Share

31 - Riak di Telaga Tenang

Auteur: ARTHAIRA
last update Date de publication: 2026-04-23 09:39:55

Satu tahun telah berlalu sejak deru mesin jet dan dentuman ledakan di Frankfurt menjadi kenangan yang terkubur di dasar ingatan. Di pesisir selatan Jawa yang landai, pagi hari biasanya dimulai dengan aroma tanah basah dan suara deburan ombak yang konsisten menghantam karang. Aruna berdiri di beranda rumah kayunya, menyesap kopi pahit sambil memperhatikan Elang yang sedang asyik memberi makan beberapa ekor ayam di halaman samping. Kulit Aruna kini tampak lebih segar, r

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   35 - Genderang Perang dari Pesisir

    Hujan sisa badai semalam masih menyisakan rintik tipis saat mobil yang membawa Dewa dan Aruna memasuki pelataran rumah mereka di pesisir selatan Jawa. Suasana desa tampak tenang, namun bagi sepasang mata yang telah terlatih menghadapi maut, ketenangan itu terasa seperti permukaan air yang menutupi pusaran arus yang mematikan. Aruna turun dari mobil dengan langkah yang meskipun masih terasa berat akibat kelelahan fisik dan mental, namun sorot matanya telah berubah menjadi jauh lebih tajam. Kematian Sofia Adiwangsa di Menteng bukan hanya mengakhiri sebuah misteri besar, melainkan juga menyulut api perlawanan yang tidak akan pernah padam sebelum faksi Cahaya Pagi rata dengan tanah.'Aku telah memberikanmu kebebasan, Ibu. Sekarang, biarkan aku memastikan tidak ada lagi nyawa yang dijadikan budak di bawah ambisi gila mereka,' batin Aruna sambil mendekap tas laptopnya yang kini berisi harta karun paling berbahaya di dunia digital.

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   34 - Denyut di Jantung Digital

    Udara di dalam laboratorium bawah tanah Menteng itu terasa sangat tipis dan berbau ozon, seolah-olah oksigen telah habis dikonsumsi oleh ribuan sirkuit yang bekerja tanpa henti di sekeliling Aruna. Cahaya lampu neon yang putih menyilaukan memantul pada permukaan tabung kaca tempat Sofia Adiwangsa tertidur dalam dekapan cairan bioaktif. Aruna berdiri mematung, dikepung oleh moncong senapan otomatis yang siap memuntahkan timah panas jika ia melakukan gerakan sedikit pun yang dianggap mencurigakan. Di hadapannya, dr. Adrian tersenyum dengan sorot mata yang memancarkan kegilaan seorang visioner yang telah kehilangan nalar kemanusiaannya.'Mereka tidak hanya mencuri raga ibu, mereka mencuri setiap sinyal listrik dalam otaknya untuk dijadikan mesin pencari fakta genetik. Ini jauh lebih kejam daripada apa yang dilakukan ayah dulu,' batin Aruna sambil menggenggam tali tas laptopnya hingga buku-buku jarinya memutih."Jangan menatapku seperti itu, Aruna. Kami menyelamatkannya dari kematian yang

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   33 - Surat Dari Masa Lalu

    Langit di atas pesisir selatan Jawa malam itu tampak begitu pekat, seolah-olah bintang-bintang pun enggan menampakkan diri di tengah ketegangan yang kembali menyelimuti rumah kayu di tepi tebing itu. Aruna duduk terdiam di depan meja kerjanya yang kecil, matanya terpaku pada sebuah surel terenkripsi yang muncul di layar laptopnya tepat satu jam setelah rombongan relawan medis palsu itu meninggalkan desa. Surel itu tidak berisi ancaman pembunuhan atau tuntutan tebusan, melainkan hanya sebuah lampiran foto lama yang diambil di makam keluarga Adiwangsa di Jakarta. Di dalam foto itu, ibunya, Sofia Adiwangsa, tampak berdiri tegak di samping sebuah nisan tanpa nama dengan senyum yang menyimpan ribuan rahasia.'Kenapa mereka memiliki foto ini? Ini adalah area pribadi yang dijaga ketat oleh sistem keamanan ayah dulu. Dan siapa yang dikuburkan di nisan tanpa nama itu?' batin Aruna sambil merasakan jemarinya mulai mendingin.

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   32 - Penyusup di Balik Jubah Putih

    Angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa aroma garam yang pekat dan suara gesekan daun kelapa yang terdengar seperti bisikan rahasia di telinga Aruna. Di halaman depan rumah kayunya, Aruna sedang menjemur pakaian sambil sesekali melirik ke arah jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan pusat desa. Kabar tentang kedatangan tim relawan medis dari Jakarta telah tersebar sejak kemarin sore. Bagi warga desa, ini adalah berkah karena akses kesehatan di sini memang sangat terbatas. Namun bagi Aruna, setiap wajah baru yang masuk ke wilayah ini adalah potensi ancaman yang bisa menghancurkan kedamaian yang baru setahun ia bangun.'Apakah mereka benar-benar relawan, atau hanya sekadar pion yang dikirim oleh Cahaya Pagi untuk memetakan keberadaanku?' batin Aruna sambil meremas ujung daster sederhananya.Dewa keluar dari samping rumah, membawa beberapa bilah bambu yang sudah diruncing

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   31 - Riak di Telaga Tenang

    Satu tahun telah berlalu sejak deru mesin jet dan dentuman ledakan di Frankfurt menjadi kenangan yang terkubur di dasar ingatan. Di pesisir selatan Jawa yang landai, pagi hari biasanya dimulai dengan aroma tanah basah dan suara deburan ombak yang konsisten menghantam karang. Aruna berdiri di beranda rumah kayunya, menyesap kopi pahit sambil memperhatikan Elang yang sedang asyik memberi makan beberapa ekor ayam di halaman samping. Kulit Aruna kini tampak lebih segar, rona pucat akibat koma digital setahun lalu telah digantikan oleh warna kecokelatan yang sehat akibat sering terpapar sinar matahari pantai. Tidak ada lagi kabel saraf yang menempel di pelipisnya, hanya ada jepit rambut sederhana yang menahan poni panjangnya agar tidak menutupi mata.'Setahun yang lalu aku tidak pernah membayangkan bisa merasakan ketenangan semacam ini. Hidup tanpa harus memikirkan protokol keamanan atau enkripsi data tingkat tinggi adalah kemewah

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   30 - Labuan Terakhir di Ujung Dunia

    Cahaya matahari pagi yang hangat mulai merayap masuk melalui celah-celah ventilasi dermaga bawah tanah Pulau Seribu Rahasia, memantul di atas permukaan air laut yang tenang dan jernih. Suara deru mesin helikopter Black Hawk yang membawa Dewa dan Elang terdengar menggema di dalam gua raksasa tersebut, menandakan kembalinya para pahlawan dari medan pertempuran maut di tengah laut. Begitu pintu helikopter terbuka, Dewa melompat turun dengan Elang yang masih tertidur pulas dalam pelukannya. Wajah Dewa tampak sangat kusam, dipenuhi jelaga dan noda garam, namun matanya memancarkan kelegaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.'Kita sampai, Elang. Kita benar-benar sampai di rumah yang aman,' batin Dewa sambil mencium kening putranya yang masih sedikit gemetar dalam tidurnya.Di ujung dermaga, Aruna berdiri dengan bantuan tongkat penyangga. Tubuhnya masih sangat lemah, dan wajahnya masih pucat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status