LOGINSore itu terasa lebih hangat dari biasanya, masih dapat terlihat sisa butiran air hujan di dedaunan. Setelah sempat langit menyiram bumi, seusai riuhnya atas kemenangan tim voli Kampung Tanjung Agung. Hanya sebentar saja, tampaknya sang arwana tak tega melihat dua insan tak kunjung pulang dari lapangan yang perlahan sunyi.
Kebahagiaan jelas terlukis di wajah keduanya, tak tampak sedikit pun keraguan, curiga, bimbang, atau semacamnya, karena yang ada hanya rasa cinta yang menggebu. Giy
Aku selalu punya caraku sendiri untuk mencintaimu. _Adinda||Adinda_
Beberapa minggu terakhir, Adinda mulai terbiasa dengan ruang yang dulu ia minta sendiri. Pada awalnya ia menikmati perubahan itu. Tidak ada lagi Giyo yang tiba-tiba muncul di depan rumah hanya untuk mengajaknya pergi. Tidak ada pesan bertubi-tubi ketika Adinda belum sempat membalas. Bahkan, ketika Giyo tidak datang selama dua atau tiga hari, Adinda bisa menghabiskan waktu dengan ibunya tanpa terus memikirkan bagaimana perasaan lelaki itu.Namun ternyata kebebasan memiliki sisi lain yang tidak pernah ia pikirkan. Ada hari-hari ketika Adinda membuka ponselnya dan tidak menemukan pesan dari Giyo. Awalnya ia tidak peduli. Hari kedua, ia masih biasa saja. Hari ketiga, ia mulai bertanya-tanya. Apakah Giyo benar-benar sedang memberinya ruang? Atau mungkin ia sudah mulai terbiasa tanpa dirinya? Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika Giyo tidak lagi datang ke rumah selama beberapa hari.Sore itu Adinda duduk di teras sambil menyelesaikan lukisannya. Matahari mulai turun di balik pepohonan
Pagi datang tanpa pesan dari Giyo. Adinda sempat memeriksa ponselnya ketika baru bangun. Kebiasaan itu sudah dilakukan hampir setiap hari. Bahkan, sebelum ia benar-benar membuka mata dengan sempurna. Biasanya akan ada pesan dari Giyo yang menanyakan apakah ia sudah bangun, sudah sarapan, atau sekadar mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh.Pagi ini tidak ada apa-apa. Adinda menatap layar beberapa detik, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Adinda merasa ada sedikit rasa lega yang muncul tanpa ia sadari. Ia tidak perlu memikirkan harus menjawab apa. Tidak perlu merasa bersalah karena membalas terlambat. Tidak perlu menjelaskan ke mana ia akan pergi. Setelah mandi, Adinda turun ke dapur dan menemukan ibunya sedang menyiapkan adonan kue."Sudah bangun?" tanya Pujimaharani."Sudah, Ma.""Mau bantu?"Adinda langsung mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas. "Boleh."Pagi itu mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di dapur. Tidak ada percakapan berat. Mereka hanya memb
Dia memilih merebahkan tubuh pada batu besar di pinngir aliran air. Adinda memejamkan mata sebentar. Kemudian membuka kembali. Langit di atas sana terbentang nyata. Biru bersih. Adinda mengedarkan pandangannya. Air yang jatuh dari ketinggian tampak berkilau dan memantulkan cahaya matahari seperti tirai perak. Dikelilingi oleh pepohonan lebat, lumut hijau di bebatuan, serta tanaman paku liar yang tumbuh subur. Di sela-sela suara air, terdengar samar-samar suara burung liar berkicau dan serangga hutan yang menyatu dengan alam. Semuanya membaur menjadi satu.“Tempat yang sama dengan dia yang berbeda,” suara itu menyadarkan Adinda.“Mi.”“Kamu masih ingat dia, ‘kan?” desak Hilmi yakin dengan pernyataannya.“Enggak. Aku hanya menikmati suasa.”“Halah. Kamu tuh enggak bersyukur jadi wanita. Sudah dapat Giyo. Masih saja mikirin laki-laki lain.”“Kamu tau apa soal perasaanku!&rd
Suara motor berhenti di depan rumah. Adinda tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang. Dia sudah hapal dengan deruan tersebut. Bunyi yang dulunya selalu ditunggu olehnya. Entah sejak kapan ia mulai ingin mengabaikan semuanya. Malah ada rasa ingin mendengar bahana dari motor yang lain. Entahlah sejakk kapan. Suara dentuman rendah yang berat dan dalam (deep rumble), seperti suara guntur yang tertahan di kejauhan. Lebih dirindukannya, dibandingkan suaranya terdengar padat, berat, dan berirama rapat. Yang berasal dari motor milik Giyo.Beberapa detik kemudian, suara Giyo terdengar dari balik pagar. “Dinda!”Adinda menoleh. Giyo berdiri sambil melepas helmnya.“Ada apa?”Giyo tersenyum. “Siap-siap.”Adinda mengernyit. “Buat apa?”“Kita pergi.”“Ke mana?”“Air terjun.”Gerakan tangan Adinda terhenti. Air terjun. Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat pikirannya langsung terlempar pada sebuah kenangan lama. Bukan dengan Giyo. Tapi Andara. Saat itu mereka belum memiliki hubunga
Malam itu, tiga orang berada di tempat berbeda. Andara mengira Adinda telah memilih Giyo. Giyo mengira Adinda semakin bergantung kepadanya. Dan Adinda. Ia hanya tahu satu hal. Semakin lama ia diam, semakin sulit untuk keluar. Namun, rahasia itu masih aman. Belum ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk sementara, Adinda memilih membiarkannya tetap begitu. Di luar sana, semua orang melihat sebuah kisah cinta. Hanya Adinda yang tahu bahwa di balik kisah itu, ada ketakutan yang tidak pernah mampu ia ceritakan.Ia berdiri dan membuka lemari. Hari itu ia berniat membantu ibunya membuat kue. Setidaknya dengan sibuk, pikirnya, ia tidak perlu memikirkan Andara dan juga Giyo. Di dapur, Pujimaharani sedang mengaduk adonan. Adinda kemudian duduk di kursi kecil dekat meja. Ibunya memperhatikannya.“Dinda, tolong ambilkan tepung.”Adinda mengambil tepung dari rak. “Ini, Bu.”“Terima kasih.” 
Sejak percakapan terakhir dengan ayahnya, Adinda semakin sering menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan karena ia ingin menghindari keluarganya. Ia hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Di luar kamar, ia harus menjadi Adinda yang biasa. Anak perempuan yang tersenyum ketika ibunya memanggil. Anak yang menjawab pertanyaan ayahnya dengan sopan. Anak yang sesekali membantu pekerjaan rumah. Namun, begitu pintu kamar tertutup, semua kepura-puraan itu runtuh. Adimda juga jarang ikut bergabung bersama teman-temannya lagi.Adinda duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya. Satu nama muncul di sana.Andara.Pesan terakhirnya masih belum dibalas. “Dinda, kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.”Adinda sudah membaca pesan itu berkali-kali. Setiap kali ingin membalas, jarinya berhenti. Ia ingin mengetik banyak hal.Aku butuh kamu. Aku takut. Tolong jangan pergi.Tetapi pada akhirnya, tidak satu pun kalimat itu dikirim. Adinda meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menarik
Tanpa sadar ia malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Giyo. Jelas sekali senyum itu ditujukannya untuk sang pemuda. Ia seakan memahami makna dari kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh sang pujaan. Adinda tahu, bahkan sangat sadar pada siapa ia sedang jatuh hati. Namun, apa daya seor
Andara tampak sudah mampu menguasai dirinya. Ia sudah kembali tenang. Dengan tersenyum bahagia, Andara meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan ayah dari wanitanya akan menjadi nyata. Yah, tentu itu juga salah satu pintanya pada sang pencipta.“Pak, kalau begitu say
Setelah cukup lama berbincang bersama Bapak Anjas. Akhirnya, Andara menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya ke sana. Sepertinya ia sengaja mengajak Pak Anjas membahas masalah pesta yang digelar muda-mudi pada penyambutan tahun baru. Agar ia dapat mengetahui apa pandangan.
Adinda masih betah berdiri memperhatikan pria yang tengah asyik bercerita bersama sang ayah. Kedua orang itu tampak cocok dalam beberapa hal. Entah bagaimana, keduanya tampak memiliki karakteristik yang sama. Serta keduanya tampak sama-sama memiliki pendirian yang teguh. Tak dapat digoyahkan deng







