LOGINPlak.Suara tamparan itu memantul di dinding vila, memecah sunyi pulau yang selama ini menyimpan terlalu banyak rahasia.Tubuh wanita itu terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai marmer. Rambutnya berantakan, menutupi separuh wajah yang memerah. Napasnya tersengal, antara sakit dan takut.Surya berdiri di hadapannya. Bathrobe masih melekat di tubuhnya, sisa air menetes dari ujung rambutnya. Dada pria itu naik-turun, bukan karena emosi meledak, melainkan karena amarah yang terlalu terkontrol.“Aku sudah bilang apa?” ucap Surya rendah. Dingin. “Jangan bikin ulah.”Ia menunduk, mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap lurus.“Aku sudah janji akan melepas ikatanmu selama kamu nurut,” katanya pelan. Jarinya mengencang.“Tapi baru aku tinggal mandi sebentar,” lanjutnya lirih, berbahaya, “kamu sudah berani ambil ponselku.”Wanita itu menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang.Surya melirik layar ponsel di tangannya. Riwayat panggilan masih terbuka.Nomor tak dikenal.Tatapan
Pelukan Aldean mengencang di tubuh Celine. Tangannya menahan punggung gadis itu, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, semuanya akan runtuh bersamaan.Celine tak menangis keras, hanya bahunya yang naik turun pelan. Isak itu terperangkap di dadanya, terasa begitu menyakitkan karena tak menemukan jalan keluar.“Aku egois ya, Om?” ucap Celine akhirnya, lirih, hampir tak terdengar.“Enggak,” jawab Aldean pelan. “Kita cuma terjebak di situasi yang salah.”Celine menggeleng. Senyum tipis muncul di wajahnya, rapuh.“Aku baru aja… kehilangan sahabat aku, Om.”Kalimat itu keluar tanpa tangis. Dan justru karena itulah, rasanya lebih perih.Aldean melepaskan pelukannya dan menuntun Celine duduk di sofa. Ia kemudian berlutut di hadapannya, menangkup kedua tangan Celine yang terasa dingin di telapak tangannya.“Kayra lagi sakit,” ucapnya rendah. “Dan luka orang yang sakit… sering kali melukai orang yang paling dekat.”“Aku tahu,” bisik Celine. “Makanya aku nggak bisa marah.”Air mata Celine akhi
Aldean terdiam sejenak.Bukan karena ragu, tapi karena ia memilih kata dengan hati-hati. Tangannya meraih jemari Celine, menggenggamnya erat, seolah itu satu-satunya penopang di tengah badai.“Enggak, Kay,” ucapnya akhirnya. Suaranya datar dan tenang.“Apa?” Kayra menatap ayahnya tak percaya.“Papa nggak akan putus sama Celine. Mau bagaimana pun dan sampai kapan pun. Nggak akan pernah, Nak.”Tak ada penekanan. Tak ada emosi berlebihan. Justru ketenangan itu yang menghantam Kayra paling keras.“Apa Papa denger yang aku bilang barusan?” suara Kayra bergetar. “Aku malu, Pa. Aku sakit. Aku—”“Papa denger semuanya,” potong Aldean pelan. “Dan Papa paham apa yang kamu rasain.”Ia mendekat setengah langkah, masih menggenggam tangan Celine.“Tapi Papa juga nggak bisa bohong sama diri Papa sendiri. Celine bukan mainan. Bukan kesalahan sesaat. Dia seseorang yang Papa pilih. Papa nyaman sama dia.”Kalimat itu membuat wajah Kayra memucat.“Pa…” suaranya melemah. “Papa lebih milih dia?”Aldean mena
Detik berikutnya, seluruh tubuh Kayra menegang.“Pa…?” suaranya nyaris tak terdengar. “Papa ngapain di sini?”Aldean berdiri tepat di belakang Celine. Tatapannya langsung bertemu mata putrinya. Tak ada kepanikan di sana, hanya tarikan napas pelan, seolah ia sudah lama menyiapkan diri untuk momen ini.“Kita masuk dulu, Sayang,” ucapnya tenang. “Biar nggak di depan pintu.”“Enggak,” Kayra menyela cepat. Nada suaranya bergetar, tapi penuh tekanan. “Aku mau jawabannya sekarang.”Matanya beralih ke Celine. Ia menatap sahabatnya dengan tajam, sekaligus penuh luka. “Cel… Papaku ngapain di sini?”Lalu ia kembali menatap Aldean, sorot matanya mengeras. “Sejak kapan Papa datang ke apartemen sahabat aku?”Napasnya tertahan. “Aku juga dengar tadi Papa panggil dia mesra banget. Apa maksud semua ini, Pa?”Hening.Keheningan itu justru menekan dada Kayra lebih keras dari jawaban apa pun. Ia terkekeh lirih, tawa yang sama sekali tak mengandung kebahagiaan.“Jadi ini, ya,” katanya pelan. “Peremp
Air hangat mengalir pelan dari shower.Celine berdiri memunggungi Aldean, tubuhnya masih terasa lemas, napasnya belum sepenuhnya stabil. Aldean membasahi telapak tangannya dengan sabun, lalu membersihkan tubuh Celine dengan sabar, tanpa tergesa, tanpa sisa gairah. Hanya kelembutan dan perhatian.“Maaf ya, Bebi,” gumamnya rendah. “Aku bikin kamu capek.”Celine tersenyum kecil, menyandarkan tubuh ke dada Aldean.“Om memang kebangetan tadi,” balasnya lirih, setengah mengeluh, setengah manja. “Nggak tahu rem.”Aldean terkekeh pelan. Ia membilas rambut dan tubuh Celine dengan hati-hati, memastikan air tak terlalu deras menyentuh wajahnya. Setelah itu, ia membersihkan dirinya sendiri singkat, lalu meraih dua bathrobe.Ia memakaikan bathrobe ke tubuh Celine lebih dulu. Mengikat talinya rapi, memastikan kain itu menutup dengan sempurna.“Kenapa selalu aku duluan?” tanya Celine sambil menatapnya.“Karena kamu prioritas,” jawab Aldean ringan, sebelum mengenakan bathrobe miliknya sendiri.Tak la
Aldean terdiam sejenak sebelum mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan ritme pelan dan penuh rasa. Tangannya menggenggam pinggang Celine erat.Sensasi itu mengguncang tubuh mereka, membuat keduanya melupakan dunia di sekeliling.“Ahh… Om…” desah Celine, napasnya terengah-engah, matanya setengah terpejam.“Iya, Bebihh?”“Om, ini gila banget. Aku kayak… terbang,” suara Celine bergetar, napasnya makin memburu.Aldean menatapnya dalam-dalam, penuh rasa, sementara pinggulnya terus menekan di bawah sana.“Biarin dirimu terbang, Bebi. Aku di sini. Kita terbang bareng.”Napas mereka menyatu, memburu dalam satu tarikan. Tiap hentakan, tiap desahan, seolah bercerita lebih dari seribu kata.Tak ada lagi dunia luar. Hanya mereka berdua, terus bergerak dalam ritme, rasa, dan cinta yang tak bisa lagi diucap, hanya bisa dirasakan.Semakin lama, gerakan Aldean semakin dalam dan cepat, namun tak pernah kehilangan kelembutan. Seolah ia ingin menanamkan kehadirannya di setiap inci tubuh Celine







