LOGIN“Ki-Kita harus bagaimana?” Mata Shanaya melebar sembari memandang satu per satu temannya. Jika harus mati, maka ia akan membawa mereka semua. “Kita harus pergi dari sini sebelum mereka berhasil melacak keberadaan kita.” Sinta bangkit dari duduknya, ia yang lebih dulu melompat pergi dari ruangan club ini. “Sudah terlambat. Mereka akan datang sebentar lagi,” sahut Paula. “Apa kamu akan terus menunggu di sini? Kalau ingin mati, jangan ajak kami.” Sinta bergegas keluar dari ruangan. Ia tidak boleh tertangkap saat ini karena Dewa pasti tak akan memaafkannya untuk kedua kali. Shanaya dan Agnes juga berpikir sama dengan Sinta. Keduanya mengikuti langkah wanita itu dengan memilih pergi. Nomor ponsel yang baru saja digunakan tadi telah dibuang ke tempat sampah. Dengan begitu, Leonard maupun Dewa akan sulit menemukan bukti. Namun, Paula berpikiran berbeda dengan ketiganya. Ia tetap berada di dalam club sembari menunggu ketiga rekannya kembali. Dalam beberapa menit saja, ketiga rekannya kem
“Dia celaka karena penggemarku?” Eden masih berada dalam keadaan syok. Karin hampir mati karena salah satu penggemarnya. Ia tahu ada beberapa fans fanatik. Hanya saja sampai menghabisi nyawa seseorang, ini baru pertama kalinya. Paling jauh penggemarnya pernah melakukan serangan teror kepada salah satu artis yang dikabarkan dekat dengan Eden, dan masalah itu langsung dilaporkan pada pihak berwajib. Yang sekarang ini malah semakin bertindak sangat jauh.“Apa kamu baru menyadarinya? Semua ini karena dirimu,” ucap Damian.“A-Aku tidak pernah mau melibatkan Karin dalam bahaya. Berita viral itu juga telah ditarik.”“Kamu tahu sendiri orang jahat kerjanya lebih cepat. Harusnya kamu tahu jika Karin dalam bahaya bila berada di dekatmu.”“Di mana pelaku itu? Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Biarkan aku menghukumnya sendiri.”“Tidak perlu, kami bisa mengurusnya. Mulai sekarang, jaga jarak dengan Karin. Kamu menganggap Karin sebagai asisten, maka perlakukan seperti bawahan. Jang
“Ka-Kalian.” Karin ingin melepas benda yang melekat di hidungnya saat ini, tetapi Damian lekas mencegahnya. Karin perlu diperiksa lebih dulu. Leonard lekas memanggil dokter. Ketiga pria ini bekerja sama dalam merawat kekasihnya.Dokter dan suster tiba, lalu melakukan pemeriksaan serta pengamatan. Keadaan Karin menunjukan proses membaik. Barulah benda yang tidak disukai Karin dilepas. Namun, jarum infus tetap dipertahankan karena ada obat yang nantikan bakal dimasukkan lewat sana.Karin juga masih merasakan sakit di perutnya, dan rasa tebal dari perban. Dokter telah melakukan yang terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Ia masih diberi kesempatan bernapas, dan melihat orang-orang yang disayangi.“Sayang, bagaimana perasaanmu?” tanya Dewa.“Sedikit sakit.”“Itu akan membaik dengan segera. Aku janji akan membuatmu sembuh seperti sedia kala.” Dewa memberikan air minum kepada kekasihnya, dan Karin menerima. Hanya sedikit yang ia teguk.Karin menolak meminum air lagi, matanya terpejam saat De
Dewa mondar-mandir di depan ruang tindakan, ia gelisah karena Karin masih ditangani. Begitu juga Damian serta Leonard. Saat Leonard menelepon Karin untuk bertanya mengenai keberadaannya, seorang pria tidak dikenal mengangkat panggilan tersebut, dan mengatakan kejadian yang menimpa Karin. Itulah di mana ia lekas menuju lokasi serta memberitahu yang lainnya. "Dokter!" Dewa menghampiri pria yang baru saja keluar dan masih mengenakan masker tutup mulut. "Bagaimana keadaan kekasihku?" "Kami membutuhkan darah.""Ambil saja darahku.""Aku juga," sahut Damian."Kami semua siap." Leonard pun sama. Dokter itu memandang ketiganya, lalu mengangguk. "Silakan ikuti suster yang menangani. Kalian perlu di tes dulu." Suster yang menangani masalah ini lekas membawa Dewa serta lainnya ke ruang khusus. Ketika dokter itu ingin masuk ke ruang tindakan, dokter senior muncul. "Kalian sudah menangani wanita yang tertusuk benda tajam itu?" tanyanya yang membuat dokter yang menangani Karin, heran. Dari man
Untuk hari ini, Karin sangat berterima kasih kepada Eden karena diizinkan pulang lebih awal. Pukul tujuh malam, Karin sudah keluar dari kediaman mewah itu. Dengan mengendarai sepeda motornya, ia menyusuri jalan raya besar menuju restoran steak. Karin perlu mengisi perutnya lebih dulu sebelum Leonard menjemputnya di rumah sewa. Malam ini, memang jatah pria itu. Karin juga perlu mendengar penjelasan dari bibir kekasih ketiganya itu mengenai hubungan dengan teman masa kecilnya. Apakah dia masih dekat dengan Agnes atau hubungan mereka berakhir? Semua harus jelas. Melihat Karin datang, pelayan segera melayani dengan sangat ramah. Ini karena Karin mendatangi restoran biasa, di mana ia bisa makan gratis. Semua tagihan Dewa yang bayar. Karin bahkan memesan dua steak sekaligus, dan salah satunya dibungkus. Karin mengirim lokasinya di grup obrolan chat agar kekasihnya tidak khawatir mengenai keberadaannya sekarang. Setelahnya ia mengalihkan pandangan ke sekitar. Memandang setiap pengunjung ya
Semua yang Karin lakukan selalu salah di mata Eden Voss. Makanan serta minuman yang ia berikan dibilang tidak enak dan membuat tenggorokkan pria itu terbakar. Mana ada alasan seperti itu. Jika tahu Eden suka bertingkah seperti ini, sebaiknya ia meracuninya saja.“Kamu ini marah karena apa? Katakan saja, aku siap mendengarkan,” ucap Karin.“Tadi malam aku mengkhawatirkanmu, tetapi kamu malah tidak membalas pesan dariku.”“Bukankah sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja?”“Setidaknya katakan dengan jelas. Sebagai atasanmu, aku harus memastikan kamu baik-baik saja.”“Ya, ya, aku sangat berterima kasih karena kamu mengkhawatirkanku. Sekarang makanlah dulu. Aku membuat makanan ini secara khusus hanya untuk Tuan Eden Voss yang tampan.” Karin tersenyum.“Huh!”“Kalau tidak mau, aku bisa memberikannya kepada asisten Natan.”“Jangan sekali kamu berani mengambilnya.” Eden Voss merebut piring dari tangan Karin, lalu memakan makanan yang wanita itu buat.“Apa rasanya?” tanya Karin penuh harap.







