimal seperti biasanya. "Edo berkelahi dengan mereka untuk membela kehormatan Alea. Ia memintaku membawa Alea pergi dan mencari bantuan! Apa itu belum cukup?" Teriak Sabrina membahana. Ia sangat marah! Lukman Hakim mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk kepala Sabrina. "Iya. Maaf." Katanya singkat. "Hanya itu??!" Teriak Sabrina seraya membelalakkan matanya. Lukman Hakim tersenyum tipis. "Aku akan minta maaf pada Edo. Puas?"Alea tiba di rumah sebelum tengah malam. Penampilan kacaunya tertutupi oleh cardigan panjangnya. Andara sedikit curiga melihat rambutnya yang kusut masai tapi Artika menahannya untuk tidak menegur Alea. "Nggak sekarang. Biarkan dia tidur. Jangan ganggu dia dengan kecurigaanmu."Andara menghela nafas, berusaha menghargai keinginan istrinya tapi Artika terkejut saat Alea tiba - tiba memeluknya. Ia merasakan tubuh putrinya yang gemetar. "Ada apa, Alea?" Ta
"Mungkin Alea sudah kembali ke mobil." Tebak Sabrina sambil menarik sang kekasih untuk meninggalkan tempat itu. Sang kekasih menahan tangan Sabrina. Ia menatap tajam dan menusuk pada pemuda yang duduk gemetar itu. "Katakan di mana temanku!!" Bentaknya tiba - tiba. Kedua pemuda yang berdiri di atas langsung turun dan mendampratnya, "Apa maksudmu? Apa Kamu pikir Kami ngumpetin temanmu itu?! Mana buktinya?!""Memang iya! Kalian yang harus bilang dia ada di mana!!" Tunjuk kekasih Sabrina tanpa rasa takut. Sabrina langsung memegang lengan sang kekasih. "Sayang, jangan asal nuduh. Ayo Kita pergi." Bisiknya takut. Ia melihat ada tiga orang di tempat itu sedang mereka hanya berdua. Ia juga hanya seorang perempuan yang tidak mengerti bela diri. Sang kekasih mendengus. Ia menatap ketiga orang itu bergantian. Yang terakhir menundukkan kepalanya. Sangat dalam. "Ayo Kita cari ke tempat lain dulu." Ajak Sabrina lagi. Sang kekasih merasa tidak mempunyai pilihan selain mengikuti ajakan Sabr
Sabrina diam dan menatap ke mata sang kekasih. Ada binar cinta yang dalam dan hangat. Dan itu ditujukan hanya untuknya. "Tapi Kamu tadi..""Brin," Potong sang kekasih cepat. "Maksudku bilang begitu itu biar si Alea itu merubah penampilannya. Seperti yang tadi itu lebih bagus, lebih polos dan terlihat baik - baik. Kak Lukman bisa aja jadi suka kalau dia seperti itu tadi." Jelasnya panjang lebar. Sabrina diam. Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan sang kekasih. Sang kekasih seperti mendapat celah melihat kediaman Sabrina. "Dia emang cantik dan sexy tapi kelihatan murahan. Kalau tertutup begitu kan, enggak? Kamu suka sama dia, kan? Kamu mau dia jadian sama Kak Lukman, kan?" Kata sang kekasih lebih panjang dan lebar. Sabrina kembali diam. Ia mengakui kebenaran kata - kata kekasihnya itu. Lagipula memang tidak ada salahnya meminta Alea berubah. Memang sulit tapi bukan tidak mungkin, kan? Ia memang lebih menyukai Alea dibandingkan dengan Paramitha yang sering tidak peduli dengan k
Sang kekasih langsung memeluknya tanda setuju. Mereka seperti pasangan pengantin baru beda usia. "Setuju! Mau kan, Sayang?" Sahut Sabrina sekalian bertanya pada sang kekasih. "Apa sih yang enggak untukmu, Brin?" Sahut Sang kekasih dengan senyuman mesranya. Alea mendengus dalam hati, 'Sial! Tahu begini Aku mendingan nemenin Mama di rumah!'"Kita satu mobil aja." Usul Sabrina sambil bergayut pada lengan kekasihnya. "Boleh, Kami juga cuma pakai motor." Timpal Paramitha seraya mengerling manja pada sang kekasih. Alea menautkan alisnya. 'Mitha naik motor? Yang benar saja!'Paramitha melihat reaksi Alea dan langsung mengerti apa yang ada dalam benak Alea. "Pacarku masih kuliah. Sama Papanya belum boleh bawa mobil." Katanya menjelaskan. Sang kekasih mengangguk. Alea mendecih, "Apa emang nggak punya mobil?" Celanya langsung membuat wajah kekasih Paramitha memerah seketika. Entah karena malu atau marah. "Sembarangan! Jangan ngaco Kamu, Al!" Bela Paramitha sambil melotot. "Lagian,
Teman - teman yang lain ikut memesan dan Mimin mencatatny di selembar kertas. "Benaran Kita mau makan sama Nyonya?" Tanya Buma tidak percaya. Mimin mengangguk. "Nyonya kesepian. Kasihan." Katanya prihatin. Yang lain mengangguk dengan perasaan senada. "Jangan lupa, Min. Ayam serundengnya ditambah pergedel. Sambalnya yang banyak!" Kata Teguh yang membuat mereka sebal."Nggak nyadar sikon!" Gerutu Mimin. "Dasar gembul!" Kecam Buma juga.Teguh tertawa. Ia tidak peduli. Yang penting makan enak! "Kapan belinya, apa Aku aja yang beli?" Ia justru menawarkan dirinya. "Nanti dong kalau mau jam makan siang!" Semprot Mimin. "Biar Aku aja yang beli. Kamu nanti korupsi!" Ketus Mimin lagi sambi mencari keberadaan Seno dan Damar. Lebih baik ia pergi dengan salah satu dari mereka. Itu yang ia pikirkan. Teguh mendecih. Perutnya yang bulat ia usap - usap karena sudah mengharapkan makanan itu ada di hadapannya sekarang. "Balik ke pos, sana!" Usir Mimin sebal. "Tapi Kamu belum bikinin kopi pe
Safira tidak tahu kalau paviliun Siska itu cukup luas untuk menampung mereka semua. Siska bukanlah orang susah seperti yang ia pikirkan. Ia hanya berasal dari kampung terpencil yang ingin mengenal dan merasakan kehidupan di kota besar. Rumahnya memang jauh dari Mall tapi rumahnya bagus dan layak. Memang tidak ada banyak kamar karena mereka hanya tinggal bertiga. Siska anak tunggal. Tapi Ada kolam ikan yang sangat besar dan dapat menampung ikan mas dan gurame untuk di jual ke pasar yang harus menuruni pegunungan tempat mereka tinggal. Siska bukan orang susah. Ibunya adalah penjahit kenamaan ibu kota yang mulai bosan dengan hiruk pikuk dan kemacetannya. Ia meminta tinggal di daerah pegunungan yang udaranya masih segar dan asri dan suaminya mengabulkan keinginannya. Pada awalnya sang suami membeli dua ratus hektar tanah untuk mereka tinggali di kampung mereka yang sekarang saat Siska masih bayi. Sang suami adalah seorang insinyur perternakan dan sukses membudidayakan ikan mas dan guram
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
Tiba - tiba pintu terbuka. Seorang perempuan cantik masuk dengan pakaian kurang bahan. Begitu Adamis menyebut rok mini yang dikenakan Alea. "Say.."Ucapan Alea terputus. Matanya membulat melihat kehadiran Ariana di ruang Adamis. "Alea! Angin apa yang membawamu ke sini?" Sapa Ariana. Alea terkeju







