Beranda / Rumah Tangga / Ajari Aku, Mas Duda / Apa Selanjutnya, Tuhan?

Share

Apa Selanjutnya, Tuhan?

Penulis: Pena Chr
last update Tanggal publikasi: 2026-09-24 11:41:45

"Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau.

Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku.

Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?

"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai.

"Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar."

"Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."

Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu polos, Pak? Sejak kapan polisi mau menyelesaikan laporan yang tidak ada uangnya?"

Mahardika menyambut senyumku, "Optimis kan tidak masalah, Bu. Setidaknya laporan KDRT ini bisa jadi bukti jika suatu saat nanti Bu Rinjani ingin menggugat cerai suaminya."

Ah, benar juga. Kenapa aku tidak terfikir sampai sana. Syukurlah ada orang baik yang memikirkan sampai sedetail itu.

Tapi? bagaimana dengan rumahku? aku harus pulang ke rumah itu. Semua berkas-berkas penting ada di sana. Apa aku bisa pulang dengan selamat setelah ini?

Kehamilan ini? haruskah aku memberitahu Doni? atau biarkan saja? Ya Tuhan, apa langkah selanjutnya? Kenapa setelah aku sangat siap untuk berpisah atau bahkan mati di tangan Doni, bayi ini hadir di rahimku?

Perawat memberitahu kalau kini aku sudah mendapatkan kamar, kelas satu, sesuai dengan BPJS-ku. Mahardika yang mengantar, menyimpan dompetku di nakas, dan mengembalikan ponselku. Setelahnya dia pamit pulang.

Aku sendiri heran, kebetulan atau keberuntungan, tadi saat Doni mendorongku keluar, ponsel dan dompet ini masih tersimpan rapi di kantong celana.

Namun, belum juga aku sempat terpejam, laki-laki itu kembali lagi.

"Ini air mineral dan beberapa kue, barangkali Bu Rinjani lapar. Menurut pengalaman saya dulu, ibu hamil sering lapar tengah malam," ujarnya. Menata barang-barang itu dengan rapi di nakas.

"Sekarang saya pamit pulang ya. Semoga hari Bu Rinjani berjalan dengan baik, dan lekas diperbolehkan pulang."

"Terima kasih, Pak Dika," ucapku. "Sekali lagi, terima kasih. Banyak hutang budi saya ke bapak."

"Budi yang mana yang dihutang? saya tidak punya budi," jawabnya, garing. Laki-laki itu melambai, menarik gorden pembatas, lalu tak terlihat lagi.

---

"Rin, laporan KDRT kemarin sudah diproses oleh pihak kepolisian. Hari ini Doni akan dipanggil pihak kepolisian. Kamu siapkan?" Azura terlihat gusar, tak setenang biasanya.

Meskipun kini bukan atasanku lagi, Azura masih saja membantuku. Seperti saat ini, hari masih terlalu pagi, tapi dia sudah duduk manis di sebelah ranjangku.

"Kok bisa sih, Bu? Laporan kalau nggak ada uangnya kan biasanya tidak diproses?" Heran saja. Aku tak mengeluarkan sepeser uangpun untuk kasus ini, tapi kepolisian menanggapinya.

"Keberuntungan mungkin, Rin. Polisinya kemarin langsung sigap menanggapi saat aku menunjukkan kondisimu dan hasil visumnya juga. Biasanya kan bertele-tele, harus visum ulang di RS yang mereka tunjuk dan lain sebagainya, tapi semalam itu langsung ditanggapi. Semoga saja hasilnya juga baik. Kalau Doni berhasil masuk penjara, kamu punya kesempatan untuk mengurus perceraian."

"Semua surat-surat pentingku masih di rumahku, Bu. Tapi aku tidak yakin kalau bisa masuk ke rumah itu lagi."

"Aku bisa menemanimu kalau memang kamu tidak berani."

"Bukan tidak berani, Bu Azura. Tapi bisa jadi kita tidak mendapatkan izin. Doni pastilah murka, sebab aku membantah perintahnya. Apalagi dia tidak menemukan keberadaanku pagi ini di teras rumah."

"Doni sudah ada di kantor polisi sekarang."

"Bu Azura datang ke rumahku?" Tak percaya, Azura akan membantuku sampai sejauh ini.

Perempuan itu mengangguk. "Aku harus memastikan polisi semalam itu menepati janjinya, Rinjani."

Aku masih tak percaya. Ternyata aku tidak benar-benar sendirian di dunia ini.

"Jam tiga pagi tadi Doni dijemput, dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Dan sepertinya dalam waktu dekat kamu akan bertemu dengannya di ruang penyidik."

Sendok yang ada di genggaman tanganku bergetar—karena aku tak sanggup menyembunyikan ketakutanku.

"Jangan panik, Rin. Dika akan menemanimu selama proses penyelidikan. Aku sudah memberitahunya untuk selalu hadir dan membantumu," jelas Azura.

"Maaf merepotkan, Bu," ucapku lirih. Aku menunduk, menyembunyikan air mata yang sudah membanjiri pipiku.

Azura memelukku, menepuk-nepuk pelan pundakku. "Yang kuat ya, Rin," bisiknya.

---

Waktu yang mendebarkan itu akhirnya tiba juga. Hari ini aku akan dipertemukan dengan Doni di ruang penyidik. Mahardika membawakan baju ganti, mengantarkanku. Sengaja memilih untuk tetap menginap di Rumah Sakit karena di sini adalah tempat paling aman. Setidaknya keluarga besar Doni tidak bisa menemuiku semau mereka.

Aku terkejut saat melihat Doni yang baru saja datang. Dia menggunakan kemeja rapi yang disetrika licin, raut wajah kuyu, dan mata yang sengaja dibuat sembab.

"Saya akui, saya mungkin tidak sengaja mendorongnya, Pak. Tapi itu terjadi karena saya sangat syok dan kehilangan akal," suara Doni bergetar, seolah menahan tangis yang begitu pilu.

"Selama ini rumah tangga kami harmonis, Pak. Saya selalu berusaha menuruti semua permintaannya. Orang tua saya juga baik sekali padanya. Keluarga besar saya menerima dia dengan baik. Saya bekerja dari pagi sampai malam, demi bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kami. Saya bahkan sudah KPR rumah, agar istri saya bisa tinggal dengan nyaman."

"Kemarin, saat saya pulang kerja, istri saya tidak ada di rumah, Pak. Saya sudah mencoba menghubunginya, tapi ternyata ponselnya ada di rumah. Saya yang biasanya tidak pernah mengecek ponsel istri saya, hari itu entah kenapa ada keinginan yang sangat kuat, yang membuat saya memeriksa pesan-pesan di ponsel istri saya."

"Saya memergoki pesan-pesan mesranya. Istri saya berselingkuh. Dan laki-laki yang mengantarkannya ke rumah sakit itu... yang juga mengantarkannya ke sini... Mahardika. Dia duda kaya, pelanggan istri saya. Masuk akal kan, Pak, kalau istri saya tiba-tiba ngotot ingin bercerai?"

"Pembohong!" Aku berteriak, menggebrak meja penyidik. Tubuhku gemetar menahan amarah yang membakar ubun-ubun. "Dari mana asalnya cerita itu? jelas-jelas ini bukan pertama kalinya. Dia sering menghajar saya, Pak. Bahkan hanya karena perkara kecil. Sebelum ini, dia pernah memukul kepala saya dengan helm hanya karena saya salah mengambilkan baju."

Petugas menatapku, lama sekali. Sesaat aku menyadari, sepertinya aku telah salah mengambil langkah. Reaksiku tadi justru menguntungkan Doni. Inilah yang dia inginkan, membuatku terlihat seperti istri tempramental yang bisa meledak kapan saja. Sedangkan Doni, dia duduk dengan tenang di kursinya, bak pria paling sabar sedunia.

Ah, sial! Aku termakan tipu dayanya lagi. Ini adalah keahlian Doni, menjadi korban dalam setiap pertengkaran.

"Lihat kan, Pak. Istri saya emosinya jadi tidak stabil seperti ini," keluh Doni lembut, menatapku dengan sorot iba yang menjijikkan.

"Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ajari Aku, Mas Duda   Diantar Pulang Dengan Selamat

    "Bapak tidak munum alkohol seperti yang lain?" tanyaku pelan di sela dentuman musik.Mahardika terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang hampir tenggelam di antara dentuman musik DJ. Dia menggeleng halus seraya melipat kedua tangannya di atas dada. "Aku tidak pernah menyentuh alkohol ataupun rokok, Rinjani," sahut Mahardika seraya mendekatkan tubuhnya sedikit agar suaranya terdengar di tengah keriuhan. "Daripada membakar uang untuk hal-hal seperti itu, aku lebih suka mengisi perutku dengan aneka makanan enak. Jauh lebih bermanfaat dan bikin kenyang."Aku tertawa kecil mendengar alasannya yang begitu logis dan praktis. Di sudut ruangan after party yang remang itu, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol santai. Dari yang tadinya merasa canggung, perlahan-lahan aku mulai menikmati obrolan kami. Mahardiak menceritakan berbagai pengalaman menarik selama mengelola agen travel-nya, sementara aku sesekali menganggapi dengan cerita konyol seputar dapur kateringku. Obrolan kami begitu hangat

  • Ajari Aku, Mas Duda   Pesona Dibalik Kesederhanaan

    "Kamu mau saya temani?" tanya Mahardika datar. Tentu saja aku buru-buru menggeleng keras. Kerjaan MUA pilihan Azura sungguh luar biasa. Selama hampir dua jam jemarinya menari di jawahku, memoles tata rias yang tidak tebal tetapi sanggup menutupi garis-garis lelah di mataku, membiarkan rambutku disanggul modern dengan aksen simpel nan elegan. Begitu gaun malam berwarna navy itu membalut tubuhku, aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar hotel. Aku hampir tidak mengenali sosok perempuan di sana—wajah tanpa riasan dan pakaian kusam yang biasa kupakai sehari-hari seolah luntur tanpa sisa, tergantikan oleh sosok wanita yang anggun dan berkelas. Ketukan pintu kamar berbunyi pelan. MUA yang membukakan pintu, dan Mahardika melangkah masuk. Laki-laki berbalut setelan jas hitam elegan itu seketika menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia berdiri mematung. Manik matanya yang biasanya menatap dingin kini membelalak tipis, melihatku tanpa berkedip—menelisik dari arah sanggu rambut,

  • Ajari Aku, Mas Duda   Pernikahan Azura

    "Meskipun saya bukan pasangan Bapak yang sebenarnya, tapi ketika saya datang ke acara itu nanti, bukankah saya harus mengenal Bapak sedikit lebih banyak? Bagaimana jika ada orang yang bertanya terkait hubungan kita? Bagaimana kalau ada bertanya keberlanjutan hubungan palsu ini? Atau kapan kita bertemu? Bagaimana latar belakangku dan pertanyaan lain? Bibit, bebet, bobotku jelas tidak akan selaras dengan kehidupan keluarga Bapak, kan?"Mahardika terdiam, menatapku lurus-lurus. "Dengar, Pak," lanjutku dengan nada suara lebih mantap. "Kalau memang saya akhirnya bersedia membantu Bapak menjadi pasangan palsu, saya punya satu syarat yang tidak bisa ditawar, Pak. Saya tidak bersedia menutupi atau merekayasa latar belakang diri saya."Mahardika menaikkan sebelah alis tipisnya, "Maksudmu?""Saya tidak akan berpura-pura menjadi wanita dari keluarga terpandang, wanita karir sukses, atau apa pun penyamaran konyol lainnya," tegasku seraya menunjuk diri sendiri. "Saya akan tetap memperkenalkan dir

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tawaran Kerjasama Lagi?

    'Rinjani! Tujuanmu datang ke sini tadi untuk apa? bukankah untuk menemuiku? kenapa kamu malah pulang lagi?'Aku baru membaca balasan pesan dari Mahardika itu ketika sudah memarkirkan motor dan melangkah masuk ke dalam kontrakan. "Ya Tuhan. Kok bisa aku lupa tujuan awalku datang ke sana?" omelku pada diri sendiri seraya menepuk dahi pelan. Karena tubuh dan pikiranku sudah tidak punya cukup tenaga setelah, aku mencoba bernegosiasi dengan Mahardika untuk kembali ke kantornya di lain waktu saja atau membahasnya lewat pesan. 'Pak, saya sudah sampai kontrakan. Bagaimana kalau dibahas lewat pesan saja?''Nggak bisa. Ini rahasia. Tidak boleh ada yang mendengar!''Haduh. Gimana ya, Pak? kalau besok saja bagaimana? saya capek, Pak.''Cari saja cafe atau apa pun yang di dekat kontrakanmu. Kita bisa bertemu di sana. Cari yang ada ruang VIP-nya.''Saya nggak tahu, Pak. Coba bapak cari saja di sekitar Jalan Arjuna.''Oh, kamu tinggal di sekitar Arjuna. Tunggu, aku ke sana sebentar lagi!'"Aduh

  • Ajari Aku, Mas Duda   Cinta Yang Dibangun Di Atas Bangkai

    Dahiku berkerut tipis, "Untuk apa, Pak?" tanyaku keheranan. "Saya sendiri juga kurang tahu, Mbak. Siapa tahu untuk ambil bonus pertambahan pesanan," jawabnya terkekeh asal. Pak sopir menarik pintu mobil hingga tertutup rapat, melambaikan tangan singkat padaku, lalu perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan lorong gang. Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel dengan niat awal ingin menanyakan langsung alasan Mahardika memanggilku ke kantor. Namun, jemariku mengambang di atas layar. Aku mengurungkan niat itu. Pikirku, tidak ada salahnya berkunjung sekedar menyapa Linda di bagian resepsionis dan beberapa kenalan lainnya yang sudah agak lama tak kujumpai. Dengan mengendarai sepeda motor, aku membelah jalanan kota yang cukup lenggang—karena hari ini adalah hari Minggu.Begitu memarkirkan sepeda motor, aku mengulas senyum dan mengangguk ramah pada beberapa karyawan yang berselisih jalan denganku dari area parkiran menuju ruangan Mahardika di lantai satu. Namun, begitu derap langkahku me

  • Ajari Aku, Mas Duda   Stalking

    "Menurut Bapak, aku harus bagaimana? Bapak kan seorang pria. Sedikit banyak pasti bisa menebak dengan lebih benar langkah-langkah apa yang mungkin akan diambil oleh Doni," desakku, meminta kepastian dari sudut pandang seorang laki-laki. "Dengar, Rinjani," sahut Mahardika tegas. "Seorang pria pengecut seperti Doni itu hanya berani bertindak sewenang-wenang kalau dia merasa korbannya lemah dan pasrah. Tapi kamu? Kamu sudah membuktikan pada dunia bahwa kamu sanggup menyeretnya ke jalur hukum dan memenjarakannya tanpa ragu. Langkah hukummu dulu itu adalah bukti nyata kekuatanmu. Doni itu tahu. Dia tahu kamu bukan lagi Rinjani yang dulu, bukan lagi Rinjani iyang bisa diintimidasi dengan gampang. Secara psikologis, dia justru yang akan berpikir seribu kali kalau mau menyentuhmu lagi, karena dia tahu taruhannya adalah masuk ke balik jeruji besi untuk kedua kalinya."Aku tertegun mendengar penjelasan runtut dari Mahardika. Kalimat-kalimatnya terdengar amat masuk akal dan penuh pertimbangan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status