LOGIN"Silakan duduk." Dokter yang tadi menghadap ke belakang, memutar tubuhnya dan menunjuk kursi di depan meja.
Febby mengangguk, ia berjalan pelan sambil menundukkan kepala. Rasanya agak sedikit canggung karena biasanya dia berkonsultasi dengan dokter wanita, bukan dokter laki-laki. "Silakan jelaskan keluhan Anda, Bu Febby," ujar Dokter tampan itu sambil menatap pasiennya dan duduk. Febby memberanikan diri menatap Dokter tersebut, toh dia hanya berkonsultasi. Kalau sudah hamil, kemungkinan dia melahirkan di bidan wanita saja, pikirnya. "Saya ingin berkonsultasi tentang kehamilan, Dok," jawab Febby yang akhirnya menatap wajah laki-laki di depannya. Kedua mata Febby membulat saat melihat wajah yang tak asing. Dokter itu tersenyum ramah, "Anda belum hamil, Bu Febby." "Mas Dirga." Febby masih tak menyangka dunia sesempit ini. Ternyata Dokter bernama Dirga, adalah kakak kelasnya waktu sekolah SMA dulu. Sayangnya Febby tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Senyum Dirga semakin lebar, "Ya, aku Dirga kakak kelasmu dulu. Ternyata kamu menikah dengan Andi, sepupuku. Kenapa dunia sangat sempit." Rona merah terlihat jelas di kedua pipi Febby. Dulu dia menyukai Dirga yang memang sejak SMA sangat tampan. Dan sepertinya Dirga menyukainya juga. Namun, saat lulus sekolah Dirga melanjutkan pendidikan keluar negeri. Orang tua Dirga cukup berada, tidak seperti orang tua Andi. Meskipun orang tuanya mampu membiayai kuliah, Febby justru memilih untuk bekerja dan menikah dengan Andi. "Iya, aku nikah sama Mas Andi. Aku ngga tahu kalau dia sepupu kamu," angguk Febby menundukkan kepalanya lagi. "Dunia memang sempit. Siapa sangka kita bertemu sebagai pasien dan dokternya, sekarang. Padahal dulu, untuk bicara denganmu saja ... aku tidak memiliki nyali." Febby mengulum senyum. Dia ingat saat itu, waktu Dirga ingin memberinya coklat di hari valentine, tapi meminta temannya yang memberikan. "Iya, kirain kita ngga akan ketemu lagi. Soalnya kamu kan melanjutkan sekolah di luar negeri." "Kita dipertemukan oleh takdir," gumam Dirga sambil membuka buku di atas meja. Diam-diam Febby memperhatikan laki-laki tampan di depannya tanpa berkedip. Harus dia akui, walau sudah lama tidak bertemu, tetapi Dirga masih tetap terlihat tampan. Tidak banyak yang berubah dari laki-laki tampan yang cukup populer di sekolah dulu. Wajahnya, senyumnya dan tatapan matanya masih sama seperti dulu. Kemungkinan yang berubah adalah perasaannya pada Febby. Tidak mungkin Dirga masih menyimpan perasaan setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. "Sudah berapa lama kamu menikah dengan Andi?" tanya Dirga mulai serius. Pertanyaannya itu sudah ke arah pasien dan dokternya. "Udah dua tahun. Kurang lebih," jawab Febby. "Hem, aku manggil Mas apa? Pak Dokter aja ya." Dirga tersenyum manis, "Mas juga ngga apa-apa. Kita kan keluarga. Kamu menikah dengan sepupuku, artinya kita sudah menjadi sepupu juga sekarang." Febby manggut-manggut. "Iya, Mas. Aku dan Mas Andi sudah menikah dua tahun, tapi aku dan Mas Andi belum mendapatkan anak." "Bagaimana permainan Andi di atas ranjang?" tanya Dirga menatap Febby lekat. Yang ditatap langsung salah tingkah dan grogi. Pertanyaan seperti itu belum pernah dia dengar keluar dari mulut Dokter, selama dia berkonsultasi tentang kehamilan. "Katakan saja yang sebenarnya," sambung Dirga. "Aku harus tahu agar aku bisa menjelaskan apa saja yang menjadi penyebab kamu belum hamil sampai sekarang." Febby menengguk air liurnya. "Permainan Mas Andi di atas kasur. Biasa saja sih Mas. Mungkin sama seperti saat pasangan suami istri berhubungan. Dari awal saya dan Mas Andi menikah, ngga ada yang berbeda. Mas Andi melakukan itu seperti selayaknya suami memberi nafkah batin pada istrinya." Dirga menulis sesuatu ke atas buku panjang miliknya sambil meremas pulpen. Wajahnya yang tadi ramah berubah kesal. Diam-diam Febby terus memperhatikan Dokter tampan itu meski hanya dari lirikan matanya. "Permainannya biasa saja ya? Apa kamu selalu mencapai klimaks saat berhubungan dengan suamimu?" tanya Dirga kembali menatap ke arah Febby lekat. Kedua alis wanita cantik itu naik. Lagi-lagi ia belum terbiasa dengan pertanyaan seperti itu, apalagi yang bertanya laki-laki yang dulu menjadi idolanya. "Kamu tidak pernah merasa puas, iya kan?" tebak Dirga dengan tatapan dalam. Sorot matanya menjelaskan ada sesuatu yang berbeda dari pertanyaan itu. Febby mulai terlihat tidak nyaman, pertanyaan itu membuatnya semakin canggung berada di depan Dirga, apalagi di dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua. "Maaf Mas, apa pertanyaan seperti itu bisa jadi penentu kenapa aku belum hamil sampai sekarang?" ucap Febby sambil meremas ujung pakaian, mengalihkan perasaan gugupnya. "Ya, tentu saja. Pertanyaan seperti ini bisa jadi jawaban kenapa kamu belum hamil sampai sekarang. Selain pemeriksaan organ reproduksi kedua pasangan suami istri. Aku juga harus tahu apa penyebab lain dari keluhan pasien. Kalau memang kamu tidak pernah mencapai klimaks selama berhubungan, berarti penyebabnya ada di situ." Febby menggaruk alisnya yang tidak gatal. Pertanyaan dan penjelasan dari Dokter di depannya sangat berbeda dengan penjelasan dari Dokter kandungan lain. Dirga seperti sedang mengorek apakah dia bahagia menikah dengan Andi. Ya, Febby berpikir Dirga ingin tahu soal itu. "Katakan saja, aku Dokter yang akan membantumu. Kamu bisa terbuka soal apapun denganku," ujar Dirga. Satu tangannya menyentuh jemari lentik Febby yang berada di atas meja. "Maaf Mas, tapi pertanyaan begitu sangat pribadi. Aku malu mengatakannya." Dengan cepat Febby menarik tangannya. Walau dalam hati masih ada rasa pada Dirga, tetapi dia tidak ingin mengkhianati suaminya. "Baik, mungkin kamu masih kaget dengan pertanyaan dariku." Dirga menutup buku panjangnya lalu berdiri. "Silakan berbaring." Ia menunjuk ranjang Dokter di depannya. Febby melangkah ragu, namun dia tahu pemeriksaan berikutnya memang seperti itu. Sudah biasa dia melakukannya saat datang ke rumah sakit Ibu dan Anak. "Silakan berbaring," ulang Dirga seraya merapikan bantal agar lebih tinggi. Febby naik ke atas ranjang lalu berbaring. Ia luruskan kedua kakinya dan menurunkan pakaian agar menutupi perut. Satu kakinya berusaha merapikan rok panjang yang naik ke atas. Dirga memasang sarung tangan putih lalu melangkah memutari ranjang dan berhenti di depan kedua kaki Febby. "Buka celana dalam kamu," kata Dirga yang membuat Febby melotot. "Kok buka celana dalam, Dok?" Dirga tersenyum. "Aku atau kamu yang Dokter? Kamu percayakan saja sama aku." Febby menelan saliva keras. "Tapi, aku malu." "Kenapa malu? Buka saja." Dirga berjalan mendekati pintu dan menguncinya. Febby melihat itu, dia semakin gugup dan tak tahu apa yang akan dilakukan oleh dokter tampan itu. "Buka sekarang," desak Dirga kembali mendekati ranjang. "Atau mau aku yang buka?" Febby menggeleng cepat. "Maaf Dok. Saya ngga jadi periksa." Ia menurunkan kedua kaki lalu berjalan cepat ke pintu. Sangking paniknya dia sampai lupa memakai sendal. Dirga menatap mantan pujaan hatinya yang buru-buru memutar kunci dan keluar dari ruangan. Wajah Febby terlihat pucat. Syok karena Dirga menyuruhnya yang aneh-aneh. "Mas Andi kemana sih? Kok dia ngga datang," gumamnya cemas. Setelah Febby keluar, Dirga mengambil sendal jepit yang dipakai tadi, menyimpannya ke dalam laci. "Pasien berikutnya!" seru Dirga kembali duduk di depan meja kerja. 'Aku pastikan kamu akan kembali lagi ke ruangan ini, Febby.' Seorang perempuan bersama suaminya masuk ke ruangan dokter itu. "Silakan duduk," ucap Dirga ramah."Kamu .... " Farah menatap Ray dengan tatapan tidak percaya. Ia tak menyangka sahabat masa SMA-nya dulu tega melaporkan Biru ke Polisi."Dia pantas masuk penjara, Farah! Dia yang melakukan semua ini. Luka-luka ini bukti kegilaannya. Laki-laki itu tempramental, kamu harus menjauhinya! Kamu lihat sendiri, aku babak belur dihajar habis-habisan, padahal aku sama sekali tidak melakukan apa pun padamu," tutur Ray meyakinkan, sambil memamerkan kembali luka-luka di tubuhnya.Luka di keningnya masih basah, darah segar tampak merembes dari balik perban. Sementara itu, tangan kanannya terlihat lebam dan cedera parah."Aku hampir mati karena dia. Untung saja banyak orang di pesta waktu itu yang memisahkan kami. Kalau tidak, ceritanya pasti sudah beda," lanjut Ray, memelas.Farah terdiam sambil menundukkan kepala. Ada sedikit rasa kecewa menyergap dadanya, kenapa Biru harus sebrutal itu? Namun, jauh di lubuk hatinya, ia yakin Biru pasti memiliki alasan."Andai saja kamu ingat kejadian malam
Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Ray yang merasa telah berhasil menarik perhatian Farah mulai mencari kesempatan.Matanya tak henti mengamati sekeliling, memastikan pintu kamar perawatan di depannya tertutup rapat.Sementara itu, Farah fokus mengupas buah apel untuk Ray. Tidak ada sedikit pun rasa curiga terhadap pria di hadapannya.Setelah memastikan situasi benar-benar aman, senyum miring tersungging di bibir Ray. Dengan gerakan spontan, ia menyergap dan memegang pergelangan tangan Farah."Farah ....""Iya, Ray?" Farah mendongak, menatap pemuda itu lekat. "Kamu butuh sesuatu?"Ray menggeleng pelan. "Aku cuma butuh kamu." Ia mengambil pisau buah dari tangan Farah secara perlahan lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mau bicara serius sama kamu. Boleh?"Farah mengangguk, ikut meletakkan apel yang belum selesai dikupasnya ke meja. "Bicara saja. Kamu mau ngomong apa?"Perlahan, Ray memajukan tubuh, memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik, "Maukah kamu jadi pacarku?"
Ray mengulum senyum saat melihat Farah mulai termakan ucapannya. Ia melirik Farah, menatap lekat gadis cantik yang kini diam membisu itu."Biru itu bukan laki-laki baik, Farah. Dia temperamental. Kamu harus berhati-hati padanya," lanjut Ray, memanasi.Farah mengangkat pandangannya, menatap wajah Ray yang babak belur.Bahkan, luka di pelipisnya yang diperban masih merembaskan darah segar."Lihat luka-luka ini. Semua ini ulah Biru. Tiba-tiba saja dia menyerangku. Padahal aku sama sekali tidak berniat jahat padamu malam itu. Aku hanya ingin membawamu menjauh dari keramaian karena kamu sedang mabuk berat," jelas Ray dengan ringisan yang dibuat seolah sangat menderita.Farah menghela napas panjang. Hatinya menolak untuk langsung percaya karena ia sangat mengenal pengawalnya itu. Namun, melihat kondisi Ray yang terluka parah, rasa ibanya tak bisa dibendung."Aku tahu Biru sudah lama jadi pengawal pribadimu, tapi dia itu ringan tangan. Aku khawatir suatu saat dia bisa melukaimu. Sepert
Sesampainya di pelataran rumah sakit, Biru segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Farah."Maaf, Non. Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Biru datar, sambil menatap lekat Farah. "Setelah ini saya tidak bisa menemani ke dalam, karena saya ada janji penting untuk bertemu dengan seseorang."Kening Farah berkerut bingung. Tidak biasanya Biru menolak untuk mendampinginya, apalagi di tempat umum seperti ini. "Janji? Sama siapa? Tumben banget kamu ada urusan mendadak di jam kerja begini, Biru."Biru tampak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan menyusun kebohongan. "Maaf, Non ... saya .... "Melihat kegugupan itu, Farah justru tersenyum. Ia mengira Biru mungkin memiliki urusan asmara. "Ya udah, nggak apa-apa kok. Pergi aja selesaikan urusan kamu. Tapi nanti jangan lupa jemput aku lagi di sini, ya," potong Farah cepat. Ia langsung berbalik dan melangkah menuju lobi gedung perawatan tempat Ray dirawat.Sementara itu, Biru masih bergeming di tempatny
"Biru, antar aku ke rumah sakit sekarang! Aku mau lihat keadaan Ray. Semalam dia dipukulin orang sampai masuk rumah sakit," seru Farah, berlari tergesa-gesa menghampiri Biru yang sedang berdiri di dekat mobil.Wajah Biru yang semula sudah tegang karena baru saja menerima sepucuk surat panggilan dari kepolisian, mendadak kian mengeras.Emosinya tersulut hebat begitu mendengar nama Ray kembali keluar dari bibir Farah.Ditambah lagi, gadis itu tampak begitu cemas memikirkan keadaan bajingan yang hampir saja melecehkannya semalam.Kenapa pria berengsek itu selalu mendapatkan perhatian lebih dari kamu, Farah? batin Biru bergejolak, menahan rasa sesak sekaligus cemburu yang mengiris hatinya."Ayo, Biru, tunggu apa lagi?" ajak Farah mendesak. Namun, sedetik kemudian tatapan matanya beralih pada amplop putih berlogo kepolisian yang ada di genggaman tangan Biru. "Eh, itu surat apa?"
Senin pagi di koridor utama kampus yang biasanya diisi oleh canda tawa santai, mendadak berubah menjadi riuh oleh kasak-kusuk ratusan mahasiswa.Pandangan semua orang tertuju pada layar ponsel masing-masing, lalu beralih menatap sinis ke satu arah.Di ujung koridor, Megan berjalan dengan gaya angkuh yang biasa, dikelilingi oleh circle setianya.Namun, langkah kaki Megan mendadak terhenti saat ia menyadari ada yang tidak biasa.Bisikan-bisikan miring dan tatapan mengejek dari orang-orang di sekitar mulai menusuk telinganya."Megan, coba lo buka grup angkatan sekarang. Cepetan!" bisik salah satu temannya, Sherly, dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi sambil menyodorkan ponsel.Megan mengerutkan kening, merebut ponsel itu dengan kasar. Begitu layar menyala dan sebuah video berdurasi beberapa menit terputar, bola mata Megan nyaris keluar dari kelopaknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika."WHAT!" teriak Megan histeris.Di dalam video yang kini menjadi viral dan dito







