LOGINLima kakak seperguruanku adalah satu-satunya penawar racun yang membunuhku, dan penyembuhannya hanya bisa terjadi lewat kedekatan paling pribadi di antara kami. Aku harus mendekati mereka satu per satu, menjalani ritual penyatuan energi yang membuat batas antara pengobatan dan kenikmatan menjadi semakin kabur...
View More“Tolong…”
Suara itu nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan yang kencang... lirih, patah, seperti sisa napas yang terlepas dari tubuh yang hampir menyerah. Namun, cukup untuk membuat seorang pemuda yang sedang berjalan santai di jalur setapak berhenti. Udara di perbatasan Sussex Mountain dingin dan bersih, menusuk paru-paru dengan kesegaran khas dataran tinggi. Di tengah ketenangan itu, suara rintihan dari arah jurang terasa begitu asing… sekaligus mendesak. Pemuda itu menoleh. Pakaiannya sederhana, bahkan terkesan lusuh. Rambutnya berantakan, tidak tersisir, jatuh menutupi sebagian dahinya. Tapi wajahnya tetap tegas dan tampan, dengan sorot mata yang tajam seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak masalah. Kevin Braxton. Ia baru saja turun dari wilayah kultivasi di Sussex Mountain... tempat yang selama lima tahun menjadi dunianya. Tujuannya sederhana namun berat… mencari lima kakak seperguruannya, para wanita tangguh yang pernah menjadi murid gurunya, demi meminta bantuan menghancurkan Racun Pemikat Asmara yang masih bersemayam di tubuhnya sejak lima tahun lalu. Belum sempat pikirannya melayang jauh, matanya menangkap sesuatu. Sebuah mobil mewah... Porsche Carrera hitam, tergantung setengah badan di tepi jurang. Ban depannya sudah melewati pagar pembatas yang patah. Sedikit saja bergeser, kendaraan itu akan jatuh ke dasar jurang yang berkabut. Dan dari dalamnya… terdengar lagi suara itu. Kevin berlari mendekat. Pintu mobil penyok. Kaca retak. Mesin masih mengeluarkan suara halus, seperti napas terakhir. Di kursi pengemudi, seorang wanita muda terjebak sabuk pengaman. Ia mengenakan kaus putih ketat dan celana pendek. Tubuhnya bergetar. Kulitnya memerah, rambutnya menempel di wajah karena keringat. Napasnya tidak teratur… panas, berat, seperti terbakar dari dalam. Sekilas, pesona tubuhnya begitu mencolok dengan dada ukuran 36D, memikat mata siapa pun yang melihat. Tapi Kevin tidak melihatnya dengan hasrat. Ia hanya melihat satu hal… kondisi kritis. Wanita itu kepanasan… bukan karena cuaca. Tubuhnya mengeluarkan uap panas samar, bertolak belakang dengan udara dingin di sekitar. Keringat dingin mengalir, tapi hawa dari tubuhnya justru terasa seperti api yang menyala. Kevin langsung mengenali tanda-tandanya. Serbuk es api. Mineral langka dari Sussex Mountain. Berbahaya, mematikan, dan seharusnya tidak pernah berada di dunia fana. “Bagaimana bisa benda seperti ini lolos keluar…” gumam Kevin dalam hati. Alisnya mengernyit. Ia tidak punya waktu untuk menganalisis. “Nona… apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan. Suaranya tenang dan menenangkan. Wanita itu hanya mampu mengangguk lemah. Bibirnya gemetar. Detik berikutnya, tubuhnya kembali melengkung kesakitan. “Arrrgh… panas…” Jeritannya memecah sunyi pegunungan. Kevin mendekat, tangannya sigap, namun hati-hati. “Nona… jangan berteriak terlalu keras. Kalau ada orang lewat, bisa salah paham,” ujarnya santai, mencoba menjaga situasi tetap terkendali, sambil membuka sabuk pengaman yang menjerat tubuh wanita itu. Klik. Sabuk terlepas. Tubuh wanita itu hampir roboh, dan Kevin menahannya sebelum kepalanya membentur dashboard. “Tolooong… tubuhku… panas sekali…” Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Kevin bisa merasakan panas itu dari dekat, seperti berdiri di depan tungku menyala. Serbuk es api bekerja cepat. Begitu masuk ke tubuh manusia biasa, ia menciptakan konflik energi: dingin membekukan inti tubuh, sementara panas membakar dari luar. Rasa sakitnya luar biasa. Jika dibiarkan, organ dalam akan rusak… lalu mati. Satu jam. Paling lama satu jam sebelum wanita ini kehilangan nyawa. “Kejam sekali orang yang memberinya ini…” pikir Kevin. Rahangnya menegang. Ia segera menarik wanita itu keluar dari mobil, menggendongnya dengan satu tangan sambil menjaga keseimbangannya di tepi jurang. Dan tepat saat ia melangkah menjauh... KRAAAK! Porsche itu bergeser. Tanah runtuh. Roda belakang kehilangan pijakan. Dalam hitungan detik, mobil mewah itu terjun bebas, menghilang ke dalam kabut jurang, diikuti oleh suara dentuman keras yang menggema dari bawah. Wanita dalam pelukan Kevin merintih, nyaris tak sadar. Kevin tidak menoleh lagi. Di benaknya hanya ada satu tempat. Sebuah gubuk kecil di perbatasan Sussex Mountain dan Pegunungan Alpenia. Gubuk bambu sederhana yang pernah ia kunjungi beberapa kali saat ingin merasakan udara dunia fana... berbeda dari energi spiritual wilayah kultivasi. Tanpa ragu, Kevin bergerak. Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Tubuhnya melesat di antara bebatuan dan pohon pinus, seperti bayangan yang berlari bersama angin. Angin gunung berdesir keras, namun tak mampu menghambat gerakannya. Wanita itu terkulai di pelukannya, napasnya semakin panas. Tubuhnya gemetar, jari-jarinya mencengkeram lemah pakaian Kevin, seolah mencari sesuatu untuk bertahan. Kevin mempercepat langkah. Ia bisa merasakan detak jantung wanita itu… cepat, tidak stabil. “Bertahanlah…” gumamnya pelan. Langit mulai redup. Kabut turun dari puncak gunung. Jalur setapak menjadi licin, namun Kevin tetap melaju… tubuhnya seakan melayang di atas tanah. Beberapa menit kemudian… Di balik deretan pohon pinus, gubuk bambu kecil itu akhirnya terlihat. Sederhana dan tua, namun kokoh berdiri di tepi lereng. Kevin langsung menuju pintu, menendangnya hingga terbuka. “Nona… aku harus segera menetralisir racun di dalam tubuhmu. Kalau tidak, kau tidak akan bertahan lebih dari satu jam.” Suara Kevin rendah, tegas, tanpa ragu. Ia baru saja membaringkan wanita muda itu di atas dipan bambu dengan kasur kapuk tipis yang berbau serat kering dan lembap. Di dalam gubuk, udara dingin merayap pelan, namun panas dari tubuh wanita itu terasa seperti nyala api yang menyusup ke setiap sudut ruangan. Wanita itu terengah. Dadanya naik turun cepat, napasnya berat, seperti ditarik paksa dari paru-paru yang terbakar. “Lakukan saja…” katanya dengan suara patah. Bibirnya kering. Tubuhnya menggigil aneh—kulitnya terasa dingin, tapi hawa yang keluar darinya justru menyengat panas. Kevin tidak membuang waktu. Tangannya bergerak cepat, merobek pakaian wanita itu agar racun tidak terperangkap oleh aliran energi yang tertahan. Kain terkoyak, suara sobekannya memecah kesunyian gubuk. Wanita itu tersentak. Wajahnya yang semula pucat berubah kaku oleh keterkejutan. “Apa yang mau kau lakukan?!” teriaknya, panik. “Dasar hidung belang!” Nada marahnya lemah, terputus-putus oleh rasa sakit yang terus membakar tubuhnya. Kevin tidak menanggapi. Fokusnya hanya satu… racun serbuk es api yang sudah menyebar di jalur energi wanita itu. Ia terus membuka sisa pakaian yang menghalangi, bergerak cepat dan efisien, seperti seorang tabib yang berpacu dengan waktu. “Aku bunuh kau, brengsek…” gumam wanita itu lagi, namun suaranya semakin tenggelam. Tubuhnya kehilangan tenaga, matanya mulai berat. “Nanti saja, Nona,” jawab Kevin santai, masih dengan nada tenang. “Kalau sudah sembuh, silakan cari aku.” Ia tahu risikonya. Ia juga tahu hanya ada satu cara. Serbuk es api berasal dari wilayah kultivasi—zat yang tidak bisa dinetralisir dengan metode dunia fana. Satu-satunya jalan adalah menghancurkannya dari dalam, menggunakan energi spiritual melalui penyatuan tubuh, teknik yang dikenal dalam dunia cultivator sebagai dual cultivation. Kevin menarik napas, menenangkan aliran energinya, lalu mulai menyalurkan kekuatan inti yang berputar di dalam dantiannya. Begitu energi itu mengalir, suhu di dalam gubuk berubah. Hawa panas bercampur dengan gelombang energi halus yang bergerak di antara tubuh mereka, menghancurkan racun sedikit demi sedikit. Wanita itu tak mampu melawan. Tubuhnya lemas, kesadarannya setengah tenggelam oleh efek racun. Namun, reaksi tubuhnya tetap hidup—aliran energi Kevin memaksa jalur-jalur meridian yang tersumbat terbuka, menekan panas yang berputar liar. Kevin tertegun sesaat. “Kamu… masih perawan?” gumamnya, terkejut.Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore