Share

Bab 55

Author: Renita April
last update publish date: 2026-07-20 21:14:04

Perasaan Karin tidak karuan. Matahari sudah kembali ke peraduan, tetapi Teguh belum juga pulang. Apa peduli Karin setelah melihatnya secara terang-terangan berkhianat. Ternyata lebih sakit saat melihat suami menggandeng wanita lain. Karin juga menyadari tindakannya kepada Sinta. Mungkin ini yang dirasakan oleh wanita itu saat melihat suaminya bersama perempuan lain.

Ceritanya juga hampir sama. Meski dalam persetujuan, tetap saja sakit hati bila seseorang yang disayang jatuh dalam pelukan oran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 228

    “Jangan harap bisa membawa pergi adikku,” ucap Anthony.“Kalau begitu, aku tinggal menyerahkannya kepada polisi. Tentu kamu tidak keberatan kan, Dewa?” Leonard memandang pria itu karena Sinta merupakan wanita yang pernah sangat dicintai oleh Dewa.“Aku serahkan semuanya padamu.” Dewa memalingkan wajah ke arah lain.Leonard bertepuk tangan beberapa kali, lalu memberi perintah kepada bawahan agar menahan Sinta, Agnes, dan Shanaya. Begitu tiba di bagian Shanaya Shaw, asisten dari keluarga Sinclair menghalangi.“Kita bisa membicarakan ini Tuan Dewa, Tuan Leonard.”Leonard menyunggingkan senyum dinginnya. “Damian sendiri yang memerintahkan agar aku membawa Shanaya.”“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membiarkan Anda membawa Nona Shanaya.”“Kalau begitu, kamu mati saja.” Leonard meletakan pistol di kening pria itu. Meski terlihat tangguh, tetapi tubuhnya bergetar. “Pelurunya penuh. Tidak masalah jika berkurang satu, asal bisa mengirimmu langsung ke neraka.”“Ma-Maafkan saya, Tuan.” Asisten ini ma

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 227

    “Sepertinya ini menjadi sangat menarik.” Leonard terkekeh. “Tunjukan bukti yang kamu punya, Sinta.” Dewa berjalan ke depan, lalu duduk di sofa dengan diikuti oleh Leonard. Sinta tersenyum sinis memandang Paula. Ingin menjadikannya sebagai kambing hitam, mereka berpikir terlalu jauh. Bagi seorang Sinta, ketiga wanita ini hanya merupakan pemula. Bermain trik, ia jagonya. “Ada apa ini? Sinta!” Anthony datang dengan tergesa-gesa. Melihat saudara laki-lakinya tiba di club ini, Sinta tersenyum puas. Ia merasa telah menang karena dari awal sampai akhir, ia lah yang mengatur permainan ini. “Kak, mereka menuduhku telah mencelakai Karin. Ini sungguh menyakitkan,” ucap Sinta. Siapa pun tahu betapa sayangnya Anthony terhadap Sinta, bahkan pria ini rela masuk penjara karena pernah mencelakai Karin. Ya, nama tersebut membuat Anthony naik darah. Ia tidak akan pernah lupa. Gara-gara Karin lah ia dipukuli, bahkan bagian terlarangnya perlu disembuhkan. Sekarang, adiknya sedih juga gara-gara

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 226

    “Ki-Kita harus bagaimana?” Mata Shanaya melebar sembari memandang satu per satu temannya. Jika harus mati, maka ia akan membawa mereka semua. “Kita harus pergi dari sini sebelum mereka berhasil melacak keberadaan kita.” Sinta bangkit dari duduknya, ia yang lebih dulu melompat pergi dari ruangan club ini. “Sudah terlambat. Mereka akan datang sebentar lagi,” sahut Paula. “Apa kamu akan terus menunggu di sini? Kalau ingin mati, jangan ajak kami.” Sinta bergegas keluar dari ruangan. Ia tidak boleh tertangkap saat ini karena Dewa pasti tak akan memaafkannya untuk kedua kali. Shanaya dan Agnes juga berpikir sama dengan Sinta. Keduanya mengikuti langkah wanita itu dengan memilih pergi. Nomor ponsel yang baru saja digunakan tadi telah dibuang ke tempat sampah. Dengan begitu, Leonard maupun Dewa akan sulit menemukan bukti. Namun, Paula berpikiran berbeda dengan ketiganya. Ia tetap berada di dalam club sembari menunggu ketiga rekannya kembali. Dalam beberapa menit saja, ketiga rekannya kem

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 225

    “Dia celaka karena penggemarku?” Eden masih berada dalam keadaan syok. Karin hampir mati karena salah satu penggemarnya. Ia tahu ada beberapa fans fanatik. Hanya saja sampai menghabisi nyawa seseorang, ini baru pertama kalinya. Paling jauh penggemarnya pernah melakukan serangan teror kepada salah satu artis yang dikabarkan dekat dengan Eden, dan masalah itu langsung dilaporkan pada pihak berwajib. Yang sekarang ini malah semakin bertindak sangat jauh.“Apa kamu baru menyadarinya? Semua ini karena dirimu,” ucap Damian.“A-Aku tidak pernah mau melibatkan Karin dalam bahaya. Berita viral itu juga telah ditarik.”“Kamu tahu sendiri orang jahat kerjanya lebih cepat. Harusnya kamu tahu jika Karin dalam bahaya bila berada di dekatmu.”“Di mana pelaku itu? Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Biarkan aku menghukumnya sendiri.”“Tidak perlu, kami bisa mengurusnya. Mulai sekarang, jaga jarak dengan Karin. Kamu menganggap Karin sebagai asisten, maka perlakukan seperti bawahan. Jang

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 224

    “Ka-Kalian.” Karin ingin melepas benda yang melekat di hidungnya saat ini, tetapi Damian lekas mencegahnya. Karin perlu diperiksa lebih dulu. Leonard lekas memanggil dokter. Ketiga pria ini bekerja sama dalam merawat kekasihnya.Dokter dan suster tiba, lalu melakukan pemeriksaan serta pengamatan. Keadaan Karin menunjukan proses membaik. Barulah benda yang tidak disukai Karin dilepas. Namun, jarum infus tetap dipertahankan karena ada obat yang nantikan bakal dimasukkan lewat sana.Karin juga masih merasakan sakit di perutnya, dan rasa tebal dari perban. Dokter telah melakukan yang terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Ia masih diberi kesempatan bernapas, dan melihat orang-orang yang disayangi.“Sayang, bagaimana perasaanmu?” tanya Dewa.“Sedikit sakit.”“Itu akan membaik dengan segera. Aku janji akan membuatmu sembuh seperti sedia kala.” Dewa memberikan air minum kepada kekasihnya, dan Karin menerima. Hanya sedikit yang ia teguk.Karin menolak meminum air lagi, matanya terpejam saat De

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 223

    Dewa mondar-mandir di depan ruang tindakan, ia gelisah karena Karin masih ditangani. Begitu juga Damian serta Leonard. Saat Leonard menelepon Karin untuk bertanya mengenai keberadaannya, seorang pria tidak dikenal mengangkat panggilan tersebut, dan mengatakan kejadian yang menimpa Karin. Itulah di mana ia lekas menuju lokasi serta memberitahu yang lainnya. "Dokter!" Dewa menghampiri pria yang baru saja keluar dan masih mengenakan masker tutup mulut. "Bagaimana keadaan kekasihku?" "Kami membutuhkan darah.""Ambil saja darahku.""Aku juga," sahut Damian."Kami semua siap." Leonard pun sama. Dokter itu memandang ketiganya, lalu mengangguk. "Silakan ikuti suster yang menangani. Kalian perlu di tes dulu." Suster yang menangani masalah ini lekas membawa Dewa serta lainnya ke ruang khusus. Ketika dokter itu ingin masuk ke ruang tindakan, dokter senior muncul. "Kalian sudah menangani wanita yang tertusuk benda tajam itu?" tanyanya yang membuat dokter yang menangani Karin, heran. Dari man

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status