เข้าสู่ระบบPertanyaan itu menguap begitu saja, tenggelam dalam kesunyian apartemen yang kian terasa mencekik. Aldean merogoh saku jasnya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya dengan tangan yang mulai bergetar hebat.Ia segera mendial nomor Celine, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas yang memburu. Tut... tut... tut...Nada sambung terdengar. Jantung Aldean berdegup kencang seirama dengan bunyi itu. Namun, hingga nada sambung itu habis dan panggilan terputus otomatis, tidak ada jawaban.“Angkat, Sayang... Please, angkat,” bisik Aldean frustrasi.Ia mencoba menekan tombol panggil ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pada percobaan keempat, kepanikan Aldean semakin memuncak saat suara operator dingin mengambil alih, menyatakan bahwa nomor yang ia tuju kini sudah tidak aktif.Celine sengaja mematikan ponselnya?Istrinya sengaja memutus akses dengannya?“Sialan!” Aldean mengumpat, suaranya meninggi memenuhi ruangan kosong itu.Dengan kasar, dia menjambak rambutnya sendiri.
“Justru karena itulah, Evan... aku tidak akan membiarkan Kayra mengetahuinya sekarang,” kata Aldean dengan suara bariton yang tenang, namun penuh penekanan yang mutlak. Evan mengernyitkan alis. Keraguan dan rasa tidak mengerti tergambar jelas di wajah asisten itu. “Maksud Anda, Tuan? Bukankah itu jalan keluar paling cepat untuk memperbaiki semuanya?” Aldean melangkah mendekati meja laci di sudut ruangan, lalu bersandar di tepinya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya lurus menatap tajam ke mata Evan. “Aku tidak mau Kayra kembali bersikap baik atau merangkul Celine cuma karena dia merasa bersalah atas dosa-dosa mamanya,” tegas Aldean, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang dalam. “Aku tidak mau hubungan mereka membaik karena dasar kasihan, rasa utang budi, atau ketakutan karena merasa dirinya adalah anak seorang pembunuh.” Aldean menjeda kalimatnya, mengembuskan napas pendek yang terdengar begitu berat, matanya menerawang menatap langit-langit ruangan. “
Perjalanan menuju rumah besar milik Aldean Devantara malam itu dilewati dalam keheningan yang mencekik. Begitu mobil mewah itu berhenti di halaman depan, atmosfer dingin langsung menyambut mereka. Rumah itu luas, tapi terasa mati. Evan dengan sigap membukakan pintu mobil. Aldean turun lebih dulu, diikuti Kayra yang melangkah dengan tubuh lemas, namun rahangnya tetap mengatup rapat. Sisa air mata masih membekas di pipinya. Mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang sepi. Lampu gantung kristal yang temaram memantulkan bayangan dua manusia yang sama-sama terluka, namun berdiri di kubu yang berbeda. Aldean membalikkan badannya, menatap anak gadisnya dengan raut wajah yang kembali datar dan sulit dibaca. “Masuk ke kamar kamu, Kay. Tenangkan dirimu di sana,” perintah Aldean. Suaranya terdengar begitu lelah, berat oleh beban tak kasat mata yang sejak tadi menggelayuti pundaknya. Kayra berdiri membeku di tempatnya selama beberapa detik, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. A
Pemberontakan Kayra membuat suasana di koridor kantor polisi semakin menegang. Beberapa petugas penyidik yang menyaksikan hanya bisa saling lempar pandang, enggan ikut campur dalam badai domestik keluarga itu. Aldean tidak melepaskan cengkeramannya dari kedua pergelangan tangan Kayra. Alih-alih melunak oleh tangisan anaknya, tatapan Aldean justru semakin dingin, memancarkan kilat ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat. “Evan,” panggil Aldean, suaranya teramat tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mengerikan dari seorang Aldean Devantara. “Ya, Tuan?” Evan segera mendekat, memasang badan. “Bawa Kayra ke mobil. Pastikan central lock-nya aktif begitu dia masuk,” perintah Aldean tanpa mengalihkan pandangannya dari Kayra. “Baik, Tuan.” Evan membungkuk hormat, lalu bergegas mendekati Kayra untuk mengantarnya ke mobil. Menyadari dirinya akan dipaksa pergi, Kayra semakin kalap. Ia menyentakkan tubuhnya ke belakang dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri sebe
Petugas polisi yang berjaga hanya bisa mengembuskan napas berat, tetap bungkam dan menjalankan protokol sesuai permintaan khusus dari Aldean sebelumnya.Aldean menghentikan langkahnya beberapa meter dari kerumunan itu. Ia mematung, menatap anaknya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa lelah yang teramat sangat, kepedihan seorang ayah, dan kilat kemarahan yang tertahan.Dada Aldean berdenyut ngilu. Setiap teriakan Kayra yang membela Amira terasa seperti belati yang menusuk rasa bersalahnya pada Celine.Di tempat ini, darah dagingnya sendiri sedang mengamuk demi seorang pembunuh, sementara di belahan kota lain, istrinya sedang meratapi nasib ibunya yang tewas oleh wanita yang sama.“Lihat betapa gilanya situasi ini,” batin Aldean perih.Ia merasa gagal. Gagal menjaga ketenangan rumah tangga yang baru saja ia bina bersama Celine, juga gagal menjadi pelindung yang adil bagi dua orang yang sangat ia sayangi.“Nona Kayra, tolong tenang. Tuan Aldean sedang dalam perj
Ting.Suara denting lift memecah keheningan. Pintu besi otomatis itu bergeser perlahan, membuka jalan bagi Celine untuk keluar ke area lobi utama Aldevra Group yang sudah sepi.Begitu ia melangkah melewati pintu kaca besar gedung, embusan angin malam langsung menyapu wajahnya—dingin menusuk seperti es, tapi entah mengapa tidak mampu membekukan kepalanya yang kian mendidih.Celine menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga depan gedung pencakar langit itu. Ia menengadah sesaat, menatap kemegahan Aldevra Group yang menjulang tinggi menantang langit malam.Tempat ini milik Aldean, suaminya yang beberapa jam lalu baru saja memintanya menutupi semua kebenaran tentang kematian ibunya demi untuk menjaga perasaan Kayra. Celine memejamkan mata, meremas jemarinya sendiri yang gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengais sisa-sisa ketegaran yang tersisa di dasar hatinya.“Cukup, Celine...” batinnya berbisik tajam. “Cukup jadi Celine yang selalu mengerti orang lain.”Isak ta







