MasukTatapan Aldean masih terpaku pada wajah Celine.“Om... maaf untuk apa?” tanya Celine lagi, masih dengan kerutan di dahinya.Aldean menghela napas pelan. Salah satu tangannya terangkat, perlahan menyelipkan beberapa helai rambut Celine ke belakang telinganya.“Karena aku membiarkan semua itu terjadi.”Celine menatap suaminya, lebih dalam.“Tadi,” lanjut Aldean, suaranya rendah penuh penyesalan, “aku membiarkan Kayra dan Amira menyeretmu ke situasi itu. Membiarkan mereka menuduhmu, mempermalukanmu... sampai semua orang menghina dan menilaimu sembarangan, padahal aku sudah tahu dari awal apa yang mereka rencanakan.”Rahang Aldean mengeras tipis.“Aku bisa menghentikannya lebih cepat. Tapi...”Aldean menghentikan kata-katanya. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.Celine terdiam beberapa saat, mencerna ucapan itu.Kini ia paham, yang mengganggu Aldean bukan soal rencananya berhasil atau tidak, juga bukan soal Amira akhirnya jatuh. Melainkan fakta bahwa demi menjatuhkan Amira, Aldean membia
Jantung Celine berdetak lebih cepat, lebih keras. Tubuhnya seolah menolak kemungkinan itu, tapi justru semakin menegaskannya.Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Tidak, ia tidak boleh asal menebak. Ia harus memastikan semuanya. Sekarang juga.“Aku harus bicara sama Om Dean,” bisiknya dalam hati. “Aku juga sempat minta tolong sama dia buat nyelidikin Tante Amira. Pasti semua ini saling berhubungan.”Tatapannya berubah perlahan. Bukan lagi tatapan bingung, tapi tatapan penuh keputusan.Beberapa detik berlalu, Celine menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak di dadanya. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap rekan-rekan kerjanya.“Aku ke ruangan Tuan Aldean dulu, ya.”Semua orang langsung mengangguk.“Iya… hati-hati, Cel,” pesan Vita.Celine membalas dengan anggukan kecil.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar ruangan.Pintu tertutup pelan di belakangnya.Begitu kakinya menapaki lorong lantai eksekutif, suasana langsung berubah lebih sunyi, lebih d
Kedua polisi itu tidak menghentikan langkah mereka, seolah teriakan Kayra hanyalah suara latar yang tak berarti. Mereka tetap berjalan mantap dan tegas, mendorong kursi roda Amira keluar dari ruangan.“Tidak! Lepaskan aku!” jerit Amira semakin histeris. “Aku nggak salah! Aldean, dia yang menjebakku!”“BERHENTI!” Kayra berlari mengejar. “BERANI KALIAN BAWA MAMAKU?!”Namun langkah para polisi tetap tidak goyah.Klek.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Dalam hitungan detik, mereka semua menghilang dari sana menyisakan keheningan yang berat.Ruangan itu kini seperti kehilangan suara. Tak ada lagi teriakan, tak ada lagi tuduhan. Hanya napas yang tertahan dan tatapan yang saling menghindar.Beberapa staf yang tadi sempat merekam perlahan menurunkan ponsel mereka. Layar dimatikan satu per satu. Tak ada yang berani menyimpan rekaman terlalu lama. Semua berusaha menghindari risiko yang bisa muncul.Vita berdiri diam di tempatnya, diikuti yang lain. Tak seorang pun berani membuka suara. D
Amira tetap diam, mulutnya seakan terkunci. “Mama, katakan! Kenapa diam aja?!” Teriakan Kayra membuat Amira terkejut. Napasnya semakin tidak teratur. Matanya bergerak cepat, mencari celah, mencari jalan keluar. Dan seperti biasa, ia memilih untuk bermain. “Kay…” suaranya melemah, rapuh. “Mama nggak nyangka, gara-gara Celine Papa kamu bisa berubah sejauh ini…” Air matanya mulai menetes, tubuhnya sedikit membungkuk di kursi roda. “Sampai-sampai dia tega menuduh Mama seperti ini. Padahal Mama korban. Mama yang disakiti, tapi…” Amira tak melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya pecah, pundaknya bergetar naik turun. Kayra segera mendekat. “Ma… tenang, aku di sini.” Ia menoleh tajam ke arah Aldean. “Pa! Cuma demi Celine Papa tega memperlakukan Mama kayak gini?! Papa keterlaluan!” Aldean tidak bereaksi. Tatapannya tetap dingin, seolah semua itu tak lagi berarti. Beberapa detik berlalu, ia memandang Amira dalam diam. Namun kali ini, diamnya berbeda—diam yang penuh rasa muak, benar-bena
Kayra menoleh tajam ke arah Celine. Tatapannya berubah dingin dan kejam, penuh kebencian yang dalam dan membara. “Ini semua karena kamu, Cel…” suaranya rendah namun penuh tekanan. “Aku nggak akan pernah maafin kamu.” Detik berikutnya, Kayra melangkah cepat, tangannya langsung mencengkeram lengan Celine dengan kasar. “Akh—!” pekik Celine pelan. Beberapa staf terkejut. Begitu pula dengan Vita, yang membulatkan mata tak percaya. Kayra menarik Celine lebih kasar. “Berhenti pura-pura!” bentaknya tepat di depan wajah Celine. “Kamu pikir dengan diam kamu bisa lolos, hah?!” Celine tidak melawan, tidak menepis. Dia bahkan tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya tetap tenang, dan justru itu membuat Kayra semakin kehilangan kendali. “Ngaku, Celine!” teriak Kayra. “Ngaku kalau ini semua salah kamu!” Tangan satunya terangkat, siap menampar. Namun sebelum itu terjadi— “Cukup.” Satu suara rendah dan dingin memotong udara seperti pisau. Seketika, tangan Kayra terhenti di udar
Suasana semakin memanas. Beberapa staf mulai ikut bersuara. “Iya. Kalau benar begitu… Celine harus dipenjara.” “Gila sih… nggak nyangka Celine sejahat itu.” “Berani banget dia...” Suara-suara itu berubah menjadi tekanan. Namun di tengah itu, Vita melangkah maju. “Ini tidak masuk akal.” Semua langsung menoleh ke arahnya. Vita menatap Kayra tanpa ragu. “Celine bukan orang seperti itu, Nona Kayra.” “Kamu tahu dari mana?!” bentak Kayra. “Saya sangat mengenalnya.” Suara Vita tegas. “Dan saya yakin dia tidak akan melakukan itu.” “Naif.” Satu kata dari Kayra, tajam dan meremehkan. Namun Vita tidak mundur. Ia tetap berdiri di samping Celine, satu-satunya rekan yang tidak goyah. Sementara itu, Celine tetap diam. Tidak membela diri, tidak menyangkal. Bukan karena tidak mampu, tapi karena dia tahu itu tidak akan ada gunanya. Amira terlalu licik. Kayra terlalu buta untuk melihat kebenaran. Tatapan Celine perlahan bergeser, menuju satu orang. Aldean. Pria itu masih b
Celine terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena ragu, tapi karena ada satu hal kecil yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.“Eh… Om,” panggilnya akhirnya. “Tapi sebelum itu, aku mau nanya dulu sama Om.”Aldean mengangkat alis. “Nanya apa?”Celine menatap Aldean, sorot matanya pen
Pintu baja ruang kendali berdiri kokoh seperti benteng terakhir Surya. Panel digital di sisinya berkedip merah, menandakan sistem pengunci tingkat tinggi masih aktif, terhubung langsung dengan seluruh jaringan pertahanan vila. Evan berdiri paling depan, senapan tergenggam erat di tangan, rahangny
Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini
Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia d







