LOGIN"Tidak, aku tidak mengkonsumsi obat apa pun," kata Adnan dengan nada yang coba terdengar tenang.
Ia terpaksa berbohong, bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada tubuhnya berasal dari sebuah potion yang dihasilkan oleh sistem misterius yang muncul di benaknya. Dokter Adi menatap wajahnya dengan seksama. Matanya yang tajam bergerak dari wajah Adnan ke tangannya yang terentang di atas tempat tidur. "Eh, apa aku tidak salah lihat? Bukannya tadi saat kamu masuk ruang operasi, kulit kamu agak menghitam dan kusam akibat komplikasi diabetes yang parah? Tapi sekarang ini... kulit kamu terlihat cerah dan segar seperti orang yang tidak pernah sakit," ujar Dokter Adi sambil meraih tangan Adnan dengan hati-hati, memutarnya ke sana kemari untuk memeriksa setiap detail. Adnan merasa wajahnya mulai memanas. Ia menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal, lalu memalingkan wajah ke arah jendela kamar ruangan tersebut yang menghadap taman rumah sakit. "Eh, Anda salah lihat kali, Dok. Mungkin karena pencahayaan kamar yang berbeda saja," jawabnya dengan suara seperti menyembunyikan sesuatu. Dokter Adi menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang tidak puas. "Ah benar kah? Aku rasa aku nggak mungkin salah. Aku sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi dokter, dan tidak mungkin aku keliru membedakan warna kulit akibat gangguan metabolisme dengan kondisi normal," tegasnya. Sebelum Adnan bisa memberikan alasan lain, Dokter Rani, dengan memegang berkas catatan medis tebal. "Yang bikin heran bukan hanya kulitnya, Dokter Adi," ujarnya sambil menyebarkan lembaran kertas di atas meja samping tempat tidur. "Kadar gula darah Pak Adnan juga sekarang sudah turun menjadi di tingkat normal. Bahkan hasil pemindaian MRI yang baru keluar menunjukkan bahwa tumor di lobus frontal otaknya sudah menyusut. Ini luar biasa!" Dokter Adi mengambil lembaran hasil pemeriksaan dan membacanya dengan mata yang melebar. "Benar sekali... padahal tadi kami sudah menyatakan bahwa kondisi Pak Adnan tidak mungkin bertahan lebih dari 48 jam. Kamu bahkan sudah henti bernapas. Sekarang tidak hanya hidup kembali, tapi kondisi tubuhmu bahkan lebih baik dari sebelum kamu didiagnosis sakit," ujar Dokter Adi dengan tatapan yang semakin curiga. Dokter Rani mendekat ke tempat tidur Adnan, matanya penuh rasa penasaran yang tak tertutupi. "Yang paling membingungkan adalah tidak ada satu pun zat kimia obat yang kami kenal terdeteksi dalam darahmu, Pak Adnan. Apa Anda menyembunyikan sesuatu pada kami? Apakah ada pengobatan alternatif yang Anda lakukan tanpa sepengetahuan kami? Atau mungkin ada orang lain yang memberikanmu sesuatu untuk diminum?" Adnan menatap mata dokter Rani dan dokter Adi dengan mata berbinar atas keingin tahuan yang tinggi. . Sistem di benaknya tiba-tiba muncul dengan pesan kecil [ Jangan ungkapkan keberadaan sistem. Keamanan Anda adalah prioritas utama] Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan wajah yang dibuat tenang. "Beneran dokter, saya juga tidak tahu apa-apa. Semua ini terjadi begitu saja. Mungkin Tuhan memberi aku kesempatan hidup sekali lagi untuk menyelesaikan urusan-urusan yang belum selesai," kata Adnan lagi, harapannya bisa meyakinkan kedua dokter itu. Dokter Rani menghela nafas berat, ujung jempolnya menyentuh dahi yang mulai berkeringat meskipun ruang rawat inap berada di suhu yang dingin. Jawaban dari Adnan sungguh tidak seperti yang ia dan tim peneliti harapkan selama berbulan-bulan. "Baiklah kalau begitu... Pak Adnan, hasil pemeriksaan menunjukkan Anda sudah hampir pulih dari kondisi awal yang mengkhawatirkan. Namun, saya perlu meminta izin untuk menahan Anda di rumah sakit untuk meneliti tubuh Anda lebih lanjut," kata Dokter Rani dengan nada yang mencoba tetap tenang, meskipun matanya terpaku pada lembar hasil tes yang ada di tangannya. "Saya tidak mau, Dokter. Hari ini juga saya harus pulang," kata Adnan dengan suara yang tegas, matanya menatap Dokter Rani dengan tatapan tidak suka yang menyertai gerakan tubuhnya yang mulai berusaha untuk bangkit. Tubuhnya yang kurus namun berotot terlihat kaku karena ketegangan.Adnan terkejut. "Eh, apa maksudnya?" tanya Adnan tak mengerti.[Masa uji coba sistem pada Anda telah selesai, sekarang Anda telah mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Rumah sakit, uang dan tempat usaha lainnya, jadi misi sistem telah selesai, selamat Tuan Adnan, Anda telah menjadi orang berhasil sekarang. Jadi sistem akan pamit dan selamat menjalani hidup Anda]Adnan terpaku melihat sistem yang berangsur-angsur menghilang. Rasanya sangat sedih, karena sistem menghilang begitu saja"Tunggu! Jangan pergi!" teriak Adnan membuat orang-orang yang ada di sana melihat ke arahnya."Ah maaf menganggu kalian," kata Adnan, Ia pun melangkahkan kakinya ke tempat yang sepi dan berdiri di sana.Ia benar tidak pernah menduga jika sistem menghilang, tapi apa boleh buat. "Terima kasih sistem karena telah mengubah hidupku, mulai hari ini aku akan menjalani hidupku menjadi lebih baik, " kata Adnan bertekadBaru mengucapkan kata tersebut, diam diam mendapatkan sebuah kabar bahwa ayahnya yang sedang terkena
Berita tentang Rido pun tersebar, dan ternyata ada beberapa wanita yang ternyata menjadi korban dari Rido.Ada sekitar 5 wanita yang hamil, tapi masih banyak wanita yang jadi simpanannya dan itu memancing kemarahan Gina yang di mana mereka baru menikah beberapa hari."Rido! Apa-apaan ini! Kamu bahkan sudah menghamili 5 orang perempuan dan masih banyak wanita yang kau simpan. Itu artinya anakmu sudah ada 5 orang. Lalu untuk apa kau menikahi ku?!" teriak Gina dengan bersimbah air mata.Dadanya terasa sesak setelah tau suaminya yang baru beberapa hari telah punya 5 calon bayi yang membuat Gina stres."Terus kau mau apa? Mau kita cerai?" tanya Rido dengan entengnya."Dasar pria gila! Kau suah punya banyak wanita kenapa kah malah menikah ku! Apa masalah mu!" teriak Gina dengan penuh air mata"Gina, aku menikahi mu karena aku memang cinta sama kamu, dan saat kau pacaran degan Adnan, aku sudah suka pada mu. Kau yang telah membuat aku seperti ini! Aku depresi dan akhirnya gonta ganti wanita,
Hari persidangan tiba dengan suasana yang sangat ketat. Ruang pengadilan penuh sesak dengan wartawan, masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus, dan keluarga korban yang menantikan keadilan.Pengacara tim hukum Norman yang terkenal dengan kemampuannya untuk membela kasus sulit mencoba berbagai strategi, mulai dari mengklaim bahwa bukti telah dimanipulasi, menyatakan bahwa Grisna memiliki motif balas dendam pribadi. Tapi setiap argumen mereka langsung terbalik oleh bukti-bukti yang diajukan Grisna dan tim kejaksaan. Setiap dokumen yang dipaparkan, setiap saksi yang bersuara, semakin memperkuat kasus terhadap Norman.Bukti tersebut telah tersebar luas di berbagai platform media sosial.Mulai dari rekaman transaksi keuangan ilegal, surat-surat perjanjian kolusi dengan pejabat daerah, hingga bukti pencucian uang melalui yayasan yang diklaim sebagai lembaga amal, semuanya sudah berada di tangan publik dan pihak berwenang.Grisna tahu bahwa langkah ini sangat berisiko. Norman bukan han
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂🍂 🍁"Iya, ada restoran di samping klinik ku," kata Adnan sambil mengangguk perlahan, matanya sesekali melirik ke arah jendela kafe yang mereka datangi. Restoran miliknya sendiri memang terletak tidak jauh dari praktik klinik yang ia kelola. "Oh benarkah? Kalau kamu ada restoran kenapa nggak bilang, kita kan bisa ke restoran mu aja!" kata Grisna dengan wajah yang bersinar antusias. Wanita muda itu baru saja mengenal Adnan beberapa hari yang lalu. Sejak itu, mereka sering membahas kasus yang belum terpecahkan itu."Sudahlah, sudah terlanjur juga ke sini," jawab Adnan dengan senyuman lembut. Ting!Sebuah notifikasi mendadak muncul di layar ponsel yang terletak di atas meja. Cahaya biru tipis menyala sekejap, menarik perhatian Adnan. Ia membuka pesan masuk di akun media sosialnya, dan wajahnya langsung berubah warna saat melihat pengirimnya, Arka, ayahnya yang sudah lama tidak berselisih suara dengannya."Adnan, kamu lihat berita pernikahan Gina dan Rid
Zeta memasuki mobil dengan gerakan yang halus dan presisi, sesuai dengan desainnya sebagai android canggih. Di belakangnya, Grisna melangkah dengan langkah masuk bersama Adnan. "Mau ke mana kita?" tanya Adnan sambil menyesuaikan layar kontrol di dasbor. Grisna menghela napas perlahan, mata memandang ke luar jendela mobil yang belum bergerak. "Hm... kemana ya? Sudah lama aku tidak keluar jalan-jalan. Bagaimana kalau ke restoran seafood? Aku tahu satu tempat yang berada di tepi pantai, katanya makanan mereka segar langsung dari nelayan pagi ini."Adnan mengangguk dengan senyum tipis. "Boleh juga tuh. Pasalnya, aku juga merasa perlu sedikit jeda dari rutinitas klinik."Dia menyentuhkan jemari pada layar sentuh, dan mobil langsung melaju dengan lancar, tanpa ada kemudi yang dipegang. Mobil Adnan adalah salah satu inovasi terbaru dari sistem teknologi, dilengkapi dengan fitur pengemudi otomatis tingkat 5 yang mampu menavigasi jalan raya maupun jalanan kecil dengan aman.Saat mobil mel
Perlahan-lahan mobil sedan warna gelap milik Adnan melaju di atas aspal jalanan. Ia mengemudi dengan hati-hati, menuju rumah sakit Umum Daerah yang terletak tak lebih dari lima kilometer dari hotel. Tujuan satu-satunya, menjemput robot medisnya. Saat mobilnya berhenti di depan halaman rumah sakit, pandangannya langsung tertuju pada satu titik di halaman terbuka. Robotnya, Zeta, sedang dikelilingi oleh sekelompok orang, di antaranya dokter berpakaian jas putih, perawat dengan baju seragam biru muda, dan beberapa pengunjung yang tampak terpesona dengan bentuk serta gerakan robot yang tampak sangat canggih.Tanpa berlama-lama, Adnan turun dari mobil dan menapaki lorong menuju lokasi kerumunan. Saat ia mendekat, lampu indikator di dahi Zeta berkedip berwarna biru muda, tanda robot tersebut telah menyadari keberadaannya."Maafkan saya, semuanya," ujar Adnan dengan suara yang jelas dan sopan, menyela diskusi yang tengah berlangsung. "Robot medis ini adalah milik saya. Saya datang untuk m







