Share

Bab 50

Penulis: Toyusa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 12:00:11
Ujung kain lap di tangan Mira bergerak pelan menyapu permukaan meja makan kayu jati. Di balik wajahnya yang tertunduk dan gerakannya yang lambat, isi kepalanya terus berputar berputar memikirkan langkah selanjutnya.

Hari ini, ia mengambil langkah yang sangat berisiko. Ia sengaja mengenakan gaun katun cantik nan lembut pemberian Brata.

​Padahal, majikannya itu pernah mewanti-wantinya dengan sangat tegas saat memberikan tas kertas tersebut, "Pakai baju ini hanya saat kita sedang berdua."

​Na
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 51

    Mira sekarang benar-benar menjalankan peran barunya sebagai asisten pribadi. Sesuai kesepakatan, ia tidak lagi mengerjakan tugas kasar seperti mengepel lantai atau mencuci piring. Seluruh waktunya dihabiskan di dalam kamar utama yang dingin, berdua saja dengan sang nyonya besar.Ratna memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya secara sewenang-wenang, namun menyiksa. Saat Mira menyisir rambut panjangnya, Ratna akan sengaja memundurkan kepalanya secara tiba-tiba hingga helaian rambutnya ditarik kuat oleh sisir."Aduh!" Ratna mendesis, lalu menoleh dengan senyum sinis. "Maaf, Mira. Aku tidak sengaja bergerak."Mira menelan rasa sakit di kulit kepalanya, hanya menunduk dan mengangguk patuh. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya yang kurang berhati-hati.".Siksaan kecil itu berlanjut terus-menerus. Saat Mira membawakan teh kamomil hangat, Ratna sengaja menyenggol ujung cangkir porselen itu hingga air panasnya tumpah mengenai punggung tangan Mira."Ya ampun, jariku masih lemas pasca operasi. Kamu sih

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 50

    Ujung kain lap di tangan Mira bergerak pelan menyapu permukaan meja makan kayu jati. Di balik wajahnya yang tertunduk dan gerakannya yang lambat, isi kepalanya terus berputar berputar memikirkan langkah selanjutnya. Hari ini, ia mengambil langkah yang sangat berisiko. Ia sengaja mengenakan gaun katun cantik nan lembut pemberian Brata. ​Padahal, majikannya itu pernah mewanti-wantinya dengan sangat tegas saat memberikan tas kertas tersebut, "Pakai baju ini hanya saat kita sedang berdua." ​Namun, hari ini ia dengan sengaja melanggarnya. ​"Mira." ​Panggilan lembut yang terdengar dari arah lorong itu seketika menghentikan gerakan tangan Mira. Ia menoleh dan mendapati Ratna sudah duduk tenang di atas kursi rodanya. Di belakangnya, Brata berjalan mengekor dengan raut wajah biasa, namun seketika berubah saat melihat apa yang dikenakan Mira. ​"Gaun katun yang kamu pakai itu bagus sekali, Mira," puji Ratna dengan nada riang. Senyum lebar terukir di wajahnya yang pucat saat matanya m

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 49

    Ancaman Ratna akhirnya terbukti. Bukan dengan amarah atau teriakan, melainkan dengan kehadirannya yang terus menempel pada Brata, seperti bayangan yang tak pernah bisa disingkirkan.​Di mana ada Brata, di situ pasti ada Ratna. ​Jika Brata membaca laporan di ruang keluarga, Ratna meminta Bi Sumi mendorong kursi rodanya ke sana dengan alasan tak ingin jauh dari suaminya. Saat Brata makan, Ratna duduk di sebelahnya, menyajikan makanan dengan senyum manis bak istri yang paling berbakti.Ia menguasai seluruh waktu dan perhatian Brata tanpa celah, sama sekali tidak menyisakan ruang sedetikpun bagi suaminya untuk sekadar berpapasan, apalagi berduaan dengan Mira.​Brata, yang merasa istrinya sudah "waras" dan kembali penurut, sama sekali tak punya alasan untuk menghindar.​Siasat ini benar-benar mengunci pergerakan Mira. Selama berhari-hari, ia hanya bisa menggigit jari, menahan kekesalan karena mangsanya terus dijaga ketat oleh sang nyonya besar.​Hingga malam ini, kesempatan emas itu akhirn

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 48

    Hari-hari berikutnya, suasana di rumah besar itu berubah drastis. Ratna tak lagi berteriak histeris, membanting barang, atau melontarkan umpatan. Wanita itu memilih memainkan siasatnya dengan sangat cermat, menyadari bahwa setiap ledakan emosi hanya akan mendorong suaminya semakin menjauh dan mencari ketenangan pada pelayan muda itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore di ruang keluarga. Ratna yang duduk di kursi rodanya sengaja meminta Bi Sumi untuk memanggilkan Mira. Begitu Mira datang dan menunduk patuh di hadapan majikannya, Ratna melakukan langkah pamungkasnya untuk memutus rantai perlindungan Brata terhadap pelayan itu. ​"Mira..." panggil Ratna lembut. Ia mengulurkan tangannya yang kurus, menatap Mira dengan sepasang mata yang menunjukan penyesalan mendalam. "Aku memanggilmu kesini karena aku ingin meminta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam." ​Brata, yang duduk di sofa sebelah istrinya, tampak terkejut. Matanya membelalak tak percaya. ​"Aku sadar selama ini aku sangat

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 47

    ​"Ratna, bagaimana keadaanmu? Dokter Hans sebentar lagi tiba," ucap Brata lembut.​Brata melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan membawa mangkuk kecil berisi air hangat dan handuk bersih yang baru saja ia ambil dari Bi Sumi. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan menyeka pelan sisa debu serta keringat di dahi istrinya dengan penuh kehati-hatian.Dalam hitungan detik, Ratna sudah memasang wajah yang sama sekali berbeda. Tak ada lagi tatapan tajam atau senyum sinis yang sempat membuat Mira gemetar. Di hadapan Brata, ia kembali menjadi sosok istri yang tampak lemah, rapuh, dan seakan hanya menemukan rasa aman saat berada di sisi suaminya.​"Aku tidak apa-apa, Mas... Asalkan kamu ada di sini… di sampingku," bisik Ratna manja, sengaja menyandarkan kepalanya yang lemas ke dada Brata. Tangannya yang sempat melukai pergelangan tangannya sendiri kini terulur memeluk pinggang suaminya erat-erat. "Jangan tinggalkan aku

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 46

    "Maafkan aku, Mas..." bisik Ratna begitu lirih, nyaris tertelan angin siang. Suaranya serak, patah-patah, seolah setiap kata menguras sisa tenaga yang masih ia miliki.Dengan gerakan kaku, Brata mengambil alih tubuh istrinya dari rengkuhan Danu. Begitu berada dalam pelukan suaminya, Ratna tidak memberontak sedikit pun. Ia justru menenggelamkan wajahnya yang kotor dan basah oleh air mata ke dada Brata.Wanita itu menangis tanpa suara. Tak ada lagi jeritan histeris atau rentetan tuduhan menyakitkan seperti biasanya. Yang tersisa hanya isakan tertahan yang membuat bahu kurusnya bergetar hebat. Jemarinya yang lecet dan berdarah mencengkeram kemeja Brata erat-erat, seolah hanya itu yang masih mampu menopang dirinya."Maafkan aku..." ulang Ratna dengan suara yang semakin lemah.Brata menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sakit dan tercekat. "Ratna..."​"Kewarasanku... rasanya sempat hilang, Mas,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status