로그인Malam semakin larut.Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu samping tempat tidur.Di luar, kota sudah jauh lebih sunyi. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan lewat.Gennie berbaring di atas kasur, selimut ditarik sampai dada. Matanya tertutup, tapi ia belum benar-benar tidur.Gennie membuka mata pelan, menatap langit-langit. Lalu, ia perlahan menoleh ke samping, ke arah sofa.Darrel Wang terbaring di sana dengan punggung menghadap, diam tak bergerak.Namun Gennie tahu bahwa pria itu juga belum tertidur.Gennie menarik napas pelan dan memanggil, "Darrel."Suaranya pelan seperti berbisik, hampir tak terdengar jika pria itu benar-benar tidur.Tidak ada jawaban. Namun Gennie tahu pria itu mendengarnya, ia bertanya lagi. "Tidurmu di situ nyaman?"Hening sesaat sebelum Darrel Wang menjauh, "tidak masalah."Nada suaranya rendah dan tenang.“Kalau kamu gak nyaman… kamu bisa—” Gennie menggigit bibirnya pelan karena gugup, perkataannya tidak ia lanjutkan.Sua
Saat mobil benar-benar berhenti di depan hotel, hari sudah benar-benar terang.Gennie keluar dari mobil dan meregangkan tubuhnya sedikit.Keduanya bersamaan memasuki hotel, lantai marmer memantulkan langkah mereka. Suasananya tenang, hanya beberapa tamu yang terlihat.Darrel Wang berjalan menuju meja resepsionis, "reservasi atas nama Darrel Wang.”Petugas front office mengecek, lalu mengangguk, “baik, Pak. Satu kamar deluxe.”Kalimat itu jatuh begitu saja. Bagi Gennie, waktu seolah terhenti.Satu kamar? Ia menoleh perlahan, menatap Darrel Wang.Wajah pria itu ajaibnya tetap tenang, bahkan terlihat terlalu tenang.Seolah-olah semuanya sudah terencana.Ketika kunci diberikan, mereka berjalan menuju lift.Di dalam, Gennie menatap angka yang bergerak naik.Namun pikirannya tidak di sana."Kenapa hanya satu kamar?" Tanyanya pelan, tapi diam-diam tersirat nada kesal."Mn.""Kenapa?" Gennie tak dapat menahan hingga ia berbalik menatap kesal pria itu.Darrel Wang terdiam sesaat sebelum menjaw
"Tentang Jaya, kamu... yang mengaturnya?" Tanya Gennie hati-hati.Darrel Wang menjawab tanpa ragu, "itu saya, kenapa ada masalah?"Gennie cepat-cepat menjawab, "tidak, hanya saja...""Gennie, ini perusahaan saya, otoritas terbesar ada ditangan saya." Ucap Darrel Wang tegas, "bagaimana dengan pekerjaan?""Jauh lebih baik.""Karena tidak ada pengganggu?" Darrel Wang masih saja membahas pria genit itu.Sepertinya iya, sejak Jaya tidak ada setidaknya tidak ada yang mengganggu pekerjaannya."Terimakasih." Ucap Gennie tiba-tiba."Untuk apa?" Darrel Wang mengangkat alisnya."Keduanya, coklatnya dan... Jaya.""Sudah sepantasnya, orang seperti ini akan menganggu ritme kerja, tapi kinerjanya juga bagus lebih baik dilemparkan saja.""Aku tahu, terimakasih." Daripada si Jaya itu, Gennie lebih berterima kasih atas coklatnya."Baik, keluarlah, kembali bekerja." Namun, saat Gennie hendak menutup pintu ia mendengar suara Darrel Wang lagi. "Panggil Sekretaris Jav ke sini.""Baik."•••Ketukan pintu te
Sore itu, suasana kantor sedikit mencekam.Jaya tiba-tiba saja di panggil ke ruang HR.Kala itu Jaya sedang berada di mejanya, fokus pada pekerjaan. Ketika tiba-tiba saja staff HR menghampiri."Jaya," panggil HR, di tangannya ia membawa map, ekspresinya serius.Jaya menoleh, "iya?""Bisa ikut saya sebentar?" Jaya mengernyit, ia bertanya ragu, "sekarang?""Sekarang." Ucap HR tak memberikan pilihan lain.Jaya melirik ruang sebelah, tampaknya ia mengerti sesuatu, hingga akhirnya ia mengangguk. "Oke."Beberapa menit kemudian, di ruang HR.Jaya duduk di depan meja, terlihat santai dan masih tidak menyangka apa yang akan terjadi.“Ini terkait penempatan Anda.” Ucap staf HR sambil membuka map."Penempatan?" Tanya Jaya heran.“Kami memutuskan untuk memindahkan Anda ke kantor cabang di kota X."Jaya diam, ia tidak langsung bereaksi, seolah mempromosikan perkataan staff HR.“…Pindah?”"Mulai minggu depan," nada suara HR tetap profesional dan datar.Jaya menyandarkan punggungnya, matanya sedik
Beberapa menit kemudian, Gennie dipanggil masuk Darrel Wang ke ruangannya.Ia berdiri tegang di hadapan Darrel Wang. Tangannya diletakkan di belakang, seolah membunyikan sesuatu.Sedangkan Darrel Wang duduk di kursinya, menata dokumen membiarkan gadis itu menunggu sebentar."Duduk." Titahnya pada Gennie.Gennie duduk di depan meja, dengan tegak dan menunggu.Beberapa detik berlalu tidak ada yang berbicara hanya suara halus AC."Jam istirahat hanya satu jam." Akhirnya Darrel Wang mengeluarkan suaranya.Gennie mengangguk."Gunakan dengan baik." Nada suaranya datar tapi ada tekanan yang tak terlihat.Gennie mengernyit, "maksudnya?"Darrel Wang akhirnya mengangkat pandangannya, menatapnya langsung. "Tadi." Hanya satu kata tapi cukup jelas.Gennie langsung mengerti, "oh... maksudnya Jaya?" Nama itu keluar spontan.Kesalahan terbesar, Gennie kembali membangkitkan iblis yang tertidur.Tatapan Darrel Wang berubah, menatap tajam dan dalam. "Begitu cepat kenalnya." Sinisnya.Gennie menelan lud
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul dua belas siang.Suasana kantor sedikit lebih lambat, lebih santai.Beberapa karyawan mulai berdiri, merenggangkan tubuh, berjalan ke pantry atau keluar gedung untuk makan siang.Di meja sekretaris, Gennie akhirnya berhenti sejenak. Bersandar lelah di kursinya.Hari kedua, dan Gennie masih merasa berat. Namun tidak se-chaos kemarin.Sekertaris Jav berdiri dan menghampiri, "ayo makan siang.""Ke mana?" "Ambil jatah makan siangnya."Benar juga, perusahaan memberikan makan siang untuk karyawannya.Kemarin Gennie juga sudah merasakannya, dan ia rasa itu sesuai dengan seleranya, sangat cocok."Mau makan di meja atau di kantin?" Perusahaan memberikan pilihan, antara makanan katering atau makanan yang di masak dapur.Namun jika memilih masakan dapur perusahaan maka pasti akan makan di kantin."Makan di kantin saja, saya mau refreshing."Sekretaris Jav mengangguk, "baik, kalau gitu kantinnya ada di lantai dua, jika masih bingung tanyakan orang yang lewa
Chun Wang menatap punggung kedua generasi muda itu, mengetahui cucunya sudah menikah akhirnya ia tenang. Akhirnya anak itu punya rumahnya sendiri.Menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan sisa teh di cangkirnya mendingin secara perlahan. "Terkadang," bisiknya pada diri sendiri, "jawaban dari
Gennie dengan teliti memakai cheongsam merah, Darrel Wang memberinya untuk dipakai bertemu kakeknya.Cheongsam itu, memiliki kerah mandarin yang tinggi dan potongan yang melekuk pada tubuh rampingnya, terbuat dari sutra halus yang berkilauan di bawah cahaya lampu.Motif burung phoenix emas yang dis
Pagi hari, sebelum sarapan.Darrel Wang bangun dengan perasaan segar, berjalan ke kamar mandi.Ia berdiam diri di depan cermin sebelum dengan lihai merapihkan helaian rambutnya, di hari pertama menikah ia harus memberikan kesan yang baik pada istrinya.Biar Gennie tahu dengan jelas bagaimana tampan
Keluar dari kantor sipil, Gennie dengan linglung mengikuti Darrel Wang. Bahkan saat dalam perjalanan pulang pun ia masih kehilangan jiwanya."Silakan, buku nikahmu." Darrel Wang menyerahkan buku itu pada Gennie."Ah, oke, terimakasih." Gennie dengan linglung mengambil.Menatap buku nikah ditangann







