로그인Caramel menampilkan senyum ramah di hadapan Kokoh ketika Caramel sudah mengganti pakaiannya dengan seragam yang diberikan oleh Kokoh.
“Yah, sepertinya memang atasan kita nggak salah karena memilih kamu sebagai head dari para waiters,” ucap Kokoh sambil mengacungkan jari jempol melihat penampilan Caramel yang sangat jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Apakah harus banget mengenakan seragam, Koh? Soalnya kan periode sebelumnya juga head waters bajunya bebas kan, nggak ada pake acara seragaman segala, cuma pake nametag aja. Kok sekarang ada seragamnya?” tanya Caramel.
“Entah, mungkin si tuan itu ingin kamu dikenal oleh pengunjung langganan jika kamu sudah naik jabatan. Entah juga ya, Kokoh juga nggak paham kenapa bisa tiba-tiba beliau memberikan atasan kita perintah kayak gini,” ucap Kokoh.
“Emang atasan kita tuh yang mana sih, Koh? Cara sampai sekarang nggak tau deh mukanya,” ucap Caramel dengan alis menukik.
“Udah beristri dia. Lagian kamu pas ada acara kumpul-kumpul nggak ikut,” ucap Kokoh. Pria Chindo itu memeriksa ponselnya yang berdering panggilan suara dari seseorang.
“Ck! Sudah beristri tapi masih aja genit ke cewek!” gerutu Caramel membuat Kokoh langsung menatapnya.
“Hey, pelankan suaramu! Kalau atasan kita mendengarnya, kau bisa di pecat karena kau asal tuduh aja!”
Caramel menaikkan sebelah alis, ia tak mengerti dengan ucapan dari sang manager di tempat kerjanya.
“Yang memberikan perintah untuk menaikkan jabatanmu itu bukan atasan kita, Cara, tapi si tuan. Boro-boro atasan kita kenal kamu, orang dia aja jenguk club ini aja scuma setahun sekali, sangat nggak berguna sekali! Seharusnya tuan mengetahui sebuah fakta ini supaya si bos di pecat! Enak aja dia setiap bulan gaji makin lancar jaya, padahal kerjanya mah cuma nanya kabar doang ke Kokoh,” gerutu Kokoh dengan mengeluarkan gerutuan dari hatinya yang dongkol.
“Tuan itu siapa, Koh?” tanya Caramel.
“Nanti Kokoh kasih tau ya, Cara. Sekarang Kokoh disuruh keluar dulu, ini si asisten tuan muda katanya udah nungguin Kokoh di parkiran,” ucap Kokoh dan pria Chindo itu langsung bergegas pergi dengan gerakan buru-buru meninggalkan ruang istirahat dan membuat Caramel menggerutu sendirian di ruangan itu.
“Malah ditinggal. Si Kokoh mah ada-ada aja deh, terus ini aku harus ngapain dong?” Caramel menekuk wajahnya dan membuka ponsel untuk melihat waktu.
“Ini sudah malam, dan seharusnya sudah pergantian shift. Apakah Andi sudah tiba disini, ya? Aku gabut banget, sekalian aja deh mau tanya tentang jobdesk head waiters ini,” gumam Caramel seraya berdiri dan berjalan meninggalkan ruang istirahat.
Caramel sama sekali tidak menunjukkan cara berjalan elegan untuk menuju meja bartender walaupun penampilannya saat ini sedang mengenakan high heels, namun tetap saja wajah cantik, daya tarik dan juga segala hal menarik dari Caramel dapat mengundang perhatian orang-orang.
“Loh? Dia datang telat kah?” gumam Caramel kala ia hanya melihat karyawan lain yang sedang melayani customer tanpa adanya Andi disana, “tumben banget dia datang terlambat. Udah telat 15 menit ini,” lanjut Caramel seraya memperhatikan kanan dan juga kirinya dan ia baru sadar jika dirinya saat ini sedang menjadi pusat perhatian.
“Wah, apakah Nona sudah naik jabatan?”
Caramel mengangkat kepala saat ia mendengar suara seorang pria yang sangat familiar. Betapa terkejutnya Caramel melihat sosok Dirga sudah berdiri di sampingnya dengan membawa segelas anggur merah dan juga sebelah alis dinaikkan, pria itu melihat wajah Caramel dengan sangat tertarik akan pesona cantik alami milik Caramel.
“Selamat atas kenaikan jabatanmu, Nona,” ucap Dirga lagi saat ia sama sekali tidak menerima adanya tanggapan dari Caramel.
“Sepertinya kau saat ini sedang free, ya? Kau kan sudah tidak perlu lagi berjaga di meja bartender. Jadi, maukah kamu menemaniku minum untuk malam ini, Nona?” tanya Dirga dengan tatapan mata sayu membuat Caramel sangat ingin sekali menampar wajah dengan ekspresi menjijikan itu.
“Maaf, Tuan, lebih baik Anda tanyakan saja ke madam apakah saat ini masih ada wanita yang kami sewakan disini tersedia,” ucap Caramel, berusaha untuk meninggalkan Dirga yang sudah diketahui oleh Caramel jika pria itu merupakan salah satu langganan di club tempat kerjanya sehingga Caramel harus berhati-hati.
“Eitsss!!!” Tanpa diduga Dirga menahan Caramel yang hendak pergi meninggalkan pria itu.
Tatapan tajam sudah Caramel berikan, namun semakin membuat senyum di wajah Dirga semakin mengambang.
“Kenapa main pergi gitu aja, Nona? Bukankah aku belum meng-ACC saran yang sudah kau berikan kepadaku?” ucap Dirga sambil memperlihatkan senyum smirk begitu melihat wajah Caramel mulai kesal.
“Hey, apa-apaan kau! Lepasian cewek gue!”
Caramel mengangkat kepalanya ketika seseorang langsung melepaskan tangannya dari tangan Dirga dengan gerakan cepat dan juga kasar. Caramel agak sedikit terkejut melihat kehadiran Gesta di hadapannya.
‘Untuk apa dia disini?’ batin Caramel, agak sedikit menekuk wajahnya sekaligus risih dengan pembelaan yang sedang dilakukan oleh mantan pacarnya itu.
“Cewek gue?” Dirga mengulangi kembali kalimat dari ucapan Gesta.
“Apakah benar di club akan diadakan acara?” tanya Dean tanpa memberikan sapaan lebih dulu atau kalimat pembuka lainnya. “Benar, Tuan. Saat ini saya sedang mengawasi beberapa ruangan VIP yang sedang kami bedah, karena ruangan-ruangan itu akan kami jadikan sebagai tempat transit artis dan juga asistennya nanti,” jawab Kokoh, dan dapat didengar oleh Dean suara-suara berisik manusia dan juga beberapa gesekan barang berat yang sedang dipindah posisi disana. “Siapa artisnya?” tanya Arkananta penasaran. “Aduh, saya juga nggak terlalu ingat namanya, nggak yang terkenal banget sih, dan ini juga karena ada salah satu pengusaha yang sedang berulang tahun, jadi tim mereka menyewa club kita untuk merayakannya dan meminta kita untuk menjaga keamanan supaya tidak ada tamu diluar undangan yang datang, dan juga harus memastikan supaya tidak ada paparazi disini,” ucap Kokoh. “Lalu tujuan kamu menghubungi Rey untuk apa?” tanya Dean. “Tadi tuan Rey sempat menanyakan tentang job desk Caramel di mala
“Benar kata mommy, laki-laki itu harus aktif dan agresif ya kalau menyangkut tentang wanita. Patutlah aku sampai saat ini masih single.” Dean terus menggeser layar handphone untuk melihat semua postingan akun media sosial Caramel.“Pantas saja wanita itu terlihat sangat depresi dan juga menyedihkan, ternyata hubungan asmara keduanya sangat lah lama ya. Hahaha,” gumam Dean, kemudian ia berpindah posisi menjadi tiduran dengan posisi miring ke kiri.“Tapi, pacaran juga untuk apa jika endingnya tetap berpisah? Buang-buang waktu iya, dinikahin enggak.” Mulut lantam Dean kembali bersabda, pria itu sangat kasihan sekali terhadap percintaan buruk yang dijalani oleh Caramel.“Apakah lebih baik aku minta Kokoh untuk memindahkan saja tempat kerja Caramel di cabangku? Setidaknya wanita itu tidak akan bisa ditemukan dan di ganggu lagi oleh mantan kekasihnya,” lirih Dean dengan tubuh sudah duduk tegak di kasur.“Walaupun rencanaku sangat to much, tapi peranku membuat keputusan ini pasti akan sangat
“Dean, apakah mau kita bawa masalah ini ke hukum saja?” Rey memperhatikan gerak-gerik Dean yang hanya fokus pada layar ponsel, auranya terlihat sedang marah pada suatu hal sehingga Rey berinisiatif untuk mendekat pada Dean. “Kau mendapat kabar update apa dari orang suruhanmu itu?” tanya Rey setelah berhasil mengintip sesuatu yang sedang dilihat Dean. “Aku juga tadi sempat menanyakan jadwal kegiatan Dirga untuk hari esok kepada sekretarisnya. Dia ada waktu senggang di sore hari, apakah kau mau menemui dia di antara jam 4 sampai 6?” tanya Rey dan ia masih berhati-hati memilih kalimat supaya amarah Dean tidak semakin terpancing. “Tidak perlu. Biarkan saja waktu yang memaksanya untuk meminta maaf kepadaku,” sahut Dean dan sungguhan membuat Rey sangat syok. “Kau serius, Bro?” Rey mengedipkan mata beberapa kali saking tidak menyangkanya jika Dean akan membuat keputusan seperti ini. “Ya, aku serius. Sekarang kau istirahatlah, terima kasih banyak karena sudah membantuku untuk menemukan
Caramel tersedak, ia langsung segera minum air putih, rasa sakit sekaligus panas pada tenggorokannya sangat terasa sekali, karena ia memilih seafood dengan varian saus padang. “Oh, jadi ini alasan kamu selalu memblokir nomorku dan sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menemuimu lagi, Caramel?” Caramel mengepalkan tangannya melihat pria yang teramat sangat ia benci pada kehidupan ini justru kembali lagi menampakkan wajah di hadapannya dengan urat malu yang sudah putus. “Apa? Kenapa kau memelototi aku seperti itu? Urusan kita bahkan belum pernah selesai, Cara, tapi justru kau malah sudah jalan dengan pria lain? Wahhhh, bravooo!!!!” Gesta bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. “Urusan apa? Bukankah aku dan kamu sudah tidak punya urusan apapun? Kau urus saja jalang itu, supaya dia makin pintar merawat badan juga wajahnya agar kamu semakin terpikat!” ucap Caramel, ucapannya sangat sarkas membuat Andi dan juga Gesta sangat terkejut, karena Caramel yang se
“Kokoh ….” Caramel terdiam sebentar, karena ia tidak akan mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa kejadian memalukan itu akan tersebar kemana-mana. Kokoh menarik Caramel supaya menjauh lebih dulu dari orang-orangnya Dean. “Maaf, Koh, Cara pikir Cara bisa mengakses CCTV, ternyata tidak semudah itu ya?” ucap Caramel, ia masih belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kokoh. “Sekarang memang seperti itu, ini semua dikarenakan telah terjadi beberapa hal. Lalu, kau belum menjawab pertanyaan Kokoh yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba banget mau memeriksa rekaman CCTV? Kamu kan paling malas jika Kokoh suruh untuk memeriksa CCTV jika telah terjadi suatu hal. Namun sekarang …?” tanya Kokoh. “Itu hanya tentang meluruskan kesalahpahaman saja dengan pelanggan, Koh. Tapi bukan suatu hal yang sangat fatal kok,” jawab Caramel. Sebisa mungkin Caramel tidak menunjukkan wajah paniknya saat mengatakan sebuah kebohongan itu. “Jika memang hal seperti ini terjadi lagi dan
“Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sampai terkejut seperti itu?” Sisil menatap curiga pada Caramel, karena menganggap respon yang diberikan sahabatnya ini terlalu berlebihan, padahal pertanyaan yang sedang ia tanyakan hanyalah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh siapa saja. “Aku sedang tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis, Sil. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali malah bertanya mengenai tuan Dean?” tanya Caramel, ia bertanya dengan sangat hati-hati supaya dirinya tidak terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Aku ingin mengejutkan kamu begitu kamu sedang menutup pintu ruanganmu dan tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi. Apakah kau memiliki hubungan dengan tuan Dean?” Sekali lagi Sisil bertanya dan kali ini bisa dengan segera disangkal oleh Caramel. “Tidak ada hubungan apapun. Aku menyebut nama tuan Dean hnya karena takut tidak bisa mengakses CCTV karena jabatanku disini hanyalah sebagai kepala divisi saja kan. Jadi aku sempat berpikir kalau yang bisa me







