Share

Bab 2

Author: Ke Ke
last update publish date: 2025-11-29 18:51:03

Gedung-gedung pencakar langit terpantul dalam matanya, ia bisa melihat beberapa ruangan yang masih terang-benderang menandakan para karyawan yang sedang lembur.

Sudah hampir jam berapa sekarang, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Namun, mereka seperti tidak kenal lelah dalam bekerja. Tidak, mereka terpaksa, mereka jelas ingin segera pulang tapi perusahaan mengikat mereka dengan dalih 'loyalitas.'

Sama seperti dirinya, seorang manajer marketing yang tidak memiliki waktu luang. Hanya tahu bekerja, bekerja dan bekerja.

'Huh! Bahkan seorang manajer sepertiku sering mendapatkan perlakuan tidak pantas, keterlambatan gaji, benefit yang tidak sesuai, benar-benar kasihan.' Batinnya pada diri sendiri.

Jika seorang manajer saja diperlakukan seperti itu bagaimana dengan karyawan biasa? Mereka tidak punya wewenang lebih, hanya bisa patuh pada perusahaan yang bobrok itu.

Sebagai seorang manajer, Gennie mengetahui bagaimana angkuhnya para petinggi perusahaan. Memanfaatkan karyawan baru yang tidak tahu apa-apa, mengeksploitasi para karyawan, menekan mereka untuk mencapai target penjualan.

Gennie juga tahu bagaimana para petinggi itu menikmati hasil kerja keras para karyawan kecil. Setelah memaki habis-habisan mereka begitu menikmati saat penjualan naik, mengabaikan bahwa itu dikarenakan hasil kerja keras para karyawan.

Namun, adakah yang bisa dirubah Gennie? Tidak ada, dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap para petinggi, mereka sering meremehkannya, meremehkannya karena dia seorang wanita mereka berpikir apa yang bisa dilakukan mahkluk lemah lembut itu? Mereka seperti tidak mengerti, jika tidak ada wanita bukankah dunia akan menyimpang, dan kekurangan populasi?

Lalu kenapa jika ia putri dari pemimpin perusahaan, mereka tidak peduli. Mereka berpikir dengan yakin bahwa yang akan meneruskan perusahaan adalah adiknya.

Ini adalah fakta yang kejam, walaupun ia adalah anak sulung tapi ia adalah wanita, bukan laki-laki seperti adiknya.

Keluarga yang memegang pikiran kolot tidak akan membiarkan seorang wanita memimpin.

"Mey, kau atur untukku mengosongkan jadwal selama dua hari. Aku mau istirahat." Ucap Gennie sebelum memasuki apartemen.

"Baik," jawabnya dengan patuh.

Sebenarnya, meminta cuti secara mendadak sangat tidak dianjurkan. Selain proses pemindahan pekerjaan, ia juga harus mengatur kembali jadwal penting seperti bertemu klien. Namun, dilihat dari keadaan sekarang memang lebih baik membiarkan Gennie beristirahat.

Gennie acuh tak acuh pada hal yang dihadapi sekretarisnya.

Ia merebahkan dirinya pada kasur, matanya terpejam lelah. Ia malas berganti pakaian, dan jika bisa Gennie ingin tertidur dengan pakaian formal ini.

Namun, didikannya sejak kecil membuatnya tidak bisa melakukan hal ini. Maka ia dengan terpaksa bangun, berganti pakaian menjadi piyama.

Kembali terbaring, ia merasakan kepalanya pusing. Sialan, siapa yang memberitahunya bahwa dewasa itu menyenangkan. Dia memberitahu jika dia sudah besar ia bisa bebas dari keluarga biadab itu.

Dan sekarang? Tidak ada perubahan yang signifikan. Jika Gennie dapat menemukan bocah bau itu, ia pasti akan memukulnya dengan keras.

Tunggu saja! Dalam dendam yang absrud Gennie tertidur. Beristirahat sejenak dari dunia yang menyakitkan.

Namun, baru saja ia tertidur Gennie bermimpi. Di dalam bawah sadarnya ia sedang bekerja, memikirkan kampanye apa lagi yang perlu dilakukannya divisi marketing mereka.

Dengan mimpi yang tidak menyenangkan, Gennie terbangun di pagi hari dengan wajah muram.

Ayolah, bahkan dalam alam mimpi pun mereka tetap mengejarnya.

Dering ponsel mengawali pagi dengan semakin buruk, walaupun wajahnya sehitam arang ia tetap mengangkatnya.

"Pak Juan, ada apa? Saya hari ini sedang cuti, jika anda ada perlu bisa menghubungi sekretaris saya." Gennie berkata dengan keramahan terbaiknya.

"Ah, begini Bu Gennie, saya perlu beberapa file dari divisi kalian, apakah repot?"

Jika hanya sebuah berkas file kenapa kamu menghubungiku?! Walau kesal, ia tetap menjawab dengan ramah. "Bisa, tentu bisa. Nanti saya hubungi sekretaris saya ya."

"Baik, terimakasih Bu Gennie."

Begitu panggilan tertutup Gennie dengan kesal ingin membanting ponselnya, orang ini tidak bisakah langsung menghubungi sekretarisnya saja kenapa pula ia repot-repot menghubunginya mencari masalah dengan wanita yang sedang patah hati ya?!

Menahan amarah tak berfaedah itu, ia mengklik obrolan chat sekretaris dan memberitahu untuk memberikan file-file yang dibutuhkan Manajer Keuangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 50

    "Aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti." Darrel Wang mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya memainkan gelas anggur dengan santai, "jadi... aku ingin mengejar mu."Ia menatapnya lekat, "aku menyukaimu, aku ingin memulai hubungan yang jelas, bukan hanya sekedar pasangan kontrak."Gennie diam, benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Jadi sebenarnya perasaan sukanya bukan sebelah pihak saja? Seharusnya itu hal bagus, tapi Gennie malah takut dan bingung.Ia tak percaya akan disukai oleh pria seperti Darrel Wang, pria itu jelas terlihat memiliki semuanya. Dan apa yang disukai dia darinya?Gennie benar-benar tak paham."Karena kamu sudah tahu aku menyukaimu, kalau gitu aku gak perlu basa-basi lagi." Ia memotong steak nya dan menukar dengan gadisnya, menopang dagunya dan menatap minat, "ini bisa dibilang kencan pertama kita, aku mau kita mulai dari awal. Jadi... kamu tanya saja.""Tanya apa?" Tanya Gennie refleks."Misalnya... minat dan hobi?" Ucapnya riang."Hah?"

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 49

    "Jav yang kasih tahu," ia melempar masalah pada sekretarisnya.Jav? Dia memang bisa melakukan itu, tapi... tanpa perintah Tuannya ia pasti tidak akan melakukannya kan?Gennie menyipitkan matanya, semakin curiga.Tepat pada saat waktu itu, pelayan menyajikan makanan.Darrel Wang langsung memutus pembicaraan, ia menyesap anggurnya, "anggur ini tidak buruk."Ia mengangkat gelasnya, "kamu coba."Gennie menatap gelas anggur itu, ia tidak langsung menerimanya.Memalingkan mukanya dengan perasaan bersalah, "maaf, aku tidak bisa minum."Darrel Wang mengangkat alisnya, "oh? Tapi seingat saya kamu pernah minum sampai mabuk sama rekan kerja sebelumnya."Sial, ketahuan. Gennie semakin merasa bersalah, ia berusaha berdalih, "ini... berbeda.""Apa bedanya? Kamu minum sama teman lain tapi... aku gimana? Aku kan suamimu." Keluh Darrel Wang.Gennie langsung tersedak."Su-suami?" ulangnya refleks, wajahnya memerah seketika.Ia menatap Darrel Wang dengan mata membesar, jelas tidak siap dengan cara pria

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 48

    Begitu masuk, suasana langsung berubah. Hangat dan tenang, terlihat berbeda dari dunia luar yang baru saja mereka tinggalkan.Lampu gantung berwarna kuning lembut menerangi ruangan, memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Musik pelan mengalun, cukup untuk terdengar, tapi tidak mengganggu percakapan.Gennie melangkah pelan di samping Darrel Wang.Tangannya masih digenggam, jemarinya sedikit menegang tapi tetap tidak ia lepas.Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional, lalu mengantar ke meja dekat jendela.Pemandangan kota malam terlihat jelas dari sana. Lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.Sangat cantik, Gennie sempat terpaku sedikit sebelum ia menatap tangan mereka yang terjalin, ia menatap lama hingga akhirnya mendongak dan mendapati Darrel Wang sedang menatapnya.Gennie langsung mengalihkan pandangannya.Gerakannya cepat dan terburu-buru seolah tertangkap melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.Pipinya perlahan memanas, ia menarik napas kecil

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 47

    Sore itu, tepat pada jam pulang kerja.Ketika para karyawan sudah mulai berkemas, Gennie masih duduk diam di mejanya.Suara kursi bergeser, tas ditutup, obrolan ringan mulai terdengar. Suasana kantor perlahan berubah dari formal menjadi santai.Gennie tahu jika ia berdiri sekarang sama saja dengan kabur, ia akan tak tahan untuk lari.Karena tak ingin terlihat sedang menunggu, ia menyibukkan dirinya dengan laptopnya.Namun sepuluh menit berlalu dan pria itu belum muncul, Gennie sudah jelas-jelas menajamkan telinganya tapi langkah kaki itu tetap tak terdengar.Gennie mulai berpikir, apakah pria itu lupa? Namun... bukankah itu hal bagus, dengan begitu ia bisa menghindar.Ia sempat terpikir untuk kabur, melirik jam, Gennie diam-diam meraih tasnya.Baru saja akan berdiri, suara pria di belakang mengejutkannya."Belum pulang?"Gennie terlonjak kecil, ia menoleh cepat dan mendapati Darrel Wang sudah berdiri di sana.Namun, sejak kapan? Ia bahkan tidak mendengar langkahnya!Kemejanya sedikit

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 46

    Gennie berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya gemetar saat memegang ponsel, matanya membesar menatap angka yang tertera di layar.Nominal itu... terlalu tak masuk akal. Bahkan gajinya saat menjabat manajer pemasaran pun tak sampai, ini lima kali lipat dari gaji sebelumnya!"Ini... gak salah transfer kan?" Gumamnya pelan, hampir tak percaya.Ia mengusap matanya sekali, dua kali, lalu melihat lagi. Angkanya masih sama, tidak berubah sama sekali.Sangat besar untuk seseorang yang baru bekerja satu bulan seperti dirinya.Jantungnya yang tadi sudah tidak karuan kini semakin kacau.Kalimat dari Darrel Wang tadi langsung terngiang, "gajinya sudah ditransfer."Gennie menelan ludah, ia berbisik, "ini bukan gaji..."Lebih seperti... uang tutup mulut?Atau uang untuk… sesuatu yang lain?Pipinya kembali memanas mengingat apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Pengakuannya, tatapan matanya, dan cara pria itu berlutut.Gennie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa-apaan ini?"Ia

  • Ah! Presdir Wang Mengejarku!   Bab 45

    Gennie menyandarkan tubuhnya ke pintu, jantungnya berdetak kencang, napasnya terasa tidak teratur.Apa yang dilihatnya tadi benar-benar mengejutkan, Darrel Wang dan Jav sedang berpelukan, jadi... orang yang disukainya ternyata sekretarisnya sendiri?!"Beneran gay ya..." Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.Ia bahkan belum sempat melangkah maju, belum sempat mencoba apa pun, tapi sudah kalah telak.Perasaannya terasa konyol, benar-benar konyol.Perlahan, pandangannya turun. Ia menatap dadanya sendiri, diam cukup lama.Pikiran aneh mulai muncul tanpa bisa ia tahan, "yang disukainya itu... yang kayak dia?"Datar dan tidak lembut seperti dirinya.Gennie mengerucutkan bibir, lalu menyentuh ringan dadanya sendiri, "padahal yang kaya gini lebih oke."Kemudian ia tiba-tiba mematung, pipinya sedikit memanas. Kenapa pula ia jadi memikirkan seperti itu?!Ia menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir pikiran tak jelas. Gennie menatap kosong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status