Share

88 | Pertengkaran

Penulis: Strawberry
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 21:47:42

Besok paginya, saat Hanna membuka mata, sisi ranjang di sebelahnya kosong. Entah sejak jam berapa Liam meninggalkan kamar, yang jelas hanya kehangatan samar di seprai yang tersisa.

Saat turun ke ruang makan pun, sosok itu tak tampak. Hanya ada Prof. Julian dan Lily di meja.

Hanna, meskipun enggan, tetap menjaga sopan santunnya.

“Selamat pagi,” ucapnya datar.

Tatapan Lily tak beralih sedetik pun dari leher putrinya. Ada semburat keunguan di sana.

Hanna tahu. Dan dia sengaja tidak menutupinya.

Bukan untuk menantang. Tapi sebagai bentuk protes—diam namun tegas. Ia muak dengan cara Lily yang selalu membuat keputusan atas hidupnya seolah dirinya hanyalah proyek gagal yang harus dikendalikan.

Meskipun Lily adalah ibunya, bukan berarti ia berhak menentukan jalan hidup Hanna tanpa bertanya. Orang tua yang bijak seharusnya mendengar, bukan memutuskan sepihak.

“Apa Liam pulang?” tanya Prof. Julian, matanya berganti ke arah Lily.

Alih-alih menjawab, Lily justru menatap Hanna.

“Kenapa Mama lihat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   226 | Keberhasilan

    Waktu berlalu dengan lembut di Oasis. Musim panas beranjak menjadi musim gugur yang sejuk. Daun-daun di pohon-pohon sekeliling lembah berubah menjadi kanvas merah, emas, dan jingga yang memukau. Leo tumbuh dengan cepat, dari bayi merah yang selalu tertidur menjadi bayi montok yang penuh rasa ingin tahu. Matanya yang hijau keperakan kini lebih sering terbuka, mengamati dunia di sekitarnya dengan ketajaman yang membuat Liam dan Hanna terkagum-kagum. Dia jarang menangis, seolah sudah puas hanya dengan mengamati—wajah ibunya, cahaya yang menari di langit-langit, daun-daun yang bergoyang di luar jendela.Namun, meski kehidupan mereka di Oasis penuh dengan kedamaian domestik, bayangan Valthera tidak pernah sepenuhnya hilang. Liam secara berkala menggunakan perangkat enkripsinya untuk memantau situasi, dengan izin dari Elian dan tetua lainnya. Apa yang dia temukan adalah gambaran yang kompleks dan penuh paradoks.Proyek GAIA—sistem agraria yang dia bangun berdasarkan prinsip ayahnya—tela

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   225 | Gencatan Senjata

    Hari-hari pertama setelah kelahiran Leo berjalan dalam kabut kelelahan yang penuh kebahagiaan. Waktu kehilangan bentuknya, terfragmentasi menjadi interval menyusui, mengganti popok, dan tidur sebentar yang berharga. Dunia orang tua.Liam, yang terbiasa dengan presisi jadwal ilmiah, menemukan ritme baru yang kacau namun sempurna. Dia belajar membedakan tangisan lapar dari tangisan ketidaknyamanan, belajar membungkus bayi dengan selimut lembut, belajar berdiri dan bergoyang-goyang di tengah malam sementara Leo yang rewel akhirnya tertidur kembali di bahunya, napasnya hangat dan berdesis di lehernya.Hanna pulih dengan kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Tubuhnya yang telah melalui ujian hebat itu sekarang dengan sabar menyembuhkan dirinya sendiri. Air susunya deras, dan saat Leo menyusu dengan semangat, dia merasakan ikatan yang lebih dalam daripada apa pun yang pernah dia bayangkan—sebuah kesatuan biologis dan emosional yang melampaui semua rekayasa dan rencana.Komunitas Oasis

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   224 | Selamat Datang Leo

    Waktu di Oasis mengalir seperti sungai di lembah—tenang, namun tak terhentikan. Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Perut Hanna membesar sempurna, sebuah bulan purnama yang hidup yang membawanya berjalan pelan, dengan satu tangan selalu menempel di punggung bawah, satu lagi dengan lembut mengusap tonjolan di mana bayinya bergerak.Udara musim semi Oasis berubah menjadi musim panas yang hangat. Pohon Kehidupan bersinar lebih terang di malam hari, seakan ikut memancarkan antisipasi. Liam hampir tak pernah jauh dari sisi Hanna. Dia yang memijat kakinya yang bengkak, yang mengambilkan air minum dari mata air jernih, yang membacakan puisi atau catatan ilmiah ayahnya dengan suara rendah saat Hanna susah tidur."Hari ini dia sangat aktif," bisik Hanna suatu sore, berbaring di hamparan rumbut lembut di bawah pohon willow dekat sungai. Liam berbaring di sampingnya, kepala bertumpu pada satu tangan, telapak tangan satunya terbuka di atas perut Hanna.Benar saja. Di bawah telapak tangannya, kehi

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   223 | Kamu Adalah Lab-ku!

    Pagi pertama di Oasis adalah sebuah simfoni. Bukan simfoni mesin atau pengumuman otomatis, melainkan simfoni kehidupan. Sesuatu yang jarang mereka dapatkan di Valthera.Kicau burung yang saling bersahutan, gemerisik dedaunan yang ditiup angin pagi, suara anak-anak tertawa di kejauhan, dan suara gemericik air sungai yang mengalir jernih. Bagi Hanna, setiap suara itu seperti cat air yang melukis keheningan hampa di dalam dirinya dengan warna-warna baru.Semua ini, seharusnya membuatnya merasa lebih tenang dan lebih baik.Dia berdiri di ambang pintu rumah kayu mereka, tangan menopangi punggung yang pegal, dan menghirup udara pagi yang berembun. Udara itu terasa hidup, penuh dengan aroma tanah basah, bunga liar, dan kayu bakar. Di dadanya, ada sebuah kelegaan yang begitu dalam, begitu tulus, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilannya—bahkan mungkin sejak lama—dia tidak merasa seperti sedang diawasi. Tidak ada kamera yang mengintip, tidak ada

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   222 | Oasis

    Perjalanan dengan kereta tua itu terasa abadi. Dalam kegelapan mutlak di luar jendela, waktu kehilangan maknanya. Hanya getaran rel dan suara mesin yang sudah tua menjadi pengingat bahwa mereka masih bergerak. Liam duduk di sebelah Hanna, memeluknya erat, mencoba memberikan kehangatan di tengah udara bawah tanah yang lembap dan dingin.Hanna tertidur sebentar, kelelahan. Dalam tidurnya, mimpi-mimpi aneh menyergap. Dia melihat ladang luas dengan tanaman yang bersinar lembut dalam gelap, langit penuh bintang yang tidak pernah dia lihat di Valthera, dan sekelompok orang dengan mata yang memancarkan kearifan dan kesedihan yang dalam. Di tengah mereka, ada sebuah kolam air jernih, dan dari kolam itu, dia mendengar sebuah panggilan—lembut namun mendesak.Dia terbangun dengan napas tersengal. Kereta mulai melambat."Kita hampir sampai," kata Liam, menatap peta hologram dari datachip. "Ujung jalur. Dari sana, kita harus berjalan kaki menuju permukaan."Kereta berhenti dengan hentakan. Pintu t

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   221 | Mencari Tempat Yang Aman

    Terowongan di bawah stasiun penelitian tua itu lembap dan berbau tanah. Lampu-lampu darurat kuning tua yang jarang menyala memberikan penerangan suram, memperlihatkan akar-akar tanaman yang menyusup melalui retakan beton. Suasana di antara mereka tegang, namun sunyi. Kabar dari Vance masih menggema di kepala mereka, meninggalkan rasa pahit dan keraguan.Liam berjalan di depan, memegang senter kecil dari data chip yang diberikan Vance—ternyata perangkat itu juga berfungsi sebagai pemandu. Peta holografik kecil memancar dari ujungnya, menunjukkan jalur labirin di bawah tanah yang rumit.Hanna berjalan pelan, tangannya berpegangan pada dinding yang dingin untuk keseimbangan. Perutnya semakin berat, dan setiap langkah terasa seperti usaha. Tapi bukan fisiknya yang paling sakit. Pikiran tentang dirinya yang mungkin hanya "subjek" dalam eksperimen ayahnya sendiri, bahwa pertemuannya dengan Liam bukanlah kebetulan… itu seperti pisau yang memutar-mutar di dalam dadanya."Liam," ucapnya akhirn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status