LOGINBanyu mengekor di belakang Mbok Siti yang berjalan kembali menuju dapur. Kalimat terakhir wanita oaruh baya itu membuatnya terusik. Ada sesuatu yang harus segera ia luruskan dengannya. "Mbok!" panggil Banyu dengan nada rendah. "Ada yang perlu saya tanyakan." Mbok Suti berhenti, kemudian memarik napas panjang webelum menoleh pada Banyu. "Apa maksudnya, Mbok? Simbok tahu sesuatu kan?" bisik Banyu dengan penuh penekanan. Ia mencengkeram lengan wanita paruh baya itu. Tatapannya tajam mengunci manik hitamnya, menuntut jawaban. Mbok Suti membuang pandangannya. Ia tidak bisa jika harus terus menatap mata Banyu. "Apa maksudmu, Nyu? Simbok tidak tahu," jawabnya berkilah wajahnya tetap terlihat tenang mesti tengah menyembunyikan sesuatu. "Mbok! Simbok tahu apa maksud dati pertanyaanku. Simbok saja yang pura-pura tidak tahu. Apa Simbok memnyembunyikan sesuatu kebenaran? Yang dikatakan Tin—" "Banyu," panggil Mbok Suti memotong kalimat Banyu. Suaranya lembut, membuat Banyu menurunkan egonya.
Kebimbangan melanda hati Wening. Ia ingin pergi dari tempat jang membuatnya sesak ini, namun disisi lain ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang disembunyikan oleh suaminya."Tapi Banyu, darimana kamu tahu ada gadis-gadis yang disembunyikan di gudang? Aku tidak pernah mendengar sesuatu dari tempat itu.""Kalau bajyak orang yang tahu, namanya bukan rahasia, Ndoro Ayu."Jawaban Banyu membuat Wenjng terdiam. Lidahnya terasa kelu tak dapat membantah kaimat pria itu."Kalau begitu, bawa saya ke gudang. Saya mau buktikan kalau apa yang kamu katakan memang benar," tegas Wening pada Banyu. "Ndoro Ayu, kegaduhan kemarin itu karena gadis-gadis itu kabur. Tentu saja mereka sudah tidak ada di sana."Wening mengikis jarak diantara mereka. "Lalu bagaiamana mau buktikan semua yang kamu katakan itu adalah benar, Banyu."Banyu menatap Wening tanpa mengedipkan mata, membiarkan keheningan menggantung di antara jarak mereka yang kian mengikis. Tatapan Ndoro Ayunya begitu tajam, menuntut jawaban."Ndoro A
"Kalau Ndoro Ayu sudah setuju dengan kesepakatan kita, Marni mau permintaan pertama." Wening tak menaggapi, ia bisa menebak apa yang akan diminta oleh pelayannya. Untuk saat ini, Wening terpaksa tunduk di bawah kaki pelayan kurang ajar itu. "Marni mau Ndoro segera angkat kaki dari rumah ini. Meskipun juragan tidak mau Ndoro Ayu pergi, Marni mau, Ndoro Ayu tetap meninggalkan kediaman dan membiarkan Marni memimpin kediaman ini dengan tenang. Marni bersiap untuk menjadi istri juragan. Marni tidak mau ada masalah karena Ndoro Ayu tidak setuju dengan pernikahan Marni dan juragan." Wening menarik sudut bibirnya samar. Yang ia pikirkan, ternyata benar. Marni memintanya untuk pergi dari tempat ini dan juga menyerahkan jabatan Nyonya rumah padanya. Tidak ia suruh, Wening memang berencana untuk pergi dari rumah ini. "Baik," jawab Wening singkat. Melihat Wening yang menurut tanpa membantah sedikitpun, membuat Marni mengerutkan keningnya. Merasa ada yang aneh dari istri majikannya tersebut.
Dengan amarah yang masih bergemuruh di dada, Wening pergi meninggalkan suaminya. Ia sudah tidak tahan untuk tetap tinggal di neraka seperti ini barang sehari pun. Ia berniat untuk mengemas semua pakaiannya dan pergi dari tempat ini. Untuk masalah perhiasan, ia tak memikirkannya lagi. Biarlah perhiasan itu hilang. "Kasihan sekali." Suara Marni memaksa langkah Wening untuk berhenti. Gadis itu berdiri di belakang Wening dengan melipat kedua tangan di depan dada. Senyumannya sarat akan rasa sinis yang mendominasi. Gadis itu perlahan mendekat, tak ada sedikitpun rasa hormat di dalam dirinya pada wanita yang masih berstatus istri dari juragannya itu. "Bagaimana rasanya dibentak Ndoro juragan?" Pertanyaan Marni membuat satu alis Wening terangkat. Rupanya gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Jayendra barusan. Langkah Marni menapak dengan angkuh di atas lantai kayu. "Daripada Ndoro Ayu semakin sakit hati karena juragan, lebih baik Ndoro Ayu mundur dan bercerai. Kemudian kembali ke
"Siapa lagi kalau bukan Juragan." Wening menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Mbok Suti yang berdiri tidak jauh di ambang pintu. Banyu berduri di ambang pintu dengan melipat kedua tangan di depan dada. "Jangan mengada kamu, Banyu!" bantah Wening. Lalu membuang pandangannya ke arah lain. Berusaha menghindari kontak mata dengan oria itu. Banyu melangkah masuk perlahan. Dengan senyum sinus tersungging di bibirnya. "Lalu siapa lagi? Pelayan di sini mana berani mencuri. Kalaupun berani, mereka tidak akan bisa menjual atau menukarnya menjadi uang," balas Banyu. Mbok Suti menahan lengan pria itu. "Bagaimana bisa kamu menuduh juragan, Nyu? Kamu jangan asal bicara." "Simbok ini seperti tidak tahu saja," jawabnya. "Yang pegang kunci hanya Ndoro Ayu dan juragan. Kalau barang di tempat ini hilang, bukankah artinya salah satu dari yang menegang kunci itu yang mengambilnya?" Wening menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Untuk apa Kangmas Jayendra mengambil kain?" Banyu
Wening tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membelalak, ia refleks menutupi mulutnya dengan tangannya. "A-apa?" tanyanya dengan suara terbata. Jantungnya berdebar kencang, tangannya mendadak bergetar tanpa alasan. "Ka-kamu bilang apa Banyu? Kangmas Jayendra membunuh seseorang?" desisnya pelan. Banyu mengangguk, tatapannya datar seolah ia sudah kebal melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Wening. "Siapa, Banyu? Saya bahkan tidak pernah mendengarnya. Sepertinya tidak mungkin," sangkal Wening tidak percaya. Jika Jayendra adalah pria yang egois, ia masih mempercayainya. Namun jika Jayendra adalah seorang pembunuh, ia benar-benar tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. "Kenapa tidak mungkin? Apa juragan adalah orang sebaik dan sesuci itu?" Wening menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bermaksud untuk membela suaminya. Namun kalimat yang dikatakan oleh Banyu adalah kalimat terkejam yang pernah ia dengar tentang suaminya. "Kangmas Jayendra ti







