Admiring Him From Afar

Admiring Him From Afar

last updateLast Updated : 2023-06-25
By:  Mystery GirlCompleted
Language: Filipino
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
11Chapters
2.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Natupad ang pangarap ni Rachelle na ma-interview ang man-of-the-hour ng TV broadcasting na si Carlo Dela Cruz. Matagal na niyang iniilusyon ito. Pero kalabisan nang pangarapin pa niyang maging boyfriend o asawa ito, dahil not in a million years na pag-uukulan siya nito ng espesyal na atensyon. Nakuntento na siya sa alaala ng una't huling pagkikilala nila--- hanggang sa lumabas sa internet ang litrato nilang dalawa na magkasama sa isang grand and romantic vacation sa Thailand. Alam niyang edited lamang ang naturang litrato--- ngunit nagdulot iyon ng sukdulang galit sa guwapong broadcaster. Engaged to be married na pala ito, kaya walang pakundangang kinompronta siya nito. At himala ng mga himala na lamang ang maaring magpalambot sa puso nito....

View More

Chapter 1

CHAPTER ONE

"Tanda tangani ini."

Roman menggeser folder itu ke seberang meja tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Sera menatapnya. Tiga puluh dua halaman. Tiga tahun. Dua kata.

Dia menarik folder itu mendekat.

Roman sempat mendongak, hanya sesaat. Sera mengenali tatapan itu, dia sedang menunggu sesuatu. Mungkin air mata. Atau suaranya yang meninggi dan bergetar seperti dulu saat mereka bertengkar. Dia menginginkan versi di mana Sera hancur, sementara dia tetap tenang dan pergi dengan bersih.

Sera mengambil pena itu.

"Kau tidak akan mengatakan apa-apa?" tanyanya.

"Kau sudah mengatakan semuanya." Sera membuka halaman terakhir. "Dua hari lalu. Saat kau bilang pada Isabella bahwa kau sudah mengurus masalahnya." Dia menatap Roman. "Akulah masalah itu."

Rahang Roman bergerak. Namun tak ada suara yang keluar.

Sera menandatanganinya. Tidak perlahan, tidak juga dengan gaya berlebihan. Dia menandatanganinya seperti caranya melakukan segala hal, seolah dia sudah memutuskan jauh sebelum saat ini tiba. Kemudian dia menutup pena itu, menggesernya kembali melintasi permukaan marmer, dan berdiri.

"Penthouse ini milikmu. Aku sudah mengosongkan sisi lemariku." Sera mengambil tasnya, tas kulit cokelat tua yang sudah dimilikinya sejak sebelum mengenal Roman. "Nyonya Park, pengurus rumah tanggamu, lebih suka teh hijau di pagi hari. Bukan kopi hitam yang biasa dikirim Isabella. Dia tidak akan berkomentar, tapi dia juga tidak akan meminumnya."

Roman memandanginya.

"Rapat-rapat hari Kamismu membuatmu melewatkan sarapan. Itu sebabnya kau selalu migrain sebelum jam sebelas." Sera membetulkan tali tas di bahunya. "Aku menaruh obatmu di laci kiri atas mejamu. Yang sesuai resep dokter. Obat generik tidak cocok untukmu."

"Sera…"

"Selamat tinggal, Roman."

Dia berjalan keluar.

Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada air mata di lorong. Hanya suara halus hak sepatunya di atas marmer, lalu suara pelan pintu depan, dan kemudian hening.

Roman tetap duduk di meja.

Dia menatap folder itu. Menatap tanda tangan Sera di baris terakhir.

Seraphina Montague Ashford.

Dia pernah melihat Sera menandatangani banyak hal sebelumnya, dokumen, kartu, formulir-formulir aneh yang dia sodorkan. Dia tidak pernah memperhatikannya. Tapi Sera selalu menggunakan nama lengkapnya. Setiap saat. Tiga nama, ditulis utuh, seolah dia ingin memastikan seseorang akan mengingat bahwa dia pernah ada di sana.

Ponselnya bergetar.

Isabella.

Sudah selesai?

Roman mengambil ponselnya. Membaca pesan itu. Lalu menatap pintu yang baru saja dilewati Sera.

Dia mengetik: Ya.

Dia meletakkan ponselnya.

Penthouse itu sunyi dengan cara yang terasa berbeda dari biasanya. Dia tidak bisa menjelaskan apa bedanya. Ruangan yang sama, perabot yang sama, pemandangan yang sama yang dia lihat setiap kali bangun tidur selama tiga tahun terakhir. Tapi ada sesuatu dari kesunyian itu yang kini terasa berat.

Dia meraih dan menutup folder itu.

Lift itu kosong.

Sera menatap angka-angka di atas pintu. Empat puluh dua. Empat puluh satu. Empat puluh.

Dia menarik napas lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan. Trik lama. Itu tidak menyelesaikan apa pun, tapi setidaknya memberinya sesuatu untuk dipegang.

Tiga puluh. Dua puluh sembilan.

Dia tidak akan menangis di dalam lift ini. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dua minggu lalu, saat pertama kali menghubungi pengacaranya. Saat itu dia menangis, sekali, sendirian di dalam mobilnya, di sebuah gedung parkir, dan dia bersumpah itu satu-satunya kali. Hanya itu yang akan Roman dapatkan darinya.

Dua puluh. Sembilan belas.

Pintu lift terbuka.

Dia melangkah ke lobi dan hampir menabrak seorang pria yang bersandar di tiang seberang, tangannya terlipat, menatap lift itu seolah sudah menunggu cukup lama di sana.

Berambut gelap. Tinggi. Mengenakan jaket yang harganya mungkin lebih mahal dari sewa rumah kebanyakan orang sebulan. Wajah yang seolah menarik perhatian kamera keamanan dengan sendirinya.

"Lama sekali," kata Dante.

Sera menghela napas perlahan. "Aku sudah menandatanganinya."

Dante menatap wajahnya sesaat. Hanya sesaat. "Lalu?"

"Tidak ada apa-apa." Sera melewatinya menuju pintu kaca. "Antar aku pulang. Aku ada kerjaan besok pagi."

Dante berjalan mengikuti di sampingnya. Begitulah Dante, dia tidak pernah memaksa. Dia hanya datang dan menunggu. Dia sudah melakukannya sejak Sera berusia sembilan belas tahun dan belum tahu cara meminta apa yang dia butuhkan.

"Ayahmu pasti ingin menemuimu," kata Dante.

Udara dingin menerpa wajahnya saat mereka mendorong pintu keluar.

"Dia bisa menunggu satu hari lagi," kata Sera.

Mobil sudah menunggu di tepi jalan. Dante membukakan pintu. Sera masuk.

Dia tidak menoleh ke gedung itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya, dan dia jauh lebih pandai menepati janjinya sendiri dibanding janji orang lain.

Mobil itu melaju memasuki arus lalu lintas.

Di atas, Roman masih duduk di meja.

Dia tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana. Cukup lama hingga cahaya dari jendela berubah menjadi lebih lembut, kota mulai memasuki versi malamnya sendiri.

Ponselnya bergetar tiga kali lagi. Semuanya dari Isabella. Dia tidak membalas satu pun.

Dia mengambil folder itu lagi. Membuka halaman tanda tangan.

Seraphina Montague Ashford.

Sejenak dia berpikir untuk mengucapkan nama itu keras-keras. Sekadar ingin tahu apakah nama itu akan terasa berbeda di ruangan kosong ini. Tapi dia tidak melakukannya.

Dia meletakkan folder itu dan berjalan ke jendela. Berdiri dengan tangan di saku, memandangi kota di bawah sana.

Dia sudah memiliki semua yang dia inginkan. Pikiran itu muncul begitu datar, begitu hampa, tanpa perasaan apa pun yang menyertainya.

Nama Isabella kembali menyala di layar ponsel di atas meja belakangnya. Dia tidak bergerak.

Dia meyakinkan dirinya bahwa apa yang mengganjal di dadanya hanyalah kelelahan. Akhir dari sesuatu yang panjang dan rumit. Wajar, mungkin. Perasaan semacam ini biasanya akan hilang begitu pagi tiba.

Dia adalah pria yang percaya pada instingnya sendiri. Dia membangun perusahaannya di atas insting itu. Dia pernah menjauh dari kesepakatan buruk bahkan sebelum angka-angka membuktikannya, dan dia selalu benar, setiap saat.

Jadi dia tidak bisa menjelaskan, saat berdiri di jendela itu, dengan folder perceraian yang sudah ditandatangani di atas mejanya dan nama Isabella yang menyala di layar ponselnya, mengapa semua instingnya berkata hal yang sama.

Kau baru saja membuat kesalahan.

Dia mengambil ponselnya. Mengetik balasan untuk Isabella.

Sudah selesai.

Dia menekan kirim. Berdiri di sana, menunggu dirinya kembali terasa normal.

Dia masih menunggu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.


reviews

Mystery Girl
Mystery Girl
please read my first book here in Goodnovel
2023-06-25 18:30:01
2
0
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status