LOGIN“Papa, ih! Jangan dilihatin kayak gitu, Gavin-nya takut!” protes Kayra dari arah brankar. Wajahnya semakin merona merah karena menanggung malu melihat kelakuan posesif papanya.Celine yang berdiri di sisi lain hanya bisa menutupi mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa mati-matian agar tidak menyembur.Aldean tak menggubris ucapan Kayra. Langkah pria itu kini sudah berhenti tepat satu langkah di depan Gavin. Perbedaan tinggi badan dan proporsi tubuh membuat Gavin yang sebenarnya sudah cukup tinggi, tetap saja terlihat kecil di bawah dominasi mutlak seorang Aldean Devantara.“Ngapain kamu di sini?” tanya Aldean dengan nada datar.“J-jenguk Kayra, Om. Saya dengar dia kecelakaan, jadi saya langsung ke sini,” jawab Gavin terbata.Mata Aldean melirik ke buket bunga yang dipegang Gavin.“Bawa apa kamu?” Aldean bertanya lagi, masih dengan nada datarnya.“Ini... anu, Om. Bunga lili putih untuk Kayra,” jawab Gavin, berusaha menstabilkan suaranya meski tangannya yang memegang buket suda
Dalam hitungan detik, kehangatan yang baru saja tercipta di ruangan itu mendadak menguap, berganti dengan keheningan yang mencekam. Klek. Knop pintu itu bergerak turun dengan cepat, lalu daun pintu terbuka lebar, memperlihatkan seorang pemuda dengan napasnya masih terengah-engah di ambang pintu. Di tangan kanan pemuda itu tergenggam seikat buket bunga lili putih yang tampak sedikit miring—pertanda ia membawa bunga itu sambil berlari tergesa sepanjang koridor rumah sakit. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kecemasan yang teramat pekat. Gavin. Pemuda itu akhirnya sampai setelah jantungnya nyaris copot mendengar kabar kecelakaan kekasihnya. Begitu matanya menangkap sosok Kayra yang duduk bersandar di atas brankar, Gavin menghela napas panjang, lega melihat sang kekasih selamat dari maut. Namun, saat menyadari tatapan tajam Aldean yang mengintimidasi, Gavin buru-buru membungkukkan badan dengan sopan. “S-selamat sore, Om... Celine,” sapa Gavin agak gugup, suaranya sedikit berg
“Hala... lari marathon apaan? Dari kasur ke kamar mandi aja Papa kadang masih suka pegangan pinggang, sok-sokan mau lari marathon beneran,” cibir Kayra tanpa ampun, membalas argumen papanya dengan nada super lempeng. “Gengsi banget sih, Pa... Ngakuin kalau udah berumur.” Mendengar ucapan tak terduga dari putrinya, Aldean seketika bungkam dengan mulut sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Pria matang berkepala empat itu langsung menoleh ke arah Celine dengan tatapan mengadu, seolah meminta pembelaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak oleh anak sendiri. Sementara itu, Celine yang sejak tadi berdiri di sisi Aldean memilih untuk tidak ikut nimbrung dalam perdebatan renyah tersebut. Ia hanya tersenyum manis, memandangi interaksi menggemaskan di depannya dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru dan kebahagiaan yang teramat buncah. “Udahlah, Pa... Nggak usah pamer-pamer lagi,” lanjut Kayra sembari melipat kedua tangannya di depan dada, pura-pura merengut. Aldean sung
Celine semakin mempererat pelukannya, membiarkan pundak tegapnya menjadi tempat bersandar bagi tangisan Kayra yang pecah seutuhnya. Air mata Celine sendiri ikut luruh, membasahi pucuk kepala sahabatnya. Tubuh Kayra yang terguncang hebat di dalam dekapannya membuat sisa-sisa rasa canggung di antara mereka menguap tak berbekas. “Aku udah maafin kamu, Kay... Bahkan sebelum kamu minta maaf, aku nggak pernah sedikit pun nyimpan dendam sama kamu,” bisik Celine teramat lirih, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi di dadanya. Celine melonggarkan pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, lalu ibu jarinya dengan telaten menghapus jejak-jejak air mata yang membanjiri pipi gadis itu. “Aku tahu kamu marah karena kamu kecewa banget sama aku. Itu wajar, Kay. Jadi stop nyalahin diri kamu sendiri, ya? Yang penting sekarang kamu fokus buat sembuh,” lanjut Celine dengan binar mata yang memancarkan ketulusan mutlak. Kayra menatap mata bening Celine
Di sisi kiri brankar, sepasang mata elang Aldean menangkap dengan sangat jelas gurat kedilemaan yang sedang menyiksa putrinya.Sebagai pria dewasa yang cerdas dan penuh perhitungan, Aldean tahu ego Kayra tidak akan pernah benar-benar runtuh selama ada dirinya yang bertindak sebagai penengah di sini. Mereka harus dibiarkan berdua. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dia sia-siakan.Maka, dengan gerakan yang teramat natural, Aldean meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya yang sebenarnya layarnya gelap total, lalu menempelkannya ke telinga seolah-olah benda itu baru saja bergetar.“Ah... iya, halo? Selamat sore,” ucap Aldean, aktingnya begitu sempurna hingga Celine sempat terkecoh.Pria itu menoleh ke arah Celine dengan raut wajah yang dibuat seolah sedang mendesak. “Sayang, aku ada telepon penting dari klien luar negeri. Aku harus angkat di luar sebentar karena sinyal di sini kurang bagus. Kamu... bisa tolong bantu Kayra menyeka tubuhnya dulu, hmm?”Deg.Celine dan Kayr
Hening hangat menyelimuti kamar rawat selama beberapa saat. Tidak ada yang berbicara, namun entah kenapa keheningan kali ini terasa jauh berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak lagi menyesakkan, tidak lagi dipenuhi amarah, justru terasa damai.Celine kembali menyendok bubur dan menyuapkannya kepada Kayra. Kali ini gadis itu tidak banyak protes, meski sesekali masih mendecak atau menggerutu pelan.Setelah beberapa suapan berikutnya, mangkuk bubur itu akhirnya hampir kosong.“Habiskan ya, Kay... tinggal tiga suap lagi,” ujar Celine.Kayra langsung mengerang. “Masih banyak.”“Tiga suap doang.”“Dua.”“Tiga.”“Dua setengah.”Celine menatap Kayra datar, sementara Kayra membalas tatapan itu tak kalah datar.Melihat itu, Aldean menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa. Pria matang itu lalu duduk di kursi yang ada di sisi lain brankar, menatap bergantian putri dan istrinya dengan senyum penuh arti. “Aku baru sadar sesuatu,” seloroh Aldean tenang, memancing perhatian kedua p







