LOGINRoni mulai merasakan ada balasan dari gerakan mbak maya, dimana mbak maya juga mulai menciumnya," roni aku mau keluar..."bisiknya mendesah,tangannya merenggut rambut roni di sebabkan oleh sensasi hebat yang dia rasakan.
"jadi gimana mbak, saya berhenti atau lanjutin?," kata roni sengaja bertanya sebab dia tahu kalo wanita yang sedang berada di ujung hasrtanya seperti ini tidak mungkin mau berhenti. dan benar saja mbak maya meminta roni buat lanjut dan lebih mempercepat gerakannya,"tidak...aku mau kamu melakukannya lebih bersemangat lagi, oh..iyah disitu teruskan, rasanya enak sekali saat benda besar mu mentok.." sambil tersenyum andi memgangkat tubuh mbak maya untuk mengganti posisi. hingga satu jam setengah sudah berlalu tetapi belum ada tanda-tanda permainan akan selesai, justru mereka berdua terlihat semakin bersemangat hingga keringat membasahi tubuh mereka berdua, seprai pun ikut basah kuyup serta bercak merah ada dimana-mana yang keluar dari keperawanan mbak maya. hingga akhrinya mbak maya pun merasakan sebuah cairan hangat menyembur membasahi perutnya di ikuti oleh suara erangan roni yang lalu tumbang jatuh di atas tubuhnya. "mbak... maafkan saya saya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, tubuh mbak seakan menghipnotis saya..."ujar roni dengan nafas tersengal seperti habis di kejar binatang buas, begitupun dengan mbak maya yang jauh lebih letih dari roni. "tidak apa-apa sebenarnya aku juga menginginkannya, aku sudah cukup lama mendambakan sentuhan sepeti tadi, tak ku sangka aku menyerahkannya padamu pria yang baru aku kenal.."balas mbak maya. mendengar itu roni sedikit lega, padahal di dalam hati roni berpikir kalo habis ini dia pasti akan di laporkan setelah itu mendekam di penjara. iya mbak maya ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari roni, dimana keduanya memilki gairah yang susah di pendam cuman bedanya roni kalo mau melampiaskan dia memiliki ayu di kampung sementara mbak maya, dia hanya bisa menyelesaikannya sendiri dengan menggunakan jarinya. sebenarnya bisa saja mbak maya memesan pria yang bisa memuaskan nafsunya tapi mbak maya masih memilki kekuatan untuk menjaga harga dirinya, sayangnya pertemuannya dengan roni langsung menggoyahkan semuanya dimana mbak maya dari awal di sentuh tubuhnya langsung merespon hebat. satu jam sebelum roni datang ke kamarnya mbak maya baru saja selesai memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri sambil membayangkan roni, pria yang pria yang membuat gairahnya memuncak saat sentuhan kemarin, makaknya dia tidur begitu pulas sebab kecapean. mereka berdua pun tertidur pulas saling berpelukan satu sama lain, dan kejadian ini adalah awal dari hubungan gelap mereka yang mungkin saja akan berlanjut hingga seterusnya. janda kesepian yang tak sengaja bertemu dengan berondong muda yang tampan yang juga memilki hasrat besar sepertinya. *** hari demi hari berlalu, aktivitas di atas ranjang antara Mbak Maya dan Roni terus berlanjut tanpa henti. Hubungan mereka tidak pernah dibahas lebih jauh, karena apa yang mereka lakukan dianggap semata-mata untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, Mbak Maya tidak pernah cemburu meskipun Roni sering menceritakan tentang teman-teman wanitanya di kampus. "Roni, coba lihat ini. Aku membelikan mu pakaian baru. Kayaknya cocok buat kamu pakai ke kampus," ujar Mbak Maya sambil menunjukkan baju yang telah dibelinya. "Astaga, Mbak. Mbak tidak perlu repot-repot. Saya jadi nggak enak," balas Roni. "Kamu ini, ya. Sudah berapa kali aku bilang jangan menolak pemberianku? Walaupun hubungan kita sebatas teman, aku sudah menganggap kamu bagian dari hidupku. Kehadiranmu mengisi kekosonganku selama ini. Jadi, jangan menolak lagi, ya. Aku melakukan ini karena tahu kamu belum bekerja. Lagi pula, kamu nggak malu pakai baju yang itu-itu saja?" ceramah Mbak Maya panjang lebar. "Baiklah, Mbak. Terima kasih sudah mengerti saya," jawab Roni, semakin tidak enak hati atas semua kebaikan Mbak Maya. Keesokan harinya, Roni bersiap untuk pergi camping bersama Bobi. Pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan pakaian dan perlengkapan lainnya. Melihat itu, Mbak Maya mengira Roni akan meninggalkannya. "Kamu mau pergi ke mana? Apa kamu…?" "Bukan, Mbak. Saya ada janji dengan Bobi untuk camping, cuma dua hari kok. Mbak tenang saja, saya nggak akan meninggalkan Mbak," potong Roni, menyadari kekhawatiran Mbak Maya dari raut wajahnya. "Begitu, ya? Aku kira kamu mau meninggalkan aku," jawab Mbak Maya, sedikit lega. "Kan cuma dua malam saja, Mbak. Mbak bisa, kan, tanpa saya?" goda Roni. "Harusnya aku yang tanya begitu," balas Mbak Maya sambil tersenyum genit. "Tapi kalau kamu nggak tahan, pulang saja," lanjutnya. "Ya sudah, Mbak. Saya berangkat dulu," kata Roni sambil berjalan keluar. Mbak Maya kemudian mengambil sejumlah uang dari dompetnya. "Ini tambahan uang, siapa tahu kamu ingin beli sesuatu di sana," ujarnya. "Ah, nggak usah, Mbak. Mbak sudah memberi saya tempat tinggal. Itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula, saya nggak sering jajan," tolak Roni sopan. Klakson mobil Bobi terdengar dari luar. "Mbak, saya jalan dulu, ya," pamit Roni. "Hati-hati, sayang," ucap Mbak Maya tanpa sadar. Kata itu membuat Roni menatapnya. "Astaga, maaf. Saya kelepasan. Kalau kamu nggak nyaman…" "Tidak apa-apa," kata Roni sambil mengecup bibir Mbak Maya. "Saya berangkat dulu, ya." Setelah bertemu Bobi, Roni masuk ke mobil yang sudah berisi Miya dan Seli. Saat di perjalanan, Bobi memberikan Roni sebuah ponsel. Awalnya Roni menolak, karena ia tidak terbiasa menggunakan benda itu, tetapi Bobi memaksa. "Ini penting supaya kita mudah berkomunikasi," jelas Bobi. Setelah perjalanan beberapa jam, mereka sampai di lokasi camping. "Nah, ini tempatnya. Indah, bukan?" ujar Bobi. "Astaga, indah sekali. Ini mengingatkan saya pada kampung halaman saya," kata Roni. Bobi pun mengusulkan untuk mengunjungi kampung Roni saat liburan tahun depan. Mereka kemudian mendirikan tenda bersama sebelum menikmati pemandangan sekitar. Roni mencoba mengajak Miya mandi di pantai, tetapi Miya menolak. Setelah beberapa kali bujukan, akhirnya Miya ikut basah setelah Roni memercikkan air ke arahnya. Di saat itulah Miya mulai membuka diri dan lebih banyak bicara serta tertawa bersama Roni. Mereka begitu asyik mandi di tepi pantai yang indah hingga lupa bahwa mereka telah menghabiskan waktu cukup lama di sana. Terlihat Miya mulai membuka diri kepada Roni, tidak seperti sebelumnya yang hanya diam saja. "Hai, kalian! Ayo naik dulu, kita makan bersama," panggil Bobi, memanggil mereka untuk mengisi perut. "Sepertinya kakakku memanggil kita. Ayo, kita menepi," ajak Miya, dan mereka pun berjalan ke tepi pantai. "Hai, kalian! Kapan masaknya? Kenapa gak manggil kami dari tadi?" tanya Roni saat melihat makanan sudah tersaji di depan mereka. "Sudah dari tadi, lagian aku dibantu Seli. Tidak enak mengganggu keasyikan kalian," jawab Bobi sambil tersenyum. "Wah, kalian ini, gak ngajak-ngajak!" ucap Roni lalu segera mulai makan bersama mereka. Setelah menikmati makan malam, mereka kembali menikmati keindahan alam di tempat itu sampai hari mulai gelap. "Kalian, kalau mau membersihkan tubuh, di sana ada sungai kecil. Airnya bersih kok. Tadi aku dan Seli sudah memeriksanya saat mengambil foto," ujar Bobi, memberitahu Roni dan Miya. "Baiklah, ayo Miya, kita bersihkan tubuh dulu. Rasanya gak nyaman kalau belum membasuh tubuh dari air laut," ajak Roni, dan Miya pun mengikuti. Sesampainya di sungai kecil yang dimaksud Bobi, Roni meminta Miya untuk lebih dulu membersihkan tubuhnya sementara dia akan menunggu. "Ayo, kamu duluan. Nanti aku setelah kamu," kata Roni. "Tidak apa-apa, barengan saja. Lagipula aku gak melepas pakaian kok. Nanti ganti bajunya di tenda," ujar Miya. Karena Miya berkata begitu, mereka pun bersama-sama membasuh tubuh di sana. Saat sedang membasuh tubuh, Roni tanpa sengaja menyadari bahwa Miya tidak mengenakan pakaian dalam. Hal itu terlihat jelas karena baju Miya menjadi transparan setelah terkena air. Roni mencoba menahan diri agar tidak terlalu memperhatikannya. Miya yang menyadari arah pandangan Roni langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "Maaf, aku tidak bermaksud melihat. Tapi itu sangat jelas, Miya. Apa kamu tidak memakai pakaian dalam?" akhirnya Roni bertanya. "Tidak apa-apa, aku memang tidak terbiasa memakai dalaman," jawab Miya dengan suara malu-malu sambil tetap menutupi tubuhnya. "Itukah alasanmu tadi menolak mandi bareng di pantai? Astaga, aku minta maaf ya, aku gak tahu soal itu," ucap Roni yang akhirnya menyadari alasan Miya. Miya hanya mengangguk malu. "Sudah, tidak apa-apa. Jangan malu, kita kan teman, jadi santai saja. Aku bukan tidak tertarik dengan tubuhmu, tapi aku bisa menahannya kok. Hehe," canda Roni untuk membuat Miya lebih rileks. Setelah merasa cukup, mereka pun kembali ke tenda. Di sana, mereka melihat Bobi sedang menyiapkan kayu bakar untuk dijadikan api unggun malam itu. Malam pun tiba, Bobi, Roni, Miya, dan Seli duduk bersama di depan api unggun sambil bercerita tentang pengalaman dan masa kecil mereka. Terlihat Roni sangat bahagia karena sejak kecil ia jarang memiliki teman seperti Bobi, Miya, dan Seli yang bisa menerima dirinya dengan tulus. "Sayang, aku ngantuk. Aku tidur duluan ya," ucap Seli yang sudah mulai mengantuk. "Roni, sepertinya aku juga sudah mengantuk. Aku tinggalkan kalian berdua ya," ujar Bobi. Padahal ia tidak benar-benar mengantuk, tapi ingin menikmati waktu bersama Seli. Roni yang mengerti tentu saja mempersilakan mereka untuk tidur lebih dulu, meninggalkan dia dan Miya yang masih berbincang. Miya sekarang terlihat lebih ceria, tidak seperti sebelumnya yang cenderung pendiam. Bahkan, ia lebih banyak berbicara dan tertawa. Hal itu tidak luput dari perhatian Roni. "Tidak salah aku memilih Roni sebagai temanmu, Miya. Aku jarang sekali melihatmu tertawa seperti itu," gumam Bobi sambil tersenyum, kemudian masuk ke tenda menyusul Seli. "Kamu belum mengantuk, Miya? Kalau sudah, tidur duluan saja," kata Roni. "Aku belum mengantuk. Aku masih ingin menikmati keindahan malam di tempat ini," jawab Miya sambil tersenyum. Tiba-tiba, suara tenda yang ditempati Bobi dan Seli mulai bergerak-gerak. Roni dan Miya tersenyum karena mereka tahu apa yang sedang terjadi di dalam. "Sialan! Apa gak tahu kalau masih ada orang yang belum tidur," canda Roni sambil tertawa. Miya pun ikut tertawa kecil. Bersambung....Keesokan paginya, saat Miya pulang, Roni melihat sebuah bingkisan di kursi depan kamarnya."Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Roni bertanya-tanya.Ia membuka bingkisan itu dan mendapati isinya adalah nasi kotak."Wah, makanan! Pasti Bayu yang menaruh ini," pikirnya.Roni berjalan menuju kamar Bayu dan mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia melirik jam tangannya dan terkejut."Astaga, ternyata sudah jam 10 pagi! Mungkin Bayu sudah pergi bekerja," ujarnya sambil berbalik arah.Setelah mandi, Roni memutuskan pergi ke gudang. Karena kuliahnya baru dimulai sore nanti, ia memilih ke sana daripada hanya berdiam diri di kos tanpa pekerjaan.Saat Miya pulang ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di sofa. Begitu ia masuk, ayahnya langsung bertanya, "Miya, kamu ke mana saja? Bapak sudah beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban."Miya tersenyum dan menjawab santai, "Semalam ada acara bersama teman, jadi aku tidak sempat melihat ponsel, Pak."Ayahnya menghela napas
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun Roni berada di kota. Sekarang, banyak perubahan yang telah terjadi. Roni kini telah dipercaya oleh Bapak Bobi untuk membantunya dalam mengelola usaha. Bahkan, ia telah diberikan tanggung jawab besar untuk memegang kendali gudang besar milik keluarga Bob. Namun, semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Sebelum memperoleh kepercayaan sebesar itu, Roni harus menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, mulai dari pekerja yang iri hingga ancaman pembunuhan. Meski begitu, dengan ketabahan dan kejujurannya, Roni berhasil melewati semuanya.Sementara itu, di kampus, Jack semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia berusaha untuk menguasai kampus dengan sering membuat keributan dan masalah. Geng motornya pun semakin menjadi-jadi di jalanan, terutama setelah Bobi dan kelompoknya telah lulus dari kampus tersebut.Namun, meskipun begitu, Roni tidak pernah takut kepada Jack dan gengnya. Bahkan, beberapa kali Jack mengirim anak buahnya untuk mengga
Tok... tok... suara pintu kamar Roni diketuk dari luar. Awalnya, Roni tidak menyahut sebab dia memang sudah terlalu lelah. Namun, karena suara ketukan itu semakin keras, akhirnya Roni bangun."Siapa ya yang mengetuk pintu tengah malam begini? Apa Bayu ya? Sepertinya dia sudah pulang bekerja, tapi kenapa malah membangunkanku pula..." pikir Roni. Dia mengira kalau itu adalah Bayu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.Saat pintu dibuka, bukan Bayu yang ia lihat, melainkan Mbak Maya yang berdiri sambil menatapnya. Sontak, Roni sedikit terkejut hingga mundur ke belakang. Wajahnya masih terlihat mengantuk karena tidurnya begitu pulas, sehingga ia benar-benar terganggu."Kenapa kau malah terkejut seperti itu, seolah-olah aku ini hantu?" ujar Mbak Maya dengan nada sedikit kesal."Bukan seperti itu, Mbak. Astaga, maaf. Tak kira tadi Bayu, eh pas aku buka ternyata Mbak, jadi aku terkejut dong," ucap Roni mencoba menjelaskan agar Mbak Maya tidak salah paham.Mbak Maya menoleh ke kiri dan
Sesampainya di rumah, Roni langsung berjalan ke arah meja, menaruh tas selempangnya, dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh Mbak Maya yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk.Mbak Maya yang melihat pakaian Roni begitu kotor langsung bertanya, "Kenapa kamu begitu kotor, seperti anak sekolah dasar yang baru pulang main saja?" tanyanya, karena kondisi Roni memang benar-benar kotor dan bau telur busuk."Tadi ada sedikit kejutan saja," jawab Roni sambil tersenyum dan melewati Mbak Maya untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Namun, Mbak Maya justru mengikutinya kembali ke dalam kamar mandi sambil melepas handuknya."Mbak, kenapa masuk lagi? Aku mau mandi, Mbak," tanya Roni, terkejut melihat Mbak Maya yang mengikutinya masuk."Sini, lepas semua pakaianmu. Aku akan mencucinya. Astaga baunya," kata Mbak Maya sambil meraih pakaian Roni yang dia pegang, menunggu Roni melepas celananya. Setelah itu, Mbak Maya mulai mencuci
Suara kicauan burung terdengar begitu indah di pagi hari, diikuti oleh suara siulan yang dimainkan oleh Roni yang sedang asyik di dalam kamar mandi. Pagi ini, dia mengawali hari dengan keceriaan karena sudah bertekad untuk terus semangat mengejar mimpinya.Setelah selesai mandi, dia sarapan, lalu berangkat ke kampusnya. Sementara itu, Mbak Maya masih tertidur pulas karena permainan panas yang dilakukan Roni tadi malam, membuatnya begitu kelelahan.Seperti biasanya, Roni berjalan kaki dengan tas selempang yang selalu ia bawa saat ke kampus. Dalam perjalanan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, termasuk teman-temannya di jalan. Kadang, dengan keisengannya, Roni melempar batu kecil ke arah dahi salah satu temannya, lalu berlari dikejar. Bukannya panik, Roni justru tertawa sambil mengejek mereka. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Roni selalu ngos-ngosan saat sampai di gerbang kampusnya. Di atas gapura kampus, tertulis: Universitas Bina Bangsa."Akhirnya sampai juga," gumamnya sam
"Ayu, setiap hari dan malam kamu selalu melamun. Sejak kepergian pria miskin itu, kamu terus seperti ini. Apa istimewanya dia sampai-sampai kamu seperti ini terus?" ujar Tuan Hasan, ayah Ayu, mencoba membuka pembicaraan dengan putrinya.Setelah kepergian Roni, Ayu memang selalu terlihat melamun, tenggelam dalam pikirannya. Apalagi, Roni sama sekali tidak pernah mengirim kabar sejak pertama kali pergi."Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Papa hanya melihat Roni dari sisi buruknya saja," balas Ayu sambil menatap ayahnya dengan penuh penyesalan."Bagaimana bapakmu ini tidak berpikir seperti itu? Lihat saja, dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Pokoknya, besok kamu harus bersiap-siap. Reza dan ayahnya akan datang ke rumah untuk melamarmu," ungkap Tuan Hasan tegas, memberitahu bahwa Reza, anak seorang pengusaha kaya sekaligus juragan ternama di desa, akan melamar Ayu esok pagi."Papa, Ayu tidak mau menikah! Apa pun yang terjadi, Ayu akan tetap setia ke