Home / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Bergelora di Kamar Mandi

Share

Bergelora di Kamar Mandi

last update Last Updated: 2025-12-30 23:50:07

Celine sudah polos, tanpa sehelai benang pun. Namun Aldean tak langsung menyentuhnya. Ia justru membeku, menatap Celine dengan pandangan yang sulit diartikan.

Matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Celine perlahan. Bukan dengan nafsu liar, melainkan kekaguman yang dalam. Seolah ia baru benar-benar menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini telah menguasai setiap sudut hati dan jiwanya.

“Om… jangan lihat aku kayak gitu,” bisik Celine pelan, pipinya memanas.

Aldean tersenyum kecil. “Kenapa, Bebi? Kamu malu?”

Ia menyelipkan anak rambut Celine ke belakang telinga dengan gerakan lembut. Sentuhan itu nyaris tak terasa, namun cukup membuat Celine merinding.

Tangannya kemudian meraih punggung Celine, menarik tubuh polos itu perlahan ke dadanya, menghadirkan kehangatan yang membuat napas mereka sama-sama tertahan.

Tanpa berkata apa-apa, Celine justru mendekat lebih dulu. Bibirnya menyentuh bibir Aldean pelan. Sebuah kecupan lembut, penuh makna.

Aldean tak menolak. Ia membalasnya dengan kecupan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Anak Kandung Papa Bukan?

    Ruang rapat tidak langsung pecah oleh suara. Justru sunyi yang jatuh berat dan penuh makna.Beberapa pasang mata saling bertemu. Evan menatap Aldean. Salah satu analis refleks menggeser kursinya lebih dekat ke meja. Tidak ada yang perlu bicara.Satu kesimpulan sudah terbentuk di kepala mereka semua.Aldean sendiri tidak bereaksi berlebihan. Tidak mengumpat atau membentak. Ia hanya mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Evan.Isyarat itu singkat, tapi cukup.Kepingan-kepingan itu tersusun rapi di kepala mereka: tempat penyengkapan Amira, persembunyian Surya, dan penculikan Celine.Semua itu berada dalam satu garis lurus, bertemu pada satu titik yang sama.Aldean kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kay,” ucapnya rendah dan tenang, kontras dengan suara putrinya yang bergetar di seberang. “Tenang, Sayang. Tarik napas dulu.”“Pa, Mama disekap!” suara Kayra terdengar nyaris pecah. “Mama nelpon Kay barusan. Mama minta tolong. Mama bilang dia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kabar Amira

    Kayra membeku.Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Suara itu, terlalu familiar untuk bisa disangkal.“K–kay...” suara itu terdengar lagi dari seberang, lebih jelas.“Ini Mama.”Deg.Tubuh Kayra menegang seketika. Jantungnya seperti terhantam dari dalam.“...Apa?” suaranya keluar tercekat. “Mama?”“Iya, Nak,” jawab suara itu. Terdengar bergetar, menahan tangis. “Ini Mama.”Kayra bangkit dari sofa tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga memutih.“Mama ke mana aja selama tiga tahun ini?” suaranya meninggi, pecah antara marah dan luka yang dipendam terlalu lama. “Kenapa Mama nggak pernah datang? Nggak pernah jengukin Kay? Bahkan satu kali pun?”Isakan tertahan terdengar dari seberang.“Maaf, Nak…” suara Amira pecah. “Mama nggak bisa.”“Kenapa nggak bisa, Ma?” Kayra nyaris berteriak. “Kenapa?!”Hening sejenak. Lalu suara Amira terdengar lirih, hampir berbisik.“Karena Mama disekap.”Dunia Kayra seolah berhenti.“...Disekap?” ulangnya pelan,

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Suara di Ujung Telepon

    Aldean tidak langsung menjawab ucapan Kayra. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pandangannya kosong menembus dinding ruang rapat, seolah jarak, waktu, dan segala sesuatu di hadapannya sudah kehilangan makna. “Pa?” suara Kayra kembali terdengar dari seberang, kali ini dengan nada tidak sabar yang tertahan. “Papa masih di situ?” Aldean menarik napas dalam. “Iya, Sayang,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap tenang seperti biasa. “Papa masih di sini.” Ada jeda singkat sebelum Aldean menambahkan, “Nanti Papa telepon lagi, ya.” Klik. Tanpa menunggu jawaban Kayra, Aldean langsung menutup panggilan. Sunyi menyelimuti ruangan. Udara seolah membeku, menekan paru-paru setiap orang di dalamnya. Beberapa detik lalu, wajah Aldean masih menyimpan sisa kelembutan—bayangan cincin, tentang sore yang ia kira akan menjadi awal baru, tentang hidup yang akhirnya berani ia pilih bersama Celine. Kini, semuanya lenyap. Rahangnya mengeras. Otot di lehernya menegang. Tatapan matanya turu

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Rencana Aldean Yang Pupus Karena Celine Menghilang

    Mobil Aldean berhenti tepat di depan pintu utama sebuah bangunan abu-abu dengan arsitektur tua namun tegas, tempat di mana keputusan besar selalu diambil tanpa keraguan.Begitu ia turun, Evan sudah menunggu. Setelan hitamnya rapi, ekspresinya profesional seperti biasa.“Pagi, Tuan.”Aldean mengangguk singkat. “Pagi.”Mereka melangkah masuk berdampingan. Lorong panjang membentang di depan, langkah kaki mereka menggema pelan di lantai marmer.Tanpa menoleh, Aldean membuka suara.“Evan. Perintahku semalam,” katanya lugas. “Sudah kau urus?”“Sudah, Tuan,” jawab Evan mantap, selangkah di belakangnya. “Semuanya beres. Sore nanti Anda bisa datang bersama Nona Celine.”Langkah Aldean tidak terhenti, tapi bahunya sedikit mengendur.“Bagus,” ucapnya pelan. “Kamu selalu bisa diandalkan.”“Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan,” jawab Evan tenang.Mereka tiba di depan ruang rapat. Pintu dibuka.Beberapa orang sudah menunggu di dalam. Duduk rapi, layar presentasi menyala, berkas terbuka. Sem

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Firasat

    Beberapa detik berlalu tanpa suara.Dada Celine naik turun cepat, seolah udara di kamar itu mendadak menipis. Matanya berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar.“Om…” suaranya nyaris pecah. Ia menelan ludah, berusaha merangkai kata-kata yang terasa berantakan di kepalanya.Aldean tak menyela. Ia hanya menunggu dengan tenang dan sabar, seperti tahu bahwa jawaban itu harus keluar tanpa paksaan.“Aku…” Celine menarik napas panjang, tapi tangisnya lebih dulu jatuh. Air mata mengalir pelan di pelipisnya.“Aku bahagia,” bisiknya jujur. “Bahagia banget sampai aku takut.”Tenggorokannya bergetar.“Aku nggak pernah kebayang Om bakal ngomong sejauh ini ke aku,” lanjutnya lirih. “Dan sekarang… aku malah gemetar.”Aldean mengusap pipi Celine perlahan, menyeka air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. Ia tak tergesa-gesa, juga tak berusaha menghentikannya.“Aku mau,” kata Celine akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. Matanya menatap Aldean dengan keberanian yang rapuh.“Aku mau, Om.”Napas Aldean ter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kalau Aku Nikahin Kamu... Kamu Mau?

    “Om Dean...” gumam Celine lirih.Pintu unit apartemen tertutup pelan di belakang Aldean.Jas di pundaknya bahkan belum sempat ia lepaskan ketika pandangannya langsung tertambat pada Celine yang berdiri di dekat sofa. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan.Aldean tahu persis apa yang membuat Celine seperti itu.Ia melangkah mendekat tanpa berkata apa-apa. Baru beberapa langkah, Celine sudah lebih dulu menghampirinya.Aldean membuka kedua lengannya.Celine langsung masuk ke dalam pelukan itu seolah seluruh tenaga di tubuhnya habis tepat di saat yang sama. Aldean menunduk, mengecup puncak kepala Celine lama. Bukan sekadar ciuman singkat, melainkan jeda penuh makna, seperti sedang menenangkan dua hati sekaligus.“Maaf aku lama,” ucap Aldean rendah. “Aku tahu kamu nunggu.”Celine menggeleng kecil di dada Aldean.“Om nggak perlu minta maaf…” suaranya bergetar.Lalu, dengan napas yang tertahan, ia bertanya, “Kayra… gimana?”Aldean tidak langsun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status