로그인"Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"
Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami." Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tiba—semua dirangkai menjadi senjata yang bisa membalikkan keadaan. Ketika petugas penyidik pamit keluar untuk mengambil berkas, topeng yang dikenakan Doni langsung luruh. Wajah memelasnya hilang dalam sekejap. Dia mencondongkan tubuhnya ke seberang meja, mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu menyeringai sinis. Matanya memancarkan kesombongan yang mengerikan. "Berapa kali pun kamu melapor, aku akan selalu menang, Rinjani," bisiknya pelan namun tajam bagai belati. "Polisi lebih percaya padaku. Kamu hanyalah perempuan gila yang saat ini sedang mengandung anak haram. Menyerah sajalah, dan pulang. Kembalilah menjadi Rinjani yang patuh." Aku menggeleng, "Dari mana kamu tahu tentang kehamilanku?" "Pikirmu aku sebodoh dirimu, Rinjani? aku tahu kamu pingsan di apotek. Aku tahu ada orang yang membawamu ke rumah sakit. Aku tahu kamu hamil. Dan aku juga tahu kalau mantan bosmu melaporkanku ke pihak kepolisian. Aku tahu semua, Rinjani. Aku selalu melihatmu, di mana pun!" Jantungku tak karuan, keringat dingin menyergap, tanganku basah. Aku menautkan jemariku sendiri, menguatkan diri. Kata demi kata yang diucapkan oleh Doni seperti belati yang dihunus tepat ke jantung. Tangan lelaki itu terulur, hendak menyentuhku. Namun segera ditariknya karena pintu ruangan sudah kembali terbuka. Karena kurangnya saksi mata saat kejadian di dalam rumah—dan narasi yang dibangun oleh Doni yang berhasil melukiskanku sebagai istri labil yang tertangkap basah berselingkuh—polisi menyarankan jalan mediasi. Tentu saja aku menolak mentah-mentah. Aku memilih keluar dari ruangan itu dengan perasaan muak, jijik, bercampur takut. Mahardika sudah menungguku. Tak ada pertanyaan, dia langsung mengajakku ke parkiran, dan meninggalkan kantor polisi. Di perjalanan, Bu Azura menghubungiku—lewat ponselnya Mahardika. Dia ingin tahu bagaimana perkembangan kasusnya. Aku menceritakan semuanya. "Gila. Kok bisa dia membuat skenario seperti itu. Lancar sekali lidahnya memutar balikkan fakta!" Di ujung saluran, Bu Azura terdengar sangat geram. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu kemarin. Lelaki manipulatif itu tak perlu dilawan. Biarkan saja dia seperti cacing kepanasan. Kalau kita lawan, dia akan merasa di atas angin. Karena perlawanan ini lah yang dia tunggu-tunggu," sahut Mahardika tiba-tiba. "Maafkan aku, Rin. Karena emosiku, urusannya jadi sepanjang ini." Meskipun aku tidak bisa melihat ekspresi Azura saat ini, tapi rasanya permintaan maaf itu tulus. "Aku akan menghubungi pengacara kenalanku. Solusi untuk masalah ini adalah damai. Biarkan laki-laki itu bebas berkeliaran. Bu Rinjani saja yang menjauh darinya." Belum sempat Azura menjawab, panggilan tersebut sudah diakhiri. Kami sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dan aku dimintanya untuk kembali ke ruang perawatan. Jatah makan siangku sudah menunggu, begitu pula dengan suster yang siap memasang infus—lagi. --- Jam dua belas siang, aku meninggalkan rumah sakit. Lagi-lagi ditemani oleh Mahardika. "Terima kasih atas bantuannya, Pak Dika. Tapi saya bisa pulang sendiri. Toh saya hanya akan mengambil beberapa barang penting, dan langsung meninggalkan rumah itu," ucapku mencoba meyakinkan. Aku tidak ingin Mahardika terlibat terlalu jauh. Khawatir kalau suami gilaku itu akan kembali melayangkan fitnah dan memperburuk keadaan. "Azura memintaku untuk menemanimu pulang. Dia ingin memastikan kamu aman," jelasnya. Meskipun dengan berbagai cara aku menolak, tapi dia tak bergeming. Saat aku memilih untuk naik ojek, dengan mobilnya dia mengekor di belakang. Begitupun saat aku masuk rumah, dia tetap berdiri di depan pintu, menjadi patung dadakan. Semua berkasku masih tersimpan rapi di almari, tetapi tak ada satupun perhiasanku yang tersisa. Termasuk kalung pemberian ibuku. Aku tak akan mempermasalahkan. Biarkan Doni merasa menang karena berhasil menikmati rumah hasil jerih payahku ini. Mengingat ada janin yang harus kulindungi, aku menyewa sebuah kamar kos kecil yang murah di dekat kantor. "Sekarang kamu mau membawa barang sebanyak ini dengan ojek?" tanya Mahardika setelah aku berhasil mengemas semua barangku. "He he he." Aku memasang senyum tak berdosa, memasukkan satu persatu tas dan kardus-kardus itu ke dalam mobil Mahardika. Setelah tiga kali keluar masuk untuk memastikan tak ada yang tertinggal, kami melesat. "Aku akan mengambil kembali rumah ini, percayalah. Akan datang waktunya nanti," janjiku dalam hati. Mahardika hanya bisa mengantarkanku sampai gang depan. Mobilnya tidak bisa masuk, dan aku tidak mengizinkan dia mengetahui alamat lengkap tempat tinggalku saat ini. "Maaf, Pak. Bukan bermaksud tidak tahu diri atau tidak mau balas budi, tapi saya benar-benar ingin menyendiri. Semoga Pak Dika paham." Laki-laki itu mengangguk setuju. Membiarkanku membawa semua barang-barang ini sendirian. Dan pergi setelah aku berhasil mengangkut tas terakhirku. Di kosan ini, aku merasa bisa bernafas lega. Aku mencoba menghubungi ketua tim, dan mengabarkan jika besok aku akan kembali bekerja. "Ayo Rinjani. Kamu butuh uang untuk hidup." --- Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di showroom. Begitu selesai rapat pagi hari, aku bersiap meluncur ke rumah pelanggan pertamaku di bulan ini. Kenalan Mahardika. Dia memesan satu unit mobil untuk hadiah ulang tahun anaknya. "Rin, ada yang mencarimu di depan," kata salah satu rekan kerja. Doni sudah ada di sana. Dia tidak datang dengan amarah. Layaknya aktor kawakan yang tahu cara menguasai panggung, Doni mendatangi meja resepsionis dengan membawa sebungkus roti dan wajah sendunya. Saat melihatku, dia setengah berlari, tiba-tiba saja berlutut di hadapanku. "Rinjani, Sayang, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku sudah mendatangi rumah sakit, tapi kamu sudah pulang. Di rumah barang-barangmu juga sudah tidak ada. Ibu sakit karena memikirkanmu. Pulanglah, Istriku," ucapnya dengan suara serak yang aku yakin sengaja dikeraskan, memancing iba dari beberapa staf dan pelanggan yang hadir. "Kalaupun anak di kandunganmu bukan darah dagingku, aku ikhlas menerimanya, Sayang. Aku akan merawatnya. Tolong pulanglah. Jangan tinggalkan aku demi laki-laki kaya itu." "Kamu mau kan pulang bersamaku?" ***Aku mematung. Perutku mual bukan main. Kenapa aku tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Apa karena uangku tak lagi bisa dia nikmati? jadi dia menghancurkan citraku di tempat kerja juga?Mata-mata itu menatapku dengan nyalang, sebagian dari staf perempuan tak perlu repot-repot menyembunyikan perasaan jijiknya."Pantas saja anak baru langsung bisa closing di awal bulan. Jadi begini cara mainnya?" celetuk salah satu staf perempuan senior. "Ah... Kupikir dia sepolos penampilannya lo, Mbak. Ternyata bunting sama laki orang juga?" timpal yang lain. Aku berjongkok, merenggut lengan Doni dan memaksanya untuk berdiri. "Pergilah, Mas! Berhentilah bersandiwara!" desisku tajam. Doni sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang, seolah aku baru saja menghempaskannya dengan sangat kasar. Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, "Sebegitu jijiknya kah kamu padaku sekarang, Sayang? Apa karena pria kaya itu? aku tahu cintaku memang tidak bisa membuatmu bergelimang harta, tapi selama empat tahun
"Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami."Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tib
"Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau. Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku. Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai."Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar.""Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu
Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b
"Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja
Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k







