Chapter: Bab 120Sore hari sekitar pukul lima, garis pantai alternatif yang terisolasi di sudut selatan perumahan tampak sepi tanpa ada pengunjung lain.Angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang segar menyapu pasir putih yang hangat.Yono melangkah santai menyusuri bibir pantai hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack-nya yang berkilat disiram cahaya matahari terbenam.Di belakangnya, Citra, Sinta, Ratih, dan Sarah berjalan menyusul.Keempat wanita itu tampil sangat menggoda menggunakan pakaian pantai yang minim; Citra dan Sinta mengenakan bikini dua bagian yang menonjolkan gundukan buah dada serta pinggul tebal mereka, sementara Ratih dan Sarah mengenakan kain pantai tipis yang nyaris transparan.Perebutan perhatian seketika pecah di antara mereka saat berjalan mendekati karang besar yang tersembunyi dari pandangan luar."Mas Yono, jalan dekat aku aja sih! Tangan kamu biar aku pegang," celetuk Citra manja sembari menarik l
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 119Malam itu, suasana di ruang tengah rumah baru Yono terasa hangat namun diselimuti ketegangan yang pekat.Di atas sofa kulit yang luas, empat wanita tercantik dan paling memikat di lingkungan kehidupan Yono duduk berjejer rapat.Citra, Sinta, Ratih serta Sarah.Keempat wanita itu tampil amat menggoda, memamerkan kecantikan, keindahan, dan kepadatan bentuk tubuh mereka yang telah berulang kali ditundukkan oleh Yono.Yono berdiri tegap di hadapan mereka, melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap sepasang mata mereka satu per satu dengan pandangan bariton yang dingin dan sarat aura dominasi jantan.Yono menghela napas panjang, lalu memulai pembicaraan dengan nada suara tegas tanpa keraguan."Aku mengumpulkan kalian berempat di sini malam ini bukan untuk bikin janji manis," kata Yono membuka suara, suaranya yang berat bergema pekat di dalam ruangan."Aku mau jujur dan pertegas status kita dari sekarang. Aku tidak ada niat untuk menikahi kalian berempat. Tidak Citra, Sinta, Rati
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 118Tidak puas hanya bermain oral di ruang tamu, Yono memboyong tubuh polos Ratih kembali ke area dapur kontrakan untuk mengeksekusi hasrat mereka secara penuh.Pria itu memapah pinggul tebal sang janda muda dengan santai, sementara Ratih berjalan limbung dengan napas terengah-engah, membiarkan tubuh padatnya terekspos telanjang bulat tanpa sehelai kain pun.Begitu sampai di dapur sederhana bernuansa semen, Yono memposisikan Ratih menungging melengkung di atas meja dapur kayu yang berdampingan langsung dengan kompor gas dan deretan bumbu dapur.Posisi ini membuat dada dan perut Ratih menempel rapat pada permukaan meja kayu, sementara bokong tebal dan padat milik janda muda itu terangkat tinggi ke udara.Celah kewanitaannya yang sudah sangat banjir oleh lelehan air gairah terpampang lebar dan basah kuyup di bawah remang lampu dapur.Yono berdiri tegap tepat di belakangnya.Tangan besarnya meraup dan meremas kuat kedua belah bokong padat Ratih, lalu mencengkeram pinggul tebalnya dengan ceng
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 117Adu ciuman panas di dekat meja makan bergerak makin liar menuju ruang tamu rumah kontrakan Ratih yang beralaskan karpet busa tipis.Hasrat terpendam Ratih yang sudah bertahun-tahun meniti status janda tanpa sentuhan pria sejati seketika meledak tak terkendali saat berhadapan langsung dengan aura maskulin Yono yang begitu pekat.Begitu sampai di tengah ruang tamu yang sepi, Ratih memutar badannya.Kedua tangan mulusnya dengan cepat menyingkap dan melucuti daster tipis merah batanya sendiri ke atas, melempar kain itu begitu saja ke sudut ruangan.Ratih kini tampil telanjang bulat tanpa sehelai kain pun di hadapan Yono.Ia memamerkan lekuk tubuh bahagianya yang padat berisi, sepasang buah dada kenyal berputing tegang, serta pinggul tebal yang ranum dan mulus di bawah pendar remang lampu ruang tamu."Lihat, Mas Yono... Tubuh Ratih masih padat kan? Masih kencang semua buat kamu," bisik Ratih binal dengan napas yang memburu parau.Yono mendudukkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu ruang tam
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 116Senin malam sekitar pukul tujuh, suasana perumahan kontrakan terasa tenang dan sedikit lengang. Yono melangkah santai menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan sederhana milik Ratih.Pria itu tampil tegap mengenakan kaus polos ketat berwarna hitam yang mencetak jelas lekuk otot dada bidang dan tangannya yang berurat tebal.Yono mengetuk pintu kayu kontrakan beberapa kali. "Ratih, ini aku."Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Ratih yang berdiri menanti. Janda muda itu tampil amat anggun dan menggoda; ia mengenakan daster tipis tanpa lengan berwarna merah bata yang membentuk jelas lekuk tubuh padatnya.Ratih sengaja tak mengenakan bra di balik daster tipisnya, membuat gundukan buah dadanya tercetak menonjol setiap kali ia bernapas.Ratih seketika salah tingkah, matanya berbinar menatap postur tegap Yono. "Eh, Mas Yono. Masuk, Mas. Mau makan malam sekarang kan?"Yono menyunggingkan seringai miringnya yang penuh dominasi, melangkah masuk ke dalam rumah yang harum oleh
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: Bab 115Hari Minggu siang menjelang sore, udara di dalam apartemen terasa hangat dan sarat akan hawa gairah yang belum surut.Yono berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap Citra yang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Ini adalah hari terakhir libur akhir pekan sebelum mereka harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan di pabrik pada hari Senin.Yono berniat menghabiskan seluruh tenaga sang supervisor cantik, menguji batas ketahanan fisik Citra sampai benar-benar loyo dan tidak berdaya di bawah keperkasaannya."Cit, berdiri. Hari ini belum selesai," kata Yono dengan nada suara bariton yang dingin dan penuh dominasi mutlak.Citra mendongak dengan mata sayu, napasnya masih menyisa kepenuhan dari sesi sebelumnya. "Mas Yono... Badan aku sudah pegal-pegal semua dari semalam. Masih mau main lagi?""Jangan banyak komplain. Kamu kan sudah janji bakal penuhi semua keinginan aku," gertak Yono tegas."Iya, Mas Yono... Aku nurut," bisik Citra pasrah, mencoba merangkak mendekati Yono.Tanpa menunggu
Last Updated: 2026-08-10
Chapter: 104. Kebahagiaan di IstanaFajar menyingsing dengan warna ungu kemerahan yang membasahi langit samudra, menandakan hari perayaan agung yang telah dinanti oleh seluruh klan di Benua Binatang.Bahtera Kerajaan kini telah bersandar di dermaga utama istana daratan yang baru saja selesai dipugar. Ribuan rakyat dari berbagai klan, serigala, harimau, burung, naga, hingga klan rubah, berkumpul di alun-alun besar, menciptakan lautan makhluk yang bersorak menyambut era baru.Di dalam kamar rias, Lin Xiao berdiri di depan cermin kristal besar. Ia mengenakan gaun sutra berwarna putih gading dengan sulaman benang emas yang membentuk motif lima elemen. Jubah transparan yang menjuntai di bahunya berkilau tertimpa cahaya, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari khayangan. Riasan wajahnya tipis namun tegas, menonjolkan kecantikannya yang telah kembali pulih sepenuhnya pasca persalinan."Kau tampak sangat memukau, Ratu," suara berat Bai Ze memecah keheningan. Ia masuk mengenakan jubah kebesaran klan harimau, tampak gagah
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: 103. Malam Pertama Setelah PersalinanMalam telah melarut di atas Bahtera Kerajaan, menyisakan keheningan yang tenang di bawah siraman cahaya bintang yang memantul di permukaan laut. Di dalam paviliun, suasana terasa begitu damai.Mo Ye baru saja selesai merapal mantra Aqueous Cradle, sebuah sihir air tingkat tinggi yang menciptakan gelembung-gelembung udara hangat di sekitar keranjang bayi.Kelima putra mereka, Ares, Bumi, Sky, Ocean, dan Zen telah terlelap dengan napas yang teratur, terbuai dalam tidur yang dalam dan dilindungi oleh aliran energi yang lembut.Lin Xiao bersandar pada tumpukan bantal sutra di ranjang kebesarannya. Ia melihat kelima suaminya duduk melingkar di sekeliling tempat tidur, menanggalkan aura kaku mereka sebagai raja. Ruangan itu kini hanya diterangi oleh pendaran kristal redup, menciptakan atmosfer yang sangat intim dan pribadi.“Akhirnya... mereka tidur juga,” bisik Lin Xiao sembari mengulurkan tangannya, yang segera disambut oleh genggaman hangat Cang Yan.“Anak-anak itu benar-benar menguras t
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: 102. Memberikan Kejutan Luar BiasaAroma minyak cendana dan kehangatan dari tungku api yang dijaga Cang Yan memenuhi paviliun, menciptakan suasana yang begitu damai setelah keriuhan “perang popok” mereda.Lin Xiao duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, bahunya tersampir kain halus yang siap disingkap. Di hadapannya, kelima raja binatang itu duduk melingkar di lantai, tidak ada lagi pedang atau wajah angkuh, yang tersisa hanyalah binar pemujaan saat mereka menatap wanita yang telah menjadi jantung bagi eksistensi mereka.“Kemarilah, Yan. Berikan Ares padaku lebih dulu. Dia yang paling keras berteriak,” ujar Lin Xiao lembut, merentangkan tangannya.Cang Yan menyerahkan Ares dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah menyerahkan permata paling rapuh di dunia. Begitu bibir mungil Ares menyentuh dada Lin Xiao, sang bayi langsung terdiam. Lin Xiao memejamkan mata, merasakan aliran energi panas yang samar, sebuah cinta yang membara dan penuh semangat dari putra sulungnya.“Dia menghisapnya seolah sedang menelan api,” bis
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: 101. Naluri Protektif Sang AyahLangkah kaki logam yang sempat terdengar di balik pintu paviliun rupanya hanyalah awal dari kegilaan baru yang melanda Bahtera. Tiga hari telah berlalu sejak persalinan yang mengguncang dunia itu, dan Lin Xiao baru saja melewati fase kritis pemulihannya. Namun, kedamaian yang ia harapkan justru berubah menjadi komedi posesif yang melelahkan sekaligus menggelikan.Di sudut ruangan yang kini telah diperbaiki, Cang Yan berdiri tegak seperti patung api di depan keranjang bayi Ares Yan. Seorang pelayan senior mendekat dengan nampan berisi air hangat untuk memandikan sang pangeran kecil, namun langkahnya terhenti oleh geraman rendah yang keluar dari dada Cang Yan.“Berhenti di sana,” desis Cang Yan, matanya berkilat merah tajam. “Jangan berani-berani menyentuh kulitnya dengan tangan kasarmu itu. Aku yang akan memandikannya.”“Tapi Yang Mulia, Anda belum tidur selama dua hari—”“Aku tidak butuh tidur! Aku hanya butuh memastikan tidak ada kuman asing yang menempel pada putraku!” Cang Yan meny
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: 100. Tangisan Serempak Lima ElemenKegelapan gerhana yang mencekam perlahan memudar, namun suasana di dalam ruang persalinan masih terasa seperti di ujung tanduk. Tubuh Lin Xiao yang lunglai membuat kelima pria perkasa itu membatu.Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Seolah merasakan nyawa ibunya sedang berada di ambang batas, kelima bayi yang berada di dekapan para ayah mereka tiba-tiba membuka mulut dan menangis serempak.Suaranya bukan sekadar tangisan bayi biasa; itu adalah resonansi frekuensi tinggi yang menggabungkan elemen api, bumi, angin, air, dan es. Gelombang energi berwarna pelangi terpancar dari tubuh mungil mereka, menyapu seluruh ruangan dan merembes keluar hingga ke dek Bahtera.“Lihat! Tanaman merambat di pot... mereka tumbuh!” seru Fei Lian dengan mata membelalak. Bunga-bunga yang sebelumnya layu akibat hawa dingin persalinan mendadak mekar dengan kelopak yang dua kali lebih besar. Pohon-pohon hias di balkon Bahtera tumbuh menjulang dalam hitungan detik, menutupi jendela dengan daun-daun hija
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: 99. Pingsan di Detik Terakhir“Xiao-Xiao! Lihat aku! Jangan biarkan matamu terpejam!” teriak Mo Ye, suaranya pecah oleh kepanikan yang jarang ia tunjukkan. Ia melihat bibir Lin Xiao yang memutih, sisa tenaganya terkuras habis setelah melahirkan tiga pangeran sebelumnya.Lu En menekan perut Lin Xiao dengan tangan gemetar. “Mo Ye, cepat! Detak jantung Ocean hampir hilang! Dia terjerat tali pusat karena kontraksi yang terlalu lemah. Kau harus masuk secara spiritual, tarik dia keluar dengan elemenmu!”Mo Ye tidak membuang waktu. Ia menggenggam jemari dingin Lin Xiao, membiarkan sisik perak di lengannya bersinar terang. “Dengarkan aku, Ratu. Pinjamkan aku rahimmu sebentar saja. Ocean, dengar suara Ayah! Ikuti arusnya!”Mo Ye menyalurkan esensi air yang kental ke dalam jalan lahir. Lin Xiao terlonjak, matanya terbelalak saat merasakan sensasi dingin yang membasuh rasa sakitnya. “Mo Ye... ahhh... rasanya... sesak!”“Dorong, Xiao-Xiao! Sekarang atau kita kehilangan dia!” raung Bai Ze dari sisi lain, mencoba menyalurkan si
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: 97. Hari BahagiaAula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: 96. Kabar MengejutkanKesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: 95. Melakukan hal yang MengejutkanMalam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s
Last Updated: 2026-03-20
Chapter: 94. Kebebasan JohanGedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu
Last Updated: 2026-03-20
Chapter: 93. Memberimu Kepuasan“Max... ahh, pelan sedikit,” rintih Aruna saat tangan kasar Max meremas payudaranya dengan tenaga yang tidak main-main.“Tidak ada kata pelan untuk malam ini. Tekanan di kepalaku harus keluar, dan hanya kau yang bisa menampungnya,” sahut Max.Ia menunduk, melahap puting Aruna yang sudah menegang keras, menyesapnya dengan isapan yang sangat kuat hingga suara cecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu.“Akhh! Ssshh... pelan, Max! Itu sakit!” Aruna memekik, kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya melengkung indah saat rasa perih dan nikmat menyatu di dadanya.Max tidak memedulikan protes itu. Ia justru menggigit kecil puncak payudara Aruna, membuat wanita itu mengerang semakin keras. Tangan Max bergerak turun, membelah pangkal paha Aruna dengan paksa. Ia tidak butuh pemanasan yang lembut; baginya, Aruna adalah medan pertempuran yang harus ia taklukkan setiap malam.“Kau sudah sangat basah, Aruna. Jangan berpura-pura kau tidak menginginkan kebrutalanku,” bisik Max serak.Ia membebas
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: 92. Max yang Tidak Pernah Puas“Tonny, siapkan draf gugatan balik. Begitu hakim mengetok palu bahwa Johan tidak bersalah, aku ingin surat perintah penangkapan untuk Surya dan Robert langsung keluar di jam yang sama. Aku ingin mereka keluar dari ruang sidang dengan tangan terborgol.”Tonny mengangguk mantap. “Instruksi diterima, Tuan. Semua dokumen sudah siap diserahkan ke pengadilan besok pagi.”Rapat itu berlanjut selama dua jam berikutnya, membahas setiap detail teknis hukum yang membuat kepala Aruna pening. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Max menunjukkan bahwa pria ini telah memikirkan setiap kemungkinan. Ia bukan sekadar pengusaha kaya; ia adalah jenderal perang yang sedang menyusun strategi pemusnahan musuh-musuhnya.Setelah keluar dari kantor Tonny, Max membawa Aruna kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini ada ketegangan yang berbeda—ketegangan penantian.“Max,” panggil Aruna saat mobil mulai bergerak.“Hmm?”“Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau mempertaruhka
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: Bab 35Suasana kamar rawat mendadak menjadi sangat gelap setelah Jonny mematikan saklar utama dan menyelinap keluar untuk memantau koridor.Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar hijau redup dari layar monitor detak jantung Arsenio yang berbunyi dengan ritme konstan. Alyssa berdiri tegak di samping ranjang, kedua tangannya mencengkeram erat tiang infus besi, matanya menatap tajam ke arah pintu. Ketegangan memenuhi udara.Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah tangan kekar tiba-tiba bergerak dari balik selimut dan menyambar pergelangan tangan Alyssa. Sentuhan itu kuat dan tidak terduga, membuat Alyssa terkesiap pelan."Lepaskan, Arsenio! Apa yang kau lakukan?" bisik Alyssa dengan suara tertahan, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Arsenio justru semakin erat.Arsenio menarik tubuh Alyssa hingga wanita itu terpaksa mencondongkan tubuhnya ke atas ranjang. Di bawah temaram cahaya hijau, sepasang mata gelap Arsenio berkilat penuh gairah yang tidak tertahan."Dalam keadaa
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Bab 34Alyssa mendudukkan dirinya kembali di kursi besi samping bangsal, berniat menemani Arsenio yang masih harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Meski kondisi fisiknya masih lemah, pria itu tampaknya tidak kekurangan energi untuk terus mengeluarkan ocehan dan nostalgia masa lalu tentang hubungan mereka sebelum kecelakaan.Alyssa mendengarkan setiap cerita dengan kening berkerut. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan di ujung lidah akhirnya memuncak juga. Ia menatap Arsenio dengan pandangan menyelidik."Tuan Valmer, ada satu hal yang mengganjal di otakku," ujar Alyssa, mengetuk-ngetuk jarinya di atas pembatas ranjang. "Kenapa kita bisa memiliki anak, padahal kau bilang hubungan asmara kita saat itu baru berjalan dua tahun? Apa hubungan kita dahulu begitu intim dan panas, sampai Nathan lahir bahkan sebelum kita sempat meresmikan pernikahan?"Arsenio hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan blak-blakan dari wanita di hadapannya. Ia menatap Alyssa dengan pandan
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: 33. Jatuh Cinta pada ArsenioArsenio perlahan menggeser tubuhnya, bersandar pada bantal rumah sakit yang ditinggikan hingga ia berada dalam posisi duduk.Sambil menahan ringisan kecil akibat jahitan di perutnya, sepasang matanya tidak lepas memandangi Alyssa. Keheningan kamar rawat itu mendadak mencair saat senyum tipis mulai terbit di wajah pucat sang pengacara."Kau tahu, Freya? Dulu, sebelum kecelakaan itu menghapus semua memorimu, kau adalah wanita yang paling merepotkan," ujar Arsenio, suaranya masih parau namun terdengar jauh lebih hidup.Alyssa menghentikan gerakannya yang sedang merapikan selimut di ujung bangsal. Ia lalu menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Merepotkan bagaimana?""Kau punya hobi makan yang luar biasa, persis seperti Nathan yang tidak bisa melihat camilan menganggur," kenang Arsenio, matanya menerawang menatap langit-langit kamar."Kau juga sangat manja, selalu menuntut perhatian, dan kadang-kadang suka sekali masuk ke ruang kerjaku hanya untuk mengacaukan tumpukan berkas perkara ya
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: 32. Akan Membuatmu Ingat KembaliDua hari kemudian, keheningan di kamar rawat intensif itu pecah oleh suara lenguhan lirih dari atas bangsal.Alyssa, yang sedang duduk terjaga di kursi samping tempat tidur, langsung menegakkan punggungnya.Ia melihat jemari tangan kanan Arsenio bergerak sedikit, disusul oleh kelopak matanya yang berkedip berat, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan."Fre... Freya..." bisik Arsenio, suaranya sangat parau dan lemah di balik masker oksigen yang terpasang di wajahnya.Alyssa menoleh cepat, sepasang matanya membola sempurna saat melihat kedua netra gelap pria itu akhirnya terbuka.Rasa syok sekaligus lega yang luar biasa menghantam dadanya seketika. Dengan gerakan refleks, Alyssa langsung menekan tombol darurat di dinding untuk memanggil dokter, sebelum kembali condong ke arah ranjang."Arsenio? Kau bisa mendengarkanku?" Alyssa meraih dan memegang erat tangan pria itu, merasakan kehangatan yang menjalar di antara jemari mereka. "Syukurlah... demi Tuhan, kau akhirnya bangun
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: 31. Pria yang Begitu Mencintainya"Kau... kau bercanda, kan, Alyssa? Ini tidak lucu! Bagaimana bisa kau adalah Clara Freya?"Anna menganga lebar, matanya bergerak panik antara Alyssa dan tubuh Arsenio yang terbaring koma setelah mendengar cerita panjang dari Alyssa."Aku tidak sedang bercanda, Anna. Ini kenyataannya," jawab Alyssa, suaranya terdengar datar namun bergetar menahan tekanan. "Johan Verena bukan ayah kandungku. Dia mengubah wajahku tiga tahun lalu untuk menyembunyikan identitasku sebagai Freya setelah kecelakaan itu."Anna membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat karena syok. "Pantas saja, demi Tuhan, Alyssa! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa sahabat yang kutemui tiga tahun lalu, yang terlihat begitu murung dan kebingungan di taman kota, ternyata adalah Freya yang dicari-cari oleh Arsenio Valmer!"Alyssa menoleh, menatap Anna dengan kening berkerut. "Apakah penampilanku seburuk itu saat pertama kali kita bertemu?""Lebih dari buruk. Kau tampak sangat aneh dan seperti wanit
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: 30. Kejadian di Masa ItuAlyssa kembali melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit Pusat Oakhaven dengan ritme kaki yang jauh lebih cepat. Di dalam dadanya, badai emosi berkecamuk antara tidak percaya, marah, dan asing. Begitu pintu kamar rawat intensif terbuka, sepasang matanya langsung tertuju pada tubuh Arsenio yang masih mematung di balik balutan alat-alat medis.Ia mendekati ranjang, menatap lurus ke dalam guratan wajah pria itu. Alyssa meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin."Aku tidak mengingatmu," bisik Alyssa pada keheningan ruangan. Ia menoleh ke arah Jonny yang berdiri berjaga di dekat pintu. "Aku benar-benar tidak ingat apa pun tentang dia. Wajah ini, nama ini... bahkan Nathan. Kepalaku kosong, Jonny. Tolong jelaskan padaku. Jelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi."Jonny melangkah mendekat, mengembuskan napas berat sebelum memulai penjelasannya. "Tuan Arsenio dan Anda maksud saya, Clara Freya telah menjalin hubungan asmara yang sangat kuat selama dua tahun. Hubungan itu dipenuhi te
Last Updated: 2026-07-12