Home / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Ya, Om... Enak Banget

Share

Ya, Om... Enak Banget

last update Last Updated: 2025-12-31 10:20:52
Sentuhan bibir dan lidah Aldean tak henti, mengecup dan menjelajahi lekuk-lekuk terindah milik Celine di bawah sana, yang kini benar-benar basah.

“Om Dean... ah...” desah Celine terdengar semakin berat, terputus-putus oleh intensitas momen itu. Gelombang sensasi yang terus menerjang membuat tubuhnya bergetar tak terkendali.

Melihat reaksi Celine, Aldean justru semakin terdorong. Jari-jarinya ikut bermain lembut menyusuri lipatan basah itu, membuat Celine kembali mengejang. Pahanya merapat, namun kali ini Aldean menahannya dengan satu tangan.

“Ahh, Om...” desah Celine sekali lagi. Napasnya kian berat, tubuhnya mengeliat, seolah mencari cara menenangkan ledakan rasa yang semakin mendesak dari dalam dirinya.

Semakin Aldean menyentuh miliknya, semakin Celine kehilangan kendali atas diri dan akal sehatnya. Tubuhnya terus mengejang, kedua tangannya mencengkeram rambut Aldean dengan erat, sementara desahnya tak kunjung berhenti. Desiran yang mengalir di dalam dirinya seolah memohon untuk
Wisha Berliani

Selamat pagi, teman-teman... Hari ini spesial menyambut tahun baru, aku kasih hot-hot popnya lumayan banyak ya. Buat yang suka aja, yang nggak suka bisa diskip. Selamat membaca semoga menikmatinya. Jangan lupa tinggalakan ulasan dan kasih dukungannya buat Author, biar Author makin semangat nulisnya. Terima kasih, teman-teman... lope-lope buat semuanya...

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Tahu...

    Aldean terdiam.Ia beranjak dari kursi dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya.“Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur.“Papa juga nggak pernah bangun pagi sambil mikir… siapa yang bisa Papa ambil dari hidup Kayra hari ini.”Kayra menggigit bibirnya.“Tapi Papa tetap ngelakuinnya,” balasnya lirih.“Iya,” Aldean mengangguk pelan. “Dan itu kesalahan Papa yang nggak akan Papa bela.”Ia menatap putrinya lama, dengan tatapan seorang ayah yang sudah terlalu lama menahan banyak hal sendirian.“Tapi Papa juga manusia, Kay. Papa hidup sendirian bertahun-tahun. Ngejalanin peran ayah, ibu, kepala keluarga—semuanya sendirian.”Kayra menatap lantai.“Celine datang bukan buat ngisi kekosongan,” lanjut Aldean. “Tapi buat nemenin Papa berdiri di tengah hidup yang udah Papa bangun buat kamu.”Kayra tertawa kecil, getir. “T

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

    Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai.Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya. Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu.Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu.Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai.Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya.Surya menghembuskan napas pelan.“Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.”Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia bisa saja per

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kamu Bukan Korban, Kamu Pelaku...

    Plak.Suara tamparan itu memantul di dinding vila, memecah sunyi pulau yang selama ini menyimpan terlalu banyak rahasia.Tubuh wanita itu terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai marmer. Rambutnya berantakan, menutupi separuh wajah yang memerah. Napasnya tersengal, antara sakit dan takut.Surya berdiri di hadapannya. Bathrobe masih melekat di tubuhnya, sisa air menetes dari ujung rambutnya. Dada pria itu naik-turun, bukan karena emosi meledak, melainkan karena amarah yang terlalu terkontrol.“Aku sudah bilang apa?” ucap Surya rendah. Dingin. “Jangan bikin ulah.”Ia menunduk, mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap lurus.“Aku sudah janji akan melepas ikatanmu selama kamu nurut,” katanya pelan. Jarinya mengencang.“Tapi baru aku tinggal mandi sebentar,” lanjutnya lirih, berbahaya, “kamu sudah berani ambil ponselku.”Wanita itu menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang.Surya melirik layar ponsel di tangannya. Riwayat panggilan masih terbuka.Nomor tak dikenal.Tatapan

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Nomor Tak Dikenal

    Pelukan Aldean mengencang di tubuh Celine. Tangannya menahan punggung gadis itu, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, semuanya akan runtuh bersamaan.Celine tak menangis keras, hanya bahunya yang naik turun pelan. Isak itu terperangkap di dadanya, terasa begitu menyakitkan karena tak menemukan jalan keluar.“Aku egois ya, Om?” ucap Celine akhirnya, lirih, hampir tak terdengar.“Enggak,” jawab Aldean pelan. “Kita cuma terjebak di situasi yang salah.”Celine menggeleng. Senyum tipis muncul di wajahnya, rapuh.“Aku baru aja… kehilangan sahabat aku, Om.”Kalimat itu keluar tanpa tangis. Dan justru karena itulah, rasanya lebih perih.Aldean melepaskan pelukannya dan menuntun Celine duduk di sofa. Ia kemudian berlutut di hadapannya, menangkup kedua tangan Celine yang terasa dingin di telapak tangannya.“Kayra lagi sakit,” ucapnya rendah. “Dan luka orang yang sakit… sering kali melukai orang yang paling dekat.”“Aku tahu,” bisik Celine. “Makanya aku nggak bisa marah.”Air mata Celine akhi

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Maaf Kay...

    Aldean terdiam sejenak.Bukan karena ragu, tapi karena ia memilih kata dengan hati-hati. Tangannya meraih jemari Celine, menggenggamnya erat, seolah itu satu-satunya penopang di tengah badai.“Enggak, Kay,” ucapnya akhirnya. Suaranya datar dan tenang.“Apa?” Kayra menatap ayahnya tak percaya.“Papa nggak akan putus sama Celine. Mau bagaimana pun dan sampai kapan pun. Nggak akan pernah, Nak.”Tak ada penekanan. Tak ada emosi berlebihan. Justru ketenangan itu yang menghantam Kayra paling keras.“Apa Papa denger yang aku bilang barusan?” suara Kayra bergetar. “Aku malu, Pa. Aku sakit. Aku—”“Papa denger semuanya,” potong Aldean pelan. “Dan Papa paham apa yang kamu rasain.”Ia mendekat setengah langkah, masih menggenggam tangan Celine.“Tapi Papa juga nggak bisa bohong sama diri Papa sendiri. Celine bukan mainan. Bukan kesalahan sesaat. Dia seseorang yang Papa pilih. Papa nyaman sama dia.”Kalimat itu membuat wajah Kayra memucat.“Pa…” suaranya melemah. “Papa lebih milih dia?”Aldean mena

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Reaksi Kayra

    Detik berikutnya, seluruh tubuh Kayra menegang.“Pa…?” suaranya nyaris tak terdengar. “Papa ngapain di sini?”Aldean berdiri tepat di belakang Celine. Tatapannya langsung bertemu mata putrinya. Tak ada kepanikan di sana, hanya tarikan napas pelan, seolah ia sudah lama menyiapkan diri untuk momen ini.“Kita masuk dulu, Sayang,” ucapnya tenang. “Biar nggak di depan pintu.”“Enggak,” Kayra menyela cepat. Nada suaranya bergetar, tapi penuh tekanan. “Aku mau jawabannya sekarang.”Matanya beralih ke Celine. Ia menatap sahabatnya dengan tajam, sekaligus penuh luka. “Cel… Papaku ngapain di sini?”Lalu ia kembali menatap Aldean, sorot matanya mengeras. “Sejak kapan Papa datang ke apartemen sahabat aku?”Napasnya tertahan. “Aku juga dengar tadi Papa panggil dia mesra banget. Apa maksud semua ini, Pa?”Hening.Keheningan itu justru menekan dada Kayra lebih keras dari jawaban apa pun. Ia terkekeh lirih, tawa yang sama sekali tak mengandung kebahagiaan.“Jadi ini, ya,” katanya pelan. “Peremp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status