Share

Bab 3

Author: Ke Ke
last update publish date: 2025-11-29 21:18:21

Suara pisau yang menari di atas talenan terdengar dari arah dapur, ia mengiris daun bawang dengan hati-hati.

Memecahkan telur, ia mengaduknya di mangkuk dengan garpu. Memasukkan micin sesukanya lalu menambahkan daun bawang yang sudah terpotong kecil-kecil.

Menyalakan kompornya, Gennie mengambil semprotan minyak. Sambil bergaya ia menyemprotkan minyak itu, menambah sedikit garam dan menumisnya.

Memasukkan adonan telur dadarnya, dan meratakannya di atas wajan.

Sambil menunggu telurnya matang, Gennie membuat susu untuk dirinya. Dengan rasa tidak sabar, ia langsung saja menyesap susu itu meninggalkan bekas putih di bibirnya.

"Manisnya..." Gumamnya riang.

Setelah matang, Gennie dengan hati-hati menata di piring cantiknya. Lalu membawa sarapan itu ke ruang tamu.

Agar tidak terlalu sepi ia menyalakan televisi, memangku piring itu, Gennie mencicipi tapi lidahnya baru saja merasakan telur dadar ketika Gennie dengan panik meraih susunya.

Lega, ia terbebas dari rasa yang tidak bisa dijelaskan. Terlalu asin sampai-sampai ia ingin minum kolam air susu.

Tampaknya, walaupun ia sudah berusaha belajar memasak Gennie tidak membuat hasil yang memuaskan.

Benar-benar tidak ada bakat! Gennie menyalahkan dirinya sendiri.

Dengan pasrah ia memakan roti untuk sarapan paginya, mengunyahnya dengan dendam.

Di sore harinya, Gennie yang sedang menikmati cahaya matahari mendapati ponselnya yang terus-menerus berdering.

Dengan malas, ia mengambilnya lalu memblokir nomor itu.

Si Dorn Wang ini setelah tidak mendapatkan respon dari chat malah menelponnya, ganggu ketenangannya saja.

Sialnya, Dorn Wang tidak hanya menelpon sekali dua kali, ia melakukan spam telpon.

Entah sudah berapa nomor yang Gennie blokir, kekesalan akhirnya sampai pada puncaknya. Dengan jari-jari lentiknya ia akhirnya mengeluarkan kartu SIM dari ponselnya.

Namun, ketenangan itu hanyalah sesaat. Pada hari ke-2 ketika Gennie akan membuang sampah, ia mendapati bahwa Dorn Wang berada di depan pintu apartemen.

Pintu yang baru dibuka ditutup kembali dengan bunyi yang nyaring. Sial, pagi-pagi sekali seorang pengemis sudah nangkring di pintu apartemen.

Sekali lagi, ketenangan yang ia impikan hancur total.

Sejujurnya, Gennie tak berani menghadapi Dorn Wang secara langsung. Ia takut begitu menatap wajah terutama matanya itu, ia akan dengan naif memaafkan semua kesalahan Dorn Wang.

Jadi, begitulah akhir dari 2 hari cutinya. Sungguh sia-sia!

Karena itulah Gennie kembali bekerja dengan berat hati. Sampai-sampai karyawan yang ingin menyapanya menurunkan niatnya.

"Bagaimana dengan kemarin?" Tanya Gennie pada sekretarisnya.

"Cukup terkendali, walaupun ada beberapa tamu yang ingin bertemu tapi saya sudah mengulang jadwal." Mey memberikan sebuah berkas mengenai tamu kemarin.

Melihat Gennie dengan santai membolak-balikkan berkas itu, ia kembali berkata. "Bu Gennie, kita mendapatkan surat undangan untuk kegiatan amal di Pow."

Mengangkat satu alisnya, Gennie terheran biasanya divisi marketing mereka jarang mengikuti kegiatan luar. Namun, mereka mengundangnya?

"Kapan?"

"Lusa nanti."

"Siapa saja para tamunya?"

Mey yang sudah mereset menjawab, ia mengabsen satu persatu para tamu.

Aneh, mereka hanya mengundang divisi marketing mereka? Bukankah ini terlihat seperti undangan pribadi, berbeda dengan undangan yang mewakili perusahaan.

"Baik, kamu kembalilah." Gennie melambaikan tangannya, "untuk lusa nanti biar Yaya yang menemani saya."

"Baik."

"Tunggu sebentar, adalagi minta Yaya untuk mencarikan apartemen untukku." Pintanya pada Mey yang diambang pintu.

"Baik."

Suara pintu tertutup terdengar pelan, di ruangan yang hanya ada dirinya ia kembali berfokus pada laptopnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status