LOGINTOK! TOK! TOK!"Keysha? Kamu di dalam? Kenapa pintunya dikunci?"Suara dehaman berat Pramono kembali bergaung melewati celah pintu kayu jati yang tebal. Nada suaranya mulai bergeser dari sekadar memanggil menjadi penuh kebingungan dan otoritas seorang bos besar.Mendengar suara itu, Keysha tersentak panik luar biasa. Kabut gairah gila yang beberapa detik lalu menguasai kepalanya langsung buyar seketika, menguap digantikan oleh rasa takut yang dingin.Dengan napas yang masih terengah-engah dan lutut yang terasa lemas, karena tubuhnya baru saja dipaksa berhenti tepat sebelum menyentuh ambang klimaks, Keysha hampir limbung jika tidak ditahan oleh tangan Yono.Yono yang selalu tenang dalam situasi paling kritis sekalipun segera menarik tangannya. Tanpa kepanikan sedikit pun, pria itu kemudian mundur dua langkah.Otot-otot tubuhnya masih menegang menahan gejolak jantannya yang menggantung di ubun-ubun, namun otaknya bekerja cepat. Yono m
Suasana di dalam toilet VIP itu semakin pekat oleh kabut gairah yang membakar. Aroma parfum vanila yang mahal beradu dengan aroma tubuh mereka yang memanas oleh ketegangan seksual yang luar biasa.Meskipun bayangan risiko kehilangan pekerjaan dan murka dari Pramono sempat melintas di sudut benak Yono, insting jantan pria dewasanya menolak untuk mundur. Darahnya sudah terlanjur bergejolak gila-gilaan setelah seharian penuh menghadapi pancingan dari berbagai wanita.Yono menekan tubuh tegapnya lebih rapat, mengunci Keysha di dinding marmer yang dingin. Dalam posisi Keysha yang mendongak pasrah dengan napas putus-putus, tangan kanan Yono yang besar dan hangat bergerak dengan berani, merayap naik menyusuri paha mulus yang terekspos, lalu menelusup masuk ke balik kain tipis pakaian dalam Keysha.Melalui sentuhan fisik yang begitu intim di area paling rahasia itu, Yono yang sarat pengalaman jalanan seketika menyadari satu hal teknis dari elastisitas dan respons tubuh
Sebelum Yono sempat menilai situasi, pergelangan tangannya yang kokoh ditarik dengan sentakan yang tegas oleh jemari halusnya Keysha. Gadis itu bergerak cepat ke balik punggung lebar Yono.Klek.Suara slot kunci besi yang berputar terdengar begitu nyaring di keheningan ruangan itu. Keysha mengunci pintu utama dari dalam, memutus total akses dari luar, sekaligus meruntuhkan batas terakhir di antara status mereka.Keysha berbalik, lalu tanpa ragu langsung menggelayut manja di leher Yono. Gaun malam mini tanpa lengan berwarna merah marun yang dikenakannya malam ini mencetak begitu sempurna lekuk tubuh sintalnya yang sintal dan padat. Kulit bahunya yang putih mulus terasa begitu kontras saat bergesekan dengan kemeja katun hitam Yono yang kasar."Lama banget sih, Mas. Aku bosan setengah mati di luar sana, dengerin obrolan bisnis Papa yang gak ada habisnya," keluh Keysha, suaranya melembut, mendesau manja tepat di depan rahang tegas Yono.Tatapan matanya yang sayu namun menantang mengunci m
Pukul sembilan malam, di sudut area semi-privat yang dikelilingi sekat kaca buram, Pramono, sang bos besar sedang tertawa renyah, sambil menikmati cerutu bersama dua rekan bisnis kelas kakapnya.Malam ini, Yono melepaskan seragam biru pabriknya. Sebagai gantinya, ia mengenakan kemeja katun hitam pas badan dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Pilihan pakaian yang sederhana, namun potongan kain yang memeluk ketat bahu lebarnya yang tegap dan dada bidangnya justru membuat Yono tampak sangat gagah.Karisma dewasanya yang matang sama sekali tidak tenggelam, malah menyatu dengan sempurna dalam atmosfer kelas atas tempat tersebut. Pria 32 tahun itu berdiri bersedekap dengan tenang di dekat pilar marmer, bertindak sebagai pengawal sekaligus sopir kepercayaan yang siaga.Namun, fokus Yono malam ini terus-menerus diuji oleh sepasang mata lain di meja bundar itu.Keysha ada di sana. Putri tunggal bos besar itu tampak memukau dengan gaun malam tanpa lengan berwarna merah marun yang me
Pembelaan yang dibawa Citra runtuh seperti air bah yang menyapu habis seluruh skenario kotor di dalam ruang rapat. Supervisor Keuangan itu tidak memberikan ruang bagi para oknum sewaan untuk mengelak.Dengan gerakan taktis, ia membuka map merah di atas meja, menyebarkan lembar demi lembar salinan manifes keuangan internal perusahaan yang telah dilegalisasi."Ini adalah rincian anggaran peningkatan kompetensi pengemudi divisi logistik tahun lalu," ujar Citra dengan nada dingin, menusuk langsung ke arah Kevin yang mulai salah tingkah."Seluruh biaya administrasi, uji klinis, hingga penerbitan SIM B2 Umum atas nama Yono dibayarkan murni melalui jalur legal tes resmi perusahaan dengan sistem transfer bank langsung ke rekening dinas terkait. Tidak ada dana gelap, tidak ada titipan tunai sepeser pun."Di sebelah para oknum yang mulai mati kutu itu, duduk seorang wanita berusia 27 tahun yang sejak awal mengamati jalannya interogasi dengan saksama. Amara, perwakilan resmi dari Dinas Ketenagak
Suasana di dalam ruang rapat utama pabrik terasa begitu menekan. Pendingin ruangan yang disetel ke suhu terendah sama sekali tidak mampu mendinginkan kepala orang-orang di dalam sana.Yono duduk dengan punggung tegak di atas kursi kayu berukir, menghadapi tiga orang pria tak dikenal yang mengenakan kemeja safari rapi, oknum sewaan yang sengaja dibawa untuk menyidangnya atas laporan anonim tersebut.Di ujung meja panjang, Kevin tampak duduk menyilangkan kaki dengan senyuman puas yang samar, bertindak seolah ia hanya penonton yang kebetulan hadir.Salah seorang penginterogasi berbadan tegap dengan kumis tebal melemparkan selembar salinan foto SIM B2 Umum milik Yono ke atas meja kayu jati dengan kasar."Jangan berbelit-belit, Yono. Kami sudah memeriksa data sekilas, dan rekam jejakmu untuk mendapatkan lisensi muatan berat ini terlalu mulus untuk ukuran sopir lepasan seperti kamu," tuduh pria berkumis itu dengan suara menggelegar, mencoba memecah mental Yono."Ada laporan kuat kalau kamu