LOGINNatupad ang pangarap ni Rachelle na ma-interview ang man-of-the-hour ng TV broadcasting na si Carlo Dela Cruz. Matagal na niyang iniilusyon ito. Pero kalabisan nang pangarapin pa niyang maging boyfriend o asawa ito, dahil not in a million years na pag-uukulan siya nito ng espesyal na atensyon. Nakuntento na siya sa alaala ng una't huling pagkikilala nila--- hanggang sa lumabas sa internet ang litrato nilang dalawa na magkasama sa isang grand and romantic vacation sa Thailand. Alam niyang edited lamang ang naturang litrato--- ngunit nagdulot iyon ng sukdulang galit sa guwapong broadcaster. Engaged to be married na pala ito, kaya walang pakundangang kinompronta siya nito. At himala ng mga himala na lamang ang maaring magpalambot sa puso nito....
View More"Tanda tangani ini."
Roman menggeser folder itu ke seberang meja tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Sera menatapnya. Tiga puluh dua halaman. Tiga tahun. Dua kata. Dia menarik folder itu mendekat. Roman sempat mendongak, hanya sesaat. Sera mengenali tatapan itu, dia sedang menunggu sesuatu. Mungkin air mata. Atau suaranya yang meninggi dan bergetar seperti dulu saat mereka bertengkar. Dia menginginkan versi di mana Sera hancur, sementara dia tetap tenang dan pergi dengan bersih. Sera mengambil pena itu. "Kau tidak akan mengatakan apa-apa?" tanyanya. "Kau sudah mengatakan semuanya." Sera membuka halaman terakhir. "Dua hari lalu. Saat kau bilang pada Isabella bahwa kau sudah mengurus masalahnya." Dia menatap Roman. "Akulah masalah itu." Rahang Roman bergerak. Namun tak ada suara yang keluar. Sera menandatanganinya. Tidak perlahan, tidak juga dengan gaya berlebihan. Dia menandatanganinya seperti caranya melakukan segala hal, seolah dia sudah memutuskan jauh sebelum saat ini tiba. Kemudian dia menutup pena itu, menggesernya kembali melintasi permukaan marmer, dan berdiri. "Penthouse ini milikmu. Aku sudah mengosongkan sisi lemariku." Sera mengambil tasnya, tas kulit cokelat tua yang sudah dimilikinya sejak sebelum mengenal Roman. "Nyonya Park, pengurus rumah tanggamu, lebih suka teh hijau di pagi hari. Bukan kopi hitam yang biasa dikirim Isabella. Dia tidak akan berkomentar, tapi dia juga tidak akan meminumnya." Roman memandanginya. "Rapat-rapat hari Kamismu membuatmu melewatkan sarapan. Itu sebabnya kau selalu migrain sebelum jam sebelas." Sera membetulkan tali tas di bahunya. "Aku menaruh obatmu di laci kiri atas mejamu. Yang sesuai resep dokter. Obat generik tidak cocok untukmu." "Sera…" "Selamat tinggal, Roman." Dia berjalan keluar. Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada air mata di lorong. Hanya suara halus hak sepatunya di atas marmer, lalu suara pelan pintu depan, dan kemudian hening. Roman tetap duduk di meja. Dia menatap folder itu. Menatap tanda tangan Sera di baris terakhir. Seraphina Montague Ashford. Dia pernah melihat Sera menandatangani banyak hal sebelumnya, dokumen, kartu, formulir-formulir aneh yang dia sodorkan. Dia tidak pernah memperhatikannya. Tapi Sera selalu menggunakan nama lengkapnya. Setiap saat. Tiga nama, ditulis utuh, seolah dia ingin memastikan seseorang akan mengingat bahwa dia pernah ada di sana. Ponselnya bergetar. Isabella. Sudah selesai? Roman mengambil ponselnya. Membaca pesan itu. Lalu menatap pintu yang baru saja dilewati Sera. Dia mengetik: Ya. Dia meletakkan ponselnya. Penthouse itu sunyi dengan cara yang terasa berbeda dari biasanya. Dia tidak bisa menjelaskan apa bedanya. Ruangan yang sama, perabot yang sama, pemandangan yang sama yang dia lihat setiap kali bangun tidur selama tiga tahun terakhir. Tapi ada sesuatu dari kesunyian itu yang kini terasa berat. Dia meraih dan menutup folder itu. Lift itu kosong. Sera menatap angka-angka di atas pintu. Empat puluh dua. Empat puluh satu. Empat puluh. Dia menarik napas lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan. Trik lama. Itu tidak menyelesaikan apa pun, tapi setidaknya memberinya sesuatu untuk dipegang. Tiga puluh. Dua puluh sembilan. Dia tidak akan menangis di dalam lift ini. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dua minggu lalu, saat pertama kali menghubungi pengacaranya. Saat itu dia menangis, sekali, sendirian di dalam mobilnya, di sebuah gedung parkir, dan dia bersumpah itu satu-satunya kali. Hanya itu yang akan Roman dapatkan darinya. Dua puluh. Sembilan belas. Pintu lift terbuka. Dia melangkah ke lobi dan hampir menabrak seorang pria yang bersandar di tiang seberang, tangannya terlipat, menatap lift itu seolah sudah menunggu cukup lama di sana. Berambut gelap. Tinggi. Mengenakan jaket yang harganya mungkin lebih mahal dari sewa rumah kebanyakan orang sebulan. Wajah yang seolah menarik perhatian kamera keamanan dengan sendirinya. "Lama sekali," kata Dante. Sera menghela napas perlahan. "Aku sudah menandatanganinya." Dante menatap wajahnya sesaat. Hanya sesaat. "Lalu?" "Tidak ada apa-apa." Sera melewatinya menuju pintu kaca. "Antar aku pulang. Aku ada kerjaan besok pagi." Dante berjalan mengikuti di sampingnya. Begitulah Dante, dia tidak pernah memaksa. Dia hanya datang dan menunggu. Dia sudah melakukannya sejak Sera berusia sembilan belas tahun dan belum tahu cara meminta apa yang dia butuhkan. "Ayahmu pasti ingin menemuimu," kata Dante. Udara dingin menerpa wajahnya saat mereka mendorong pintu keluar. "Dia bisa menunggu satu hari lagi," kata Sera. Mobil sudah menunggu di tepi jalan. Dante membukakan pintu. Sera masuk. Dia tidak menoleh ke gedung itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya, dan dia jauh lebih pandai menepati janjinya sendiri dibanding janji orang lain. Mobil itu melaju memasuki arus lalu lintas. Di atas, Roman masih duduk di meja. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana. Cukup lama hingga cahaya dari jendela berubah menjadi lebih lembut, kota mulai memasuki versi malamnya sendiri. Ponselnya bergetar tiga kali lagi. Semuanya dari Isabella. Dia tidak membalas satu pun. Dia mengambil folder itu lagi. Membuka halaman tanda tangan. Seraphina Montague Ashford. Sejenak dia berpikir untuk mengucapkan nama itu keras-keras. Sekadar ingin tahu apakah nama itu akan terasa berbeda di ruangan kosong ini. Tapi dia tidak melakukannya. Dia meletakkan folder itu dan berjalan ke jendela. Berdiri dengan tangan di saku, memandangi kota di bawah sana. Dia sudah memiliki semua yang dia inginkan. Pikiran itu muncul begitu datar, begitu hampa, tanpa perasaan apa pun yang menyertainya. Nama Isabella kembali menyala di layar ponsel di atas meja belakangnya. Dia tidak bergerak. Dia meyakinkan dirinya bahwa apa yang mengganjal di dadanya hanyalah kelelahan. Akhir dari sesuatu yang panjang dan rumit. Wajar, mungkin. Perasaan semacam ini biasanya akan hilang begitu pagi tiba. Dia adalah pria yang percaya pada instingnya sendiri. Dia membangun perusahaannya di atas insting itu. Dia pernah menjauh dari kesepakatan buruk bahkan sebelum angka-angka membuktikannya, dan dia selalu benar, setiap saat. Jadi dia tidak bisa menjelaskan, saat berdiri di jendela itu, dengan folder perceraian yang sudah ditandatangani di atas mejanya dan nama Isabella yang menyala di layar ponselnya, mengapa semua instingnya berkata hal yang sama. Kau baru saja membuat kesalahan. Dia mengambil ponselnya. Mengetik balasan untuk Isabella. Sudah selesai. Dia menekan kirim. Berdiri di sana, menunggu dirinya kembali terasa normal. Dia masih menunggu.SAKAY sila ng PAL plane patungo sa Paris. Doon ang unang destinasyon nila sa kanilang one-month honeymoon. Kahapon ay ikinasal sila, isang taon pagkatapos silang ma-kidnap. Tumatakbo na ang kaso ni Governor Matilde at lalong nadidiin ito. Nasa ilalim na ng witness protection program si Gari de los Santos. At ang kanyang groom ay ipinagpapatuloy ang programa nito. Mas maingat na nga lang ito---alang-alang daw sa kanya. "Kailangan pa tayong ma-kidnap para mapansin kita at ma-realize kong you are a gem. You are so special," sabi nito nang kabigin siya nito. "May maganda ring naidulot ang pagkaka-kidnap sa atin, hindi ba?" "Ano?" ''Nangyari siguro lahat ng iyon para makilala ko ang babaeng gusto ko talagang makasama for the rest of my life, the one I want to grow old with, the one who would welcome me with a warm embrace every time I come home at the end of the day, who would have dinner with me, and who would give me a relaxing massage after
THE NEXT four weeks were the happiest moments in Rachelle's life. Masaya sila ni Carlo dahil damang-dama niya ang pagmamahal nito. Masyadong nag-alala ito sa kanya. Nang bumalik siya sa production ng Exposed ay halos ginawa na nitong regular ang paghahatid sa kanya; kung hindi man ay kay Mandy siya ipinahahatid nito. Pauwi na sila nang gabing iyon galing ng TV station, sakay ng kotse nito at masayang nagkukuwentuhan, nang makatanggap ito ng tawag mula kay Marga. Nagtaka siya kung bakit parang tinamaan ito ng kidlat habang kausap nito ang babae. "Carlo... why? Is there something wrong?" "May importante raw sasabihin sa akin si Marga. Gusto raw niyang magkita kami," "Why do you look so worried?" "Saka ko na sasabihin sa iyo pagkatapos naming mag-usap. Ayokong mag-worry ka," seryosong sabi nito. Hindi na niya kinulit ito. Ngunit hindi niya maintindihan ang kabang nadarama niya. "AYOKO na sanang guluhin pa kayo ni Rachelle," simula ni Marg
RACHELLE was shocked at first. Hindi niya nakuhang kumilos. Carlo's kiss was very intense. Pakiramdam niya ay unti-unting nauubos ang kanyang lakas. Halos hindi siya makahinga sa sobrang higpit ng pagkakayakap nito sa kanya. Na tila ba takot itong mawala siya sa mga braso nito. Ngunit hindi bale nang hindi siya makahinga. Kung mamamatay man siya sa ganoong paraan, at least, namatay siya sa mga bisig nito. Ngunit nang bigla niyang maalala si Marga ay malakas niyang itinulak ito. Ngunit parang wala itong balak na bitawan siya at pakawalan ang kanyang mga labi. At kahit subukan niyang itulak ang inata ay nawawalan ng saysay ang effort niya. Tuloy ay nagtatalo ang kanyang kalooban. She loved what he was doing. Ngunit sinasabi ng isip niya na hindi dapat nangyayari iyon. Habol na niya ang kanyang hininga nang pakawalan ng lalaki ang kanyang mga labi.. Ngunit nanatili pa rin itong nakayakap sa kanya. Neither of them spoke. Nanatiling nag-uusap ang kanilang mga mata. Inabot nito ang f
KAPWA sila natigilan. Agad lumayo si Rachelle sa kama ni Carlo. Tumutok ng tingin ni Marga sa kanya. At hindi niya maintindihan ang kalakip na emosyon ng mga tingin nito. Pagkatapos ay saka lang ito lumapit kay Carlo. Agad itong yumakap sa binata, at siniil ito ng halik. Iniiwas niya ang kanyang tingin mula sa mga ito dahil hindi niya gusto ang naging reksiyon ng kanyng damdamin sa nakita niyang tagpo. Pakiramdam niya ay sinadya ni Marga na halikan si Carlo sa kanyang harap. Nang mapansin niya na hindi pa rin naghihiwalay ang dalawa ay balak na sana niyang lumabas ng kuwarto ngunit narinig niyang tinawag siya ni Carlo. "Rachelle, wait!" Huminto siya sa paglabas. "I want you to meet Marga," sabi nito. Isang ngiti ang ibinigay niya rito. Saka siya alanganin na lumapit dito at inilahad niya ang kanyang kamay sa babae. "So, you're Rachelle," anito nang tanggapin nito ang kanyang kamay. Mahigpit na mahigpit ang pagkak
INILAGAY ni Rachelle ang isang kopya ng picture nila ni Carlo na ini-edit ni Dani sa isang magandang frame na binili pa niya sa Boracay. Saka niya ipinatong iyon sa ibabaw ng kanyang side table. She could not help but smile while looking at the product of a harmless fantasy. Siya raw a
HINDI nila namalayan ni Rachellena umaga na. Nakakarinig na sila ng tilaok ng mga manok. Four-thirty na, ayon sa kanyang wristwatch. Ni hindi sila nakaramdam ng antok dahil ginugol nila ang mga nagdaang oras sa pag-uusap ng tungkol sa kung anu-anong topic. Nilibang niya ito upang kahit
HINDI maipaliwanag ni Rachelle ang nararamdaman niya nang makita niya si Carlo. Mahigit isang oras lang na hindi niya nakita ito ngunit parang isang taon na silang hindi nagkita. Nakadama siya ng matinding awa rito nang makita niya ang mga pasa at putok na labi nito. Nakatali pa rin ang mga kamay n
RACHELLE was very excited. No, that was an understatement. Hindi lang excitement ang nararamdaman niya nang mga sandaling iyon. Finally, she was going to meet Carlo Dela Cruz in person--- her biggest crush, the man in her fantasies. Nakatakda kasing interview-hinniya ang sikat na broad






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews