共有

BAB. 154

last update 公開日: 2026-02-22 22:32:03

Nama Papa masih terpampang di layar saat panggilan akhirnya tersambung.

“Halo, Kay,” suara Aldean terdengar tenang, dalam, dan terukur seperti biasanya.

Kayra menelan ludah. “Papa…”

“Ada apa, Nak?” tanyanya lembut.

Kayra melirik Amira sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.

“Papa lagi di kantor?”

“Hm.” Ada jeda singkat di seberang. “Iya. Kenapa?”

“Aku mau ketemu Papa. Sekarang.”

Hening beberapa detik. Tidak lama, tapi cukup membuat jantung Kayra berdetak lebih kencang.

“Sekarang?” ulang A
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 237

    Beberapa saat kemudian, Aldean dan Celine kembali melangkah menyusuri koridor lantai perawatan setelah menyelesaikan makan sore di kantin bawah. Sementara itu, di ruang rawat, Kayra masih ditemani oleh Gavin.​“V-Vin... kamu tahu?” bisik Kayra setengah terbata, melirik pintu kamar rawat dengan waswas. ​“Sebenernya Papa sama Celine tuh... udah nikah.”Uhuk!​Gavin tersedak ludahnya sendiri sampai matanya nyaris melompat keluar dari kelopak. Pemuda itu membeku di kursinya, menatap Kayra dengan raut wajah yang luar biasa syok.“K-kamu bercanda, kan, Kay? Celine?! Temen kita... sekarang jadi Ibu sambung kamu?!”“Sssttt! Pelanin suara kamu, Gavin Alistair!” sergah Kayra panik, tangan kirinya bergerak cepat mencubit lengan Gavin. “Ini rahasia besar! Jangan sampai bocor ke anak-anak kampus, awas aja kalau kamu keceplosan. Aku kasih tahu kamu sekarang biar kamu nggak salah bersikap.”​Gavin menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa pusing tujuh keliling. Jiwa humorisnya seketika meron

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 236

    Gavin seketika membeku. Sepasang matanya melebar, terkejut mendengar ucapan Kayra barusan. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Melihat kekasihnya histeris dengan tubuh yang gemetar hebat karena didera rasa bersalah, Gavin segera merengkuh Kayra dalam pelukan hangatnya, berusaha menenangkan.​“Ssst... dengerin aku, Kay,” bisik Gavin tegas namun teramat lembut tepat di telinga gadis itu. “Tuhan tuh nggak se-pendendam itu. Dan kamu juga lihat sendiri, kan? Celine bahkan senyum tulus banget ke kamu tadi. Dia pasti udah maafin kamu sepenuhnya, kan? Kalau dia aja udah buka lembaran baru, kenapa kamu masih sibuk ngehukum diri sendiri?”​Gavin mengurai pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang memancarkan keyakinan mutlak, membuat isak histeris Kayra terhenti.“Dan satu hal yang harus kamu tahu, Kay. Aku bakal selalu ada di sini buat nemenin kamu. Aku yakin, tanganmu past

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   235

    Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat, keheningan yang tersisa di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih ringan. Gavin masih berdiri mematung di posisi terakhirnya, menatap daun pintu dengan pandangan kosong.​Perintah terakhir Aldean barusan benar-benar tidak bisa dibantah.​“Gavin...” Panggilan lirih itu akhirnya memecah lamunan pemuda itu.Ia mengerjap, lalu perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap brankar. Di sana, Kayra sedang menatapnya dengan binar mata yang campur aduk—antara cemas, bersalah, tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.​Gavin mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aura mengintimidasi Aldean yang seolah masih menggantung di udara. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk di kursi kosong yang berada tepat di sisi ranjang Kayra.​“Papa kamu... auranya bener-bener nggak main-main, Kay,” cicit Gavin jujur, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku berasa lagi diuji mental buat masuk perusahaan multinasional.”​Kayra tidak bisa men

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 234

    ​“Papa, ih! Jangan dilihatin kayak gitu, Gavin-nya takut!” protes Kayra dari arah brankar. Wajahnya semakin merona merah karena menanggung malu melihat kelakuan posesif papanya.​Celine yang berdiri di sisi lain hanya bisa menutupi mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa mati-matian agar tidak menyembur.​Aldean tak menggubris ucapan Kayra. Langkah pria itu kini sudah berhenti tepat satu langkah di depan Gavin. Perbedaan tinggi badan dan proporsi tubuh membuat Gavin yang sebenarnya sudah cukup tinggi, tetap saja terlihat kecil di bawah dominasi mutlak seorang Aldean Devantara.“Ngapain kamu di sini?” tanya Aldean dengan nada datar.“J-jenguk Kayra, Om. Saya dengar dia kecelakaan, jadi saya langsung ke sini,” jawab Gavin terbata.Mata Aldean melirik ke buket bunga yang dipegang Gavin.“Bawa apa kamu?” Aldean bertanya lagi, masih dengan nada datarnya.“Ini... anu, Om. Bunga lili putih untuk Kayra,” jawab Gavin, berusaha menstabilkan suaranya meski tangannya yang memegang buket suda

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 233

    Dalam hitungan detik, kehangatan yang baru saja tercipta di ruangan itu mendadak menguap, berganti dengan keheningan yang mencekam. Klek. Knop pintu itu bergerak turun dengan cepat, lalu daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan seorang pemuda dengan napasnya masih terengah-engah di ambang pintu. Di tangan kanan pemuda itu tergenggam seikat buket bunga lili putih yang tampak sedikit miring—pertanda ia membawa bunga itu sambil berlari tergesa sepanjang koridor rumah sakit. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kecemasan yang teramat pekat. ​Gavin. Pemuda itu akhirnya sampai setelah jantungnya nyaris copot mendengar kabar kecelakaan kekasihnya. ​Begitu matanya menangkap sosok Kayra yang duduk bersandar di atas brankar, Gavin menghela napas panjang, lega melihat sang kekasih selamat dari maut. Namun, saat menyadari tatapan tajam Aldean yang mengintimidasi, Gavin buru-buru membungkukkan badan dengan sopan. “S-selamat sore, Om... Celine,” sapa Gavin agak gugup, suaranya sedikit berg

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 232

    ​“Hala... lari marathon apaan? Dari kasur ke kamar mandi aja Papa kadang masih suka pegangan pinggang, sok-sokan mau lari marathon beneran,” cibir Kayra tanpa ampun, membalas argumen papanya dengan nada super lempeng. “Gengsi banget sih, Pa... Ngakuin kalau udah berumur.” Mendengar ucapan tak terduga dari putrinya, Aldean seketika bungkam dengan mulut sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Pria matang berkepala empat itu langsung menoleh ke arah Celine dengan tatapan mengadu, seolah meminta pembelaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak oleh anak sendiri. ​Sementara itu, Celine yang sejak tadi berdiri di sisi Aldean memilih untuk tidak ikut nimbrung dalam perdebatan renyah tersebut. Ia hanya tersenyum manis, memandangi interaksi menggemaskan di depannya dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru dan kebahagiaan yang teramat buncah. ​“Udahlah, Pa... Nggak usah pamer-pamer lagi,” lanjut Kayra sembari melipat kedua tangannya di depan dada, pura-pura merengut. Aldean sung

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status