Home / Romansa Dewasa / Ah! Mantap Sekali Mbak / Bab 5. Gadis Yang Diam-Diam Jatuh Cinta

Share

Bab 5. Gadis Yang Diam-Diam Jatuh Cinta

last update Last Updated: 2026-02-17 16:58:13

Malam semakin larut, dan suhu semakin dingin terasa karena hembusan angin malam di pantai itu. Namun, Roni dan Miya masih betah mengobrol di depan api unggun yang sudah hampir mati, menyisakan arang yang berpendar samar.

Miya mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata pernah tinggal di kampung. Hal itu membuat Roni tertarik mendengarnya.

“Berarti kamu bukan asli dari kota, ya?” tanya Roni penasaran.

“Ya, kami dulu tinggal di kampung. Papa dulu punya usaha ladang. Sampai sekarang sih masih ada, tapi kami pindah ke Jakarta karena papa membangun perusahaan di sana,” jawab Miya.

Miya melanjutkan ceritanya, “Aku dulu punya banyak sekali teman di kampung, dan aku masih merindukan mereka sampai sekarang. Sayangnya, kampung kami sekarang sudah berubah, banyak bangunan kokoh di sana. Teman-teman masa kecilku juga sudah pindah.”

“Mungkin itu ya, alasan kalian bisa menerima aku sebagai sahabat, padahal kita baru kenal satu hari,” ucap Roni.

“Bukan itu alasannya,” kata Miya sambil tersenyum. “Banyak juga kok, orang kampung yang cuek. Kakak Bobi mungkin suka bersahabat denganmu karena kamu asyik orangnya, terbuka, dan gak memandang siapa pun. Soalnya kakak Bobi juga seperti itu.”

“Kamu sendiri ceritain dong kehidupanmu di kampung. Aku pasti senang mendengarnya,” pinta Miya.

Roni tersenyum kecil sebelum menjawab, “Ceritaku sih gak terlalu menarik. Aku gak populer di kampung. Aku jarang bergaul, lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di ladang orang untuk mendapatkan uang demi sekolahku. Kalau bukan di ladang, aku menggembala ternak orang lain.”

“Kamu punya saudara? Lalu, di mana orang tuamu sekarang?” tanya Miya, penasaran.

“Aku anak tunggal. Ibuku meninggal waktu aku masih sekolah dasar, dan aku hidup berdua dengan ayahku. Beliau mengajarkan aku arti kehidupan dan bagaimana menjalani hidup dengan baik, sampai akhirnya beliau meninggal waktu aku baru masuk sekolah menengah. Setelah itu, aku benar-benar mencari biaya hidup sendiri. Walaupun begitu, aku gak pernah berpikir untuk berhenti sekolah, meski harus hidup sebatang kara,” jelas Roni, sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya.

Miya yang mendengarkan cerita itu merasa sedih. “Maaf ya, mungkin seharusnya aku gak minta kamu menceritakan kehidupanmu di kampung,” ucapnya dengan nada menyesal.

“Tidak apa-apa. Aku gak sedih kok, lihat aku tersenyum dari tadi. Menurutku, itu memang jalan hidupku. Aku tidak pernah mengeluh atau iri dengan kehidupan orang lain. Aku juga menikmati hidupku yang seperti itu,” balas Roni sambil tersenyum tulus.

Malam semakin larut, dan cuaca semakin dingin. Suara berisik dari tenda Bobi sudah berhenti, sepertinya Bobi dan Seli sudah menyudahi aktivitas mereka.

Roni menunjuk ke langit dan berkata, “Lihatlah bintang itu, Miya. Mereka sangat indah.”

Ia melanjutkan, **“Apakah kamu tahu? Bintang di langit mengajarkan kita tentang keindahan yang tetap bersinar, meski terpisah oleh jarak dan berada dalam gelap. Begitu pula hidup kita; meski penuh tantangan dan dikelilingi kesulitan, kita harus tetap kuat dan bercahaya. Karena sama seperti bintang, keindahan kita muncul ketika kita bertahan di tengah gelapnya cobaan.

Bintang tidak memilih malam yang terang untuk bersinar, ia bersinar di mana pun ia berada. Jadilah seperti bintang, yang kekuatannya tidak ditentukan oleh keadaan, tetapi oleh keyakinannya pada cahaya yang ia miliki.

Setiap bintang di langit punya sinarnya sendiri, kecil atau besar, terang atau redup, semuanya memiliki peran. Begitu pula kita; apa pun kondisi kita, ingatlah bahwa kita memiliki cahaya yang dapat menginspirasi dunia.

Saat gelap menghampiri, lihatlah bintang. Ia tidak mengeluh tentang gelap, tetapi justru bersinar lebih terang. Dalam hidup, biarkan setiap tantangan menjadi alasanmu untuk lebih kuat dan lebih bersinar.

Bintang di langit tak pernah jatuh hanya karena badai. Jadilah seperti bintang—tabah, bersinar, dan selalu memberi harapan, meski dunia kadang terasa gelap.”**

Mendengar itu, Miya tersenyum sambil memandang wajah Roni yang tampak tampan diterangi oleh cahaya api unggun. Entah apa yang Miya rasakan, intinya dia ingin sekali tetap bersama dengan Roni dan menghabiskan waktu bersamanya.

Tanpa disadari, kepala Miya mulai bersandar di pundak Roni. Ketika Roni memandangnya, ia menyadari bahwa Miya telah tertidur. Melihat Miya yang kelelahan dan tertidur di pundaknya, Roni memutuskan untuk menggendongnya masuk ke dalam tenda.

Wajah cantik Miya terlihat bersinar oleh pantulan cahaya bulan, membuat Roni terpesona. Namun, ia hanya tersenyum sambil berkata pelan, “Sungguh indah dan cantik ya parasmu, begitu pula sifatmu yang lembut. Semoga suatu saat kamu bisa mendapatkan pasangan yang selalu membuatmu tersenyum agar kecantikan di wajahmu selalu terpancar.”

Roni menggendong Miya dengan hati-hati, lalu menyelimutinya di dalam tenda. Namun, ketika Roni hendak keluar untuk kembali ke tendanya, Miya tidak mau melepaskan tangannya dari lengan Roni.

Roni mencoba melepaskan genggaman Miya, tetapi Miya tetap memegang erat lengannya. Karena sudah merasa sangat mengantuk, Roni akhirnya memutuskan untuk berbaring dan tidur di samping Miya.

Pagi itu, kicauan burung terdengar merdu, diiringi suara ombak laut dan semilir angin pagi yang lembut di pantai indah itu. Belum ada di antara mereka yang bangun, kecuali Roni.

Roni tampak sibuk menangkap ikan dengan tombak sederhana yang ia buat dari ranting kayu seadanya. Sementara itu, Bobi dan Seli masih tertidur pulas di tenda, saling berpelukan tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh mereka.

Hari semakin siang, matahari mulai terasa menyengat tubuh Roni yang masih sibuk berburu ikan. Usahanya sejak pagi tidak sia-sia; ia berhasil mendapatkan cukup banyak ikan dari hasil tangkapannya.

“Sepertinya ini sudah cukup untuk sarapan bersama,” gumam Roni sambil berjalan menepi ke pantai.

Ia meletakkan ikan-ikan hasil buruannya, lalu mulai mencari ranting kayu untuk membuat api yang akan ia gunakan untuk memanggang ikan tersebut.

"Wah, dari mana kau mendapatkan begitu banyak ikan?" tanya Bobi, yang baru saja bangun dan melihat Roni sedang menyalakan api.

“Di laut dong, masa aku pergi ke pasar buat beli?” jawab Roni sambil bercanda.

“Pandai juga kau menangkapnya, banyak lagi,” puji Bobi.

“Ya, lumayanlah. Tadi aku sambil mandi sekalian berburu,” jelas Roni.

“Maaf, aku bangun kesiangan, jadi tidak bisa membantumu,” ucap Bobi sambil duduk di samping Roni untuk membantu memanggang ikan hasil tangkapannya.

“Di mana Miya? Apa dia masih tidur?” tanya Bobi, karena belum melihat adiknya.

“Ya, sepertinya begitu. Kami tidur terlalu larut tadi malam. Kami bercerita panjang lebar,” jawab Roni.

“Semenjak bersamamu, Miya banyak bicara sekarang. Tidak seperti sebelumnya. Dia itu pendiam dan selalu dingin. Sepertinya sekarang dia sudah menemukan teman untuk berbagi cerita,” ujar Bobi sambil menepuk pundak Roni sebagai tanda terima kasih karena berkat Roni, Miya kembali ceria.

“Kalau boleh tahu, kenapa Miya menjadi pendiam? Apa dia memang seperti itu sejak kecil?” tanya Roni dengan rasa penasaran, mengingat saat pertama bertemu Miya, gadis itu begitu pendiam dan sering menunduk sambil memainkan jarinya.

“Tidak. Dulu dia sangat ceria. Tapi sejak kami pindah ke kota, dia selalu murung dan tidak banyak bergaul. Banyak yang ingin mendekatinya, tapi aku selalu melarang mereka. Aku tidak suka dengan pria-pria yang hanya ingin memanfaatkan adikku yang pendiam. Miya itu adik perempuan satu-satunya, jadi aku harus mengenal siapa pun yang menjadi temannya. Apalagi dia masih polos dan belum mengerti kehidupan kota, walaupun kami sudah lama tinggal di sana,” jelas Bobi, memberi tahu tentang kepribadian Miya.

“Lalu, kenapa kamu begitu cepat percaya padaku untuk bisa menemaninya? Padahal, kamu belum tahu sepenuhnya siapa aku,” tanya Roni.

“Aku melihatmu sejak pertama bertemu. Kau sepertinya cocok menjadi temannya. Aku akui, kau memang tampan. Tapi bukan hanya itu, kepribadianmu yang apa adanya membuatku percaya bahwa kau pemuda baik yang bisa menjaga adikku. Aku hanya minta satu hal—buat Miya seperti hidup kembali. Aku dan orang tuaku sudah berkali-kali mencoba membuatnya seperti dulu, tapi kami selalu gagal,” kata Bobi dengan penuh harapan.

Mendengar itu, Roni tidak tahu harus berkata apa. Maksud Bobi masih belum sepenuhnya ia pahami, terutama saat Bobi memintanya untuk selalu menemani Miya.

“Tenang saja, kita akan menjadi sahabat yang baik. Aku justru senang kalian mau menerimaku sebagai sahabat, walaupun aku ini orang miskin,” ucap Roni dengan tulus.

“Sudahlah, kita tidak usah membahas itu lagi. Roni, aku ada pekerjaan untukmu. Apakah kamu mau?” tanya Bobi, mengalihkan pembicaraan, karena ia tahu Roni pasti membutuhkan pekerjaan untuk biaya kuliahnya.

“Boleh, kebetulan sekali aku sangat butuh. Tapi kerja apa itu? Apa saja asal halal,” jawab Roni penuh semangat.

“Nah, kebetulan. Kamu kan pintar di bidang persawahan. Jadi, aku ada pekerjaan untukmu. Untuk sementara, kamu bekerja di gudang ayahku dulu. Tugasnya mengelola penyimpanan hasil panen sawah kami. Bisnis papa sedang berkembang pesat, dan kami memutuskan menambah satu orang lagi di bagian gudang. Kamu sementara di situ dulu, bagaimana?” jelas Bobi.

“Wah, tentu saja saya mau! Kapan saya mulai bekerja?” tanya Roni dengan antusias.

“Nanti saya kabari. Saya harus memberi tahu papa dulu. Kalau kamu sudah siap, tinggal tunggu kabar dariku,” kata Bobi.

“Baiklah.”

Tidak lama kemudian, Miya dan Seli keluar dari tenda. Melihat Seli keluar, Bobi segera menghampirinya dan mengambilkan selendang untuk menutupi lehernya yang terdapat bekas tanda merah akibat perbuatan mereka semalam.

“Tunggu sebentar, ini pakai selendang. Tutupi lehermu,” pinta Bobi. Seli pun langsung mengerti dan menerima selendang itu, lalu memakainya.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 16. Keinginan Jack.

    Keesokan paginya, saat Miya pulang, Roni melihat sebuah bingkisan di kursi depan kamarnya."Siapa yang menaruh ini di sini?" gumam Roni bertanya-tanya.Ia membuka bingkisan itu dan mendapati isinya adalah nasi kotak."Wah, makanan! Pasti Bayu yang menaruh ini," pikirnya.Roni berjalan menuju kamar Bayu dan mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia melirik jam tangannya dan terkejut."Astaga, ternyata sudah jam 10 pagi! Mungkin Bayu sudah pergi bekerja," ujarnya sambil berbalik arah.Setelah mandi, Roni memutuskan pergi ke gudang. Karena kuliahnya baru dimulai sore nanti, ia memilih ke sana daripada hanya berdiam diri di kos tanpa pekerjaan.Saat Miya pulang ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di sofa. Begitu ia masuk, ayahnya langsung bertanya, "Miya, kamu ke mana saja? Bapak sudah beberapa kali menghubungimu, tapi tidak ada jawaban."Miya tersenyum dan menjawab santai, "Semalam ada acara bersama teman, jadi aku tidak sempat melihat ponsel, Pak."Ayahnya menghela napas

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 15. Aku Sangat Menikmatinya.

    Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah satu tahun Roni berada di kota. Sekarang, banyak perubahan yang telah terjadi. Roni kini telah dipercaya oleh Bapak Bobi untuk membantunya dalam mengelola usaha. Bahkan, ia telah diberikan tanggung jawab besar untuk memegang kendali gudang besar milik keluarga Bob. Namun, semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Sebelum memperoleh kepercayaan sebesar itu, Roni harus menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, mulai dari pekerja yang iri hingga ancaman pembunuhan. Meski begitu, dengan ketabahan dan kejujurannya, Roni berhasil melewati semuanya.Sementara itu, di kampus, Jack semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia berusaha untuk menguasai kampus dengan sering membuat keributan dan masalah. Geng motornya pun semakin menjadi-jadi di jalanan, terutama setelah Bobi dan kelompoknya telah lulus dari kampus tersebut.Namun, meskipun begitu, Roni tidak pernah takut kepada Jack dan gengnya. Bahkan, beberapa kali Jack mengirim anak buahnya untuk mengga

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 14.Berhubungan Di Dalam Kamar Mandi Kampus.

    Tok... tok... suara pintu kamar Roni diketuk dari luar. Awalnya, Roni tidak menyahut sebab dia memang sudah terlalu lelah. Namun, karena suara ketukan itu semakin keras, akhirnya Roni bangun."Siapa ya yang mengetuk pintu tengah malam begini? Apa Bayu ya? Sepertinya dia sudah pulang bekerja, tapi kenapa malah membangunkanku pula..." pikir Roni. Dia mengira kalau itu adalah Bayu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.Saat pintu dibuka, bukan Bayu yang ia lihat, melainkan Mbak Maya yang berdiri sambil menatapnya. Sontak, Roni sedikit terkejut hingga mundur ke belakang. Wajahnya masih terlihat mengantuk karena tidurnya begitu pulas, sehingga ia benar-benar terganggu."Kenapa kau malah terkejut seperti itu, seolah-olah aku ini hantu?" ujar Mbak Maya dengan nada sedikit kesal."Bukan seperti itu, Mbak. Astaga, maaf. Tak kira tadi Bayu, eh pas aku buka ternyata Mbak, jadi aku terkejut dong," ucap Roni mencoba menjelaskan agar Mbak Maya tidak salah paham.Mbak Maya menoleh ke kiri dan

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 13. Siapakah Pria Yang Mbak Cintai?.

    Sesampainya di rumah, Roni langsung berjalan ke arah meja, menaruh tas selempangnya, dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru saja membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh Mbak Maya yang keluar dari sana hanya mengenakan handuk.Mbak Maya yang melihat pakaian Roni begitu kotor langsung bertanya, "Kenapa kamu begitu kotor, seperti anak sekolah dasar yang baru pulang main saja?" tanyanya, karena kondisi Roni memang benar-benar kotor dan bau telur busuk."Tadi ada sedikit kejutan saja," jawab Roni sambil tersenyum dan melewati Mbak Maya untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Namun, Mbak Maya justru mengikutinya kembali ke dalam kamar mandi sambil melepas handuknya."Mbak, kenapa masuk lagi? Aku mau mandi, Mbak," tanya Roni, terkejut melihat Mbak Maya yang mengikutinya masuk."Sini, lepas semua pakaianmu. Aku akan mencucinya. Astaga baunya," kata Mbak Maya sambil meraih pakaian Roni yang dia pegang, menunggu Roni melepas celananya. Setelah itu, Mbak Maya mulai mencuci

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 12. Surat Untuk Ayu.

    Suara kicauan burung terdengar begitu indah di pagi hari, diikuti oleh suara siulan yang dimainkan oleh Roni yang sedang asyik di dalam kamar mandi. Pagi ini, dia mengawali hari dengan keceriaan karena sudah bertekad untuk terus semangat mengejar mimpinya.Setelah selesai mandi, dia sarapan, lalu berangkat ke kampusnya. Sementara itu, Mbak Maya masih tertidur pulas karena permainan panas yang dilakukan Roni tadi malam, membuatnya begitu kelelahan.Seperti biasanya, Roni berjalan kaki dengan tas selempang yang selalu ia bawa saat ke kampus. Dalam perjalanan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, termasuk teman-temannya di jalan. Kadang, dengan keisengannya, Roni melempar batu kecil ke arah dahi salah satu temannya, lalu berlari dikejar. Bukannya panik, Roni justru tertawa sambil mengejek mereka. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Roni selalu ngos-ngosan saat sampai di gerbang kampusnya. Di atas gapura kampus, tertulis: Universitas Bina Bangsa."Akhirnya sampai juga," gumamnya sam

  • Ah! Mantap Sekali Mbak   Bab 11. Aku Akan Selalu Ada Untukmu Roni

    "Ayu, setiap hari dan malam kamu selalu melamun. Sejak kepergian pria miskin itu, kamu terus seperti ini. Apa istimewanya dia sampai-sampai kamu seperti ini terus?" ujar Tuan Hasan, ayah Ayu, mencoba membuka pembicaraan dengan putrinya.Setelah kepergian Roni, Ayu memang selalu terlihat melamun, tenggelam dalam pikirannya. Apalagi, Roni sama sekali tidak pernah mengirim kabar sejak pertama kali pergi."Papa tidak mengerti apa yang aku rasakan. Papa hanya melihat Roni dari sisi buruknya saja," balas Ayu sambil menatap ayahnya dengan penuh penyesalan."Bagaimana bapakmu ini tidak berpikir seperti itu? Lihat saja, dia pergi begitu saja dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Pokoknya, besok kamu harus bersiap-siap. Reza dan ayahnya akan datang ke rumah untuk melamarmu," ungkap Tuan Hasan tegas, memberitahu bahwa Reza, anak seorang pengusaha kaya sekaligus juragan ternama di desa, akan melamar Ayu esok pagi."Papa, Ayu tidak mau menikah! Apa pun yang terjadi, Ayu akan tetap setia ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status