Beranda / Romansa / Ah! Perih Om / Bab 4 siapa Dia?

Share

Bab 4 siapa Dia?

Penulis: Goresan Hara
last update Tanggal publikasi: 2026-09-18 04:38:30

Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.

Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.

Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.

Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.

Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.

Tak ada satu pun dari Reyhan.

Tentu saja tak ada. Mereka bahkan tak saling bertukar nomor. Dan kenapa pula dia harus memeriksanya?

Dia menggelengkan kepala keras-keras. Sopir taksi melirik lewat kaca spion, tapi tak berkata apa-apa.

• • •

Sesampainya di apartemen, Mecca langsung mandi air dingin cukup lama, sejuk yang menyentuh kulit seolah bisa membilas habis semua yang terjadi semalam. Lalu dia duduk di meja kerjanya, membuka laptop, dan melakukan hal yang paling tak ingin dia akui: mencari tahu siapa pria yang seharusnya dinikahkan dengannya.

Dia mengetik: Reyhan Pradipta.

Tekan Enter.

Internet menjawab dalam sekejap. Dan apa yang dia baca membuatnya rasanya ingin melempar laptop itu ke dinding.

• • •

Reyhan Pradipta. Tiga puluh tiga tahun. Direktur Utama Pradipta Property Group perusahaan pengembang yang proyeknya tersebar di mana-mana: gedung apartemen mewah di Sudirman, pusat perbelanjaan baru di BSD, perumahan elit di Sentul, dan sebuah resor yang sedang dibangun di Labuan Bajo.

Tujuh tahun lalu, Forbes Indonesia memasukkannya ke daftar tokoh muda berpengaruh. Kini dia sudah melampaui daftar itu masuk ke lingkaran orang-orang yang tak perlu lagi membuktikan apa-apa kepada siapa pun.

Mecca menelan ludah.

Foto-foto yang muncul menunjukkan pria yang sama yang duduk berhadapan dengannya semalam, tapi dalam dunia yang jauh berbeda. Reyhan di atas panggung acara bisnis, kemeja berwarna gelap, wajahnya tenang dan serius. Reyhan bersalaman dengan pejabat tinggi saat peresmian gedung. Reyhan di sampul majalah, dengan tulisan besar: "Pewaris yang Membangun Kerajaannya Sendiri."

Di setiap foto, ekspresinya sama: tenang, terkendali, dan agak menjaga jarak seolah ada dinding tipis yang memisahkannya dari semua orang di sekitarnya.

"Pewaris yang membangun kerajaannya sendiri," gumam Mecca, suaranya terdengar sinis. "Berlebihan sekali."

Tapi jarinya tetap menggeser layar ke bawah.

Di sana tertulis: lulusan program magister manajemen bisnis dari universitas luar negeri. Kariernya dimulai bukan di perusahaan milik ayahnya, melainkan di kantor konsultan asing dia membangun namanya sendiri sebelum akhirnya kembali memimpin bisnis keluarga.

Akun media sosialnya tertutup. Pengikutnya puluhan ribu, tapi dia hanya mengikuti dua ratus orang lebih sedikit. Foto profilnya hitam putih, menampilkan sisi wajahnya rahang tegas, tak tersenyum.

"Puluhan ribu pengikut lalu dikunci juga," cibir Mecca. "Bermisterius-misteriusan."

Dia sempat menekan tombol ikuti, lalu seketika membatalkannya, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja tertangkap melakukan sesuatu yang salah.

"Nggak, nggak, nggak. Buat apa sih gue ikuti dia. Gila ya."

Mecca menutup halaman itu dan kembali ke hasil pencarian. Membaca lebih jauh. Satu artikel demi satu artikel. Wawancara demi wawancara.

Yang sebenarnya dia cari walau tak mau diakui adalah celah. Kekurangan. Sesuatu yang kurang baik. Apa pun yang bisa membuktikan bahwa Reyhan Pradipta bukan orang yang tepat untuknya.

Tapi yang dia temukan justru sebaliknya.

Tak ada berita buruk. Tak ada skandal. Tak ada cerita yang meragukan. Beberapa kali namanya pernah disebut bersama tokoh publik, tapi semuanya dibantah dan tak pernah dibahas lagi.

"Bersih sekali," gumamnya pelan, dahinya berkerut. "Mustahil kan seorang pemimpin perusahaan seumur dia tak punya satu catatan buruk. Pasti ada yang ditutupi."

Satu artikel menarik perhatiannya wawancara di majalah gaya hidup, dua tahun lalu. Judulnya: "Reyhan Pradipta: Kesuksesan Bukan Tujuan, Melalui Konsekuensi."

Mecca mendengus. "Konsekuensi. Orang kaya memang bahasanya beda ya."

Tapi dia tetap membacanya sampai habis.

Di antara jawaban-jawaban yang tertata rapi, ada satu pertanyaan yang membuatnya berhenti:

Pewawancara: "Apa yang Anda cari dalam pasangan hidup?"

Reyhan: "Seseorang yang berani mengatakan apa yang benar. Meski kebenaran itu menyakitkan. Terutama saat menyakitkan."

Mecca menatap kalimat itu cukup lama.

Dia teringat semalam bagaimana dia berdiri di depan semua orang, meledak, menyebutnya 'Om-om' tanpa ragu. Kata-kata yang jujur, kasar, tak dibungkus apa-apa.

Dan dia teringat jawaban Reyhan sesudahnya: "Saya justru akan lebih khawatir kalau dia langsung setuju."

Sesuatu bergerak di dadanya bukan kemarahan, bukan kebencian. Sesuatu yang lebih rumit, lebih mengganggu, dan lebih sulit diberi nama.

Mecca menutup laptopnya agak keras.

"Cukup," katanya pada diri sendiri. "Lo cuma cari alasan buat nolak dia. Dan sudah cukup. Dia terlalu tua. Dia orang lain. Dunianya beda. Selesai."

Tapi kata-kata itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Naya:

Naya: Mec, lo udah cari tahu belum? Gue udah! Gila, Reyhan Pradipta! Lo sadar nggak siapa dia sebenarnya??

Disertai tiga gambar: foto di majalah, riwayat pekerjaannya, dan satu foto saat dia menghadiri acara bisnis.

Naya: Mec, ini bukan Om-om. Ini pemimpin perusahaan yang tampan banget! Lo sadar nggak sih??

Mecca membalas dengan kesal:

Mecca: Nay. Gue. Nggak. Peduli. Dia lebih tua. Bukan tipe gue. Dan gue nggak mau dijodohkan. Titik.

Naya: Iya iya. Tapi cakep kan?

Mecca: NAYA.

Naya: Oke oke. Tapi serius, Mec — apa rencanamu? Sudah bicara sama Papa Mama?

Mecca menatap pertanyaan itu cukup lama.

Mau bagaimana? Dia ingin menolak. Tentu saja menolak. Semalam dia sudah menolaknya. Tapi dia tahu, kemarahan semalam belum cukup mengakhiri semuanya. Orang tuanya tak akan berhenti begitu saja. Keluarga Reyhan pun tak tampak seperti keluarga yang terbiasa menerima penolakan.

Dan Reyhan sendiri…

Mecca menggeleng. Berhenti memikirkannya.

Mecca: Gue akan bicara sama Papa. Tenang-tenang. Pakai alasan yang jelas. Kayak saat presentasi. Lo tahu sendiri, Papa paling mudah dipahami kalau pakai logika.

Naya: Semangat, pejuang anti-perjodohan!

Mecca meletakkan ponsel dan membuka laptop lagi kali ini untuk mengerjakan tugas kuliah, bukan mencari tahu tentang seseorang.

Tapi sebelum mulai bekerja, matanya kembali tertuju pada jendela yang belum ditutup foto profil Reyhan. Hitam putih. Sisi wajah. Garis rahang yang tegas.

Dia menutup halaman itu.

Lalu membukanya lagi.

Lalu menutupnya kembali.

"Mecca Ardani, ada apa sih sama kamu," desisnya, menutup laptop untuk terakhir kalinya pagi itu.

Pertanyaan itu tak punya jawaban yang nyaman. Karena jauh di lubuk hatinya, di tempat yang tak ingin dia akui, ada suara kecil yang berbisik Reyhan Pradipta bukan sekadar orang asing yang bisa dilupakan begitu saja.

Dan hal itulah lebih dari perjodohan, lebih dari tekanan keluarga yang paling membuatnya takut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Perih Om   Bab 7: Strategi Penolakan

    Mecca sama sekali tak bisa tidur.Bukan karena tak bisa tidur tubuhnya lelah, matanya pun berat. Tapi setiap kali ia memejam, yang muncul bukan kegelapan. Yang muncul justru tatapan tenang pria itu, saat duduk di kursi ruang tamu. Cara ia mendengarkan tiga halaman penjelasan Mecca tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Cara ia berkata pada Papa: "Saya justru lebih lega kalau dia tidak langsung setuju"—seolah penolakan Mecca bukan penghinaan, melainkan sesuatu yang justru menguatkan keyakinannya.Menguatkan apa, Mecca tak mau memikirkannya.Pukul dua dini hari, ia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu nakas, lalu mengambil buku catatan biru dari laci. Buku yang sama yang biasa ia pakai untuk menyusun rencana presentasi, menulis draf tugas, dan sesekali menumpahkan apa yang tak bisa ia sampaikan kepada siapa pun.Di halaman baru, ia menulis dengan huruf besar semua:MISI: BUAT DIA MUNDUR SENDIRIDigarisbawahi. Dua kali."Baiklah," gumamnya, sambil mengetukkan ujung pulpen ke dagu. "Kala

  • Ah! Perih Om   Bab 6: Kesan Pertama

    Reyhan tidak langsung pulang setelah pertemuan itu.Mobil Mercedes hitamnya yang tampak terlalu bersih untuk jalanan Jakarta meluncur pelan di Jalan Diponegoro, sementara Pak Budi, sopirnya, mengurai kemacetan dengan kesabaran yang sudah teruji delapan tahun lamanya.Di jok belakang, Reyhan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kulit. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tenang."Due diligence."Dua kata itu terus berputar di kepalanya, seperti lagu yang tak bisa dihentikan.Gadis itu Mecca, yang dua puluh satu tahun lebih muda darinya, mahasiswi semester tiga yang bahkan belum pernah menandatangani kontrak sungguhan baru saja menyebut apa yang dilakukannya itu sebagai due diligence.Bukan kepo. Bukan mengintai. Due diligence. Langkah yang memang biasa dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.Sudut bibir Reyhan sedikit terangkat.Dia sudah bertemu begitu banyak wanita. Di dunia properti, urusan bisnis sering kali bercampur dengan ajakan

  • Ah! Perih Om   Bab 5: Pertemuan Pertama

    Tiga hari berlalu sejak malam makan malam itu, dan Mecca sudah menyiapkan segalanya. Di meja belajar apartemennya, tiga halaman catatan rapi tersusun di samping laptop. Poin-poin argumen ditulis dengan spidol hitam, diberi nomor, diberi highlight kuning di bagian yang paling kuat. Dia bahkan sudah latihan bicara di depan cermin dua kali seperti mau presentasi di depan dosen penguji. "Pertama, perbedaan usia dua belas tahun secara statistik meningkatkan risiko ketidakcocokan nilai dan gaya hidup." Mecca membaca ulang catatannya, mengangguk puas. "Kedua, aku masih semester tiga dan belum memiliki kemandirian finansial. Menikah sekarang berarti menghentikan proses pertumbuhanku sebagai individu." Argumen ketiga yang menurutnya paling mematikan digaris bawahi dua kali: "Pernikahan berbasis perjodohan bisnis berpotensi menjadikan hubungan sebagai transaksi, bukan kemitraan." Sempurna. Logis. Tidak emosional. Papa tidak akan bisa menangkis ini. Ponselnya bergetar. Chat dari Ma

  • Ah! Perih Om   Bab 4 siapa Dia?

    Mecca tak tidur semalam. Bukan karena kasur di kamar lamanya tak nyaman justru sebaliknya. Kasur itu terlalu empuk, terlalu akrab, terlalu berbau masa kecil yang dulu terasa begitu aman. Dan keamanan itulah yang kini membuat pertahanannya runtuh.Dia menangis sampai bantal basah, marah sampai seluruh tubuhnya terasa pegal, lalu akhirnya diam saja, menatap langit-langit kamar yang masih ditempeli stiker bintang bercahaya yang dipasang Papa saat dia berumur delapan tahun.Bintang-bintang itu kini sudah tak menyala lagi.Pukul empat pagi, dia menyelinap keluar rumah tanpa pamit. Memesan taksi online di depan gerbang yang belum terkunci rapat; penjaga yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk pelan saat dia lewat. Di dalam mobil, Jakarta yang masih gelap terasa seperti sekutunya kota ini pun tak pernah benar-benar tidur.Ponselnya menyala. Dua puluh tiga pesan dari Naya yang dikirim semalam, belum sempat dibaca semuanya. Tiga panggilan tak terjawab dari Mama. Satu dari Papa.Tak ada

  • Ah! Perih Om   Bab 3 Pengumuman

    Pria itu masuk tanpa suara. Bukan karena langkahnya ringan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berat dan kokoh dalam cara dia melangkah, seolah gravitasi di ruangan ini ikut bergeser ke arahnya, tanpa perlu minta izin.Tinggi, kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, rambut hitam tersisir rapi ke belakang, tak sehelai pun berantakan. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan arloji perak di pergelangan tangan kirinya sederhana, tapi jelas bukan barang murahan.Hal pertama yang disadari Mecca bukan wajahnya.Melainkan matanya.Gelap. Tenang. Dan dingin jenis dingin yang bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama menahan segalanya sendirian."Maaf terlambat," ucapnya. Suaranya rendah, datar, tak ada penyesalan yang tulus. Dia mengangguk ke arah Om Farhan dan Tante Shinta, lalu ke Papa dan Mama Mecca sopan, terukur, persis seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya."Nah, ini dia!" Om Farhan berdiri dengan antusias, sangat ko

  • Ah! Perih Om   Bab 2 Makan Malam Keluarga

    Mecca baru mengangkat telepon ibunya menjelang sore, saat langit Jakarta mulai memerah jingga di balik deretan gedung pencakar langit. Bukan karena ia sudah siap, tapi karena panggilan itu sudah sampai tujuh kali, dan bahkan Mecca Ardani punya batas kesabaran untuk mengabaikannya.“Halo, Ma.”“Mecca Ardani.” Suara ibunya tegas bukan marah, melainkan jenis nada yang lebih berat: nada yang sudah memutuskan sesuatu. “Kamu pulang malam ini. Makan malam keluarga.”“Ma, aku ada tugas—”“Bukan permintaan, Mecca. Ini perintah.”Kalimat itu menggantung di udara sebentar. Mecca tahu betul sifat ibunya biasanya kehendaknya selalu dibungkus kelembutan, disampaikan dengan ajakan halus. Tapi sore ini? Tak ada pembungkus. Tak ada tawar-menawar.“Papa juga memintanya,” tambah ibunya, nadanya melembut seketika, seolah sadar nama itu punya bobot tersendiri bagi Mecca.Mecca menelan ludah. Papa. Ayahnya nyaris tak pernah ikut campur urusan begini. Kalau sampai Papa yang meminta…“Jam berapa?” tanyanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status