Beranda / Romansa / Ah! Mantap Sekali Mbak / Bab 4. Hilang Kendali

Share

Bab 4. Hilang Kendali

last update Tanggal publikasi: 2026-02-17 16:50:59

Roni mulai merasakan ada balasan dari gerakan mbak maya, dimana mbak maya juga mulai menciumnya," roni aku mau keluar..."bisiknya mendesah,tangannya merenggut rambut roni di sebabkan oleh sensasi hebat yang dia rasakan.

"jadi gimana mbak, saya berhenti atau lanjutin?," kata roni sengaja bertanya sebab dia tahu kalo wanita yang sedang berada di ujung hasrtanya seperti ini tidak mungkin mau berhenti.

dan benar saja mbak maya meminta roni buat lanjut dan lebih mempercepat gerakannya,"tidak...aku mau kamu melakukannya lebih bersemangat lagi, oh..iyah disitu teruskan, rasanya enak sekali saat benda besar mu mentok.."

sambil tersenyum andi memgangkat tubuh mbak maya untuk mengganti posisi.

hingga satu jam setengah sudah berlalu tetapi belum ada tanda-tanda permainan akan selesai, justru mereka berdua terlihat semakin bersemangat hingga keringat membasahi tubuh mereka berdua, seprai pun ikut basah kuyup serta bercak merah ada dimana-mana yang keluar dari keperawanan mbak maya.

hingga akhrinya mbak maya pun merasakan sebuah cairan hangat menyembur membasahi perutnya di ikuti oleh suara erangan roni yang lalu tumbang jatuh di atas tubuhnya.

"mbak... maafkan saya saya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, tubuh mbak seakan menghipnotis saya..."ujar roni dengan nafas tersengal seperti habis di kejar binatang buas, begitupun dengan mbak maya yang jauh lebih letih dari roni.

"tidak apa-apa sebenarnya aku juga menginginkannya, aku sudah cukup lama mendambakan sentuhan sepeti tadi, tak ku sangka aku menyerahkannya padamu pria yang baru aku kenal.."balas mbak maya.

mendengar itu roni sedikit lega, padahal di dalam hati roni berpikir kalo habis ini dia pasti akan di laporkan setelah itu mendekam di penjara.

iya mbak maya ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari roni, dimana keduanya memilki gairah yang susah di pendam cuman bedanya roni kalo mau melampiaskan dia memiliki ayu di kampung sementara mbak maya, dia hanya bisa menyelesaikannya sendiri dengan menggunakan jarinya.

sebenarnya bisa saja mbak maya memesan pria yang bisa memuaskan nafsunya tapi mbak maya masih memilki kekuatan untuk menjaga harga dirinya, sayangnya pertemuannya dengan roni langsung menggoyahkan semuanya dimana mbak maya dari awal di sentuh tubuhnya langsung merespon hebat.

satu jam sebelum roni datang ke kamarnya mbak maya baru saja selesai memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri sambil membayangkan roni, pria yang pria yang membuat gairahnya memuncak saat sentuhan kemarin, makaknya dia tidur begitu pulas sebab kecapean.

mereka berdua pun tertidur pulas saling berpelukan satu sama lain, dan kejadian ini adalah awal dari hubungan gelap mereka yang mungkin saja akan berlanjut hingga seterusnya.

janda kesepian yang tak sengaja bertemu dengan berondong muda yang tampan yang juga memilki hasrat besar sepertinya.

***

hari demi hari berlalu, aktivitas di atas ranjang antara Mbak Maya dan Roni terus berlanjut tanpa henti. Hubungan mereka tidak pernah dibahas lebih jauh, karena apa yang mereka lakukan dianggap semata-mata untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, Mbak Maya tidak pernah cemburu meskipun Roni sering menceritakan tentang teman-teman wanitanya di kampus.

"Roni, coba lihat ini. Aku membelikan mu pakaian baru. Kayaknya cocok buat kamu pakai ke kampus," ujar Mbak Maya sambil menunjukkan baju yang telah dibelinya.

"Astaga, Mbak. Mbak tidak perlu repot-repot. Saya jadi nggak enak," balas Roni.

"Kamu ini, ya. Sudah berapa kali aku bilang jangan menolak pemberianku? Walaupun hubungan kita sebatas teman, aku sudah menganggap kamu bagian dari hidupku. Kehadiranmu mengisi kekosonganku selama ini. Jadi, jangan menolak lagi, ya. Aku melakukan ini karena tahu kamu belum bekerja. Lagi pula, kamu nggak malu pakai baju yang itu-itu saja?" ceramah Mbak Maya panjang lebar.

"Baiklah, Mbak. Terima kasih sudah mengerti saya," jawab Roni, semakin tidak enak hati atas semua kebaikan Mbak Maya.

Keesokan harinya, Roni bersiap untuk pergi camping bersama Bobi. Pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan lainnya. Melihat itu, Mbak Maya mengira Roni akan meninggalkannya.

"Kamu mau pergi ke mana? Apa kamu…?"

"Bukan, Mbak. Saya ada janji dengan Bobi untuk camping, cuma dua hari kok. Mbak tenang saja, saya nggak akan meninggalkan Mbak," potong Roni, menyadari kekhawatiran Mbak Maya dari raut wajahnya.

"Begitu, ya? Aku kira kamu mau meninggalkan aku," jawab Mbak Maya, sedikit lega.

"Kan cuma dua malam saja, Mbak. Mbak bisa, kan, tanpa saya?" goda Roni.

"Harusnya aku yang tanya begitu," balas Mbak Maya sambil tersenyum genit. "Tapi kalau kamu nggak tahan, pulang saja," lanjutnya.

"Ya sudah, Mbak. Saya berangkat dulu," kata Roni sambil berjalan keluar.

Mbak Maya kemudian mengambil sejumlah uang dari dompetnya. "Ini tambahan uang, siapa tahu kamu ingin beli sesuatu di sana," ujarnya.

"Ah, nggak usah, Mbak. Mbak sudah memberi saya tempat tinggal. Itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula, saya nggak sering jajan," tolak Roni sopan.

Klakson mobil Bobi terdengar dari luar. "Mbak, saya jalan dulu, ya," pamit Roni.

"Hati-hati, sayang," ucap Mbak Maya tanpa sadar. Kata itu membuat Roni menatapnya. "Astaga, maaf. Saya kelepasan. Kalau kamu nggak nyaman…"

"Tidak apa-apa," kata Roni sambil mengecup bibir Mbak Maya. "Saya berangkat dulu, ya."

Setelah bertemu Bobi, Roni masuk ke mobil yang sudah berisi Miya dan Seli. Saat di perjalanan, Bobi memberikan Roni sebuah ponsel. Awalnya Roni menolak, karena ia tidak terbiasa menggunakan benda itu, tetapi Bobi memaksa. "Ini penting supaya kita mudah berkomunikasi," jelas Bobi.

Setelah perjalanan beberapa jam, mereka sampai di lokasi camping. "Nah, ini tempatnya. Indah, bukan?" ujar Bobi.

"Astaga, indah sekali. Ini mengingatkan saya pada kampung halaman saya," kata Roni.

Bobi pun mengusulkan untuk mengunjungi kampung Roni saat liburan tahun depan. Mereka kemudian mendirikan tenda bersama sebelum menikmati pemandangan sekitar.

Roni mencoba mengajak Miya mandi di pantai, tetapi Miya menolak. Setelah beberapa kali bujukan, akhirnya Miya ikut basah setelah Roni memercikkan air ke arahnya. Di saat itulah Miya mulai membuka diri dan lebih banyak bicara serta tertawa bersama Roni.

Mereka begitu asyik mandi di tepi pantai yang indah hingga lupa bahwa mereka telah menghabiskan waktu cukup lama di sana. Terlihat Miya mulai membuka diri kepada Roni, tidak seperti sebelumnya yang hanya diam saja.

"Hai, kalian! Ayo naik dulu, kita makan bersama," panggil Bobi, memanggil mereka untuk mengisi perut.

"Sepertinya kakakku memanggil kita. Ayo, kita menepi," ajak Miya, dan mereka pun berjalan ke tepi pantai.

"Hai, kalian! Kapan masaknya? Kenapa gak manggil kami dari tadi?" tanya Roni saat melihat makanan sudah tersaji di depan mereka.

"Sudah dari tadi, lagian aku dibantu Seli. Tidak enak mengganggu keasyikan kalian," jawab Bobi sambil tersenyum.

"Wah, kalian ini, gak ngajak-ngajak!" ucap Roni lalu segera mulai makan bersama mereka.

Setelah menikmati makan malam, mereka kembali menikmati keindahan alam di tempat itu sampai hari mulai gelap.

"Kalian, kalau mau membersihkan tubuh, di sana ada sungai kecil. Airnya bersih kok. Tadi aku dan Seli sudah memeriksanya saat mengambil foto," ujar Bobi, memberitahu Roni dan Miya.

"Baiklah, ayo Miya, kita bersihkan tubuh dulu. Rasanya gak nyaman kalau belum membasuh tubuh dari air laut," ajak Roni, dan Miya pun mengikuti.

Sesampainya di sungai kecil yang dimaksud Bobi, Roni meminta Miya untuk lebih dulu membersihkan tubuhnya sementara dia akan menunggu.

"Ayo, kamu duluan. Nanti aku setelah kamu," kata Roni.

"Tidak apa-apa, barengan saja. Lagipula aku gak melepas pakaian kok. Nanti ganti bajunya di tenda," ujar Miya. Karena Miya berkata begitu, mereka pun bersama-sama membasuh tubuh di sana.

Saat sedang membasuh tubuh, Roni tanpa sengaja menyadari bahwa Miya tidak mengenakan pakaian dalam. Hal itu terlihat jelas karena baju Miya menjadi transparan setelah terkena air. Roni mencoba menahan diri agar tidak terlalu memperhatikannya.

Miya yang menyadari arah pandangan Roni langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

"Maaf, aku tidak bermaksud melihat. Tapi itu sangat jelas, Miya. Apa kamu tidak memakai pakaian dalam?" akhirnya Roni bertanya.

"Tidak apa-apa, aku memang tidak terbiasa memakai dalaman," jawab Miya dengan suara malu-malu sambil tetap menutupi tubuhnya.

"Itukah alasanmu tadi menolak mandi bareng di pantai? Astaga, aku minta maaf ya, aku gak tahu soal itu," ucap Roni yang akhirnya menyadari alasan Miya.

Miya hanya mengangguk malu.

"Sudah, tidak apa-apa. Jangan malu, kita kan teman, jadi santai saja. Aku bukan tidak tertarik dengan tubuhmu, tapi aku bisa menahannya kok. Hehe," canda Roni untuk membuat Miya lebih rileks.

Setelah merasa cukup, mereka pun kembali ke tenda. Di sana, mereka melihat Bobi sedang menyiapkan kayu bakar untuk dijadikan api unggun malam itu. Malam pun tiba, Bobi, Roni, Miya, dan Seli duduk bersama di depan api unggun sambil bercerita tentang pengalaman dan masa kecil mereka.

Terlihat Roni sangat bahagia karena sejak kecil ia jarang memiliki teman seperti Bobi, Miya, dan Seli yang bisa menerima dirinya dengan tulus.

"Sayang, aku ngantuk. Aku tidur duluan ya," ucap Seli yang sudah mulai mengantuk.

"Roni, sepertinya aku juga sudah mengantuk. Aku tinggalkan kalian berdua ya," ujar Bobi. Padahal ia tidak benar-benar mengantuk, tapi ingin menikmati waktu bersama Seli. Roni yang mengerti tentu saja mempersilakan mereka untuk tidur lebih dulu, meninggalkan dia dan Miya yang masih berbincang.

Miya sekarang terlihat lebih ceria, tidak seperti sebelumnya yang cenderung pendiam. Bahkan, ia lebih banyak berbicara dan tertawa. Hal itu tidak luput dari perhatian Roni.

"Tidak salah aku memilih Roni sebagai temanmu, Miya. Aku jarang sekali melihatmu tertawa seperti itu," gumam Bobi sambil tersenyum, kemudian masuk ke tenda menyusul Seli.

"Kamu belum mengantuk, Miya? Kalau sudah, tidur duluan saja," kata Roni.

"Aku belum mengantuk. Aku masih ingin menikmati keindahan malam di tempat ini," jawab Miya sambil tersenyum.

Tiba-tiba, suara tenda yang ditempati Bobi dan Seli mulai bergerak-gerak. Roni dan Miya tersenyum karena mereka tahu apa yang sedang terjadi di dalam.

"Sialan! Apa gak tahu kalau masih ada orang yang belum tidur," canda Roni sambil tertawa. Miya pun ikut tertawa kecil.

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 233

    Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sasa... Sasa...” panggil lagi di dalam tidurnya. Ternyata Ali sedang merindukan sosok istrinya yang sangat ia cintai. Setiap malam Ali memang seperti ini, hanya saja baru kelihatan di saat Liona memperhatikan tidurnya. “Sasa? Apakah itu nama mendiang istrinya?” gumam Liona berpikir. “Sasa, kenapa kamu ninggalin aku, aku mencintaimu sayang, kembalilah,” kata demi kata terus terucap di bibir Ali. Liona bingung harus berbuat apa, ingin dia membangunkan Ali agar keluar dari mimpi buruknya itu. Ali benar-benar tak sadar bahwa dia menangis hingga ke dunia nyata. Hingga akhirnya Liona mau tak mau berbaring di samping Ali dan memeluknya. Dengan kehangatan yang disalurkan oleh Liona, Ali jadi sedik

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 232

    Beberapa hari pun berlalu hingga hari kelima Liona di kampung itu. Terlihat Liona dan Ali semakin dekat, bukan dekat karena perasaan pribadi, tetapi karena bisnis yang Ali kelola. Di mana Liona juga menceritakan perjalanan selama lima hari di kampung ini, dan hal itu pula membuat papanya semakin tertarik buat mengajukan kerja sama, bahkan ingin membeli sebagian ladang Roni untuk dia kelola juga bersama. Sepertinya memang dari dulu papanya Liona sudah sangat tertarik dan jatuh cinta dengan alam di sana, hanya saja dia baru sekarang berkeinginan membeli sebagian ladang itu setelah mendengar putrinya juga tertarik dan suka sekali dengan suasananya. Hari ini adalah hari di mana hasil panen dilihat. Di sini juga Ali bisa melihat hasil kerja kerasnya dalam menanggulangi ladang bisnis sang papa, dan setelah dia melihat hasilnya — di mana hasilnya jauh lebih meningkat dari hasil panen sebelumnya — Ali tentunya sangat bahagia, karena dari sini dia bisa melihat kalau dia telah berhasil. Awal y

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 231

    Siang itu terlihat Liona sedang menikmati tehnya di depan rumah yang disiapkan oleh Ali untuknya beristirahat. Dia menyeruput tehnya sembari menatap pemandangan di depannya. Iya, kebetulan rumah itu berhadapan langsung dengan sawah yang luas, bahkan di ujung sawahnya Liona dapat melihat bukit yang hijau dan indah di sana."Suasana di sini sangat indah, cuacanya cukup sejuk ditambah dengan angin sepoy-sepoy," ujarnya sambil menyeruput teh di cangkir yang berada di tangannya.Tetapi tiba-tiba dari rumah seberang dia mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang. Iya, itu berasal dari rumah yang ditempati Ali, dan yang menangis tentunya putri Ali, Elina."Ada suara bayi menangis, bayi siapa ya?" gumamnya. Tepat saat itu seorang pria keluar dengan menggendong Elina, dan pria itu bukan Ali melainkan bawahan Ali yang disuruh menjaga Elina sementara dia masih sibuk melihat pekerjaan di gudang."Pak, bayinya kenapa?" tanya Liona."Ah, ini agak sedikit rewel padahal sudah dikasih susu tapi g

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 230

    Aku senang kamu baik-baik saja. Tahu tidak, hampir setiap malam aku gak bisa tidur memikirkan kondisimu di sini. Kalau gak percaya, tanya saja Maria. Susah lama aku ingin datang berkunjung, hanya saja baru sekarang bisa sempat. Aku juga sering mengobrol dengan Kak Bara soalmu, dia juga sangat mengkhawatirkanmu. Awalnya dia ingin ikut datang bersama kami, tapi Kak Bara terlalu banyak urusan di perusahaan membuatnya tidak bisa datang. Ali, kapan kamu akan kembali ke Jakarta dan tinggal bersama kami? Ayolah, kita tinggal bersama, oke? Aku gak bisa terus-terusan jauh darimu seperti ini," ujar Xyro. Iya, dia memang selalu mengkhawatirkan Ali. Dia sangat takut terjadi sesuatu dengan Ali."Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja kok. Untuk sekarang aku belum bisa balik ke Jakarta. Aku masih pengen belajar mandiri. Usaha di sini benar-benar mengajarkanku banyak. Mungkin setelah panen aku bisa kembali ke Jakarta," ungkap Ali."Ya, aku dengar dari Papa bisnis di sini kamu

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 229

    Hari demi hari pun berlalu, semenjak kepergian Sasa hidup Ali sudah tidak seceria dulu. Kesedihannya atas kepergian Sasa pun mulai membaik. Itu dia lakukan demi sang buah hati yang dia beri nama Elina. Hari-harinya juga dihabiskan terus bersama sang buah hati. Bagi Ali, Sasa masih hidup, dan Sasa berada dalam diri Elina.“Ma, Pa... Ali kayaknya mau tinggal di kampung di tempat nenek,” kata Ali tiba-tiba memberitahu papa dan mamanya kalau dia ingin hidup di kampung, tinggal bersama kakek dan neneknya di sana.Awalnya Ayu tidak setuju karena Ayu tahu betul sifat orang tuanya yang sama sekali tidak berubah dari dulu, tetapi Roni mencoba meyakinkan, “Gak papa, Ayu. Mungkin dengan di sana Ali bisa lebih tenang lagi,” kata Roni sampai akhirnya Ayu pun setuju bahwa Ali pindah ke kampung dan tinggal di sana.Hari itu juga, dengan membawa sang buah hati Elina, Ali pergi ke kampung orang tuanya untuk tinggal di sana, berharap dengan suasana di sana dia lebih tenang dan bisa melupakan kenangan i

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 228

    Singkat waktu, perusahaan Roni pun kembali seperti semula bahkan lebih maju dari sebelumnya setelah Roni benar-benar fokus mengembangkannya, karena tak ada lagi hambatan seperti sebelumnya. Bara juga sudah mulai membangun perusahaannya sendiri atas bantuan sang papa, dan juga mulai mengembangkan perusahaan peninggalan Tuan Kim dengan rencana bersama dengan papanya.Sementara Maria, dia juga sama seperti Bara. Dia membuat perusahaan untuk masa depannya bersama Xyro dan anak-anak mereka dengan sangat serius. Walaupun dirinya sedang dalam keadaan hamil, kerja keras dan pantang menyerah membuatnya benar-benar sangat dikagumi oleh keluarga. Di sini Xyro benar-benar beruntung bisa memiliki sosok istri seperti Maria, yang jiwa bisnisnya begitu tinggi turun dari ayahnya, Tuan Donlad.Lihatlah, hanya butuh waktu dua minggu saja semuanya sudah berjalan lancar dengan perubahan-perubahan yang begitu besar. Itu semua berkat kerja keras mereka yang memiliki satu tujuan, yaitu berkembang dan terus b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status