Share

Bab 258

Author: Renita April
last update publish date: 2026-10-10 20:22:59

Kepala Karin mendongak ke atas ketika Dewa tengah menyesap miliknya secara bergantian. Kedua tangannya pun ikut bermain yang membuat Karin merasa terbakar oleh gairahnya sendiri. Ia terengah-engah, tubuhnya panas. Bahkan pendingin ruangan di sini tidak bisa memadamkan hasrat yang meledak-ledak.

“Kosongkan semuanya,” pinta Karin.

“Ini sangat banyak, Sayang,” ucap Dewa.

“Ya, minum sampai perutmu kenyang.” Karin menekan kepala Dewa semakin dalam. Tanpa sengaja ia menggerakkan pinggulnya. Dewa sada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 322

    Hari pertama sudah membuat kepala Karin pening. Ia jadi kagum pada pengusaha sukses yang sehari-hari menghadapi banyak kepala dengan isi pikiran dan hati yang berbeda-beda. Mulai sekarang hal-hal seperti tadi akan menjadi rutinitas Karin. Jika disuruh memilih, tentu saja Karin hanya ingin menjadi seorang wanita yang pekerjaannya hanya rebahan. Ia terkikik geli, padahal dulu bermimpi menjadi wanita karier. Sekarang sudah terwujud malah ingin rebahan lagi. “Nona lagi senang?” tanya Alexa. “Aku teringat masa lalu. Oh, ya, bagaimana penampilanku tadi?” “Sangat hebat.” “Di mana Paman Josh? Kenapa belum juga datang? Dia ingin menantangku, ya?” “Saya akan memeriksanya.” Alexa mengecek ponsel, lalu menghubungi suruhannya yang mengawasi Josh. “Suruh naik ke atas saja.” Sambungan itu diputus. “Nona, Paman Anda sedang menuju ke sini.” “Sudah berapa lama kamu bekerja di keluarga Evernight?” “Saya seorang yatim piatu. Tuan Alaric yang membawa saya ke keluarga Evernight dan melatih saya ban

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 321

    Untuk pertama kalinya kepala keluarga sekaligus pemimpin perusahaan menunjukan diri. Selama ini, kepala keluarga Evernight selalu mengendalikan semuanya dari balik layar. Itu dikarenakan kepala keluarga adalah perempuan, dan mereka selalu ditargetkan. Sekarang jelas berbeda karena keluarga Evernight telah memutuskan untuk menampilkan dirinya.Sudah seperti yang diduga jika jajaran direksi memandang ketua baru sebelah mata. Terlebih lagi Karin belum memiliki suami. Tidak ada pria yang mengajarkan dirinya. Dahulu, kepala klan selalu didampingi oleh suaminya karena dia lah yang menjalankan perusahaan, sedangkan ketua hanya memutuskan setuju atau tidak.Dalam beberapa tahun lalu, perusahaan mengalami kemunduran karena banyak dari suami ketua klan menyelewengkan dana. Pengkhianat makin berjamur di tubuh keluarga Evernight. Setelah ditangani oleh Alaric, kondisi keluarga Evernight maupun perusahaannya, meningkat. Justru karena itulah musuh mengincar putrinya sehingga Alaric harus kehilanga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 320

    Ucapan Damian membuat Dewa kepikiran. Sudah lama ia tidak mendengar nama Karin untuk dibahas. Ia telah menghentikan pencarian ketika wanita itu tidak mau memberi kabar. Bukan Dewa tidak berusaha, ia terus melacak keberadaan Karin, bahkan perusahaan Evernight. Namun, mendapat informasi saja sudah seperti mencari jarum ditumpukan jemari. Orang-orang biasa tidak banyak yang tahu. Itu karena pemimpin asli tidak senang menampakkan diri. Frustasi? Ya, Dewa hampir saja hancur karena tidak menemukan kekasihnya. Sekarang haruskah ia kembali berharap? Ia memandang jas serta cincin pertunangan di atas meja. Dalam minggu ini, ia akan bertunangan dengan Olivia Hart. Dua keluarga telah setuju dengan penyatuan ini. Dewa juga mendapat keuntungan karena ia butuh koneksi dari keluarga Hart. Teluk York itu perlu ia kuasai. Rencananya Dewa akan membuat resort, restoran serta pabrik makanan beku. Ia telah mengincarnya selama tiga tahun ini, tetapi belum juga dapat. Ada yang bilang teluk York itu dikuasa

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 319

    Malam ini, Damian tidak bisa menikmati pesta. Ia juga menolak wanita-wanita itu mendekat, dan memilih pergi, meski beberapa teman menyebutnya tidak asik. Damian tidak peduli soal itu. Yang terpenting adalah apakah wanita itu benar-benar Karin atau bukan. Ia tidak mungkin salah lagi. Tiga tahun ini mana mungkin ia bisa lupa.Damian mengirim pesan kepada Dewa dan Leonard. Mengajak keduanya bertemu di tempat biasa. Mereka punya club privat yang digunakan untuk membicarakan soal bisnis atau sekadar nongkrong saja. Hubungan ketiganya semakin akrab.“Tuan Damian, saya di sini.” Tom telah hadir, ia dipanggil malam-malam begini. Entah apa lagi yang dibuat oleh atasannya ini. Semenjak Karin tidak ada, Damian memang menjadi pria liar. Selalu saja ada masalah yang melibatkan dirinya. Entah itu wanita atau bertengkar dengan seorang teman.“Cek cctv di club ini. Temukan Karin,” pinta Damian.“No-Nona Karin?” Tom tidak percaya bahwa ia masih bisa mendengar nama tersebut.“Apa kurang jelas? Aku baru

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 318

    “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Tuan Dewa. Aku sungguh tidak berani.” Wanita ini terintimidasi oleh ketiga orang wanita di depannya. “Oh, ya? Kamu pasti mendengar kabar pertunangan mengenai Nona Olivia Hart dan Tuan Dewa, tapi kamu masih saja mendekat. Dasar jalang. Hajar dia! Rusak wajahnya biar dia tidak berani muncul di depan Tuan Dewa.” “Kenapa kalian melakukan ini semua, hah? Aku sungguh tidak tahu soal pertunangan itu. Tuan Dewa hanya mengajakku makan malam, bukan berarti aku ini kekasihnya.” “Dia memberimu hadiah, dan kamu memamerkannya melalui media sosial. Itu namanya cari penyakit.” “Aku minta maaf, kumohon lepaskan aku.” Wanita ini menangkupkan kedua tangan memohon agar dilepaskan. “Kami juga tidak mau melakukan ini, tetapi Nona Olivia sangat marah.” Ketiga wanita itu tersenyum penuh arti, dan membuat korbannya semakin takut. “Tunggu apa lagi? Cepat rusak wajahnya.” Salah satu dari mereka memerintah kedua temannya. Salah satu pintu toilet terbuka, membuat s

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 317

    Dulunya Karin tidak berani datang ke club, meski dibawa oleh kekasihnya. Karena menurutnya tempat ini tidaklah baik. Ya, setengah benar dan setengahnya lagi tidak. Club atas rata-rata dikunjungi oleh orang-orang kaya yang dipakai untuk melepas penat, bisnis, dan banyak hal lainnya juga. Sebab itulah, Karin datang ke club ini demi hubungan sosial. Sebagai ketua klan yang baru, ia harus banyak menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu melalui jaringan yang namanya koneksi.“Saya sudah memesan ruangan khusus, Nona,” ucap Alexa.“Aku ingin di sini dulu.” Karin memilih untuk duduk di meja yang paling sudut. Ia melihat pengunjung bergoyang di lantai dansa. “Pesankan aku minuman.”Alexa mengangguk, lalu memanggil pelayan. Ia memesan minuman untuk Karin dan untuknya juga. Bekerja bersama Karin tidaklah terlalu harus menurut pada aturan. Karin memperlakukan bawahannya seperti seorang teman. Alexa boleh duduk di sampingnya.“Saya pesankan minuman yang sedikit mengandung alkohol.”“Apa aku h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status