INICIAR SESIÓN"maaf meli, maksudmu kamu mau pergi kemana, dan kemana aku akan membawamu pergi, sementara aku sendiri tidak tahu dari mana asalku, aku hanya ingat aku terbangun di dalam gubuk rumahmu, begini saja, kau tidak usah pergi, lagipula tempat ini adalah rumahmu, aku akan berusaha membantumu untuk bisa melawan kebodohan taka, jadi kau tidak usah pergi,"ujar roni."Tapi kau akan membantu kami seperti apa, taka sangat kuat, banyak dukungan dari anggota suku, sementara kamu hanya orang luar, itu hanya akan membahayakan nyawamu," ucap meli, dia tidak ingin roni bertindak komyol."Percaya lah padaku, aku sendiri tidak takut dengan mereka, di dalam hatiku, aku sendiri merasa kalo aku itu sangat bersimpati dengan orang baik sepertimu, lagipula kamu dan ayahmu telah menolongku selama ini, iya walaupun aku tak tahu kapan aku bisa mengingat siapa diriku, setidaknya aku bisa membalas budi kebaikan kalian, soal taka aku akan membantu ayahmu melawannya dan mengembalikan keharmonisan di dalam suku kalian,
"Hai.." sapa Meli."Hai..." balas Roni sambil menoleh sebentar."Bagaimana kondisimu?" tanya Meli, yang melihat Roni sekarang lebih membaik dari hari sebelumnya, di mana Roni dua hari belakangan ini malah ikut berburu bersama mereka walaupun dia belum sepenuhnya pulih."Iya, lebih baik dari hari-hari sebelumnya," jawab Roni."Oh ya, kok pemburuan hari ini berbeda dari hari sebelumnya, aku lihat sepertinya semua orang ikut berburu kali ini?" tanya Roni."Iya, karena malam ini akan diadakan pesta kawin," jawab Meli sambil menundukkan kepala."Pesta kawin? Maksudmu, ee... apa ada yang bakalan menikah?" tanya Roni semakin penasaran, karena dia tidak tahu apa yang dimaksud pesta kawin."Bukan. Kau akan tahu nanti malam. Pesta ini diadakan beberapa waktu lalu, sebelumnya ini tidak pernah diadakan, dan ini bukan ayahku yang menyarankan soal ini," jawab Meli lagi."Bukan ayahmu? Lalu siapa? Memangnya ya, ada apa dengan musim kawin?" Roni semakin penasaran."Kau akan tahu semuanya nanti malam.
Keesokan harinya Roni pun siuman, pandangan matanya terasa begitu gelap dan kepalanya terasa begitu pusing, begitu pun dengan tubuhnya yang terasa berat dia gerakkan.Di sampingnya duduk seorang wanita muda dan cantik. Terlihat dari tadi dia terus menunggu Roni untuk tersadar kembali."Ah..." rintih Roni saat mencoba menggerakkan tubuhnya. Wanita itu segera membantu dan melarang Roni untuk terlalu banyak bergerak."Tolong kondisikan tubuhmu, saat ini tubuhmu terluka parah jadi kau tidak bisa terlalu banyak bergerak," kata wanita itu."Kau siapa, dan aku di mana?" tanya Roni saat melihat ternyata ada orang lain di sekitarnya."Kenalin, namaku Meli. Aku menemukanmu di tengah hutan dalam keadaan tak sadarkan diri. Kalau boleh tahu, kau dari mana dan siapa kamu?" jawab wanita itu sambil bertanya balik.Mendengar pertanyaan itu, Roni malah bingung mau menjawab apa. Iya, dia lupa semuanya. Jangankan asalnya dan ke apa dia ada di sini, namanya dan siapa dirinya pun Roni tak ingat."Aku tidak
“Bara, sialan! Pelan-pelan sedikit, sakit, Bara…” rintih Lola, karena Bara terlihat begitu bersemangat sekali.“Ada apa, Sayang? Kan biasanya kita juga melakukannya seperti ini. Aku menikmatimu, Sayang…” bisik Bara sambil semakin mempercepat gerakannya.“Bara… aku sedang hamil. Kata dokter aku nggak boleh terlalu lelah…” ujar Lola memberi tahu.Mendengar itu, Bara langsung saja berhenti bergerak.“Apa kamu hamil? Serius, kan?” tanya Bara, ingin memastikan apa yang barusan dia dengar, karena tentu saja dia sangat gembira mendengar kabar kehamilan anak pertamanya dari Lola.“Aku seriuslah, masa bohong? Kemarin aku periksa ke dokter setelah merasa nggak enak badan, dan ternyata aku hamil, baru dua minggu,” jelas Lola.“Astaga, aku senang sekali, Sayang! Akhirnya aku akan menjadi seorang bapak beneran,” katanya, sebab sebelumnya dia hanya menjadi seorang bapak angkat untuk Sera.“Bara, ada yang lebih penting dari ini,” kata Lola.“Apa itu, Sayang? Ayo katakan, apa itu?” tanya Bara tidak s
"Ali… malam ini aku tidak pulang, katakan pada Papa kalau beliau mencariku, bilang saja aku menginap di rumah teman. Oke?" ujar Xyro lewat panggilan telepon untuk memberitahu Ali kalau malam ini dia tidak pulang."Kamu gak pulang kenapa? Katakan, kamu di mana?" tanya Ali."Aku sedang ada urusan. Ini soal Maria. Aku harus menyelesaikan ini. Kamu pasti tahu maksudku, kan?" jawab Xyro."Hemm... baiklah. Tapi kamu baik-baik saja, kan?""Iya, aku baik-baik saja. Pokoknya kamu bilang sama Papa kalau aku menginap di rumah teman jika Papa mencariku," ulang Xyro."Oke, baiklah."Sementara itu, Maria terlihat kesal dan marah penuh emosi karena Xyro telah mengingkari janjinya untuk hadir. Padahal, dia sudah berjanji akan datang. Maria juga tadi sempat dimarahi oleh Papanya karena Xyro."Awas saja, Xyro! Kali ini aku melihatmu, akan kucincang kamu, ya! Bisa-bisanya kamu gak datang di pertemuan penting seperti itu, padahal kamu sudah janji untuk menaati peraturan yang sudah kita sepakati!" kata Ma
Ali dan James pun akhirnya diadu satu lawan satu di atas ring yang ada di sana. Roni mengedipkan mata ke arah putranya, Ali, yang terus menatapnya dari tadi."Om, kenapa om lakukan ini? Kalau Ali kenapa-kenapa gimana?" tanya Sasa dengan suara berbisik."Tenang saja, cantik. Jika Ali kalah, itu berarti dia belum cocok untukmu. Pria lemah tidak cocok bagi perempuan cantik sepertimu," balas Roni sambil mengedipkan mata."Tapi, om...""Sudah, tidak mengapa. Kamu tonton saja, Ali tidak apa-apa. Ada papanya juga di sini, apa yang perlu dikhawatirkan," kata Roni menyakinkan Sasa agar jangan terlalu khawatir.Sementara itu, Xyro berdiri sengaja lebih jauh dari sana agar tak terlihat oleh papanya, sembari matanya kesana-kemari memastikan Maria tidak melihatnya."Oya, apa kalian tidak mengajak Xyro?" tanya Roni kepada Sasa."Ee... tadi dia di sini, sempat membantu Ali, tapi entah dia ke mana sekarang," jawab Sasa yang tidak melihat Xyro sedang bersembunyi dari papanya.Di dalam pertarungan anta







