共有

Bab 3

作者: Millanova
last update 公開日: 2025-08-24 01:00:08

Dompet itu masih tergeletak di sana. Hitam, bisu, dan menuduh.

Aku mundur selangkah. Tumit sepatuku menggerus kerikil, bunyinya terdengar seperti ledakan di telingaku yang berdenging.

Aku harus mengambilnya. Aku harus mengejar pria itu. Itu yang dilakukan orang waras.

Tapi kakiku berputar ke arah sebaliknya. Aku lari.

Aku berlari meninggalkan taman itu seperti pengecut. Jantungku menabuh rusuk, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena teror yang dingin dan merayap. Setiap kali kakiku menghantam trotoar, otakku memutar ulang adegan tadi.

Jas abu-abu. Dasi miring. Cat hijau yang mengelupas.

Itu tidak mungkin. Statistiknya mustahil. Bagaimana mungkin aku menulis skenario acak di kepalaku, dan dunia nyata mematuhi skenario itu hingga ke detail terkecil?

Aku sampai di lobi apartemen dengan napas memburu. Satpam di meja resepsionis, Pak Asep, menyapaku.

"Pagi, Pak Ivan. Tumben lari paginya ngebut banget?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk kaku, mataku memindai wajahnya dengan curiga. Apakah Pak Asep nyata? Atau aku juga yang menulis dialognya barusan?

Aku masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai 15 berkali-kali seolah itu akan membuat lift bergerak lebih cepat. Kaca cermin di dalam lift memantulkan wajahku. Pucat. Mataku liar. Aku terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Atau mungkin, akulah hantunya.

Begitu pintu apartemen terkunci, aku langsung menerjang ke ruang kerja.

Laptopku masih menyala. Layarnya meredup, masuk ke mode sleep. Aku menyentuh touchpad. Layar kembali terang, menampilkan dokumen yang sama.

BAB 1: AGNIA

Aku mengecek metadata dokumen itu. Last Modified: 06:20 AM.

Sekarang pukul 07:15 AM.

Artinya, aku menulis adegan itu hampir satu jam sebelum pria berjas abu-abu itu lewat di taman.

"Tidak, tidak, tidak," aku mondar-mandir di ruang kerja, menjambak rambutku sendiri. "Berpikir, Ivan. Kau penulis cerdas. Gunakan logikamu."

Aku berhenti di depan jendela, menatap kota Jakarta yang mulai sibuk di bawah sana.

"Kebetulan," kataku keras-keras, mencoba mengusir kesunyian yang mencekik. "Itu pasti Baader-Meinhof phenomenon."

Ya, itu dia. Ilusi frekuensi. Itu penjelasan paling masuk akal.

Mungkin aku pernah melihat pria itu sebelumnya. Mungkin dia pegawai kantoran yang rutenya melewati taman itu setiap pagi pada jam yang sama. Otak bawah sadarku merekam detail itu jasnya yang kedodoran, cara jalannya yang bungkuk dan menyimpannya sebagai memori laten.

Lalu pagi ini, saat aku menulis, memori itu bocor keluar. Aku tidak meramal masa depan. Aku hanya mengingat rutinitas orang asing yang pernah kulihat sekilas dari jendela apartemen atau saat lari pagi minggu lalu.

"Benar," aku tertawa kecil. Tawa yang terdengar putus asa. "Kau cuma pengamat yang terlalu jeli, Ivan. Bukan cenayang."

Rasa panik di dadaku perlahan surut, digantikan oleh rasa malu. Betapa konyolnya. Seorang penulis thriller pemula yang ketakutan karena imajinasinya sendiri. Agnia pasti sedang menertawakanku sekarang.

Aku duduk kembali di kursi kerjaku. Adrenalin yang tadi memuncak kini berubah menjadi dorongan energi kreatif yang aneh.

Jika teori Baader-Meinhof ini benar, maka apapun yang kutulis selanjutnya tidak akan terjadi, kecuali aku menulis hal yang sudah pasti terjadi.

"Mari kita tes," gumamku. Mataku menatap kursor yang berkedip.

Aku ingin menulis sesuatu yang acak. Sesuatu yang tidak mungkin tersimpan di memori bawah sadarku. Sesuatu yang kacau.

Jariku mulai mengetik. Agnia sedang marah. Dia baru saja melihat dompet itu diambil oleh seorang remaja berandal, bukan dikembalikan ke pemiliknya. Kemarahan Agnia bukan kemarahan orang baik, tapi kemarahan predator yang wilayahnya diganggu.

Agnia berjalan menyusuri gang sempit di belakang toko roti 'Delicia'. Bau ragi dan sampah busuk bercampur di udara. Di sana, dia melihat tumpukan krat botol kaca bekas susu.

Emosinya meluap. Bukan karena sedih, tapi karena dunia ini terlalu berisik.

Agnia mengepalkan tinju kanannya. Tanpa ragu, dia menghantamkan kepalan tangannya ke arah tumpukan krat itu, tepat ke sebuah kaca jendela gudang yang berdebu.

PRANG!

Suara kaca pecah itu terdengar seperti musik. Serpihan kaca berhamburan. Agnia tidak meringis, meski kulit di buku jari kanannya robek. Darah segar menetes, jatuh ke aspal yang kotor, membentuk pola polkadot merah yang abstrak.

Aku berhenti mengetik. Napasku tertahan.

Adegan itu terasa sangat... visceral.

Saat aku menulis kata 'PRANG', telingaku seperti mendengar dencingan kaca yang nyata. Dan saat aku mendeskripsikan buku jari yang robek, tangan kananku berkedut nyeri.

Aku melihat tangan kananku. Mulus. Bersih. Tidak ada darah. Tidak ada luka.

"Lihat?" bisikku pada diriku sendiri, mengangkat tangan ke udara. "Hanya fiksi, Ivan. Hanya imajinasi yang terlalu aktif."

Tapi sensasi perih itu masih ada. Samar, seperti hantu rasa sakit. Mungkin aku terlalu keras menekan tombol keyboard. Ya, pasti itu sebabnya.

Aku melirik jam. Pukul 09:00 pagi.

Perutku lapar, tapi aku tidak berani keluar. Aku takut jika aku keluar, aku akan menemukan toko roti dengan jendela pecah.

"Jangan bodoh," rutuku. Aku menutup laptop dengan kasar.

Aku butuh tidur. Tidur yang nyenyak tanpa mimpi. Saat aku bangun nanti, semua omong kosong ini akan terlihat masuk akal. Novel ini hanyalah novel. Dan aku hanyalah penulis yang sedang stres.

Aku menyeret kakiku ke kamar tidur, menjatuhkan diri ke kasur empuk, dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Berharap dunia di luar sana berhenti bermain-main dengan kewarasanku.

Millanova

Baader-Meinhof Phenomenon (atau Ilusi Frekuensi): Sebuah bias kognitif di mana seseorang merasa melihat suatu hal (kata, benda, atau orang) berulang kali dengan frekuensi tinggi segera setelah mereka mengetahui atau memikirkannya untuk pertama kali. Otak manusia cenderung mencari pola untuk mengonfirmasi informasi baru tersebut.

| のように
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 34

    Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 33

    esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 32

    “Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 31

    Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 30

    Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 29

    "Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 23

    Dua hari setelah panggilan telepon pertamaku (dan panggilan kedua, dan ketiga—hanya tiga detik setiap kali, cukup untuk mendengar napasnya, tidak cukup untuk membuatnya curiga), perilaku Nuri berubah.Biasanya, dia keluar kamar pukul 06.15 pagi dengan langkah ringan, rambut basah, menyapa Ibu Kost d

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 22

    Mungkin caraku memegang kantong sampah. Mungkin caraku berjalan. Atau mungkin cara aku mengucapkan "sama-sama" dengan intonasi yang terlalu... halus.Aku harus lebih hati-hati.Pukul lima pagi, gerobakku sudah penuh sampai ke atas. Tumpukan kardus, plastik, dan sisa makanan menjulang seperti gunung

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 21

    Tiga minggu.Tiga minggu sejak aku merobek poster orang hilang dari tiang telepon. Tiga minggu sejak aku mematahkan hidung preman mabuk dengan sekop besi. Tiga minggu sejak aku memutuskan bahwa Ivan Sandlers sudah mati, dan yang hidup hanyalah Ipan: tukang sampah bau busuk tanpa masa lalu.Tiga ming

  • Agnia dan Cermin Pecah   Bab 7

    Keesokan Harinya.Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status