LOGIN“Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau
“Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat menakutkan, seolah-olah sedang ingin mencabut nyawaku saat ini juga.” Hazel menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Hexa dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa amarah dan luka. “Seperti apa?” Hexa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di posisi yang sangat sulit. Membantah hanya akan memperkeruh suasana. Dengan suara yang dilembutkan, ia akhirnya menyerah. “Aku minta maaf, Hazel.” “Tidak penting meminta maaf sekarang,” balas Hazel dingin, tangannya sibuk menyiapkan perban baru. “Semuanya sudah terjadi.” “Oke, aku tahu kau marah. Aku—” “Aku tidak marah. Siapa yang marah?” Hazel menjawab ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hexa. Hexa meringis pelan, bukan hanya karena luka di perutnya yang terasa berdenyut, tapi juga karena cara Hazel memasangkan perban anti-air yang baru. Gerakannya sang
“Jadi, ini yang kamu sembunyikan dariku?”Hazel langsung merangsek masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, langkahnya mendadak membeku. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya ketika Hexa sedang setengah terbaring di ranjang rumah sakit, bertelanjang dada dengan lilitan perban tebal yang menutupi area perutnya.Wajah suaminya yang biasanya terlihat perkasa, kini nampak pucat di bawah benderang lampu ruang perawatan. Hazel merasakan dunianya seolah runtuh melihat kondisi pria yang baru saja ia cintai, ternyata jauh dari kata ‘baik-baik saja’.Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruang VVIP itu. Kejutan besar terpahat jelas di wajah semua orang. Baik Enrico, Elon, dan Gracia seolah membatu di posisi masing-masing, menatap Hazel yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan napas memburu.Pandangan Elon beralih tajam ke arah Hexa, sebuah isyarat tanpa suara yang menuntut putranya untuk segera membereskan situasi yang pecah di luar rencana ini.Hexa mengembuskan napas
Derap langkah Hazel yang mondar mandir di ruang tamu, menyelimuti ketegangan di kediaman river malam itu. Hazel tak mau berhenti. Gracia, sang mertua, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ma, kenapa Hexa belum pulang? Apa ... terjadi sesuatu dengannya? Perasaanku benar-benar tidak enak,” bisik Hazel parau, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah.Gracia memaksakan senyum, mencoba tetap tenang meski hatinya sendiri bergejolak. “Semoga Hexa baik-baik saja. Dia pria yang tangguh, kau tahu itu. Jangan terlalu khawatir.”Kalimat itu sudah diucapkan Gracia berulang kali sejak senja tadi, namun nyatanya tak pernah benar-benar mampu menenangkan badai di hati Hazel. Kecemasan itu terus menghimpit dadanya hingga larut malam, sampai akhirnya Gracia harus mengantarnya kembali ke kamar di lantai atas agar ia mau beristirahat.Namun, tidur adalah hal mustahil bagi Hazel. Hingga fajar menyingsing dan pagi menyapa, sosok Hexa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Harap
Hexa terbangun tidak lama setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang hening dan steril. Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya yang perlahan pulih. Dengan gerakan pelan dan rintihan tertahan, ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi nyaman sebelum menatap lurus ke arah Elon, sang ayah, yang duduk di sisi ranjang.“Papa tidak memberitahu Hazel tentang keadaanku, ‘kan?” tanya Hexa, suaranya masih serak dan lemah.Elon menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan ketegasan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan tahu apa pun. Papa sudah memastikan semua laporan di rumah tetap tenang.”Hexa mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Ia melirik ke bawah, merasakan lilitan perban yang tebal di balik pakaian rumah sakitnya. Anehnya, ia belum merasakan perih yang menghujam, mungkin karena pengaruh obat bius pasca operasi yang masih bekerja kuat di dalam aliran darahnya.Tak lama kemudian, Elon berdiri. “Istirahatlah.
Elon tiba di atap rumah sakit dengan helikopter pribadinya setelah mengudara selama 17 menit. Tanpa membuang waktu, ia segera diarahkan ke ruang pengambilan darah. Sebagai pemilik golongan darah yang sama langkanya dengan putranya, Elon memberikan satu kantong darahnya dengan cepat, lalu bergegas menuju lorong ruang operasi dengan langkah lebar yang sarat kewibawaan.Enrico segera berdiri menyambut kedatangan pria kuat itu. “Tuan River, selamat datang,” sapanya dengan nada rendah penuh hormat.Elon hanya menyambut sapaan itu dengan kedipan singkat, wajahnya kaku menahan emosi. Tanpa basa-basi, ia langsung menghujamkan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hexa bisa mengalami kecelakaan sehebat itu?”“Ceritanya panjang, Tuan,” jawab Enrico. Ia kemudian menuturkan semuanya dengan gamblang, mulai dari awal pengejaran di Rute 56 hingga ledakan yang hampir merenggut nyawa Hexa. Di akhir kalimat, Enrico menyatakan dugaannya bersam







