LOGINAldean menatap layar ponsel yang menyala di genggamannya. Nama Evan berkedip di sana. Seketika, ingatan Aldean ditarik pada perintah yang ia berikan beberapa jam lalu. Ia sendiri yang mengutus asisten pribadinya itu untuk mengawal proses penangkapan Amira, sekaligus memastikan Kayra tidak membuat kekacauan di sana. Tanpa membuang waktu, Aldean menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. “Halo, Evan. Bagaimana situasi di sana?” tanya Aldean langsung, berusaha keras menekan badai emosi yang baru saja ditinggalkan Celine di ruang kerjanya. “Halo, Tuan,” suara Evan di seberang telepon terdengar agak tergesa, ada kegaduhan samar seperti suara jeritan yang melatarbelakangi panggilannya. “Situasi di kantor polisi agak di luar kendali.” Rahang Aldean seketika mengeras. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. “Apa yang terjadi?”“Nona Kayra mengamuk, Tuan. Dia memaksa polisi melepaskan Nyonya Amira dan bersikeras ingin masuk ke sel isolasi,” lapor Evan dengan c
Ruangan jatuh dalam keheningan yang pekat. Untuk pertama kalinya sore itu, Aldean—pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal—kehilangan kata-kata. Ia hanya berdiri terpaku, menatap Celine.Ia mencoba mendekat, namun langkahnya tertahan oleh aura dingin yang terpancar dari istrinya.“Sayang... aku tahu aku minta terlalu banyak saat ini,” ucap Aldean dengan suara rendah, menatap lurus ke mata Celine. “Tapi aku juga nggak akan ninggalin kamu sendirian menghadapi semua ini.”Celine tertawa kecil—pendek dan hambar—namun suaranya terasa jauh lebih pahit dari sebelumnya. “Lucu.” Ia mengangkat wajah, menatap suaminya lurus-lurus. “Om bilang nggak akan ninggalin aku sendirian?” Nada suaranya datar. “Tapi di saat aku lagi sehancur ini... Om malah memaksaku mikirin perasaan Kayra. Di mana letak ‘bersamanya’ kalau aku masih harus menelan lukaku sendirian?”Deg.Kalimat itu telak menghantam ego Aldean. Rahangnya mengeras, tapi ia tak mampu membantah. Karena Celine benar, sa
Tatapan Aldean berubah lebih serius. Sedikit lebih berat, seolah kata-kata berikutnya adalah sesuatu yang bahkan dirinya sendiri enggan ucapkan.“Tolong, Sayang...” suaranya rendah. “Jangan beri tahu Kayra siapa korban sebenarnya.”Celine membeku. Udara di sekitarnya mendadak terasa kosong.“...Apa?”Aldean mengusap pelan punggung tangan istrinya, mencoba menyalurkan ketenangan yang justru terasa seperti racun bagi Celine saat ini.“Kayra sudah tahu mamanya pembunuh, itu sudah cukup. Dia nggak perlu tahu siapa yang dihabisi mamanya.”Nada suaranya rendah. Stabil. Terlalu stabil untuk sebuah permintaan yang bagi Celine terdengar seperti pengkhianatan.Celine menatap Aldean tak percaya.“Om serius?” suaranya pelan, hampir berbisik, tapi justru itu membuat kata-katanya terdengar lebih berbahaya.“Om minta aku nyembunyiin fakta dari Kayra kalau orang yang dibunuh Tante Amira itu... mamaku?”Aldean terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Aku cuma ingin menjaga perasaannya. Ak
“Benci saja mereka,” ucap Aldean rendah. “Untuk kali ini, aku izinkan.”Celine terdiam, tatapannya lurus ke depan, kosong. Otaknya seolah masih mencerna semua kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Celine perlahan mengangkat wajah dan menatap Aldean lagi. Matanya masih merah dan basah, tapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana—bukan hanya luka, melainkan rasa ingin tahu yang semakin besar.“Om...” suaranya pelan, sedikit serak karena sisa tangis.Aldean mengunci tatapan pada istrinya. “Iya, Sayang?”“Kalau semua itu benar...” Celine menjeda, seolah sedang menyusun kata-kata dalam pikirannya. “Om tahu semuanya dari mana?”Aldean mengusap pelan pipi Celine yang masih basah. Tatapannya tenang, seolah sudah menduga pertanyaan ini akan muncul sebagai jembatan menuju kenyataan yang lebih kelam.“Ada seseorang yang melihat semuanya malam itu.”Celine menegang. “Siapa?”Aldean terdiam sejenak. Matanya menatap Celine cukup lama, seolah sedang mem
Tatapan Aldean masih terpaut pada wajah istrinya yang kini terlihat jauh lebih pucat.“Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan,” ucapnya pelan.Celine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jemarinya masih meremas kemeja Aldean, mencari tumpuan pada satu-satunya orang yang ia punya.“Gimana...” suaranya serak, nyaris hilang. “Gimana Mama bisa dibunuh, Om?”Ruangan kembali hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara keduanya.Aldean terdiam, menimbang beratnya kebenaran yang akan ia ungkapkan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bicara.“Malam itu,” ujarnya dengan nada rendah, “mamamu sengaja datang ke kantor untuk menemui Surya.”Celine langsung mengangkat wajah. “Kantor?”Aldean mengangguk.“Seharusnya malam itu Surya sedang lembur. Tapi ternyata dia bersama Amira.”Celine menahan napas. Entah kenapa, ia sudah tahu ke mana arah cerita ini akan berujung. Tatapannya mulai kosong, menerawang jauh.“Begitu sampai...” lanjut Aldean. “Mamamu memergoki Surya da
Aldean tidak langsung menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Celine menatap suaminya tanpa berkedip, seolah masih berharap semua ini hanya kesalahpahaman belaka. Namun tidak. Tatapan Aldean terlalu tenang untuk sebuah kebohongan.Dan justru ketenangan itulah yang menghancurkan harapan terakhir Celine. Tubuh Celine kembali menegang di pangkuan Aldean. “Sejak kapan?” tanyanya pelan, suaranya serak nyaris pecah. Aldean meraih kedua tangan Celine, menggenggamnya, dan mengusap lembut punggung tangan itu. “Sudah cukup lama.” Jawaban itu membuat Celine tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena hidupnya terasa seperti lelucon yang kejam. “Aku bener-bener ggak nyangka…” Celine menunduk, jemarinya perlahan terkepal di pangkuan.“Jadi selama ini…” bibirnya bergetar, “Mama aku hidup satu rumah dengan suami yang berselingkuh di belakangnya.” Nada suaranya datar, terlalu datar, dan justru itu membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan. Aldean menatap istrinya beberapa
Celine terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena ragu, tapi karena ada satu hal kecil yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.“Eh… Om,” panggilnya akhirnya. “Tapi sebelum itu, aku mau nanya dulu sama Om.”Aldean mengangkat alis. “Nanya apa?”Celine menatap Aldean, sorot matanya pen
Pintu baja ruang kendali berdiri kokoh seperti benteng terakhir Surya. Panel digital di sisinya berkedip merah, menandakan sistem pengunci tingkat tinggi masih aktif, terhubung langsung dengan seluruh jaringan pertahanan vila. Evan berdiri paling depan, senapan tergenggam erat di tangan, rahangny
Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini
Mobil Aldean melaju pelan menyusuri jalanan pagi yang masih lengang. Cahaya matahari menyelinap di antara gedung-gedung, memantul lembut di kaca mobil.Celine duduk diam di samping Aldean. Tangannya bertaut di pangkuan, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Sejak tadi Aldean hampir tidak bicara.Ce







