Beranda / Romansa / Ah! Perih Om / Bab 3 Pengumuman

Share

Bab 3 Pengumuman

Penulis: Goresan Hara
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 13:14:55

Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.

Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.

Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.

Melainkan matanya.

Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian.

"Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya.

"Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat kontras dengan ketenangan putranya. "Reyhan, Nak. Ayo duduk. Kenalkan, ini Pak Ardani dan Bu Ardani. Dan ini—" matanya beralih ke Mecca dengan senyum yang maknanya terlalu dalam "putri mereka. Mecca."

Reyhan menoleh ke arahnya. Tatapan mereka bertemu.

Mecca tak tahu apa yang ia harapkan mungkin seorang pria tua berperut buncit dengan senyum berlebihan yang bikin mual. Mungkin tipe bapak-bapak yang berusaha terlihat muda pakai jaket kulit dan kacamata hitam. Siapa pun yang bisa ia tolak tanpa ragu sedetik pun.

Tapi pria yang berdiri di depannya ini bukan semua itu.

Dan sepersekian detik hanya sepersekian detik, yang akan Mecca sangkal mati otaknya sempat lupa cara menyusun kata.

"Salam kenal," kata Reyhan. Nadanya datar. Tak tersenyum. Tak berusaha mengesankan siapa pun. Dia hanya duduk di kursi kosong itu kursi yang persis berhadapan dengan Mecca seolah kursi itu memang miliknya sejak dulu.

Mecca mengerjap. Menelan ludah. Lalu menegakkan punggung.

Nggak. Jangan bodoh, Mecca.

"Salam kenal juga," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap datar. Dia tak tersenyum.

• • •

Makan malam dimulai. Percakapan mengalir di antara orang-orang dewasa di meja itu, dengan topik yang sudah terlalu akrab bagi Mecca: bisnis, investasi, proyek baru, kerja sama. Ternyata Papa dan Om Farhan sudah saling kenal bertahun-tahun — rekan bisnis yang hubungannya lebih dari sekadar urusan kerja. Tante Shinta dan Mama tertawa membahas arisan dan rencana liburan keluarga.

Mecca mendengarkan sambil mengunyah. Matanya sesekali melirik Reyhan, yang makan dengan tenang dan nyaris tak bicara kecuali ditanya langsung. Jawabannya singkat, padat tak sombong, tapi juga tak berusaha ramah.

Dingin, pikir Mecca. Atau mungkin sombong. Atau cuma membosankan.

Tapi di balik penilaian itu, ada sesuatu yang mengganjal: sejak sapaan pertama, Reyhan tak menatapnya lagi. Seolah kehadirannya di sini tak lebih penting daripada lilin-lilin kecil di atas meja.

Mecca tak terbiasa diabaikan.

• • •

"Nah," Papa berdeham setelah hidangan penutup datang. Suaranya berubah lebih resmi, lebih hati-hati seperti orang yang membuka amplop yang isinya sudah dihafal, tapi tetap bikin gugup. "Mecca, Sayang. Ada hal yang ingin Papa dan Mama bicarakan."

Mecca meletakkan sendoknya perlahan.

"Keluarga kita dan keluarga Om Farhan sudah lama saling kenal," lanjut Papa. "Dan kami sudah banyak berdiskusi. Tentang masa depan. Tentang kamu."

Setiap kata yang keluar dari mulut papanya terasa seperti paku yang dipukulkan satu per satu ke tembok pertahanan yang ia bangun selama ini.

"Kami sepakat," Papa tersenyum, melirik Om Farhan yang mengangguk, "bahwa akan sangat baik kalau kamu dan Reyhan… berkenalan lebih dekat. Dengan tujuan yang serius."

Hening.

Mecca mendengar detak jantungnya sendiri.

"Tujuan yang serius," ulangnya pelan. Suaranya tenang, padahal di dadanya sedang mengamuk. "Maksud Papa… dijodohkan?"

"Bukan dijodohkan, Sayang," Mama menyahut cepat, senyumnya dipaksakan lembut. "Diperkenalkan. Dengan harapan—"

"Dijodohkan." Mecca memotong. Bukan tanya. Pernyataan.

Ia menoleh ke Reyhan.

Pria itu duduk tenang. Wajahnya tak menampakkan apa pun tak kaget, tak senang, tak keberatan. Seolah dia sudah tahu sejak awal. Seolah ini bukan kejutan baginya.

Dan itu yang bikin Mecca marah.

"Berapa umurmu?" tanyanya langsung. Suaranya tajam, membelah suasana sopan yang tadi terjaga.

"Mecca—" tegur Mama pelan tapi tegas.

"Tiga puluh tiga," jawab Reyhan. Tanpa ragu. Tanpa terpengaruh.

"Tiga puluh tiga." Mecca membiarkan angka itu menggantung. "Aku sembilan belas. Kamu empat belas tahun lebih tua. Empat belas tahun, Pa."

"Usia bukan segalanya, Mecca—" Papa mulai.

"Pa." Mecca menatapnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, tapi rahangnya kaku tatapan orang yang menolak menangis di depan siapa pun. "Aku masih kuliah. Baru semester tiga. Belum tahu mau kerja apa setelah lulus. Dan Papa mau menikahkan aku dengan—" ia menoleh lagi ke Reyhan " dengan Om-om?"

Kata itu meledak di ruangan seperti tamparan.

Tante Shinta menarik napas tajam. Om Farhan berdeham tak nyaman. Mama memejamkan mata sejenak.

Bagaimana dengan Reyhan?

Dia sedikit mengangkat sudut bibirnya. Hampir tak terlihat. Bukan senyum lebih seperti mengakui bahwa dia memang sudah menduga ini terjadi.

"Mecca, jaga bicaramu!" bisik Mama tajam.

"Justru aku sedang menjaga diriku, Ma." Mecca mendorong kursi ke belakang dan berdiri. Serbet jatuh dari pangkuannya ke lantai marmer. "Aku nggak mau dijodohkan. Sama siapa pun. Apalagi sama orang yang umurnya bisa jadi kakakku atau malah pamanku."

"Mecca Ardani, duduk." Suara Papa rendah dan tegas.

Mecca tak duduk. Tangannya gemetar di sisi tubuh, tapi ia tetap berdiri karena duduk berarti menyerah, dan Mecca Ardani tak pernah menyerah.

"Maaf, Om. Tante." Suaranya lebih tenang sekarang, tapi ada lapisan dingin yang tipis dan tajam. "Saya yakin putra Bapak dan Ibu orang baik. Tapi saya tidak bisa menerima ini. Permisi."

Ia berjalan keluar ruangan. Punggung tegak. Langkah mantap. Tak setetes pun air mata jatuh setidaknya sampai ia menutup pintu kamar lamanya di lantai dua dan menenggelamkan wajah ke bantal yang masih berbau deterjen rumah.

• • •

Di bawah, keheningan yang ditinggalkan Mecca terasa seperti luka yang terbuka.

"Maafkan anak saya," kata Mama, suaranya bergetar. "Dia memang—"

"Keras kepala?" Reyhan menyelesaikan kalimat itu.

Semua mata tertuju padanya.

Dia meraih gelas, meminumnya perlahan, lalu meletakkannya kembali di meja.

"Tidak apa-apa," ucapnya. "Saya justru akan lebih khawatir kalau dia langsung setuju."

Om Farhan mengangkat alis. Tante Shinta memiringkan kepala. Papa dan Mama saling berpandangan.

Tak ada yang benar-benar menangkap makna di balik kata-kata itu. Tapi kalau ada yang jeli kalau ada yang memperhatikan caranya menatap pintu tempat Mecca menghilang mungkin akan melihat sesuatu yang bahkan Reyhan sendiri belum siap akui.

• • •

Di lantai dua, jari Mecca masih gemetar saat mengetik pesan ke Naya:

Mecca: Gue dijodohin, Nay. Sama cowok umur 33. Beneran kayak Om-om. Gue rasanya mau lenyap.

Balasan datang seketika:

Naya: APA SIHHH—

Naya: TAPI CANTIK/CAKEP NGGAK??

Mecca menatap layar. Jarinya menggantung di atas papan ketik.

Ia ingat matanya. Gelap. Tenang. Dingin.

Ia sempat mengetik: "Bukan soal itu, Nay."

Lalu menghapusnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Perih Om   Bab 7: Strategi Penolakan

    Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala

  • Ah! Perih Om   Bab 6: Kesan Pertama

    Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan

  • Ah! Perih Om   Bab 5: Pertemuan Pertama

    Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma

  • Ah! Perih Om   Bab 4 siapa Dia?

    Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada

  • Ah! Perih Om   Bab 3 Pengumuman

    Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko

  • Ah! Perih Om   Bab 2 Makan Malam Keluarga

    Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status