ログインAndara langsung menerima panggilan istrinya. "Kalian dimana? Kenapa Kalian nggak segera pulang?!" Seru Artika tanpa berpikir lagi. "Ada apa, Sayang?" Tanya Andara yang semakin gelisah mendengar suara Artika yang terdengar menahan tangis. "Andara, Kami membutuhkanmu, sekarang!" Racau Artika yang mulai tidak dapat menahan tangisnya. "Tenang, Sayang. Apa yang terjadi? Kamu nggak papa, kan?" Cecar Andara ikut panik. Artika sampai menyebutnya dengan namanya, bukan Papa atau Sayang seperti biasanya. Tidak terdengar suara lagi dari atas. Suasana hening ini terasa mencekam dan menyiksa perasaan Artika. Andara masih setia menempelkan telinganya pada ponselnya, menunggu jawaban Artika. "Kenapa nggak ada yang turun dan memberitahuku?" Keluh Artika panik dan kesal sekaligus. "Beritahu apa? Sayang? Apa.."Tut.. Tut.. Tut.. Telepon terputus. "Cepat sedikit, Al!" Titah Andara pada Alvian. Alvian mengangguk dan menambah kecepatan pada laju kendaraannya. Axel terduduk di tempat tidurnya d
"Axel?!" Jerit Artika kaget. Axel menatap mamanya. Ia tidak ingin karmanya yang buruk melibatkan sang mama bila ia terus memaksa membawa mobil ini dengan pikiran kalutnya. "Tolong gantikan Aku, Ma. Aku.. Aku pusing." Katanya beralasan. Axel langsung turun dari mobilnya. Ia tidak langsung masuk setelah memutari mobil. Ia justru bersandar di pintu mobil untuk mengatur nafasnya yang terengah seperti telah berlari sangat jauh.Artika sudah menggeser tubuhnya. Ia sudah berada di belakang kemudi sekarang dan menunggu Axel untuk masuk. 'Biarlah. Pasti ia lagi menenangkan dirinya. Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan?' gumam hatinya. Ia tidak memaksa Axel untuk segera masuk. Artika memilih menunggu dan mengingat cerita Alvian tentang mimpi buruk Axel saat ia baru pulang dari Aussie. "Ia ketakutan, Ma. Tapi ia nggak mau menjawab pertanyaanku." Cerita Alvian waktu itu tapi dianggap tidak terlalu penting oleh Artika. Ia melihat keseharian Axel yang tetap ceria dan sering menjahili adiknya
Siska termenung untuk sesaat. Ia melihat Athena tersenyum bangga mendengar perkataan Artika. "Aku bilang juga apa." Katanya. "Aku.. Aku takut itu.. Terlalu mahal.." Bisiknya nyaris tak terdengar. Artika tersenyum bijak. "Nggak ada yang terlalu mahal untuk orang tercinta." Katanya menenangkan. Athena tersenyum lebih lebar. "Aku bilang juga apa." Katanya mengulang. Artika ingin melepaskan kalungnya. Ia meminta tolong pada Axel. "Ax? Tolong Mama." Katanya sambil mengangkat rambutnya. Tidak ada yang melepas kalungnya bahkan tidak ada suara yang merespon permintaannya. Artika menoleh ke tempat ia berdiri tadi bersama Axel. "Axel?" Tanyanya sambil celingukan. Axel tidak ada di tempatnya berdiri tadi. 'Lho? Kemana dia?' tanya Artika dalam hati. Ia langsung celingukan mencari keberadaan Axel tapi putra keduanya itu seperti hilang ditelan bumi. 'Dasar anak nakal!' gerutu hati Artika. Ia hampir menurunkan rambutnya lagi saat suara Siska terdengar halus, "Biar Aku saja, Tante."A
Tiffany digendong oleh salah satu polisi ke dalam mobil. Perawat itu ikut masuk dan duduk di sebelah Tiffany. "Aku menemaninya sampai orangtuanya datang." Tegasnya sebelum ditanya. Salah satu polisi memasukkan kursi roda ke dalam bagasi. Saat itulah mobil Sandro mendekat dan berhenti di samping mobil dinas Lukman Hakim. Kirana turun padahal mesin mobil belum dimatikan oleh Sandro. "Tiff! Tiffany!" Jeritnya sambil berlari ke mobil Lukman Hakim. "Mama!" Sahut Tiffany lirih. Ia nyaris tidak bertenaga bahkan untuk berteriak. Tubuh lemasnya disangga oleh perawat di sampingnya. "Pagi, Bu Kirana." Sapa Lukman Hakim yang sudah duduk di samping kursi pengemudi. "Kenapa Bapak nggak menungguku?!" Alih - alih menjawab teguran Lukman Hakim, Kirana berteriak dengan marah. Lukman Hakim tersenyum. Ia tidak marah sama sekali. "Sebaiknya mobil Ibu mengikuti mobil Kami." Katanya tenang. Ia memberi perintah dengan isyarat agar temannya yang memegang kemudi menjalankan mobilnya. "Tiffany!" Jer
"Kalau sekiranya semua bangunan itu sudah nggak layak, bongkar saja. Ganti dengan yang baru." Titah Adamis lagi disertai senyum manis Evara. Evara mulai bekerja hari ini jadi ia tidak dapat menemani Safira. Athena berjanji akan meninjau perkembangan nya setiap hari sabtu dan minggu. "Aku juga akan mengajak Siska." Katanya. "Huh! Belum apa - apa udah diajak aja!" Dengus Safira. "Harus dong, Bu. Siska kan calon istriku. Ia juga akan tinggal di rumah itu." Sanggah Athena. "Tapi...""Nggak ada tapi. Atau Aku nggak akan pernah menikah lagi seumur hidupku!" Ancam Athena. Safira cemberut. Ia masih merasa tak rela melepaskan Athena pada Siska. Tapi ia takut Athena akan menepati ancamannya bila ia dilarang menikah dengan Siska. "Ibu, Ibu nggak akan menyesal. Ibu akan belajar menyayangi Siska seperti Ibu menyayangiku." "Tapi itu nggak sama. Siska bukan..""Aku juga bukan anak Ibu." Potong Evara berbisik. Safira terdiam. Kenyataan yang menampar dirinya yang terpaksa menjadi seorang ibu
"Tiff, Kamu tahu konsekwensinya karena Kamu udah memeras orang?"Tiffany seperti termenung untuk sesaat sebelum menjawab, "Aku tahu, Kak." Katanya seraya menghela nafasnya. "Kamu harus kuat, ya? Aku percaya Kamu akan kuat."Kembali Siska memberikan kata - kata motivasinya. Mata Tiffany terlihat berlinang. "Kalau saja Aku punya kakak sepertimu, Kak." Katanya. Siska tersenyum. "Aku mau jadi Kakakmu. Kamu itu adik yang manis." Kata Siska sambil mengusap pipi Tiffany. "Kakak pulang dulu, ya?""Ya." Sahut Tiffany sambil melambaikan tangannya sampai Siska benar - benar keluar dari kamarnya. Tiffany mengerjapkan matanya hingga airmata langsung turun membasahi pipinya. Anehnya, ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Ia sadar, perbuatannya sama sekali tidak dapat dibenarkan dan ia harus siap menanggung akibatnya. Tiffany melambaikan tangannya pada perawat yang sudah lebih dari sebulan ini menjaganya. "Tolong lihat keluar. Apa Mama dan Papa sudah kembali?" Pintanya saat perawat itu m
Safira membentangkan tangannya untuk meminta Sunny melangkah ke tempat yang ia inginkan. Rambutnya yang berdiri sebagian membuatnya seperti singa yang tercebur ke sungai karena sebagian lepek karena keringat. Sunny langsung merasa gerah. Keringat mulai muncul di dahinya. "Aku kepanasan. Aku kemba
Alea melihat semua kehebohan itu dengan senyum kecil. 'Ternyata mudah sekali membuatmu drop, Eva!' kata hatinya puas. Ia berjalan dengan langkah tenang di bawah tatapan para pelayan yang baru melepas kepergian Evara dan Safira ke rumah sakit. "Itu penjahatnya!" Teriak Sisil gemas. Penjahat? "
"Bubur kacang hijau? Itu bagus." Jawab Ariana atas saran Mariska. Makanan tambahan untuk Evara. "Tapi Aku sudah makan, Ma." Protes Evara. "Kamu tadi hanya sarapan roti, Eva. Nggak cukup untukmu dan Brian." Evara memang hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu. Evara dan Athena saling berp
Athena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari ka







