LOGIN“Sudah... jangan,” Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Biya menggeleng di antara tangisannya, wajahnya tetap tertanam di lengan Bagas.“Abang gila,” suaranya pecah karena tangisan.Bukannya merasa sedih, Bagas justru merasa tingkah Biya sangatlah lucu. Mengingat perempuan itu begitu menyayangi Arsen, maka jelas saja hal itu tidak mungkin terjadi. Bagas berusaha mengangkat wajah Biya, tapi si empunya menolak dengan menggelengkan wajah.“Saya... mau... lihat... wajah... kamu,” Bagas benar-benar berusaha merangkai kata.Dengan berat hati, Biya mengangkat wajahnya yang sembab dengan hidup memerah, mata merah, air mata yang masih mengaliri pipi lembut itu. Tangan besar itu mencoba menangkup pipi Biya, sedikit gemetar tapi tak dihentikan.“Nangis... jelek,” bisiknya dengan nada menggoda Biya agar Biya berhenti.Biya mengerjap pelan mendengar kata-kata itu, bukan karena tersinggung, tetapi karena menyadari Bagas masih kesulitan bicara dan masih sempat-sempatnya menggoda. Air matanya justru
Marsha enggan memaksa, karena selama menjalin hubungan dengan Arsen, ia paham betul bagaimana kerasnya adik dan kakak itu. jadi, dengan berat hati Marsha masuk dengan meninggalkan Arsen yang duduk lemas di bangku koridor.Di dalam kamar, suara mesin monitor halus mengisi udara. Biya duduk begitu dekat dengan ranjang, seakan takut Bagas akan menghilang jika ia mengambil jarak lebih dari beberapa sentimeter. Ia memegang tangan Bagas yang dingin, ibu jarinya mengusap tulang jari yang menonjol. Marsha mendekat perlahan.“Sayang, kamu mau mandi dulu? Biar ngerasa lebih seger.”Biya hanya menggeleng, matanya masih terpaku pada wajah Bagas yang memar. Sesekali dadanya naik-turun terlalu cepat, pertanda masih syok.“Kalau Bagas bangun, dia lihat kamu sampai lemes gini, kamu pikir dia bakal senang?” Marsha mencoba lembut, tapi tetap realistis.Kali ini Biya menunduk. “Aku takut banget. Aku kira, aku kira dia-” Suaranya patah di tengah kalimat.Marsha memijat bahunya. “Sudah tidak pa-pa yang pe
Marsha berlari sambil membawa tas yang sepertinya Biya duga berisi pakaian dan alat kebersihan lainnya. Tubuh lemas yang bajunya penuh darah dan wajahnya penuh air mata, langsung dipeluk erat oleh pacar Abangnya itu. setelah beberapa detik, Marsha menarik wajah Biya, menangkup pipinya.“Sayang, kamu kenapa sampai kayak gini?” suaranya pecah, tapi lembut.Biya mencoba bicara, tapi suara yang keluar hanya gumaman tak jelas, tercekik oleh isak. Marsha mengusap pipinya perlahan, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh pada Arsen yang datang beberapa detik kemudian.Arsen duduk agak jauh, dua meter lebih, seolah sadar ia sudah kehilangan hak untuk mendekat tanpa diminta. Ponselnya masih di tangannya, darah di buku-buku jarinya sudah kering dan menghitam. Tatapannya tajam, tapi tidak lagi dipenuhi bara. Lebih seperti seseorang yang baru dihantam kenyataan yang pahit dan belum tahu harus bagaimana.“Mas Ba-Bagas.” suara Biya serak, kecil, tapi masih bisa terdengar.Marsha menoleh cepat pa
BughBugh"Abang, abang please," mohon Biya.BughBughArsen terus memukuli Bagas yang hanya bisa diam dan memasrahkan diri. Tidak ada niatan untuk membalas, karena kini pria yang sudah berlumuran darah wajahnya itu mengerti mengapa Arsen bereaksi sebegininya."Bangsat! Bajingan!"Selagi mengumpat, Arsen terus memberikan pukulan dan tendangan saat tubuh besar milik Bagas jatuh ke tanah."Stop stop," Biya mencoba menengahi dengan memeluk tubuh Bagas yang sudah sangat lemas. Mata pria itu juga terlalu berat untuk terbuka, setengah saja, menatap pada Biya yang menangisinya dengan pelukan erat."Pukul aku juga kalau gitu. Aku juga bohong karena nggak ngasih tahu Abang siapa bosku. Ayo pukul aku," Biya meraung.Lengan mungil itu memeluk kepala Bagas, menaruhnya di pangkuannya. Dengan gemetar, Biya mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Ambulance."Bentar ya, Mas. Aku telfon Ambulance," Biya berucap tapi langsung dihentikan oleh Arsen."Nggak perlu telfon Ambulance. Abang anterin,
Abang‘Abang sudah di depan perusahaan kamu, dek’Sebuah kalimat yang membuat Biya menegang dan Bagas memahami itu. pria itu segera meminta Matteo untuk pulang.“Cepat pulang.”Tidak ada bantahan dari Matteo dan mengangguk lalu berbalik meninggalkan dua orang itu dengan tanya. Tadi pagi saat Valerie datang dan mengamuk, jujur saja semua staf kebingungan dan sekarang semakin membuat Matteo yakin bahwa memang ada sesuatu antara bosnya dan designer baru.“Katanya Abang sudah sampai di depan kantor, tapi Mas...” Kalimat Biya menggantung karena merasa ada janggal, lalu dengan lirih berucap, “dari mana Abang tahu kantorku, aku kan nggak pernah ngasih tahu.”Bagas sadar betul bahwa Arsen masih sama kuatnya seperti dirinya. Tidak mungkin pria itu membiarkan adiknya- Biya pergi bekerja di luar negeri tanpa mencari tahu semuanya. Dan mungkin sekarang Arsen sudah tahu bahwa Biya bekerja di perusahaan miliknya.Dan Bagas tahu, jika Arsen sudah bergerak sampai sejauh ini, berarti dia sudah menemuk
Ruangan itu langsung hening, Bagas terdiam begitu pun sisanya. Tidak pernah, siapa pun sangka bahwa permasalahan ini tidak jauh dari uang.“Berapa jumlahnya?” tanya Bagas pelan.Tessa terisak sebentar sebelum menjawab.“8000 dollar, Sir.”Jawaban itu membuat Matteo refleks mendengus pelan mengingat itu adalah jumlah yang kecil bagi perusahaan, tapi besar bagi karyawan level Tessa. Bagas kembali menyatukan pikiran.“Jadi permasalahan ini dan Biya adalah dua hal yang berbeda ya,” suaranya turun, analitis, bukan emosional.Tessa tidak menjawab, isaknya masih terdengar samar. Bagas mencoba menjadi bos yang baik dan ingin segera menyudahi permasalahan ini.“Baik. Kalau begitu saya bayarkan hutang kamu dan setelahnya kamu mundur dari perusahaan.”Tessa mengangkat wajahnya perlahan, mata basah itu menatap Bagas seolah tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.“Si-sir, mau membantu saya?” suaranya bergetar.Bagas bersandar sedikit ke kursinya.“Bukan membantu,” koreksinya tenang. “Saya hany







