LOGINDompet itu masih tergeletak di sana. Hitam, bisu, dan menuduh.
Aku mundur selangkah. Tumit sepatuku menggerus kerikil, bunyinya terdengar seperti ledakan di telingaku yang berdenging.
Aku harus mengambilnya. Aku harus mengejar pria itu. Itu yang dilakukan orang waras.
Tapi kakiku berputar ke arah sebaliknya. Aku lari.
Aku berlari meninggalkan taman itu seperti pengecut. Jantungku menabuh rusuk, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena teror yang dingin dan merayap. Setiap kali kakiku menghantam trotoar, otakku memutar ulang adegan tadi.
Jas abu-abu. Dasi miring. Cat hijau yang mengelupas.
Itu tidak mungkin. Statistiknya mustahil. Bagaimana mungkin aku menulis skenario acak di kepalaku, dan dunia nyata mematuhi skenario itu hingga ke detail terkecil?
Aku sampai di lobi apartemen dengan napas memburu. Satpam di meja resepsionis, Pak Asep, menyapaku.
"Pagi, Pak Ivan. Tumben lari paginya ngebut banget?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk kaku, mataku memindai wajahnya dengan curiga. Apakah Pak Asep nyata? Atau aku juga yang menulis dialognya barusan?
Aku masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai 15 berkali-kali seolah itu akan membuat lift bergerak lebih cepat. Kaca cermin di dalam lift memantulkan wajahku. Pucat. Mataku liar. Aku terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Atau mungkin, akulah hantunya.
Begitu pintu apartemen terkunci, aku langsung menerjang ke ruang kerja.
Laptopku masih menyala. Layarnya meredup, masuk ke mode sleep. Aku menyentuh touchpad. Layar kembali terang, menampilkan dokumen yang sama.
BAB 1: AGNIA
Aku mengecek metadata dokumen itu. Last Modified: 06:20 AM.
Sekarang pukul 07:15 AM.
Artinya, aku menulis adegan itu hampir satu jam sebelum pria berjas abu-abu itu lewat di taman.
"Tidak, tidak, tidak," aku mondar-mandir di ruang kerja, menjambak rambutku sendiri. "Berpikir, Ivan. Kau penulis cerdas. Gunakan logikamu."
Aku berhenti di depan jendela, menatap kota Jakarta yang mulai sibuk di bawah sana.
"Kebetulan," kataku keras-keras, mencoba mengusir kesunyian yang mencekik. "Itu pasti Baader-Meinhof phenomenon."
Ya, itu dia. Ilusi frekuensi. Itu penjelasan paling masuk akal.
Mungkin aku pernah melihat pria itu sebelumnya. Mungkin dia pegawai kantoran yang rutenya melewati taman itu setiap pagi pada jam yang sama. Otak bawah sadarku merekam detail itu jasnya yang kedodoran, cara jalannya yang bungkuk dan menyimpannya sebagai memori laten.
Lalu pagi ini, saat aku menulis, memori itu bocor keluar. Aku tidak meramal masa depan. Aku hanya mengingat rutinitas orang asing yang pernah kulihat sekilas dari jendela apartemen atau saat lari pagi minggu lalu.
"Benar," aku tertawa kecil. Tawa yang terdengar putus asa. "Kau cuma pengamat yang terlalu jeli, Ivan. Bukan cenayang."
Rasa panik di dadaku perlahan surut, digantikan oleh rasa malu. Betapa konyolnya. Seorang penulis thriller pemula yang ketakutan karena imajinasinya sendiri. Agnia pasti sedang menertawakanku sekarang.
Aku duduk kembali di kursi kerjaku. Adrenalin yang tadi memuncak kini berubah menjadi dorongan energi kreatif yang aneh.
Jika teori Baader-Meinhof ini benar, maka apapun yang kutulis selanjutnya tidak akan terjadi, kecuali aku menulis hal yang sudah pasti terjadi.
"Mari kita tes," gumamku. Mataku menatap kursor yang berkedip.
Aku ingin menulis sesuatu yang acak. Sesuatu yang tidak mungkin tersimpan di memori bawah sadarku. Sesuatu yang kacau.
Jariku mulai mengetik. Agnia sedang marah. Dia baru saja melihat dompet itu diambil oleh seorang remaja berandal, bukan dikembalikan ke pemiliknya. Kemarahan Agnia bukan kemarahan orang baik, tapi kemarahan predator yang wilayahnya diganggu.
Agnia berjalan menyusuri gang sempit di belakang toko roti 'Delicia'. Bau ragi dan sampah busuk bercampur di udara. Di sana, dia melihat tumpukan krat botol kaca bekas susu.
Emosinya meluap. Bukan karena sedih, tapi karena dunia ini terlalu berisik.
Agnia mengepalkan tinju kanannya. Tanpa ragu, dia menghantamkan kepalan tangannya ke arah tumpukan krat itu, tepat ke sebuah kaca jendela gudang yang berdebu.
PRANG!
Suara kaca pecah itu terdengar seperti musik. Serpihan kaca berhamburan. Agnia tidak meringis, meski kulit di buku jari kanannya robek. Darah segar menetes, jatuh ke aspal yang kotor, membentuk pola polkadot merah yang abstrak.
Aku berhenti mengetik. Napasku tertahan.
Adegan itu terasa sangat... visceral.
Saat aku menulis kata 'PRANG', telingaku seperti mendengar dencingan kaca yang nyata. Dan saat aku mendeskripsikan buku jari yang robek, tangan kananku berkedut nyeri.
Aku melihat tangan kananku. Mulus. Bersih. Tidak ada darah. Tidak ada luka.
"Lihat?" bisikku pada diriku sendiri, mengangkat tangan ke udara. "Hanya fiksi, Ivan. Hanya imajinasi yang terlalu aktif."
Tapi sensasi perih itu masih ada. Samar, seperti hantu rasa sakit. Mungkin aku terlalu keras menekan tombol keyboard. Ya, pasti itu sebabnya.
Aku melirik jam. Pukul 09:00 pagi.
Perutku lapar, tapi aku tidak berani keluar. Aku takut jika aku keluar, aku akan menemukan toko roti dengan jendela pecah.
"Jangan bodoh," rutuku. Aku menutup laptop dengan kasar.
Aku butuh tidur. Tidur yang nyenyak tanpa mimpi. Saat aku bangun nanti, semua omong kosong ini akan terlihat masuk akal. Novel ini hanyalah novel. Dan aku hanyalah penulis yang sedang stres.
Aku menyeret kakiku ke kamar tidur, menjatuhkan diri ke kasur empuk, dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Berharap dunia di luar sana berhenti bermain-main dengan kewarasanku.
Baader-Meinhof Phenomenon (atau Ilusi Frekuensi): Sebuah bias kognitif di mana seseorang merasa melihat suatu hal (kata, benda, atau orang) berulang kali dengan frekuensi tinggi segera setelah mereka mengetahui atau memikirkannya untuk pertama kali. Otak manusia cenderung mencari pola untuk mengonfirmasi informasi baru tersebut.
itu adalah teriakan terakhir, penuh dengan kebencian dan keputusasaan yang mutlak. "KAU dan PSIKIATERMU bisa pergi ke neraka!"Koneksi terputus. Bunyi beep yang monoton terdengar di telinga Sarah.Dia berdiri di sana, telepon masih menempel di telinganya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata mengucur deras. Rasa sakitnya begitu hebat, lebih dari sebelumnya. Bukan hanya karena penolakannya, tetapi karena kebenaran dalam kata-kata Ivan. Dalam upayanya untuk membantu, dia telah, di mata Ivan, mengkhianatinya. Dia telah menjadi musuh yang bersekutu dengan dunia yang ingin menghancurkan dunianya.Dia telah mencoba untuk menjangkau pria yang dicintainya, tetapi yang dia temui adalah benteng yang dijaga ketat oleh naga bernama Agnia. Dan hari ini, naga itu telah menyemburkan api, membakar habis jembatan terakhir yang menghubungkan mereka.Sementara di seberang kota, Ivan berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya yang berantakan. Sebuah vas pecah berantakan di lantai, air dan bunga-bunga k
Dua minggu setelah konsultasi pertamanya dengan Dr. Maya, Sarah merasa dipersenjatai dengan sedikit lebih banyak pengetahuan dan strategi. Keputusasaan telah berubah menjadi sebuah tekad yang tenang. Dia telah menghadiri satu sesi lanjutan, dan Dr. Maya telah membantunya menyusun pendekatan yang diharapkan bisa menembus tembok pertahanan Ivan.Strateginya sederhana: lembut, tidak mengancam, dan berfokus pada keprihatinan, bukan tuduhan. Dr. Maya juga mengenalkannya pada seorang kolega, seorang psikiater bernama Dr. Arif, yang dikenal dengan pendekatannya yang hangat dan tidak menakutkan. Rencananya, Sarah akan mengajak Ivan untuk menemui seorang "teman" yang adalah seorang ahli yang bisa membantu orang-orang dengan "kebuntuan kreatif" dan "stres". Kata "psikiater" atau "gangguan jiwa" akan dihindari seperti api.Hari itu, dengan jantung berdebar kencang, Sarah menelepon Ivan. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. Apakah Ivan akan mengangkat teleponnya? Apakah dia masih marah?Tele
Kepergian Sarah dari apartemen Ivan meninggalkan luka yang dalam dan getir. Hari-hari berlalu dengan lambat, setiap detik terasa seperti siksaan. Sarah kembali ke kehidupannya sendiri, ke apartemen kecilnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sunyi. Barang-barang peninggalan Ivan—sebuah sweter yang tertinggal, buku yang pernah mereka baca bersama—menjadi pengingat yang menyakitkan akan hubungan yang telah hancur.Dia mencoba melanjutkan rutinitasnya: bekerja sebagai perencana event, bertemu teman-teman, bahkan keluar untuk mencoba bersosialisasi. Namun, wajah Ivan selalu hadir di pikirannya. Bukan wajahnya yang marah atau bingung saat pertengkaran terakhir, tetapi wajahnya yang lembut saat mereka berdua tertawa bersama, atau wajahnya yang serius ketika dia tenggelam dalam dunia menulis. Sarah menyadari sebuah kebenaran yang pahit: dia masih mencintai Ivan. Cintanya bukanlah cinta yang buta; dia melihat
Pintu yang tertutup itu bukan lagi sekadar pintu. Itu adalah sebuah pemutus, sebuah pemisahan yang final. Bunyinya yang menggema di apartemen yang tiba-tuta sunyi itu seperti gong yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidup Ivan. Dia tetap terduduk di lantai ruang kerjanya, punggungnya bersandar pada kaki meja kayu, tubuhnya terasa hampa bagaikan kulit udang yang ditinggalkan isinya.Beberapa menit berlalu, atau mungkin sejam—Ivan kehilangan semua sense of time. Matanya kosong, menatap lurus ke arah buku catatan yang masih tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang mengutuknya. Wajah Sarah, yang digambarkan dengan sempurna namun diisi dengan jiwa orang lain, seakan menatapnya dengan tatapan hampa dari kertas itu. Sebuah pengingat akan pengkhianatannya yan
Sudah seminggu sejak pertengkaran terakhir mereka tentang kebiasaan menulis Ivan yang kembali intens. Suasana antara Ivan dan Sarah masih sedikit tegang, bagaikan udara sesaat sebelum badai. Sarah berusaha untuk memahami, benar-benar memahami, bahwa menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri Ivan. Namun, ketakutannya akan kembalinya "sang hantu" selalu hadir di benaknya, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah mereka.Hari itu, Ivan harus menghadiri pertemuan dengan editornya di pusat kota. Sarah, yang jadwal kerjanya lebih fleksibel, memutuskan untuk menyambangi apartemen Ivan setelah dia pulang kerja. Dia ingin mencoba mencairkan suasana. Mungkin dengan memasakan makan malam spesial, atau sekadar menunggu kedatangannya dengan senyum. Itulah cara Sarah menunju
Dua minggu kemudian, hubungan mereka masih terlihat manis di permukaan. Tapi Ivan mulai berubah. Dia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun. Saat bersama Sarah, dia kadang-kadang tidak sepenuhnya "hadir". Pikirannya berada di tempat lain, di dunia tulisannya.Sarah memperhatikannya. Perubahan itu halus, tetapi bagi seseorang yang seobservatif Sarah, itu terlihat."Ivan, apa kau baik-baik saja?" tanyanya suatu sore saat mereka berbelanja bahan makanan. "Kau terlihat... jauh akhir-akhir ini."Ivan tersentak dari pikirannya. "Hmm? Oh, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya... ada ide untuk menulis sedikit."Sarah mengangkat alis. "Menulis? Itu bagus!" Tapi ada kekhawatiran di matanya. "Kau masih minum obat, kan?"Ivan merasa sedikit tersinggung, tapi dia berusaha menyembunyikannya. "Tentu saja. Kenapa?""Tidak ada. Hanya... aku senang kau bisa menulis lagi. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kesehatanmu yang utama."Peringatan Sarah itu wajar, tapi bagi Ivan, itu terasa seperti sebu







