MasukMecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala
Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan
Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma
Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada
Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko
Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a







