تسجيل الدخول"Apa maksudmu, Bi?! Bagaimana bisa dia kabur?!" bentak Brata dengan suara panik yang tak lagi bisa ia sembunyikan."Saya... saya tidak tahu, Ndoro! Tadi saya mau mengantar makan siang ke kamarnya, tapi pintunya tidak terkunci dari luar. Begitu saya masuk, perawat itu sudah tergeletak di lantai dengan kepala bocor, dan tempat tidur Nyonya Ratna sudah kosong!" tangis Bi Sumi histeris dari seberang telepon.Brata langsung memutus sambungan. Napasnya memburu cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar kunci mobilnya di atas meja.Mira, yang berdiri di dekatnya, segera memasang ekspresi paling cemas yang bisa ia perlihatkan. Ia mendekat, menyentuh lengan Brata dengan jemari yang dibikin bergetar."Ndoro... ada apa? Nyonya Ratna... kenapa?" tanya Mira cemas."Dia kabur," ucap Brata dengan suara berat, rahangnya mengeras penuh kepanikan. "Perawatnya diserang. Kita harus kembali ke rumah sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Brata menarik tangan Mira keluar dari ruang kerja perk
Di tengah kesibukan area perkebunan, Brata berada di lapangan dan tak sengaja bertemu dengan Danu– tangan kanan kepercayaan Haryo. Danu menatap Brata dengan sorot mata penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikannya. Sebagai orang kepercayaan Haryo, ia selalu mengawasi gerak-gerik sang tuan muda. "Tuan Muda," sapa Danu sopan, meski nada bicaranya menyimpan rasa ingin tahu. "Tadi pagi, sepertinya saya melihat Tuan Muda bersama seorang wanita... Kalau boleh tahu, siapa dia?" Brata langsung menatap tajam ke arah Danu. Rahangnya mengeras, raut wajahnya berubah dingin dalam sekejap. "Urus saja pekerjaanmu di lapangan, Danu. Jangan urusi hal-hal lain yang bukan urusanmu," desis Brata tajam, tanpa memberikan ruang bagi Danu untuk memperpanjang percakapan, lalu melangkah pergi begitu saja. Danu terpaku di tempatnya. Reaksi Brata yang berlebihan justru memperkuat kecurigaan di benaknya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan berbahaya bagi posisi Ratna, Danu tidak tinggal di
Sinar matahari mulai menembus celah jendela rumah besar itu, membawa serta sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan. Namun, suasana di dalam rumah masih diselimuti ketegangan yang belum benar-benar reda sejak semalam. Di dapur, Mira baru saja selesai mandi. Alih-alih mengeringkan rambutnya dengan handuk, gadis itu sengaja membiarkannya basah kuyup. Tetesan air dari ujung rambut hitamnya meluncur bebas, membasahi daster katun tipis bermotif bunga pudar yang ia kenakan. Kain daster murahan itu seketika menempel ketat, menjiplak dengan sangat sempurna setiap lekuk tubuhnya yang sintal. Dari balik kain basah itu, siluet lekukan pinggang dan kepenuhan dadanya terekspos tanpa ampun, menciptakan pemandangan yang begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Dengan langkah pelan dan raut wajah polos yang telah ia persiapkan, Mira membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat. Tujuannya pagi ini sangat jelas, ia ingin melihat secara langsung keadaan Ratna yang kini terkurung di
"Kamu buta, Bi?!" bentak Brata dengan suara menggelegar, sengaja menaikkan nada suaranya untuk menutupi sisa-sisa napas yang masih memburu. Pria itu mengangkat lengan kirinya yang terbalut erat oleh robekan kain bermotif daster Mira, menyembunyikan getaran gairah yang belum sepenuhnya padam di balik topeng kemurkaan. "Darahku terus mengalir! Kalau Mira tidak merobek bajunya untuk mengikat lukaku, aku bisa kehabisan darah sebelum kamu datang membawa kotak itu!" Bi Sumi tersentak, langkahnya terhenti. Pandangan wanita tua itu turun ke arah lengan majikannya, lalu beralih pada ujung daster Mira yang memang terkoyak kasar tak beraturan di bagian bawah. Logika dari pemandangan itu menampar keraguannya. Walau insting tajamnya masih mencium aroma ketegangan yang tidak biasa di udara, Bi Sumi tak berani membantah. "M-maaf, Ndoro... Saya panik melihat banyak ceceran darah," cicit Bi Sumi. Ia buru-buru menunduk dan mendekat, tangannya yang keriput dengan cekatan membuka kotak P3K.
"Darahnya keluar banyak sekali, Ndoro..." Isak tangis Mira kembali terdengar, suaranya bergetar dipenuhi kepanikan yang terlihat begitu tulus.Tanpa membuang waktu, Mira merobek paksa ujung bawah daster seragamnya. Belahan daster tersebut robek hingga ke pangkal paha, mengekspos kulit putih mulus dan tungkai jenjangnya secara gamblang.Napas Brata seketika tertahan. Urat-urat lehernya menegang kaku. Rasa perih luar biasa yang ia rasakan seolah tersapu bersih dalam sekejap, tergantikan oleh gelombang panas yang tiba-tiba mendidih dan berpusat di bawah perutnya. Ketegangan yang sejak tadi menguasai tubuhnya perlahan berganti menjadi gairah liar yang tak lagi mampu ia bendung.Dengan tangan yang sengaja dibikin gemetar, Mira melilitkan robekan kain katun itu ke lengan Brata, mengikatnya kuat-kuat untuk menghentikan pendarahan. Setiap kali gadis itu mencondongkan tubuhnya, belahan dadanya yang mengintip dari balik kerah daster yang longgar bergesekan lembut dengan dada bidang sang majik
"Ndoro... hiks... turuti saja kemauan Nyonya!" Suara tangis Mira memecah ketegangan yang sedari tadi membekukan ruang keluarga itu. Dengan tubuh gemetar hebat dan lututnya yang masih berbalut perban, gadis itu menyeret dirinya maju. Ia menjatuhkan diri, memeluk kaki Brata dengan wajah berlinang air mata yang tampak begitu hancur, pucat, dan diliputi ketakutan murni. "Saya akan pergi! Saya akan angkat kaki dari rumah ini detik ini juga asalkan Nyonya selamat!" isak Mira semakin keras, memohon dengan suara yang begitu memilukan. "Tolong, Ndoro... jangan biarkan Nyonya menyakiti dirinya sendiri karena orang seperti saya..." "Diam kau, pelacur!" jerit Ratna kesetanan melihat tangan Mira memeluk kaki suaminya. "Lepaskan tangan kotormu dari suamiku!" Amarah dan rasa jijik membuat konsentrasi Ratna terpecah sepersekian detik. Pecahan kaca di pergelangan tangannya sedikit merenggang saat wanita itu menunjuk Mira dengan tangan yang gemetar. Brata tidak membuang kesempatan itu.







