공유

4. Desahan Itu Lagi

last update 게시일: 2026-05-12 10:06:02

Bab 4

“Rosa, hentikan!”

Dani langsung menahan tangan adik tirinya itu sebelum handuk yang melilit tubuhnya benar-benar terlepas.

Napasnya memburu, seirama dengan jantungnya yang berdetak kacau saat tubuh Rosa masih menempel erat di dadanya.

“Kenapa sih, Kak? Kakak benci sama aku ya?” rengek Rosa manja sambil semakin memeluk tubuh pria itu.

“Bukan begitu!” Dani buru-buru melepaskan pelukan gadis itu dengan sedikit kasar. Ia bahkan menghempaskan tangan Rosa, sampai gadis itu meringis.

“Akh! Tangan Rosa sakit tau, Kak,” rintihnya seraya memegangi tangan yang terasa panas.

“Biar saja. Habisnya kamu ini aneh banget tau nggak sih?” sentak Dani kesal.

“Aneh gimana sih, Kak? Aku kan cuma ….”

“Bodo amat!" Dani langsung membuka pintu kamar dan keluar dengan langkah cepat.

"Kak Dani!” panggil Rosa lagi, tetapi Dani sudah tak menyahut.

Pemuda itu memilih untuk cepat-cepat pergi dari sana. Wajahnya sudah panas, dan pikirannya jadi kacau balau gara-gara ulah adik tirinya.

“Gila! Keluarga ini benar-benar gila!” umpat Dani, yang kini setengah berlari menuruni tangga.

Namun meski mulutnya mengumpat, tubuhnya justru bereaksi berbeda. Ia bisa merasakan bagian bawah tubuhnya masih menegang akibat kejadian barusan.

Wajar saja. Dia normal, punya nafsu. Dan dihimpit oleh dada Rosa yang besar hanya dalam balutan handuk, mustahil rasanya jika ia tidak terangsang.

“Arghh!” Dani mengacak rambutnya frustrasi.

Ia memutuskan kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Malam itu Dani benar-benar sulit tidur. Ia terus memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan semua kejadian aneh sejak dirinya datang ke rumah ini.

Mulai dari tatapan Tante Rina yang terlalu ramah, tingkah genit Rara dan Rosa, sampai suara desahan misterius dari kamar ayahnya.

“Rasanya aneh. Kenapa mereka baik banget sama aku?” gumam Dani pelan.

Padahal selama ini ia selalu mendengar cerita menyeramkan tentang keluarga tiri. Tapi di rumah ini justru kebalikannya. Mereka terlalu baik padanya.

“Kalau mereka itu sebenarnya baik, nggak mungkin mereka merebut ayah dari ibu kan? Lalu … kenapa?” Dani sampai gelisah karena memikirkan hal itu, tapi ia paksakan diri untuk tetap tidur.

Keesokan paginya, Dani sudah bangun sejak matahari belum terlalu tinggi. Kebiasaan hidup di desa membuatnya tak betah bermalas-malasan terlalu lama.

Ia mengenakan singlet putih dan celana pendek, lalu mulai menyapu halaman depan dengan rajin. Setelah itu, ia membersihkan kebun belakang sambil memangkas beberapa rumput liar.

Tak terasa, keringat mulai membasahi tubuh atletisnya. Sesekali ia menyeka wajahnya yang tampan, tapi tak mengurangi fokusnya dalam bekerja.

“Dani!”

Tiba-tiba saja, suara Tante Rina terdengar kencang, membuat Dani pun refleks menoleh. Ia melihat ibu tirinya itu berdiri di teras sambil membawa tabung gas kecil.

“Ada apa?" tanya Dani dengan nada datar.

“Ini gas di dapur habis. Bisa tolong pasangkan?” Tante Rina mengulurkan gas itu pada Dani.

Sejenak pemuda itu terdiam seolah sedang berpikir. Tetapi tak lama ia langsung mengangguk.

"Baiklah.”

Ia pun meraih tabung itu dari tangan ibu tirinya , lalu masuk ke dapur. Dani jongkok memasang regulator gas dengan cekatan. Otot lengannya terlihat menegang saat ia memutar penguncinya.

Ketika ia sedang fokus, tiba-tiba saja sebuah tangan lembut menyentuh bahunya.

Dani refleks menoleh karena kaget. Ternyata Tante Rina berdiri sangat dekat di belakangnya.

“Terima kasih ya, Dani,” ucap wanita itu lembut sambil mengusap pelan bahu kekar Dani.

“Eh, i … iya, Tante,” jawab Dani seraya mengangguk gugup. Entah kenapa sentuhan itu membuat tubuhnya sedikit merinding.

“Tante jadi lebih tenang sejak kamu datang ke rumah ini,” lanjut wanita itu sambil tersenyum tipis, tangannya masih menyusuri bahu Dani, lalu turun membelai otot lengannya yang kekar.

“Nah, sudah selesai, Tante.” Dani buru-buru berdiri setelah selesai memasang gas.

“Oh iya, terima kasih,” ujar Tante Rina lagi.

“Eh, boleh minta tolong lagi nggak, Dan? Nanti bisa tolong antar Rara sama Rosa ke kampus ya?”

“Aku?” Dani mengernyit.

“Iya. Supir rumah lagi izin hari ini.”

Dani sebenarnya malas, tapi akhirnya ia terpaksa mengangguk juga. Lagi pula ia memang bisa menyetir mobil. Dulu di desa, ia sering bekerja serabutan menjadi supir pickup pengangkut sayur.

“Ya sudah.”

“Terima kasih ya, Dani. Kamu memang anak baik.” Tante Rani mengusap dada bidang Dani yang tercetak di balik singlet, lalu ia pergi ke dapur begitu saja.

Darah Dani berdesir aneh. Tubuhnya meremang setelah mendapat sentuhan dari ibu tirinya itu.

"Astaga! Sepertinya orang-orang di sini memang aneh semua.”

Ia buru-buru kembali ke kamar untuk mandi, lagi pula ia tak ingin lama-lama di sana. Khawatir jika ibu tirinya datang lagi dan malah minta dia melakukan hal yang aneh-aneh.

Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah saat ia berjalan keluar. Namun, langkah kakinya langsung terhenti.

"Kak Danii!” Rara dan Rosa ternyata sudah duduk santai di dalam kamarnya.

“Hey! Kalian ngapain di sini?!” bentak Dani kaget, cepat-cepat ia menutupi tubuhnya dengan lengan dan telapak tangan.

Rara malah tersenyum jahil sambil menopang dagu.

"Cuma lihat-lihat kamar Kak Dani kok.”

“Keluar kalian!” usir Dani kesal.

“Kenapa malu sih? Badan Kak Dani bagus kok.” Rosa terkikik kecil.

Dani semakin kesal setengah mati. Ia berdiri mendekati Rara dan Rosa, lalu menarik tangan kedua gadis itu dengan kasar.

“Bisa nggak sih kalian masuk kamar orang pakai izin dulu? Sekarang cepat keluar!”

"Jangan marah-marah gitu dong, Kak. Awas, nanti handuknya jatuh loh," goda Rara, dengan satu tangannya ia malah semakin berani membelai dada Dani dan mengusap chococips nya.

“Keluar!" teriak Dani, wajahnya sudah benar-benar merah padam.

Melihat Dani yang kini benar-benar marah, akhirnya kedua gadis itu berdiri dengan wajah cemberut.

“Iya iya, galak banget sih," gumam Rara sambil berjalan keluar.

Namun sebelum pergi, Rosa sempat melirik tubuh Dani dari atas sampai bawah sambil tersenyum nakal.

“Cepat siap ya, Kak. Udah nggak sabar nih.”

Tak sabar, Dani mendorong paksa kedua adik tirinya keluar dari kamar. Setelah itu, ia banting pintu kamar dengan kuat.

Brak!

“Ya Tuhan! Bisa stres aku tinggal di rumah ini.” Dani memijat keningnya frustrasi.

Beberapa menit berlalu, akhirnya ia pun selesai berpakaian. Seperti perintah dari Tante Rina, ia mengantar kedua adik tirinya ke kampus menggunakan mobil hitam milik keluarga mereka.

Sejak tadi, kedua gadis itu tak hentinya terus menggoda Dani. Namun, mereka akan diam ketika Dani sudah membentaknya dengan nada tinggi.

Akhirnya mobil yang dikemudikan Dani pun tiba di halaman sebuah universitas ternama. Begitu turun di area kampus, cukup banyak mahasiswi yang melirik ke arah Dani.

Apalagi penampilan Dani memang cukup menari pagi ini. Tubuhnya tinggi, kulitnya eksotis, dan wajahnya terlihat maskulin. Ditambah tubuhnya yang kekar dan berotot, membuat para gadis-gadis berseru histeris.

“Eh, itu siapa?”

“Cowok baru ya?”

“Wah, Rara sama Rosa hebat ya. Bisa gonta-ganti cowok terus."

Bisik-bisik kecil mulai terdengar. Rara dan Rosa langsung tersenyum bangga , sambil memeluk lengan Dani di kanan dan kiri.

“Ini kakak kami. Kenalkan, namanya Kak Dani," kata Rara sambil memeluk lengan Dani erat-erat.

Tingkah mereka itu membuat Dani malah jadi salah tingkah sendiri.

“Sudah sana masuk,” omelnya.

Rosa terkikik kecil. “Nanti jemput ya, Kak.”

“Iya.”

Kedua gadis itu pun akhirnya masuk dan berbaur bersama teman-temannya. Namun, para gadis-gadis itu justru mengedipkan sebelah matanya dengan genit dan melayangkan kiss bye pada Dani.

“Dih! Bahkan teman-teman mereka pun juga ikutan gila!” Dani bergidik dan buru-buru menginjak pedal gas, melaju meninggalkan area kampus.

Sesampainya di rumah, Dani berniat mengecek kondisi ayahnya yang masih sakit. Ia buru-buru naik ke lantai atas, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti.

“Aahh! Ahh!”

Mata Dani terbelalak, karena suara desahan itu terdengar lagi. Keningnya mengernyit dalam.

“Tunggu!”

Ia menajamkan telinga, dan ternyata suara itu bukan berasal dari kamar ayahnya.

 Melainkan dari kamar Rara.

“Rara kan lagi kuliah, lalu itu suara desahan siapa?" Dani diliputi kebingungan.

Dengan jantung berdebar, akhirnya ia memberanikan diri untuk untuk membuka pintu kamar dan mengintip lewat celah kecil di pintu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    17. Tante Rina Bikin Gelisah

    17Dani langsung terkejut ketika pintu toilet terbuka dari luar. Dia buru-buru memperbaiki celananya sambil mundur beberapa langkah.“Siapa itu? Jangan masuk!”Namun terlambat, karena pintu sudah terbuka begitu saja. Begitu pintu terbuka lebih lebar, Dani justru semakin terkejut. Orang yang berdiri di hadapannya adalah Tante Rina, ibu tirinya sendiri.“Tante Rina?” Dani menatapnya tidak percaya. “Kenapa Tante masuk ke sini?”“Ya ampun!" Rina mengerutkan kening. “Dani, seharusnya Tante yang bertanya. Kenapa kamu ada di sini?”“Apa maksud Tante?” mata Dani memicing.“Ini kan toilet perempuan.”"Hah?” Dani tercengang, hingga bibirnya setengah terbuka.Dia buru-buru keluar dan menoleh ke arah pintu. Baru kali ini dia benar-benar memperhatikan papan kecil yang terpasang di atas pintu.TOILET WANITA.Wajah Dani pun seketika memerah. Ia seperti dicakar sampai ke dalam-dalamnya.“Ya ampun!” Ia tepuk jidatnya keras.Dia benar-benar salah masuk.“Maaf, Tante. Aku tadi nggak lihat tandanya,” uca

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    16. Siapa yang Masuk ke Toilet?

    Bab 16Dani masih berdiri mematung setelah mendengar kabar dari Rara.“A … apa? Ayah kolaps, Ra?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.“Iya, Kak. Tapi ayah sekarang sudah dibawa ke rumah sakit.”Dani mengusap wajahnya dengan gelisah. Pikirannya langsung kacau. Di satu sisi, dia tidak mungkin membiarkan ayahnya sendirian dalam kondisi seperti itu. Namun di sisi lain, neneknya baru saja sakit dan kondisinya belum sepenuhnya pulih.Kalau dia pergi sekarang, siapa yang akan menjaga nenek?Dani pun menoleh ke arah kamar.“Nek,” lirihnya, dan segera masuk ke kamar menghampiri neneknya.“Nenek masih bangun?” tanya Dani, sambil duduk di tepi tempat tidur di sebelah sang nenek.Nenek membuka mata perlahan. “Kenapa, Nak?”“Nek, Dani baru saja dapat telepon dari kota. Katanya ayah kolaps dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”Mendengar itu, nenek langsung terlihat cemas. Tampak dari gurat keriput di wajahnya yang semakin cekung.“Apa? Surya sakit?” ulangnya dengan suara bergetar.“Iya, Ne

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    15. Nurma, Punyamu Besar Sekali!

    Bab 15Dani dan Nurma masih terdiam dalam posisi yang sama. Jarak mereka begitu dekat, membuat keduanya bisa merasakan napas masing-masing yang tidak beraturan. Tatapan mereka bertemu, tetapi tak satu pun segera mengalihkan pandangan.Jari Dani terus merayap naik menyusuri punggung Nurma yang halus. Hingga akhirnya ia berhenti pada pengait bra yang menempel di tubuh sang gadis.“Dan … mmhh.” Suara Nurma bergetar, saat Dani dengan pelan melepaskan pengait bra miliknya.Entah karena suasana yang terlalu sepi atau karena perasaan yang sejak tadi mereka tahan, pertahanan keduanya pun perlahan runtuh.Dani tahu seharusnya dia mundur. Nurma juga tahu seharusnya dia segera berdiri. Namun, untuk beberapa saat, keduanya justru membiarkan perasaan menguasai akal sehat.“N … Nurma,” lirih Dani, suaranya bergetar, nafasnya memburu naik turun.“Oh, Dani!” Nurma menggigit bibirnya dan memejamkan mata rapat.Tidak ada lagi kata-kata yang mampu menjelaskan keadaan mereka.Keduanya sama-sama sadar bah

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    14. Membangkitkan si Gatot (Gagah dan Berotot)

    14“Da ... Dani?”Nurma berdiri kaku di ambang pintu kamar mandi. Rambutnya masih basah dan beberapa helainya menempel di sisi wajah. Handuk kecil dan pendek yang melilit tubuhnya, membuat tubuh wanita itu terlihat jelas.Dani tercengang, melihat bongkahan payudara Nurma yang ternyata begitu besar. Kakinya juga jenjang dan ramping, pahanya putih mulus. Tetapi yang membuat Dani berdesir hebat, karena melihat dua bukit kenyal yang nyaris tumpah dari balik handuk.“Dan, jangan lihat! Aku malu!" Nurma cepat-cepat berbalik badan dan menutupi belahan dadanya dengan lengan.Namun, Dani malah dibuat gelisah karena dihadapkan pada bok*ng besar Nurma yang saat ini membelakanginya.“Astaga!" Dani langsung membuang pandangan, begitu akal sehatnya bekerja.“Maaf, Nurma. Aku nggak sengaja masuk. Aku … aku cuma mau minta tolong. Nenekku kondisinya tiba-tiba memburuk,” ujar Dani terbata-bata.Mendengar itu, ekspresi Nurma seketika berubah serius.“Nenek?”“Iya. Tadi mendadak lemas lagi. Warga sudah m

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    13. Melihatmu Habis Mandi

    Dani masih membeku di tempat duduknya. Seluruh tubuhnya masih terasa tegang setelah tak sengaja menyentuh dada Nurma barusan.Namun, seketika akal sehatnya kembali berjalan. Ia sedikit menjauhkan tubuh dari gadis itu. Kedua tangannya refleks menahan bahu Nurma agar wanita itu tidak kembali kehilangan keseimbangan lagi .“Nurma, kamu nggak apa-apa?”Nurma yang sejak tadi terdiam akhirnya tersadar. Wajahnya langsung memerah ketika menyadari posisi mereka yang begitu dekat.“A-aku nggak apa-apa kok, Dan,” jawabnya gugup.Ia buru-buru melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah. Namun kakinya masih terasa sedikit lemas.“Maaf. Aku tadi nggak sengaja.”Dani menggeleng.“Nggak masalah. Karpetnya memang gampang bikin orang tersandung.”Nurma tertawa kecil sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.“Untung ada kamu.”“Kalau nggak ada aku, mungkin kamu sudah jatuh.”“Makanya aku bilang, untung ada kamu.”Dani hanya tersenyum tipis. Entah kenapa, suasana di antara mereka mendadak ter

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    12. Menyentuh Dadanya Nurma

    12Surya masih menatap Dani dengan wajah gelisah. Satu tangannya mencengkeram selimut, seolah ada sesuatu yang begitu berat untuk diucapkan. Sedangkan satu tangannya memegang lengan sang anak dengan kuat.“Ayah sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepadamu,” ujarnya pelan dengan suara terputus-putus.“Mau mengatakan apa, Yah?” mata Dani memicing.Surya menarik napas panjang. Ekor matanya melirik ke arah pintu, seakan hendak memastikan sesuatu, sebelum akhirnya ia kembali menatap pada Dani.“Dani, sebelum kamu pulang, ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang ….”Ceklek!Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari luar. Dani dan Surya pun spontan menoleh bersamaan.Di depan mereka, Tante Rina muncul dan berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas air.“Oh, ternyata Dani masih di sini.”Dani mengernyit. Entah kenapa, kehadiran wanita itu terasa seperti memutus percakapan penting antara dirinya dan ayahnya.“Iya, Tante. Aku mau pamit sama ayah,” ujar Dani, kemudian beranjak bangkit dari tem

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    5. Sikap Aneh Ibu Tiriku

    Bab 5“Aahh! Ahh!”Suara desahan itu terdengar semakin jelas dari dalam sana. Dani menahan napas saat ia memberanikan diri mengintip lewat celah pintu kamar Rara.Namun sebelum Dani sempat melihat lebih jauh, tiba-tiba saja ….“Uhuk! Uhukkk!”Suara batuk keras dari kamar ayahnya membuat Dani berjin

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    3. Godaan dari Adik Tiriku

    Bab 3Dani menelan ludah pelan sambil terus menatap ke arah lantai atas. Tangannya meletakkan gelas ke meja secara perlahan. Ia ragu jika tadi ia hanya salah dengar, tapi ternyata telinganya tetap menangkap suara aneh dari kamar Surya.Suara desahan itu masih terdengar samar di tengah sunyinya ruma

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    2. Suara Desahan Siapa?

    Bab 2Dani membelalak saat gadis di depannya benar-benar menarik tali lingerie itu perlahan. Kain tipis tersebut melorot sedikit demi sedikit dari bahunya, membuat Dani refleks memalingkan wajah.“Heh! Jangan aneh-aneh kalian ya!” bentak Dani gugup.Namun kedua gadis itu malah terkikik geli melihat

  • Adik Tiriku Selalu Minta Jatah    1. Puasin Aku Dong

    Bab 1“Kak, puasin aku dong!”Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status