Share

Bawa Dia!

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2025-11-13 08:00:45

Setelah menuruni anak tangga, Dirga terdiam di depan pintu dengan tinggi satu meter yang berada tepat di bawah tangga lantai dua.

"Dok .... " Beruntung Adrian masih bisa mengejar Dokter Tampan itu. "Jangan gegabah Dok, lebih baik kita susun rencana dulu." Ia mendekati Dirga yang mematung di depan pintu.

Tangan Adrian menepuk pundak Dirga, menyadarkan lamunan Dokter Tampan itu. "Kita susun rencana sebelum masuk ke dalam Gudang Bawah Tanah. Jangan gegabah Dok, kit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Lovely Yana
ya Ella.. ternyata laki laki suka juga baca novel blikmet gini.. kira in emak emak aja yg suka.
goodnovel comment avatar
MeySin edelweisss
hp Adrian bang
goodnovel comment avatar
Satria Fariansyah
aneh, dirga kan ketinggalan hpx, trus kok bisa pegang hp?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 619: Bimbang

    "Kok belum datang?" Intan menoleh ke arah pintu apartemen, tak ada tanda-tanda orang datang.Jam dinding di apartemen terus berdetik hingga jarumnya menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.Intan menghela napas kian panjang, dengan perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya.Detik-detik berlalu. Setelah penantian yang terasa seperti berabad-abad bagi Intan, bel pintu akhirnya berbunyi pelan.Intan langsung bergegas membuka pintu dan menemukan Mbak Lastri yang berdiri dengan napas sedikit terengah-engah, ditemani suaminya yang mengantar sampai ke depan pintu unit apartemen.​"Mbak Lastri, terima kasih banyak sudah datang ke sini. Maaf merepotkan," ucap Intan lirih, dengan kedua manik mata yang berkaca-kaca.Ia menyalami suami Mbak Lastri yang kemudian berpamitan untuk menunggu di lobi bawah.​"Sama-sama, Bu Intan. Maaf sebelumnya ya B

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 618: Semakin Cemas

    Di rumah Nila, suara desah dan lenguh yang terdengar memenuhi ruang kamar. Sementara di apartemen, suara jantung Intan berdegup cepat seperti genderang.Di dalam apartemen yang sunyi itu, Intan berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang tak tenang.Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Kecemasannya terhadap Adrian sudah berada di titik puncak.Sebagai seorang istri dari seorang Detektif, ia tahu bahwa ketika ponsel Adrian mati di tengah malam tanpa ada kabar apa pun, itu bukanlah pertanda baik.​"Aku harus mencarinya," gumam Intan pada diri sendiri, jemarinya meremas ujung daster yang ia kenakan dengan kuat-kuat.​Namun, tepat ketika ia hendak meraih kunci mobil di atas meja, langkahnya terhenti.Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di kamar itu ada anak perempuannya yang belum genap berusia d

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 617: Perkasa ++

    "Siapa yang nelepon Sweety?" tanya Andi sambil menatap punggung istrinya dengan senyuman mesum."Intan Mas," jawab Nila.Ia meletakkan ponsel di atas meja rias dengan helaan napas panjang. Pikirannya masih sedikit tertinggal pada curhatan Intan yang terdengar sangat cemas.Namun, begitu ia membalikkan tubuh dan melangkah kembali ke arah tempat tidur, suasana di dalam kamar langsung terasa sangat berbeda.Ketegangan karena rasa khawatir seketika menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain yang jauh lebih mendebarkan.​Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya kuning keemasan, Andi, sedang bersandar di tumpukan bantal.Pria itu sama sekali belum memejamkan mata. Sebaliknya, tatapannya begitu tajam dan fokus, langsung terkunci pada sosok Nila yang hanya mengenakan lingerie satin tipis berwarna merah marun.​Andi menyunggingkan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 616: Gelisah

    TENG!Jam di dinding apartemen mewah itu menunjukkan pukul dua dini hari. Intan terbangun karena merasakan sisi ranjang di sebelahnya kosong dan dingin.Ia mengucek matanya, berharap melihat Adrian sedang membaca berkas kasus di bawah temaram lampu tidur, namun suaminya memang tidak ada di sana."Ke mana?" ​Intan menyibakkan selimut tebalnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamar tidur."Mas kamu di mana?" panggil Intan lembut. Suaranya hanya memantul di dinding ruang tengah yang sepi dan gelap.​Ia melangkah menuju ruang kerja Adrian. Biasanya, jika Adrian sedang tidak bisa tidur karena memikirkan kasus kriminal, sang Detektif akan mengurung diri di sana.Namun, saat Intan membuka pintu jati ruang kerja itu, ruangan tersebut kosong melompong. Hanya ada keheningan dan aroma kopi yang sudah mengering dari cangkir di atas meja.​Per

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 615: Memulai Missi

    Di dalam ruang rahasia apartemen, Adrian sedang memasukkan beberapa perlengkapan taktis ke dalam ransel hitam miliknya.Sebuah pisau komando, senter militer, pemantik gas kedap air, dan pistol semi-otomatis dengan peredam suara sudah tersusun rapi.Di telinganya, sebuah earpiece mini terpasang, menghubungkannya langsung dengan Darko yang berada di balik layar komputer ribuan kilometer dari sana.​"Adrian, dengarkan aku baik-baik." Suara Darko terdengar jernih melalui frekuensi radio terenkripsi. "Apa kau mendengar?""Ya, katakan saja.""Aku sudah selesai menyinkronkan data denah Dylan dengan peta satelit terbaru. Tapi situasinya jauh lebih rumit dari yang kita duga. Kau harus berhati-hati jika tidak ingin nyawamu hilang dalam missi ini. Paham?""Hmmmm," jawab Adrian datar."Aku serius Adrian. Jangan sampai istrimu yang cantik itu me

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 614: Kekhawatiran

    Malam itu, setelah anak-anak terlelap, atmosfer di kediaman Dirga. Dokter tampan itu sedang berdiri di balkon kamar yang gelap, sambil memegang ponsel satelitnya dengan erat.Di ujung panggilan, suara Adrian terdengar berat, diiringi sayup-sayup ketikan jari di atas papan tombol komputer."Apa Anda yakin dengan yang kamu lihat itu?" tanya Adrian.​"Aku yakin itu bukan kebetulan, Adrian," bisik Dirga, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan."Hmm." Di ujung sana Adrian mendengarkan dengan seksama."Pria itu tidak melihat ke arah wahana, dia tidak melihat pengunjung lain. Matanya terkunci pada Dylan. Dan saat aku mencoba mendekatinya, dia menghilang lewat pintu darurat staf seolah sudah menguasai denah tempat itu," lanjut Dirga.​"Anda harus tenang dulu, Dok," jawab Adrian dari seberang telepon. "Bisa Anda deskripsikan ciri-cirinya lebih detail? Tinggi badan, cara berjalan, atau mungkin ada tanda khusus?"​"Tinggi, tegap, sekitar 180 senti. Dia memakai hoodie gelap dan kacamata hi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status