LOGIN“Dan kau suka?” tanya Hexa dengan suara bariton yang serak, sarat akan otoritas dan gairah.
“Suka ... ahh ... sangat suka!” seru Hazel tanpa rasa malu lagi. Ia mempercepat gerakannya, mengabaikan rasa lelah di pahanya demi mengejar sensasi panas yang kian memuncak di bawah sana.Hexa menarik napas tajam, merasakan jepitan otot Hazel yang kian mengencang karena efek kehamilan dan gairah yang meluap. “Kalau kau sesuka itu, maka jangan berhenti. Teruslah menghantamku seperti it“Pria itu tidak sedang bekerja untuk Emma,” gumam Hexa perlahan, tatapannya mendadak menajam menatap Enrico. “Emma tidak menyewa Lance untuk menjaga ibu Hazel. Tapi mereka bersekutu karena memiliki kepentingan yang sama.”Hexa menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kaki sembari melipat tangan di depan dada. “Emma ingin melenyapkan ibu Hazel dari hidup Denzel dan menyingkirkannya dari lingkaran River, sementara Lance ... menginginkan wanita itu secara pribadi. Emma yang memberi jalan dan memalsukan kematiannya, lalu menyerahkan fisik wanita itu pada Lance untuk dimiliki dan dikurung dalam realitas palsu.”Ia menatap layar laptop Enrico yang masih menampilkan grafik gelombang suara rekaman. “Itulah alasan kenapa data digitalnya bersih dan teman-teman Emma tidak mengenalnya. Lance mungkin bukan nama aslinya, atau dia adalah hantu dari masa lalu ibu Hazel sendiri yang memang menginginkan wanita itu sejak dulu,” lanjut Hexa, suaranya memberat.Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedu
“Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya
“Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb
“Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya
“Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah
“Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m
“Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas
Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk. Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan
Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu
“I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?” Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan nod







