LOGINWening yang ingin menghindar dari Jayendra, pergi mengajak Banyu dengan alasan minta diantar oleh sang kusir. Mereka menaiki kuda berkeliling ke sekitar desa. Ia juga pergi ke ladang untuk mengecek padinya yang sedang di panen. "Menurutmu, apa Marni benar-benar hamil, Nyu?" tanya Wening. Tubuhnya naik turun seirama dengan langkah kaki kuda yang membawanya. Ia duduk di depan Banyu seraya bersandar pada dada pria itu. Dada yang hangat itu terasa begitu menenangkan. Aroma keringat dan matahari dari tubuh Banyu berpadu dengan udara persawahan. Rasanya Wening ingin berlama-lama bersandar pada dada bidang pria itu, melarikan diri sejenak dari jerat kemunafikan di kediaman suaminya. "Kenapa Ndoro Ayu bertanya seperti itu?" tanya Banyu pelan, memecah hening di antara mereka berdua di atas punggung kuda yang berjalan santai. Wening menghela napas panjang. "Entahlah. Saya juga tidak yakin dengan perasaan saya, Banyu. Tapi, gelagat Marni sangat aneh." "Benar atau tidak dugaan itu, bukan lag
Setelah selesai memeriksa Marni, pandangan Mbok dukun kembali menghadap Kanjeng Ibu. "Bagaiamana, Mbok? Benar, bocah ini hamil?" tuntut Kanjeng tidak sabar. "Nuwun sewu, Ndoro besar. Belum terlihat jelas, mungkin karena baru sepuluh hari. Bisa menunggu satu bulan lagi untuk memastikan. Tapi, dari wajah pucatnya sepertinya iya." Suasana mendadak hening. Wajah Marni semakin pucat, tangannya berkeringat dingin. Debaran jantungnya, tidak usah ditanyakan lagi. Rasanya seperti ada genderang perang sedang ditabuh di dalam dada Marni. Namun, ada secuil rasa lega di hatinya setelah mendengar jawaban dari paraji yang memeriksanya. Namun, dari pengamatan Wening, tatapan Mbok dukun terlihat aneh. Matanya menyimpan keraguan, namun sepertinya terlalu takut untuk diungkapkan. Sedangkan Marni hanya tersenyum canggung sembari mengangguk. "Rum, ambilkan upah buat Mbok dukun!" titah Kanjeng Ibu pada pelayan kepercayaannya. Rum membawa satu ekor ayam jago, beras satu karung goni, masih ditamb
Disaat tatapan semua orang itu terlihat penuh penghakiman, Mbok Suti menghampiri Marni dan meraih tangannya. Menariknya untuk duduk di kursi kayu panjang berhadapan dengan Banyu. Tatapan canggung juga terjadi saat bola matanya beradu dengan manik hitam Banyu. Membuat bola mata itu bergerak liar ke sembarang arah karena gugup. "Apa aku juga harus hamil anak Juragan supaya naik pangkat?" Sebuah cibiran meluncur begitu saja dari bibir salah satu abdi yang sedang mengupas bawang. Nada dan tatapannya penuh cibiran yang membuat Marni menundukan pandangannya. "Jangan, Tin. Nasibnya tidak jelas. Iya kalau benar-benar dinikahi, kalau cuma diambil anaknya saja gimana? Jongos kaya kita mana ada harganya." Temannya ikut menimpali. Lalu tawa itu menggema di ruangan berdinding kayu tersebut. "Tin!" Suara Mbok Suti menjadi alarm berhentinya gunjingan yang terjadi di dapur. "Makan. Bagaimana nasibmu, tunggu keputusan Ndoro Besar dan Ndoro Juragan." Mbok Suti menyodorkan sepiring nasi dengan
Pagi ini Wening keluar kamar dengan wajah sumringah. Kebersamaannya dengan Banyu semalam membuat ia melupakan masalah yang terjadi di rumah tangganya. Wening mengenakan kebaya terbaiknya kali ini. Tidak seperti biasanya, Wening hari ini bersolek. Setelah semalam ia berbicara panjang lebar dengan Banyu setelah pertempuran panas mereka. Saat ia baru selangkah keluar dari kamarnya, Marni sudah berdiri di depan kamar seolah tengah menunggu Wening dengan sebuah senyuman yang membuat darah Wening mendidih. "Ndoro Ayu, Marni ingin bicara empat mata dengan Ndoro Ayu," pinta gadis itu pada Wening. Dada Wening terasa panas seolah terbakar. Namun, ia harus meredam bara api itu demi rencana balas dendamnya. "Apa?!" jawab Wening dengan nada ketus. Tatapannya memindai penampilan pelayan itu. Kemben kusut dengan warna yang sudah memudar. Kain jarik berwarna putih yang sudah berubah warna. Ia kemudian membuang wajahnya ke arah lain. Ia merasa muak secara tiba-tiba ketika melihat wajah Marn
Wening kembali mendaratkan ciuman di bibir Banyu. Gairah yang membara itu menjalar begitu cepat. Kebaya sutra berwarna biru tua itu sudah berada di atas lantai. Begitu juga dengan kain lurik milik Banyu. Tak butuh waktu lama, Wening sudah berada di bawah kungkungan Banyu. Mereka bersiap menyelami lautan hasrat. Wening kembali dibuat terpukau oleh pusaka Banyu yang ukurannya lebih besar. Meskipun ini bukan yang pertama, ia merasa was-was saat pusaka itu bersiap menerobos benteng miliknya. "Ouh, Banyu...," desis Wening dengan suara tertahan. Gerakan yang lambat itu menjadi pembuka bagaimana mereka akan menghabiskan malam panas ini bersama. Banyu menjaga gerakannya agar dipan tidak berderit, namun ia tetap membuat Wening merasakan kepuasan melalui gesekan-gesekan kecil yang membuatnya melenguh. Tok ... Tok... Tok... Sepasang insan yang tengah dimabuk gairah itu tersentak pelan ketika pintu kamar di ketuk. Kegiatan mereka terhenti tanpa terurai. "Siapa?" desis Wening dengan wa
Pengakuan Marni menjatuhkan bom yang seketika membungkam seluruh area pendopo. Wening yang siap meninggalkan kekacauan itu, mendadak berhenti saat baru beberapa langkah. Ia tak menoleh, namun juga tak segera melanjutkan langkahnya. Kanjeng Ibu mematung dengan mulut setengah terbuka. "A-apa... kamu bilang?" bisik Kanjeng Ibu gagap, matanya membelalak lebar menatap perut Marni, lalu beralih pada putranya dengan kilat murka dan kekecewaan yang tak tertahan. "Ndoro Ayu," isak Mbok Suti di samping Wening. Wening akhirnya menguatkan hati dan tekadnya untuk kembali ke kamar. Namun, saat sosok Banyu muncul dan berjalan mendekat ke arahnya, pertahanan Wening yang sekuat tenaga ia bangun, akhirnya luruh seketika. Tubuhnya limbung, hampir terjatuh di tanah. "Ndoro Ayu," desis Banyu. Ia segera mengangkat tubuh Wening ke dalam dekapannya. Membawa wanita ringkih itu menuju kamarnya. Banyu menurunkan tubuh Wening diatas pembaringan dengan perlahan. "Mbok, buatkan teh panas," perintah Bany