FAZER LOGIN"Ma-maksudmu?" Suaranya dibuat setenang mungkin meskipun jantungnya berdebar tak karuan. "Kamu menuduhku memiliki hubungan dengan Ndoro Ayu?" Marni tersenyum sinis. "Saya tidak menuduh, Kang. Hanya saja—" "Banyu!" Suara nyaring itu membuat Banyu refleks menoleh ke sumber suara. Wening dengan langkah yang anggun datang di saat yang tepat. Meskipun wajahnya ikut menegang karena melihat kehadiran sang kusir di kamar yang sudah berganti pemilik. "Sedang apa kamu disini?" Ekor matanya menatap Marni dengan sini, sarat akan kebencian. Terlebih dengan sikapnya yang berubah menyebalkan. Bola mata Banyu bergerak liar, memberikan kode pada istri juragannya. "Mengantarkan wedhang yang Ndoro Ayu minta," jawab Banyu. Ia masih bermain mata dengan Wening sebagai kode rahasia mereka. Wening tidak memahami situasi ataupun menyadari kode yang diberikan Banyu. Ia menaikan satu alisnya. Ia tidak pernah meminta wedhang apapun untuk diantarkan oleh sang kusir. Banyu mendongak perlahan. "Ndoro yang mint
Wening membeku sesaat, bahkan Jayendra sendiri tidak menduga jika ibunya akan bersikap seperti itu. "Bu, tapi ini—" "Ini hanya sebuah kamar, Wening," sela Kanjeng Ibu. "Lagipula ini adalah permintaan jabang bayinya. Ibu tidak mau terjadi sesuatu pada cucu Ibu nanti." Jayendra melangkah maju, namun sebelum pria itu sampai di hadapan ibunya, Kanjeng Ibu sudah mengangkat tangannya. Menahan langkah Jayendra agar berhenti. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya. Yaitu membela Wening. "Tidak ada perdebatan hanya karena kamar, Jayendra." Pandangan Kanjeng Ibu beralih pada Wening yang masih tidak terima dengan keputusan yang sudah ia buat. "Sudah malam, tidak perlu membuat keributan untuk masalah sepele." Wening menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap. Tanpa mengacuhkan pandangan orang-orang di sekitarnya, ia menyentak langkahnya dengan kasar seraya meninggalkan kamar utama tersebut. Jayendra berniat mengej
Jayendra mengabaikan ocehan ibunya. Ia berjalan mendekat, namun tatapannya tidak seperti biasanya. Tidak melunak, tapi juga tidak setajam pagi tadi. "Kamu darimana, Nduk?" tanya Jayendra dengan nada datar. Tak ada gurat kekhawatiran di dalamnya. Yang ada hanya amarah yang dipaksa redam. Wening mundur selangkah, menolak uluran tangan Jayendra yang akan menyentuh bahunya. "Saya berkunjung ke rumah orang tua saya." Jayendra memicing tajam mendengar jawaban istrinya. Seolah ada sedikit keraguan yang tersembunyi dari sikap diamnya. Sesuatu yang tidak menjadi kebiasaan Wening, berkunjung ke rumah orang tuanya tanpa dirinya. Dan entah kenapa ia merasa jika Wening tengah berbohong. Karena matanya menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Kanjeng Ibu tersentak berdiri mendengar jawaban menantunya. Matanya melebar dan diiringi dengan dada yang naik turun. "Apa kamu bilang? Ke rumah orang tuamu!" teriak Kanjeng Ibu. "Wening, bagaiamana bisa kamu malah pulang—" "Apa ada yang salah?" pot
"kamu harus jaga kandungan Marni, Jayendra. Biarpun anak itu berasal dari seorang pelayan, anak itu tetap darah dagingmu, terap cucu ibu." Jayendra hanya mendengkus mendengar permintaan ibunya. Hubungannya dengan Marni, sejak awal hanya untuk meluapkan hasratnya saja. Tidak lebih, bahkan tidak pernah terbesit di pikirannya untuk menikahi ataupun menjadikannya selir. "Dan juga, mengenai lamaranmu pada Kanti, Ibu dan Kanti sepakat untuk menunda lamaran itu beberapa bulan lagi," imbuhnya kemudian. Banyu menarik napasnya panjang. "Kenapa Kanjeng Ibu harus repot-repot memikirkannya. Bukankah akan lebih mudah kalau Marni kita kirim ke desa lain dan berikan uang. Hubunganku dengan Wening yang dipertaruhkan, Bu. Kalau untuk masalah Kanti, saya belum bisa memutuskan, Bu." Kanjeng Ibu berdecak. "Dengar, Le. Kamu tidak tahu bagaimana perasaan ibumu ini yang sudah sangat menginginkan cucu? Untuk sementara, tidak masalah kalaupun anakmu berasal dari wanita rendahan. Setidaknya Ibu punya cu
"Banyu, hentikan! Malu kalau dilihat orang lain." Wening berusaha mengurai pelukan Banyu, mendorong dada pria itu pelan seraya melangkah sedikit mundur untuk memberi jarak di antara mereka. Banyu hanya terkekeh, sama sekali tak terlihat gentar. Pandangannya menyapu sekeliling. "Siapa yang akan melihat kita? Tidak ada." Wening memutar matanya, berusaha merapikan helai rambutnya yang berantakan. Ia berdiri tegak dan melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba mengembalikan sisa-sisa ketegasannya meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya sirna. "Hari sudah sore, Banyu. Saya butuh mandi. Lalu pulang. Saya tidak mau diberondong banyak pertanyaan saat tiba di rumah nanti," tegas Wening dengan nada yang tak ingin dibantah, membayangkan bagaimana amarah Jayendra, membuat tubuhnya meremang. Apalagi dengan kejadian pagi tadi yang membuatnya kabur dari kediaman. Banyu menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri dengan senyum tipis yang penuh arti. "Baiklah, kalau itu mau Ndoro
Wening mengangguk, ia menggigit bibir bawahnya, kepuasan pertamanya sudah ia dapatkan. Banyu kembali mencium Wening, turun ke ceruk lehernya membuat rangsangan-rangsangan agar istri juragannya kembali bergairah. Tangan Wening mulai bergerak ke atas. Melingkarkan kedua tangan di leher Banyu. Banyu beralih ke gundukan yang berukuran pas baginya. Ia mengecup, menjilat bahkan memainkan puncaknya. Membuat Wening menggeliat seperti cacing kepanasan. Wening baru pertama kali merasakan sensasi yang tidak dapat dijelaskan oleh akal sehatnya. "Ahh.... Banyu, hentikan..." Suara manja itu memohon Banyu untuk menghentikan aksinya. Namun tubuhnya berkhianat, menerima sentuhan itu, bahkan menuntut lebih. Karena rangsangan itu, otot-otot kewanitaannya menegang, menjepit erat batang Banyu yang membuat kusir itu melenguh. "Ah, Ndoro Ayu... Sungguh nikmat," teriak Banyu. Kepalanya mendongak, untuk pertama kali, Banyu benar-benar merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Bahkan saat






