Home / Young Adult / Ajari Aku Ciuman, Mas CEO / Bagian 109 - Banding

Share

Bagian 109 - Banding

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-11-05 18:27:00

Hari senin yang biasanya begitu dibenci oleh banyak orang, termasuk Biya. Kini, justru menjadi hari yang palinh ditunggu.

"Tidak perlu gugup, kita memiliki kekuatan besar untuk semuanya," ungkap Pak Rendra menenangkan Biya dan Arsen.

Hari ini, kedunya sedang di ruang sidang untuk mengajukan banding. Ketika bel tanda sidang dibuka berbunyi, semua orang berdiri. Suara langkah sepatu hakim dan panitera terdengar bergema di ruang besar itu.

Majelis hakim memasuki ruangan dengan ekspresi netral, seolah tidak ada emosi yang bisa mereka tunjukkan di hadapan publik.

Biya menarik napas dalam, menegakkan punggungnya. Arsen di sebelahnya melirik sekilas, lalu meletakkan tangan di atas tangannya dengan gerakan singkat, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menyalurkan sedikit ketenangan.

Sidang dimulai.

Semua tersangka dipersilahkan masuk, disana Kirana dan Dharma masuk dengan kepala tertunduk.

"Mama, Papa," lirih Biya yang hampir saja menangis.

Ruangan sidang terasa semakin sempit s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 154 - Ruang VIP

    Marsha enggan memaksa, karena selama menjalin hubungan dengan Arsen, ia paham betul bagaimana kerasnya adik dan kakak itu. jadi, dengan berat hati Marsha masuk dengan meninggalkan Arsen yang duduk lemas di bangku koridor.Di dalam kamar, suara mesin monitor halus mengisi udara. Biya duduk begitu dekat dengan ranjang, seakan takut Bagas akan menghilang jika ia mengambil jarak lebih dari beberapa sentimeter. Ia memegang tangan Bagas yang dingin, ibu jarinya mengusap tulang jari yang menonjol. Marsha mendekat perlahan.“Sayang, kamu mau mandi dulu? Biar ngerasa lebih seger.”Biya hanya menggeleng, matanya masih terpaku pada wajah Bagas yang memar. Sesekali dadanya naik-turun terlalu cepat, pertanda masih syok.“Kalau Bagas bangun, dia lihat kamu sampai lemes gini, kamu pikir dia bakal senang?” Marsha mencoba lembut, tapi tetap realistis.Kali ini Biya menunduk. “Aku takut banget. Aku kira, aku kira dia-” Suaranya patah di tengah kalimat.Marsha memijat bahunya. “Sudah tidak pa-pa yang pe

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 153 - Adiknya yang Dilindungi

    Marsha berlari sambil membawa tas yang sepertinya Biya duga berisi pakaian dan alat kebersihan lainnya. Tubuh lemas yang bajunya penuh darah dan wajahnya penuh air mata, langsung dipeluk erat oleh pacar Abangnya itu. setelah beberapa detik, Marsha menarik wajah Biya, menangkup pipinya.“Sayang, kamu kenapa sampai kayak gini?” suaranya pecah, tapi lembut.Biya mencoba bicara, tapi suara yang keluar hanya gumaman tak jelas, tercekik oleh isak. Marsha mengusap pipinya perlahan, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh pada Arsen yang datang beberapa detik kemudian.Arsen duduk agak jauh, dua meter lebih, seolah sadar ia sudah kehilangan hak untuk mendekat tanpa diminta. Ponselnya masih di tangannya, darah di buku-buku jarinya sudah kering dan menghitam. Tatapannya tajam, tapi tidak lagi dipenuhi bara. Lebih seperti seseorang yang baru dihantam kenyataan yang pahit dan belum tahu harus bagaimana.“Mas Ba-Bagas.” suara Biya serak, kecil, tapi masih bisa terdengar.Marsha menoleh cepat pa

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 152 - Membabi Buta

    BughBugh"Abang, abang please," mohon Biya.BughBughArsen terus memukuli Bagas yang hanya bisa diam dan memasrahkan diri. Tidak ada niatan untuk membalas, karena kini pria yang sudah berlumuran darah wajahnya itu mengerti mengapa Arsen bereaksi sebegininya."Bangsat! Bajingan!"Selagi mengumpat, Arsen terus memberikan pukulan dan tendangan saat tubuh besar milik Bagas jatuh ke tanah."Stop stop," Biya mencoba menengahi dengan memeluk tubuh Bagas yang sudah sangat lemas. Mata pria itu juga terlalu berat untuk terbuka, setengah saja, menatap pada Biya yang menangisinya dengan pelukan erat."Pukul aku juga kalau gitu. Aku juga bohong karena nggak ngasih tahu Abang siapa bosku. Ayo pukul aku," Biya meraung.Lengan mungil itu memeluk kepala Bagas, menaruhnya di pangkuannya. Dengan gemetar, Biya mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Ambulance."Bentar ya, Mas. Aku telfon Ambulance," Biya berucap tapi langsung dihentikan oleh Arsen."Nggak perlu telfon Ambulance. Abang anterin,

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 151 - Long Time No See

    Abang‘Abang sudah di depan perusahaan kamu, dek’Sebuah kalimat yang membuat Biya menegang dan Bagas memahami itu. pria itu segera meminta Matteo untuk pulang.“Cepat pulang.”Tidak ada bantahan dari Matteo dan mengangguk lalu berbalik meninggalkan dua orang itu dengan tanya. Tadi pagi saat Valerie datang dan mengamuk, jujur saja semua staf kebingungan dan sekarang semakin membuat Matteo yakin bahwa memang ada sesuatu antara bosnya dan designer baru.“Katanya Abang sudah sampai di depan kantor, tapi Mas...” Kalimat Biya menggantung karena merasa ada janggal, lalu dengan lirih berucap, “dari mana Abang tahu kantorku, aku kan nggak pernah ngasih tahu.”Bagas sadar betul bahwa Arsen masih sama kuatnya seperti dirinya. Tidak mungkin pria itu membiarkan adiknya- Biya pergi bekerja di luar negeri tanpa mencari tahu semuanya. Dan mungkin sekarang Arsen sudah tahu bahwa Biya bekerja di perusahaan miliknya.Dan Bagas tahu, jika Arsen sudah bergerak sampai sejauh ini, berarti dia sudah menemuk

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 150 - Undur Diri dari Perusahaan

    Ruangan itu langsung hening, Bagas terdiam begitu pun sisanya. Tidak pernah, siapa pun sangka bahwa permasalahan ini tidak jauh dari uang.“Berapa jumlahnya?” tanya Bagas pelan.Tessa terisak sebentar sebelum menjawab.“8000 dollar, Sir.”Jawaban itu membuat Matteo refleks mendengus pelan mengingat itu adalah jumlah yang kecil bagi perusahaan, tapi besar bagi karyawan level Tessa. Bagas kembali menyatukan pikiran.“Jadi permasalahan ini dan Biya adalah dua hal yang berbeda ya,” suaranya turun, analitis, bukan emosional.Tessa tidak menjawab, isaknya masih terdengar samar. Bagas mencoba menjadi bos yang baik dan ingin segera menyudahi permasalahan ini.“Baik. Kalau begitu saya bayarkan hutang kamu dan setelahnya kamu mundur dari perusahaan.”Tessa mengangkat wajahnya perlahan, mata basah itu menatap Bagas seolah tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.“Si-sir, mau membantu saya?” suaranya bergetar.Bagas bersandar sedikit ke kursinya.“Bukan membantu,” koreksinya tenang. “Saya hany

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 149 - Hutang?

    “Lacak semua akses yang memperlihatkan Tessa dibawa pergi,” suara Bagas turun rendah, tegas, tanpa ruang negosiasi.Matteo langsung mengangguk dan berbalik untuk mengeksekusi. Bagas sendiri sudah hendak mengikuti langkah asistennya ketika tiba-tiba ia merasakan tarikan ringan di jasnya. Biya berdiri di belakangnya, wajahnya tegang.“Ma-” Biya tercekat sepersekian detik. “Em… maksudnya, saya ikut ya, Pak?”Kata “Pak” jelas dipaksakan, terlambat setengah detik dari refleks jantungnya yang ingin memanggil ‘Mas’. Bagas menunduk sedikit, cukup agar matanya sejajar dengan mata Biya. Bagas mendekat setengah langkah, memperkecil ruang pribadi mereka.“Kenapa kamu ingin ikut?” suaranya tidak tinggi, tapi ada tekanan.Bagas ingin tahu, apakah ini tentang rasa bersalah? takut? ingin terlihat berguna? Biya membuka mulut, menutupnya lagi.“Karena... ini semua kan gara-gara desain saya,” akhirnya ia berkata lirih. “Saya mau bertanggung jawab.”Bagas mendekat sedikit lagi, suaranya turun seperti m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status