Share

Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat
Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat
Author: Less22

1. Mati Di Meja Operasi

Author: Less22
last update Last Updated: 2026-01-29 10:52:14

Sudah 2 tahun Adnan mengidap tumor otak bahkan sudah mencapai stadium 4, rambutnya botak, wajahnya berubah menjadi mengerut, tubuhnya kurus dan menghitam seperti terbakar, karena ia juga mengidap penyakit diabetes kering akut.

Hari ini adalah hari operasinya, dan Adnan telah bersiap-siap untuk operasi.

“Pak Arka, Pak Adnan hari ini harus segera dioperasi, karena kanker otaknya telah menjalar di bagian tubuhnya yang lain,” Kata dokter Rani.

Seketika Arka naik darah. “Apa? Di operasi?” Tanya Arka menatap Adnan yang ada di sampingnya itu dengan mata membulat.

"Untuk apa dia operasi? Hah! Buang-buang uang saja!” Kata Arka ketus langsung mendorong kepala Adnan membuat Adnan mundur beberapa langkah.

“Kau pikir biaya operasi murah hah? Mau minta uang? Lebih baik menunggu mati saja, dasar tidak berguna!" Maki Arka lagi Kata-kata itu sungguh menusuk jantung hatinya tanpa menunggu aba-aba.

Adnan diam memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit, matanya menatap ke arah papanya yang terlihat kesal.

"Eh satu lagi, restoran sudah Aku ambil dan aku berikan kepada kakak laki-lakimu, dia lebih berguna dari mu, dasar beban! Aku tidak punya anak berpenyakitan sepertimu! Memalukan keluarga saja!" katanya dengan ketus tanpa mempertimbangkan perasaan Adnan.

Adnan hanya berdiri diam menatap Papanya dengan tatapan dingin. Wajahnya tenang, tidak ada nada kemarahan di matanya, hanya terdengar suara nafas yang berhembus pelan.

“Kalau kau mau operasi, operasi saja sendiri, tidak ada urusan denganku!” Kata Arka yang langsung berbalik badan meninggal Adnan dan kedua dokter tersebut.

Adnan menatap punggung Arka yang menjauh tanpa ekspresi.

“Pak Adnan, apa Anda tidak apa-apa?” Tanya Dokter Rani.

"Tidak apa-apa dokter saya baik-baik saja," Kata Adnan mengangguk.

Tiba-tiba saja ponsel Adnan berbunyi. Ia meraih dan mengambil ponsel itu, ternyata dari istrinya, Gina.

“Adnan, mari kita berpisah. Aku sudah mengirim surat cerai di pengadilan, aku sudah menemukan pria yang lebih baik darimu, mulai sekarang dan selamanya, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”

Adnan hanya menatap tulisan itu sebentar lalu menyimpan ponselnya kembali.

Keluarganya mencampakkannya, mantan istrinya menceraikannya, teman-teman menjauh sejak tahu ia sakit, tapi kini ia menyadari, ia tidak perlu bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup.

"Dokter, sekarang aku siap untuk operasi," kata Adnan dengan suara mantap.

"Baiklah Pak Adnan, jika Anda siap, mari kita operasi sekarang," kata dokter Adi tak ingin membuat Adnan menjadi sedih.

Mereka pun masuk ke dalam ruangan dan Adnan duduk di atas brankar.

"Baiklah, ayo tim kita mulai operasi," kata dokter Adi kepada para tim operasi yang sudah siap siaga.

Adnan merebahkan tubuhnya di brangkar operasi dengan mata terpejam, air matanya mengalir dari ujung mata, menandakan betapa pedih hatinya.

Tiga tahun lalu, ia menjadi orang sukses, restoran menjadi restoran terkemuka di kota bahkan menjadi Ceo restoran nomor 1, ia menikah dengan gadis cantik dan ia hidup dalam kesempurnaan, menjadi anak kebanggaan oleh ayahnya karena berhasil menjadi anak yang sukses.

Tapi, kebahagiaan itu hancur setelah penyakit yang telah menggerogotinya, wajahnya menjadi pucat, badannya mengurus, ia tidak setampan dulu, kulitnya mengerutkan dan berubah menjadi orang buruk rupa, hingga sampai di titik saat ini, dan berakhir di meja operasi.

Dokter pun menyuntikkan obat bius, perlahan-lahan kesadaran Adnan memudar dan ia hilang kesadaran.

Dokter mulai melakukan operasi otak kepala Adnan atas permintaan Adnan. Andai pun gagal, Adnan tidak menyalahkan dokter dan sudah menandatangani surat perjanjian, karena kondisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk operasi, tapi bagi Adnan yang ingin bertahan hidup, lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.

Lampu sorot terang menyinari kepala Adnan yang terbaring tak bergerak di meja operasi. Dokter Rina mengangkat tangan, jari-jari yang gemetar sedikit ditahan oleh sarung tangan steril.

"Stadium 4, tumor sudah menjalar ke sumsum tulang belakang. Kita cuma punya satu kesempatan," katanya dengan napas pendek.

Tim operasi bekerja dengan kecepatan yang terkontrol. Suara monitor jantung beep... beep... beep... membunuh keheningan ruangan.

Satu per satu alat dimasukkan, skalpell, forseps, laser bedah yang memancarkan cahaya merah tipis untuk memisahkan jaringan sehat dari tumor yang busuk.

"Jangan sentuh saraf optik!" teriak Dokter Adi, ahli neuro yang berdiri di sisi kiri. Satu kesalahan kecil bisa membuat pasien buta selamanya. Laser sedikit menyimpang, dan monitor tiba-tiba menunjukkan denyut jantung yang melambat.

beep... beep...

jeda semakin lama.

"Pemberian obat penstabil!" Dokter Rina memerintahkan.

Perawat segera menyuntikkan cairan ke dalam saluran darah pasien. Denyut jantung kembali normal, tapi ketegangan di ruangan makin membanjiri. Mereka sudah beroperasi selama 7 jam; tenaga mulai menipis, tapi tumor masih belum selesai diangkat.

"Tumor menyatu dengan saraf syaraf pusat!" teriak salah satu perawat yang memeriksa layar pemindaian.

Dokter Rina melihat dengan mata membelalak, ia tahu apa artinya itu. Jika mereka terus memisahkan, saraf akan putus dan Adnan akan lumpuh sepenuhnya. Jika berhenti, tumor akan terus tumbuh dan mematikan dalam waktu seminggu.

Ia mengambil napas dalam-dalam. "Kita lanjut. Hati-hati sebaiknya."

Laser mulai bekerja lagi, tapi dalam sekejap, layar monitor menjadi merah. Denyut jantung pasien menjadi cepat sekali, lalu tiba-tiba... flatline. Suara beep yang terus-menerus menggema di ruangan.

"CPR sekarang!"

Tim bergerak cepat, menekan dada pasien, memberinya napas buatan. Tapi setelah 30 menit perjuangan, Dokter Rina mengangkat tangan. Matanya berkaca-kaca. "Berhenti," katanya dengan suara yang hancur. "Kita sudah kalah."

Ruangan menjadi sunyi, hanya terdengar napas pendek dari semua orang. Meja operasi yang semula menjadi tempat harapan, kini menjadi tempat kehilangan.

Adnan pun di nyatakan meninggal dunia di meja operasi.

Dokter Rina menarik nafas, sekali pun ia dokter dan biasa melihat hal ini, tapi ia tetap merasa kalah.

Dokter Rina mereka air matanya karena kesedihan yang mendalam. Pasien bukan hanya kehilangan kehidupan, tapi juga kehilangan keluarga, ini adalah pasien yang sangat menyedihkan yang pernah ia temui.

"Pindahkan pasien ke kamar jenazah," kata Dokter Rina terduduk lemas dan lelah, 7 jam operasi yang mereka lakukan ternyata tidak ada artinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   7

    "Tidak, aku tidak mengkonsumsi obat apa pun," kata Adnan dengan nada yang coba terdengar tenang. Ia terpaksa berbohong, bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada tubuhnya berasal dari sebuah potion yang dihasilkan oleh sistem misterius yang muncul di benaknya. Dokter Adi menatap wajahnya dengan seksama. Matanya yang tajam bergerak dari wajah Adnan ke tangannya yang terentang di atas tempat tidur. "Eh, apa aku tidak salah lihat? Bukannya tadi saat kamu masuk ruang operasi, kulit kamu agak menghitam dan kusam akibat komplikasi diabetes yang parah? Tapi sekarang ini... kulit kamu terlihat cerah dan segar seperti orang yang tidak pernah sakit," ujar Dokter Adi sambil meraih tangan Adnan dengan hati-hati, memutarnya ke sana kemari untuk memeriksa setiap detail.Adnan merasa wajahnya mulai memanas. Ia menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal, lalu memalingkan wajah ke arah jendela kamar ruangan tersebut yang menghadap taman rumah sakit. "Eh, Anda salah lihat

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   6 Pemeriksaan Ulang

    "Kalau begitu, mari Tuan Adnan, kami akan mengecek tubuh Anda secara menyeluruh dan memastikan kondisi Anda dalam keadaan yang stabil," ujar Dokter Rani dengan tatapan penuh perhatian. Suaranya lembut namun tegas, mencerminkan profesionalisme yang telah dia bangun selama puluhan tahun berpraktik di Rumah Sakit Umum Harapan Kota Pekanbaru. Adnan mengangguk perlahan, matanya sedikit berbinar dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Ia mengikuti langkah Dokter Rani dan rekan sejawatnya, Dokter Adi yang telah menangani kasus kanker otaknya. Di benaknya ada pertanyaan. "Hm... Bagaimana dengan tumor yang telah menyebar di otakku? Dan apakah diabetes tipe 2 yang telah menggangguku selama tiga tahun bisa benar-benar hilang setelah meminum potion misterius yang diberikan sistem itu?" tanyanya dalam hati dan ia penasaran apa sudah mulai sembuh. Sesampainya di ruangan pemeriksaan lantai tiga, yang dilengkapi dengan mesin MRI terbaru dan alat pemantau fungsi tubuh canggih,

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   5 Misi Selesai

    Suara mekanis terdengar. [Selamat, Host berhasil menyelesaikan misi!] Ting! Panel muncul di antar muka. Adnan menatap panel dengan seksama. [REWARD SISTEM OBAT: - Poin bertambah: 1000 Poin. - Obat penyembuh kanker otak 30%. - Obat penyembuh diabetes 30% - Hadiah Utama: Uang Rp 1.000.000.] Adnan, menelan ludah kosong, dengan mata terbelalak. Sekaligus dapat uang sekaligus obat baru. [Host, telah naik ke level 2.] [Saldo 1.000.000] [Keahlian akupuntur: 2%] [Keahlian Pijatan: 2%] [Insting penyembuhan: 2%] [Pendeteksi penyakit: 2%] [Kecerdasan: 2%] [Keberanian: 2%] [Keterampilan Tindakan: 2%] [Pengendali Energi: 2%] [Pengetahuan ramuan/obat-obatan: 2%] [Ketahan Mental: 2%] [Energi tubuh: 0%] [Poin: 2000] Mata Adnan membulat tak percaya dengan hadiah sistem yang ia dapatkan dan sangat banyak. "Wah, aku mendapatkan obat penyembuhan lagi, untung saja misi berhasil," kata Adnan melihat sistem dengan bahagia. "Cepat! Cepat! Bawa pasien segera," kata Do

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   4 Misi

    "Siapa kamu? Darimana kamu datang? Jangan kamu berani mengganggu keluarga dalam kesusahan!” teriak Kepala Perawat Yanti dengan wajah memerah kesal, saat dua perawat muda mendekat untuk menarik Adnan keluar dari ruangan. Sang istri, yang mendengar peryataan tersebut, langsung berhenti menangis, ia mendekat ke arah Adnan. "Apa kmu bilang? Su-suamiku masih hidup?" Ting! Ting! Ting! Cahaya hologram berwarna biru menyala terang di depan matanya, membuatnya terpaksa menutup mata sebentar. [MISI TAMBAHAN] [Buktikan bahwa Budi Santoso masih hidup dan rawat kondisinya hingga stabil] [Status: Misi Aktif Segera] [Hadiah: Poin pengalaman x2, akses ke Kemampuan Penyembuhan Darurat] [Konsekuensi Gagal: Semua poin hilang, sistem tidur 7 hari, dan Anda akan mengalami kelelahan ekstrem selama 3 hari] [PETUNJUK SEGERA: Sentuh bagian dada pasien dan aktifkan Diagnosis Mendalam untuk menampilkan bukti kepada semua orang] Tanpa berpikir panjang, Adnan menarik tangan dari genggaman pe

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   3. Misi Perdana

    Ting!Suara nada dering khas yang hanya bisa didengar oleh Adnan. Cahaya hologram tipis berwarna biru muda muncul di depan matanya, menampilkan baris teks yang membuat matanya melejit lebar.[MISI UTAMA][Sembuhkan 1 orang pasien][Status: Misi Sedang Berlangsung][Catatan Sistem: Waktu pengerjaan tidak terbatas, namun tidak ada tambahan poin jika melebihi 72 jam sejak penerimaan misi]"Apakah aku sudah memulai misi baru?" tanya Adnan dengan nada terkejut Ia baru saja menyelesaikan proses orientasi sistem yang muncul secara misterius di benaknya saat ia baru sadar.[Benar, Tuan Adnan. Selesaikan misi ini, dan Anda akan mendapatkan hadiah menarik lainnya berupa poin pengalaman serta akses ke kemampuan dasar diagnosis]Adnan mengangguk perlahan, mencoba menyerap setiap informasi yang diberikan sistem. Ia mengeluarkan napas panjang, menepuk-nepuk dadanya pelan agar tidak terlalu kaku, lalu beranjak dari kursi di sudut kamar mayat.Pintu besi berat kamar tersebut berderak saat dibukanya,

  • Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat   2. Mendapatkan Sistem

    [Ting tong]Loading...Menemukan Tuan...Memindai...Pengenalan Tuan...Memproses....Selesai...Mengscan tubuh Tuan...Selesai.Nama: Adnan Dewastara.Umur: 28 tahun.Pekerjaan: -Jenis kelamin: Pria.Status: DudaMenyadarkan Tuan dari kematian...Memproses...Selesai.Ting!Tiba-tiba saja kepala Adnan berdenyut kuat, ia merasakan sakit kepala yang tidak pernah ia rasakan sebelum."Akhhhhhhh! Sakit sekali!" teriak Adnan memegang kepalanya hingga tubuhnya meringkuk.Ting!Suara itu muncul lagi, tapi kali ini membuat sakit kepalanya perlahan menghilang."Eh, suara apa itu?" tanya Adnan melihat kedua tangannya, lalu ia melihat sekeliling tempat ia berada sekarang."Tempat apa ini?" tanyanya kebingungan, ia. melihat para orang-orang di dekatnya di tutup dengan kasih putih, sama dengannya saat ini."Ini jangan-jangan... "WELLCOME[Selamat datang di system teknologi canggih, System Medis super. Anda akan menjadi Tuan dari system ini, Anda mendapatkan keahlian pengobatan. System akan memba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status